Aku 27

Aku 27

Apa yang kuharapkan dari ulang tahun di usia 27?
Bukan sebuah kue manis walaupun ketika itu hadir, kepahitan dunia lekas menyingkir.

Tak perlu ada perayaan gemilang, dan memang selalu begitu sejak kecil hingga sekarang. Jadi, yang ada adalah setumpuk haru ketika aku menyiapkan pernak pernik makanan dan hadiah kecil untuk anak-anak tetangga. Semacam kebahagiaan yang biasa ada di pesta ulang tahun anak-anak yang jelas menyenangkan rasanya.

Lalu, apa yang hadir di usia 27 ini?
Sebuah doa luar biasa dari saudara yang bahkan tidak kukenal namanya.

Kelas Inspirasi: Mimpi Itu Gratis, Tak Perlu Beli

Kelas Inspirasi: Mimpi Itu Gratis, Tak Perlu Beli

Bagaimana saya terlibat dengan program Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar bisa dimulai dengan perkenalan saya dengan Hikmat Hardono. Dari dunia maya kami berkenalan dan dia meminta saya mampir ngobrol di kantor Jalan Galuh. Ketika mampir santai itulah, Hikmat menyampaikan idenya tentang program mengajar ini. Ia memulai dengan bertanya, apa yang biasanya saya lakukan di sekolah, juga bagaimana saya menjalankan kegiatan Dongeng Minggu tiap bulan. Cerita bergulir dan tawaran bergabung dalam program ini pun saya sambut.

Kabarnya, ide ini juga berasal dari masukan banyak orang yang ingin mencoba mengajar bersama Indonesia Mengajar. Namun, mereka tidak bisa mengajar setahun, atau tidak bisa ditempatkan di daerah tujuan mengajar. Atau seperti saya, usia saya tidak memenuhi syarat menjadi pengajar muda. Sementara saya percaya, banyak sekali orang yang ingin menjadi guru, berbagi ilmu dan pengalaman. Itulah yang kemudian dirumuskan. Konsep digodok. Jadilah sebuah konsep mengajar sehari anak-anak kelas 1-6 di 25 SD Jakarta. Volunteer pengajar adalah para pekerja profesional. Tujuannya terlihat sederhana,  tetapi sebenarnya luar biasa: Memberikan inspirasi kepada anak-anak tentang beragam cita-cita. 

Maka tersebutlah nama program ini: Kelas Inspirasi. Tim konsep memulai dengan Pilot project yang dilaksanakan pada 18 Februari 2012 di SD Duri Pulo. Diikuti dengan Briefing Volunteer di kantor PGN pada Sabtu 14 April 2012. Para profesional hadir,  berkenalan dengan kelompok, dan menyiapkan rencana pengajaran mereka. Sebagian besar kelompok melakukan meeting tambahan sebelum hari H datang. Tentu saja untuk mempersiapkan diri menjelaskan profesi mereka kepada anak-anak. Bagaimana cara mudah menerangkan apa itu CEO, mining engineer, atau sejarawan? :)

Yang terjadi pada tanggal 25 April itu adalah manusia dewasa dan anak-anak yang saling terinspirasi. Anak-anak tercerahkan dengan ragam profesi pilihan yang bisa mereka citakan. Tersemangati bahwa siapapun bisa meraih cita-cita selama ada usaha yang hebat. Para volunteer yang kebanyakan merupakan kaum middle class ibukota juga terinspirasi, betapa berbagi itu membahagiakan. Bahwa mereka punya tugas untuk ikut menggalang pendidikan.

Usai acara, saya segera ikut menyuarakan. Konsep Kelas Inspirasi ini harus terus dijalankan. Tak perlu menunggu Indonesia Mengajar merekrut Anda, atau membuatnya di kota Anda. Buatlah sendiri di lingkungan terdekat. Mulai dari SD tempat Anda bersekolah dahulu. Lakukan dalam program CSR kantor Anda. Ajak komunitas dan teman dekat lakukan di panti asuhan/ rumah singgah. Anies Baswedan juga mengingatkan hal itu di hari Evaluasi dan Refleksi tanggal 29 April lalu. Mimpi itu gratis, tidak perlu beli. Jadi sudah seharusnya kita bagi inspirasi kepada anak-anak kita, bermimpi tinggi untuk wujudkan hidup lebih baik.

foto oleh: Octria dan Arnellis

Bermain Grafik!

Bermain Grafik!

Minimal ada dua pertanyaan tentang materi Grafik, Tabel, Bagan, dan Peta di soal Ujian Nasional. Biasanya soal itu bisa dijawab siswa dengan mudah. Justru menjadi bukan soal yang menarik. Padahal materi ini bukan hanya terdapat di pelajaran bahasa Indonesia, melainkan juga ada menjadi bahan belajar di pelajaran IPA dan IPS.

Coba kita belajar sambil bermain dengan materi ini. Ajak saja siswa membuat sendiri grafik, tabel, bagan atau peta itu. Namun, buatlah dalam bentuk dua atau tiga dimensi, ditambah dengan hiasan yang menarik. Siswa dapat mengerjakan ini bersama teman-temannya sehingga dapat berbagi tugas. Tentukan dulu tema yang menarik. Boleh tentang apa saja! Usahakan yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti yang diharapkan dalam kurikulum KTSP. Misalkan, makanan tradisional favorit siswa, kendaraan tanpa gas pilihan siswa, atau artis idola satu kelas. Data untuk grafik dan tabel dapat siswa peroleh sendiri dengan cara melakukan survey. Jumlah responden ditentukan oleh keputusan kelompok. Misalkan, 30 orang responden acak dari beberapa kelas. Objek ukur juga bisa ditentukan kelompok atau bebas saja. Semua ini memancing siswa untuk terbiasa berdiskusi dan menghasilkan keputusan bersama.

Lalu, presentasikan hasil kreasi mereka di depan kelas! Guru bisa menilai kemampuan berbicara siswa. Terlihat juga seberapa jauh mereka memahami materi yang telah mereka buat sendiri. Siswa lain dapat bertanya kepada presenter. Jawaban mereka juga bisa digunakan siswa lain untuk belajar. Guru juga terbantu dengan menggunakan sistem penilaian silang. Guru menilai, siswa lain pun menilai. Guru juga bisa mengajak guru pelajaran lain untuk menilai, semacam integrated studies dalam kurikulum International Baccalaureate.

Sebagian besar siswa terlihat menyukai kegiatan belajar ini. Coba deh!

MobTech untuk Pendidikan

MobTech untuk Pendidikan

Dari #twitedu bersama @bincangedukasi, Selasa 17 Januari 2012

Pemanfaatan Mobile Technology untuk Pendidikan
@bincangedukasi: Tweeps, pk 19.30 kt mulai #twitedu ttg pemanfaatan mobile technology utk pendidikan yaa. Sudah siap kan?

Lihat saja apa yang selalu murid-murid pegang di kota-kota Indonesia sekarang? Sebuah ponsel pintar. Alat main, juga belajar. Anak remaja sebagian besar sudah dibekali hape. Mereka biasa main Bebe bahkan Ipad di sekolah. Ini media belajar juga. Ada beberapa sekolah yang punya kebijakan terbuka tentang penggunaan ponsel pintar di kelas. Murid bisa browsing data tugas via Bebe/Ipad. Murid bisa pakai Hp/Bb/Ipad tentu dengan pengawasan guru. Yaa, supaya ketika diminta cari data, gak lalu malah main games. Ini tantangan super buat guru, gimana cara mereka mengajak murid SMP/SMA memanfaatkan mobile tech dengan maksimal untuk belajar. Saya sering gunakan BBM untuk ingatkan murid kumpulkan tugas. Efektif sekali. Murid dan guru bisa berinteraksi tanpa batas waktu. Di awal tahun ajaran, murid dan guru sekelas bisa buat Blackberry group atau Jarkom SMS untuk memudahkan sebar info belajar.

@kreshna: Adakah etika/etiket yang mengatur tentang komunikasi guru/murid di media online & di luar jam sekolah?
Di awal tahun ajaran, guru berkenalan dengan ortu murid. Di situlah waktunya kasih kebijakan bersama. Jam berapa guru bisa dihubungi. Ada kebijakan sekolah yang ikut mengatur jam komunikasi guru dan ortu. Misalnya, ortu hanya boleh telepon/SMS selama jam sekolah. Ada juga guru yang perbolehkan ortu SMS bebas waktu, tapi jangan telepon. Ortu dan guru harus paham waktu privasi masing-masing. Nah, begitu juga dengan murid-murid SMP/SMA. Beri kebijakan bersama di awal tahun. Ini no hape saya. Silakan telepon/teks saya di jam sekian.

@kreshna: Atau mungkin batasan profesionalitas hubungan guru dan murid. Adakah yg terkait dgn media & waktunya? Profesionalitas guru dan murid tergantung media dan waktu? Hmm, ini bergantung pada kebijakan diri sendiri dan sekolah. Ada sekolah yang punya aturan agar guru dan murid hanya berhubungan pada jam sekolah. Di luar jam, hanya boleh tanya tugas. Banyak pula sekolah yang persilakan guru tanggung jawab sendiri tentang hubungan profesionalnya dengan murid. Saya suka yang ini. Bagi saya, guru itu pekerjaan belajar yang tidak berbatas waktu. Makanya saya berusaha untuk bebaskan anak tanya di jam luar sekolah. Tentu saja dengan etika yang wajar. Anak sopan akan tanya dulu bolehkan dia menelepon gurunya waktu malam untuk tanya PR. Saya pernah di-Ping BBM berkali-kali. Jika terasa mengganggu, bicarakan saja dengan muridnya. Buat aturan bersama. Twitter! Wah, ini media yang sering saya pakai untuk bicara/tegur sapa dengan murid. Waktunya tak berbatas. Yang penting jaga etika.

@bincangedukasi: Kebanyakan guru belum manfaatkan mobile tech dalam pendidikan ya rasanya? Bagaimana cara meyakinkan mereka tentang manfaatnya?
Berbagilah ilmu dengan guru lain di kantor. Atau saat rapat, bagi cerita bahwa mobtech ini berguna juga kok untuk pendidikan. Jangan paksakan juga guru yang belum biasa dengan alat tekno untuk langsung bermain dengan tekno. Dia harus kenal benda tekno dulu. Murid juga perlu maklum. Ada guru yg tidak bisa buka email tugas murid di hapenya. Atau yang lama mengetik SMS. Kemudahan dan kesulitan penggunaan mobtech harus dibahas bersama di kelas. Diskusi aja, gimana guru-murid bisa manfaatkan itu bersama.

@bincangedukasi: Konten pendidikan apa saja yang bisa dibagi melalui mobile devices? Mungkinkan pengajaran juga dilakukan dengan mobile devices?
Konten pelajaran bisa juga kok dibagi lewat mobile tech. Broadcast message BBM bisa untuk sebarkan bahan ajar loh. Semacam kejutan: Kirim broadcast sebuah rumus fisika. Minta murid cari di buku. Jadi penyulut belajar besok di kelas. Saya pernah review materi ujian di twitter. Beri hashtag dan mereka bisa pantau. Bisa tanya jawab juga. Ngobrol pelajaran via BBM juga saya sering. Lokasi tak berbatas, yang penting klop aja waktu guru dan muridnya.

@ratnakristanti: Kalau tentang konten twitternya gimana, Mbak? Kan kadang mbak tidak hanya ngobrol dengan murid. Atau ada aturan juga pas ngobrol dengan murid?
Kalau tentang konten twitter, ini bisa jadi topik #twitedu berikutnya ya. Ini berkaitan dengan #PersonalBranding. Yang pasti untuk bahas materi pelajaran, saya bisa pakai twitter. Murid bisa cari kapan saja di mana saja selama ada tagar topiknya.

@Lutfi_333: Pertanyaan yang sering dihadapi guru yang ingin gunakan mobile tech adalah soal kesetaraan: tidak semua murid pake mobile/smartphone. Solusinya?
Untuk kegiatan kelas, buat tugas dalam kelompok. Satu punya smartphone bertugas cari data, yang lain mencatat. Bisa kok! Tugas rumah, murid bisa pakai PC di rumah atau warnet. Semua bisa asal ada niat belajar teknologi.

@Lutfi_333: Yang menjadi permasalahan nggak semua siswa punya akun twitter/Fb. Nah cara mengatasinya bagaimana??
Ya, ketika guru ingin beri materi tambahan di twitter, diharapkan semua murid sudah punya akun. Tapi ingat, pembelajaran di twitter itu sifatnya tambahan. Maka bukan kewajiban murid untuk harus ikut serta di sana.

@kurniasepta: Ini @bincangedukasi topik2nya #twitedu terlalu di atas angin, kurang menyentuh akar rumput. Ah, Indonesia.
@gurubimbel: Bahasan#twitedu tentang mobile technology memang hanya cocok untuk sekolah kalangan menengah ke atas.
Jangan terjebak bahwa mobile techno itu hanya sebatas gadget mahal. Hape murah pun itu mobtech. Remaja akar rumput juga pakai itu. Hape murah dengan fasilitas Fb bisa dipakai untuk media belajar juga. Untuk komunikasi, bisa pakai jarkom SMS. Menurut @Amung_Palupi Radio, TV, Toa, Surat Post, Layar tancep, Motor, bahkan person untuk konseling itu adalah Mobile Tech juga. Menurutnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan: @Amung_Palupi: yang pernah dilakuin sih, 1. Meminta teman untuk mengirimkan bahan ajar ke desa lewat post memprosesinya seperti MLM. 2. Dengan bahan dari teman yang kemungkinan sedikit maka gunakanlah VOV dari toa mushola. Sementara menurut @ayu_kartikadewi: mobile devices bisa jadi alat yang menarik untuk mengenalkan huruf.

@gurubimbel: Ibu, di Banten masih banyak kan yang ke sekolah tanpa alas kaki? Lalu bagaimana mereka bisa mengenal mobile technology?
Apa yang tidak mungkin? Mengapa anak yang ke sekolah tak pakai alas kaki maka tak bisa kenal mobile tech? Maka perkenalkanlah. Jika tadi yg dimaksud mobile tech hanya sebatas ponsel dan laptop, itu pun masih memungkinkan utk disebar kepada anak-anak di pelosok. Jika pemerintah atau lembaga besar tidak memberi bantuan, maka lakukanlah sendiri dengan apa yang dipunya di sekitar.

Kesimpulan #twitedu ini: Manfaatkan maksimal mobile technology yang ada di sekitar. Segala rupa bentuk dan jenis. Semua berguna untuk belajar. Satu lagi: guru, murid, dan ortu, semua harus berpikir positif. Mobile techno bisa digunakan dengan cara praktis dan hasilnya bisa baik. Nah, berpikir positif bisa dimulai dengan menghindari kata ‘tapi’.

Pendidikan Kearifan Lokal #twitedu

Pendidikan Kearifan Lokal #twitedu

Berikut ini adalah rangkuman tweet saya di #twitedu edisi Pendidikan Kearifan Lokal, Selasa 20 Desember 2011.
Silakan disimak. :)

#twitedu malam ini temanya kearifan lokal. Saya coba kaitkan dengan sikap orang dewasa dan remaja belakangan. Kearifan lokal berkaitan dengan etika dan sopan santun berkehidupan. Lokal maksudnya bercermin pada lingkungan sekitar. Sejak kecil ortu sudah harus menanamkan bentuk-bentuk kearifan dalam berhubungan, baik dengan sesama manusia atau alam. Jadilah seorang anak dibekali sopan santun adat setempat. Bagaimana cara balas salam atau bagaimana jika ditanya orang. Bentuk kearifan lokal tentu berbeda-beda. Anak pantai berbeda sikap dengan anak gunung. Anak kota beda pandangan dengan anak desa.

Kurikulum sekolah sudah seharusnya memahami kearifan lokal. Tak bisa kita gunakan satu buku ajar untuk anak-anak di beda daerah. Pahami struktur budaya lokal. Maka hasilnya, Ujian Nasional di Indonesia pun tak bisa dibuat sama soalnya. Sekolah harus membuat pelajaran yang sesuai dg adat setempat. Anak sungai tak bisa dipaksa kenal bus kota. Itu bukan kearifan lokal. Anak sungai harus diajari pelajaran fisika yang tepat. Gimana cara bangun jembatan. Ekonomi? Sumber Daya Alam apa yang bisa dimanfaatkan dari sungai. Pelajaran PLBJ (Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta) ya hanya diajarkan untuk anak sekolah Jakarta. Pengetahuan tentang Jakarta yang harus diketahui anak luar pulau Jawa adalah bahwa Jakarta adalah ibukota negara/pusat pemerintahan. Tak bijak jika pendidikan memaksa anak Maluku harus tahu ondel-ondel. Sementara anak Jakarta tak tahu di mana letak Pulau Buru. Pendidikan dengan basis kearifan lokal diharapkan membuat anak cinta daerah, dan berkeinginan mengembangkan daerahnya.

“@kurniasepta: kearifan lokal itu dikembangkan lewat pelajaran muatan lokal, eh tp knp bahasa inggris masuk mulok?” Ayo bahas! Kenapa bahasa Inggris termasuk muatan lokal dalam pelajaran nasional? Sebenarnya muatan lokal itu apa? Saya kurang memahami istilah kurikulum nasional. Tapi agaknya mulok dimaksudkan jadi pelajaran tambahan. Ini lucunya. Yang termasuk mulok sekarang ini adalah pelajaran bahasa daerah, bahasa Inggris, dan/atau komputer. Kategorinya tambahan saja. Agaknya kenapa bahasa Inggris dimasukkan sebagai mulok, ya karena itu dianggap pelajaran tambahan. Pelajaran wajib adalah bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Inggris diharapkan jadi muatan tambahan untuk meningkatkan pengetahuan agar bisa kembangkan budaya lokal. Setelah anak paham dunia lokalnya, bahasa Inggris bisa dipakai untuk memahami pengetahuan lain yang berguna untuk daerahnya.

“@kurniasepta: @arnellism #twitedu Siapa yg menciptakan kearifan lokal?” Pertanyaannya luas sekali. Yuk coba kita diskusi. Siapa pencipta kearifan lokal? Manusia yang ciptakan. Orang tua kita. Agar anak cucunya bisa nikmati dunia lebih lama. Kearifan lokal mengajarkan anak Kalimantan tak asal bunuh orang utan. Mereka harus tahu apa guna hewan itu. Fungsi ortu dan guru adalah mengajarkan anak untuk pahami kenapa orang utan dan hutan harus dilindungi. Di sinilah hadir kearifan lokal. Kasus pembunuhan orang utan oleh warga setempat adalah bukti pendidikan di sana belum berbasis kearifan lokal. Pelajaran Ekonomi harus diselipi pendidikan kearifan lokal. Manusia jangan asal cari untung lalu bebas babat hutan seisinya. Nah, pendidikan kearifan lokal tidak boleh berhenti di SD. Anak SMP dan SMA harus lebih banyak diskusi pentingnya hal ini.

“@bincangedukasi: Apa sih manfaat mempertimbangkan Kearifan Lokal dlm pendidikan di era globalisasi ini?” Era globalisasi begini sangat harus diimbangi dengan pendidikan kearifan lokal. Selain baik, teknologi punya sifat merusak juga. Era global membebaskan budaya luar menyerang budaya lokal. Kearifan lokal harus berbicara untuk mengatasinya. Kasus punk di Aceh itu adalah contoh bentroknya budaya lokal dengan budaya asing. Bagaimana kearifan lokal berperan? Jika pendidikan kearifan lokal berjalan dengan baik, topik ‘punk di Aceh’ itu harusnya bisa ditangani dengan mudah.
Banyak contoh masih kurangnya pendidikan kearifan lokal di negara ini. Kasus Freeport dan Mesuji misalnya.
Ada berapa kampus yang punya jurusan pertanian, perikanan, dan kelautan di Indonesia? Di mana kita belajar kearifan lokal?

“@_kawit: @bincangedukasi @arnellism lalu bagaimana dengan brick dance? Beat box? Suffle dance? Normal kah?” Boleh saja pelajari itu. Di sekolah saya anak-anak juga sedang gandrung suffle dance dan KPop. Tak apa, selama bertanggung jawab untuk tak lupa budaya sendiri. Tapi kearifan lokal anak kota memang jadi bias. Lokal buat mereka adalah budaya dunia. Jangan kaget jika kearifaan lokal anak SMA Jakarta sekarang adalah kerjakan tugas di StarBucks atau Sevel. Bentukan lokal kota. Kearifan lokal gagal terjadi ketika anak kota itu berantem karena rebutan tongkrongan di Sevel.
Pelajaran Sosiologi harus mengajarkan bagaimana bersikap arif dalam budaya kota yang dianut remaja di kota besar.
Prinsipnya sama, anak kota harus paham dulu bagaimana menyikapi mal atau gadget, sebelum pelajari tongkonan atau badik.

Kesimpulan: mari pelajari segala sumber daya lokal dan gunakan untuk kemajuan daerah masing-masing dengan arif bijaksana.

Sang Penari: Geger Merah Tanpa Sensor

Sang Penari: Geger Merah Tanpa Sensor

Saya butuh dua kali nonton untuk menerima film Sang Penari dalam hati saya. Pada kesempatan nonton pertama, saya datang sebagai penggemar novel Ronggeng Dukuh Paruk yang gembira ria sebab novel ini telah difilmkan lagi. Di tahun 1980-an sutradara Yasman Yazid dan PT Gramedia Film memang sudah memfilmkannya dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng. Saya belum menonton film itu, makanya saya begitu bersemangat untuk menonton film Sang Penari karya sutradara Ifa Isfansyah ini. Saya sampai lupa tak memperhatikan detil poster film yang menyatakan bahwa Sang Penari adalah sebuah film yang terinspirasi dari novel.

Sebab disebut terinspirasi, sudah seharusnya saya tidak boleh memaksakan kehendak imajinasi saya hadir dan terpuaskan dalam film tersebut. Tapi nyatanya hal itu tak bisa saya hindari. Saya, bersama dua kawan saya yang sama-sama penggila novel tersebut, sibuk berceloteh ‘tidak terima’ atas sejumlah interpretasi yang dilakukan Salman Aristo, Shanty Harmayn, dan Ifa. Kami lupa bahwa ini adalah sebuah transformasi karya sastra, dan sudah seharusnya sebuah kebebasan penerjemahan dan penafsiran diberikan kepada pembuat transformasi tersebut. Bahkan Ahmad Tohari si pembuat novel pun begitu bijak mempersilakan siapa saja menafsirkan karyanya di sini.

Jadilah di kesempatan nonton yang kedua saya dapat lebih menerima dan merasakan Sang Penari ini dari hati. Saya menikmati pergerakan alur yang dibuat flashback, yang tentu saja berbeda dengan novelnya. Adegan dibuka dengan Rasus (Nyoman Oka Antara) yang telah menjadi tentara, datang menengok sebuah kampung yang sepi. Sebuah gambaran pengantar Dukuh Paruk usai tragedi 1965. Lalu Rasus menemukan Sakum (Hendro Jarot) si buta yang terpojok di gubuk dan meminta Rasus mencari Srintil.

Cerita pun baru bergulir, kembali ke tahun 1953. Dukuh Paruk hidup dengan kebanggaan akan ronggeng Surti (Happy Salma), penduduk yang riang, dan masa kanak-kanak Srintil dan Rasus. Lalu terjadilah peristiwa keracunan massal tempe bongkrek buatan Santayib, bapak Srintil, yang menewaskan banyak warga termasuk ronggeng dukuh itu. Ini adalah peristiwa penting yang menandai motivasi utama Srintil ingin menjadi ronggeng. Sebuah laku wujud bakti pada dukuh dan juga penebus dosa orang tua. Sebuah penanda keintiman hidup warga Dukuh Paruk mulai hadir di adegan ini. Srintil dan Rasus kecil tidur bersama di rumah Rasus dan diketahui ibu mereka. Serupa itulah persaudaraan yang terjalin di dukuh miskin yang lebih sering hanya bisa makan gaplek ketimbang beras itu.

Adegan beranjak ke tahun 1963. Srintil dan Rasus telah remaja. Dukuh Paruk tampak hijau. Tentu ini berbeda dengan gambaran yang ada di dalam novel. Dukuh Paruk di sana adalah daerah yang sangat gersang bahkan untuk mencabut singkong saja anak-anak kecil mesti membasahi tanah dengan air kencing mereka. Namun dalam film, bocah-bocah gundul itu mencabut singkong dari tanah yang gembur. Pemakluman tentang ini harus sangat diberikan jika kita tahu bahwa tim produksi setidaknya telah berusaha menunggu kemarau datang hingga enam bulan lamanya, tetapi sayang kemarau dan latar kekeringan tidak datang juga.

Srintil (Prisia Nasution) mulai berdialog dengan Rasus di bagian awal ini. Saya menyukai logat Banyumasan mereka yang cukup medok. Kisah cinta mereka, yang memang merupakan inti dari film ini, digambarkan dengan begitu manis. Rasus digambarkan sebagai pemuda polos yang cenderung terlihat dungu. Namun, ia juga seorang pemuda gesit, dan semacam terpandai di antara pemuda dukuh lainnya. Gaya pacaran mereka sederhana, sesederhana memecah buah pepaya di atas batu.

Jiwa ronggeng Srintil mulai dibuka oleh dialog Srintil dan Sakum di depan makam Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk. Semangat Srintil untuk meronggeng ini ditangkap oleh Sakarya (Landung Simatupang), kakek Srintil, yang kemudian mendatangi Kartareja (Slamet Rahardjo) sebagai dukun ronggeng di dukuh itu. Ada keengganan dalam diri Kartareja sehingga membuatnya tidak datang ke ngibing pertama Srintil. Adegan ini sukses diperankan Prisia dengan wajah muramnya. Ia mampu menjiwai seorang gadis yang belum pandai menari tetapi berhasrat besar untuk membalas dosa emak bapaknya.

Rasus sendiri tidak mendukung Srintil untuk menjadi ronggeng. Filosofinya sederhana dan merupakan kecemburuan pacar yang tak mampu melawan kehendak dukuh. Seluruh warga menyukai ronggeng sebab itu adalah budaya yang begitu mengakar. Namun, kalimat “Ronggeng ku kayak pohon kelapa. Sapa bae bisa slaman slumun manjat.” menjadi sebuah gugatan seorang kekasih atas dunia ronggeng. Sayangnya, Srintil begitu ingin njoget sehingga Rasus pun mendukungnya dengan memberikan keris Ronggeng Surti. Dukungan itu nyatanya tidak dari hati sebab Rasus melarikan diri ketika malam peresmian Srintil. Apalagi ketika acara bukak klambu digelar sebagai syarat ‘dadi ronggeng’. Penonton di luar budaya ini bisa terkaget-kaget bahwa serupa itulah seksualitas dan harta dimaknai dalam budaya yang tak terjamah agama. Di sini saya puas dengan akting Nyai Kartareja (Dewi Irawan) yang lugas memerankan dukun ronggeng alias mucikari, yang selalu berusaha mengambil keuntungan dari seorang ronggeng binaannya. Ia juga yang berperan merawat, menasehati, dan mengatur Srintil untuk menghadapi para lelaki.

Srintil sukses menjadi ronggeng sementara Rasus lari dari ketidakmampuannya bersaing dengan lelaki lain. Ia masuk dalam dunia militer awal Indonesia dan menjadi pesuruh yang cekatan. Ia diasuh tokoh Sersan (Tio Pakusadewo), diajari untuk lebih gagah sekaligus belajar membaca. Karakter Rasus berkembang seiring berkembangnya pula kesenian ronggeng di dukuh yang mulai disusupi tokoh Bakar (Lukman Sardi) yang membawa istilah pertentangan rakyat dan borjuis.

Pergerakan kegalauan cinta Srintil pada Rasus cukup ditampilkan dengan baik dalam beberapa penggalan adegan: Emohnya Srintil menari sampai berani menolak Pak Marsusi, jampi-jampi telur ajian putus cinta, iri hati melihat orang menikah, sampai bayi Goder yang memancing hasrat keibuannya. Adegan-adegan itu saya pikir cukup bisa menyiasati permusuhan antara alur novel yang begitu detil dengan durasi film yang tidak bisa panjang.

Kemunculan bagian yang disensor
Yang saya paling puas dari film ini adalah visualisasi kejadian 1965 yang menimpa warga Dukuh Paruk. Ahmad Tohari si pengarang novel pun puas. Ia sendiri tidak membuat deskripsi yang begitu jelas tentang adegan penyiksaan atas warga Dukuh Paruk, atau pembunuhan atas Bakar dan kawan-kawan PKI. Beberapa deskripsi yang ditulisnya tentang rumah tahanan saja sempat disensor oleh Koran Kompas ketika tulisan tersebut muncul pertama kali sebagai cerita bersambung di tahun 1981. Meskipun kemudian bagian yang disensor itu muncul kembali dalam trilogi novel yang disatukan dalam satu buku Ronggeng Dukuh Paruk terbitan Gramedia tahun 2003.

Sebab film ini dibuat di era kebebasan berbicara sekarang, maka pembuat film bisa asyik bereksperimen menyampaikan beragam kode pada penonton melalui benda atau dialog. Kita bisa lihat caping yang dicat merah, arit yang dipegang petani, atau juga mendengar kata ‘merah’ dan ‘dewan revolusi’. Tak ada lagi sensor atas penyebutan Puterpra (Perwira Urusan Teritorial Perlawanan Rakyat) sebagaimana dulu Kompas tak berani menyajikannya. Penonton bisa melihat Sersan Pujo sebagai perwakilan tentara dan keberpihakannya dengan jelas atau adegan pembunuhan aktivis PKI dengan sangat gamblang. Ini sebuah catatan perfilman yang menyenangkan ketika sebuah sejarah gelap bangsa ini mulai dibuka dalam karya film yang nyata. Masyarakat bisa tahu, seperti itulah keadaan buruk yang menimpa banyak saudara kita yang dengan mudah dituduh PKI. Kepolosan warga Dukuh Paruk yang tahu membaca pun tidak kontras diadili dengan kekejaman tentara yang mendapat amanat membersihkan komunis sampai ke akar rumput.

Tafsir atas bagian akhir novel dan bagian akhir film memang sangat berbeda. Saya puas dengan penggambaran penjara Eling-Eling dalam novel yang divisualkan dengan lorong, ruang semacam bunker, gedung tua, yang menampung ratusan tertuduh PKI yang tak bersalah itu. Ketidakpuasan saya terjadi pada satu dua adegan yang tidak jelas memperlihatkan alur akhir hidup Srintil. Dalam novel tertulis Srintil menjadi gila, dan itulah akhirnya. Jelas ini bukan akhir yang menyenangkan untuk penonton kita. Ada proses hebat yang menjadikannya seperti itu, yang agaknya ditampilkan dalam sepotong adegan yang tidak cukup jelas bagi penonton awam. Srintil dibawa Darsun (Teuku Rifnu) kepada seorang lelaki dan diserahkan dengan kalimat “yang penting tidak malu-maluin”. Srintil menyembur ludah ke cermin dan sangat marah sampai ia dikembalikan lagi ke penjara. Mungkin ini adalah perwakilan bagian novel ketika Bajul menjual Srintil pada bosnya. Dan di situlah harga diri Srintil terkoyak dan membuatnya gila.

Seperti apa yang dikatakan Ifa bahwa Sang Penari adalah film cinta, maka sad ending yang sangat tragis itu sepertinya memang dihindari oleh pembuat naskah. Film ini mendramatisasi pertemuan Rasus dan Srintil dengan sangat baik, dan sekaligus mengarahkan pembaca pada dugaan horor dengan kepergian lori yang membawa Srintil dan tahanan lainnya. Beberapa penonton yang bukan pembaca novel menduga Srintil mati. Lalu kemudian, latar berubah menjadi Pasar Dawuan tahun 1975, atau kira-kira 10 tahun setelah adegan kepergian lori itu. Rasus menemukan Srintil meronggeng di sana. Rupanya ia mengamen bersama Sakum. Penonton tidak perlu tahu bagaimana kemudian Srintil bisa selamat dari tragedi merah. Penonton diajak memahami leraian bahwa Rasus menyerahkan keris kepada Srintil. Lalu Srintil pergi bersama Sakum, dan terus menari sepanjang jalan kampung. Sebuah akhir cerita terbuka yang menyenangkan hati pembaca, tetapi tidak mampu membuat saya menangis seperti akhir novel yang begitu mengguncang rasa kemanusiaan saya.

Tulisan ini agaknya bisa berkembang menjadi skripsi kedua atau tesis idaman saya. Namun, sampai di sini, saya sudah cukup terpuaskan. Sebuah film yang mengambil ide dari karya sastra Indonesia sangat perlu didukung dan diapresiasi sehebat mungkin. Apalagi jika di dalamnya membawa misi untuk membuka mata kita dan dunia atas ragam sejarah kelam bangsa kita.

Jenis film: drama
Produksi: Salto Films
Produser: Shanty Harmayn
Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Pemain: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Landung Simatupang, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma.
Durasi: 111 menit
Rilis: November 2011

T dan J, kritis!

T dan J, kritis!

Dari #twitedu bersama @bincangedukasi Selasa 8 November 2011


Mendidik anak berpikir kritis, mulailah dengan bertanya. Bebaskan anak bertanya apapun. Sejak kecil, orang tua harus mencontohkan cara bertanya, sebab nyatanya bertanya itu tidak mudah juga. “Apa ini?” dan “Apa itu?” harus sudah mulai diajarkan orang tua sejak anak masih bayi. Ketika TK, anak akan terbiasa bertanya ini juga. Ketika SD, orang tua ajak anak bertanya lebih dari sekadar “apa”. Konsep 5W dan 1H (What, Who, Where, When, Why, How) sudah harus diperkenalkan. Ketika SMP dan SMA anak bisa diajak berpikir lebih di pertanyaan “why” dan “how”. Ini puncak berpikir kritis.

Ketika anak sudah terbiasa bertanya, anak harus diajak untuk bisa mencari jawaban sendiri. Bertanya dan menjawab itulah yang harus terus dipupuk agar anak selalu berpikir kritis. Bahan ajar? Kehidupan sehari-hari. Banyak membaca buku/internet tentu akan berguna untuk melatih anak bertanya lalu menjawab sendiri. Kritis adalah hasil.

Orang tua harus senang, bukan sebaliknya, saat anak bertanya atau banyak komentar. Itu tanda anak yang berpikir kritis! Guru harus biasakan murid untuk bertanya juga. Tidak hanya melulu menjawab soal. Kalau anak kritis pada hal-hal sensitif semacam agama atau seks gimana? Orang tua dan guru tetap harus menjawab dengan bijak. Saya percaya pada dasarnya manusia (anak-anak juga) tentu punya kesadaran untuk bertanya. Itulah modal berpikir kritis. Tinggal orang tua, guru, dan anak itu sendiri yang harus menajamkan kebiasaan kritis dalam menganalisis masalah.

“Bagaimana ajarkan berpikir kritis di sekolah? Benarkah bagian ini agak terabaikan karena beratnya beban kurikulum?” tanya seorang pemerhati pendidikan. Saya sendiri merasa hal itu agak benar adanya. Ketika guru dan murid dibebani kurikulum yang berorientasi nilai saja, kegiatan kelas kebanyakan hanya menjawab pertanyaan. Seorang lain bilang, jika ingin membuat budaya berpikir kritis muncul di sekolah, kita perlu ubah dua hal: tes dan pola pikir guru. Saya sedikit tidak setuju. Tes atau ujian tetap perlu dilakukan untuk menilai sejauh mana anak bisa berpikir kritis dalam media tulis. Di kelas, sistem penilaian silang antarmurid (siswa mengoreksi pekerjaan teman) bisa digunakan untuk latihan berpikir kritis. Di beragam pelajaran, ajak siswa mencari kaitan topik yang sedang dipelajari dengan kehidupan harian. Misal, apa guna belajar trigonometri?

Saya pendukung “kuliah harus lulus dengan skripsi”. Ini adalah pembuktian siswa mampu berpikir kritis. Saya mengkritik kebijaksanaan universitas yang memperbolehkan mahasiswa lulus tanpa skripsi. Hanya penuhi kuliah lalu bisa lulus? Dalam skripsi, mahasiswa harus mengajukan sebuah pertanyaan dan sekaligus menjawabnya melalui penelitian. Mahasiswa harus kritis menuliskan rumusan masalah. Lalu buktikan jawaban di bagian analisis. Ujian berpikir kritis itu terjadi di sidang skripsi. Mahasiswa menjelaskan jawaban pada beberapa penguji. Usai lulus kuliah, pendidikan berpikir kritis akan terus berlanjut. Meski bukan di bangku akademis.

Nah, ayo kita biasakan berpikir kritis. Mulai dari kicau di media twitter juga boleh. :)

debat!

debat!


Saya suka debat!
Itu kalimat yang terus terlontar dari sejumlah murid ketika kelas debat selesai. Saya percaya mereka mengucapkan kalimat tersebut dengan tulus. Saya percaya sebab saya melihat kecenderungan remaja kota besar saat ini senang berdebat. Atau setidaknya mereka lebih senang berbicara ketimbang menulis. Kalau pakai lelucon satir hari ini, anak remaja sekarang masih suka menulis kok, tetapi nulis status di facebook atau tweet saja.

Saya senang mereka menyatakan dengan lantang bahwa mereka suka berdebat, walau ternyata berdebat yang mereka lakukan umumnya masih sebatas adu mulut saja. Bukan kebetulan jika pelajaran bahasa Indonesia mengakomodasi kegiatan berdebat sebagai salah satu komponen kemampuan berbahasa siswa, yaitu kemampuan berbicara. Siswa diajak menyampaikan pendapatnya tentang sebuah masalah dan hal itu menuntut kemampuan menyusun kalimat dengan jelas.

Berdebat bukan sekadar berbicara. Ada pelajaran etika juga di sana. Ada aturan yang digunakan agara siswa bisa belajar menyampaikan argumen dengan cara yang tepat sehingga orang yang mendengarnya paham. Di kelas debat kemarin, saya mengajak siswa berdebat dengan menggunakan aturan World School Debating Champhionship. Aturan dalam perlombaan internasional tersebut memang belum bisa seluruhnya diterapkan di kelas, apalagi untuk murid kelas 10 yang secara umum belum biasa berdebat. Maka saya hanya gunakan beberapa aturan yang mendasar, seperti misalnya satu kelompok debat terdiri dari tiga orang dan masing-masing anggota punya kewajiban menyampaikan pendapat selama beberapa menit. Dari apa yang terjadi di kelas debat yang pernah saya dan siswa lakukan, ternyata hanya beberapa orang saja yang mampu menyampaikan pendapat dengan kalimat yang baik selama dua menit. Ya, dua menit berbicara bahasa Indonesia ternyata susah juga.

Namun, saya senang. Ketika seorang siswa sudah punya semangat yang besar untuk belajar, itu adalah pintu masuk ilmu yang lebih banyak lagi. Saya bahkan ingin dengar juga siswa teriak lantang bilang “Saya suka trigonometri!” atau “Saya suka kimia murni!”. Saya memaksakan diri untuk yakin saja bahwa kecenderungan siswa yang lebih suka berbicara di era komunikasi elektronik yang sangat mudah sekarang ini dapat membawa dampak baik bagi pendidikan anak. Saya bermimpi, anak-anak yang berani bilang suka berdebat ini kelak akan jadi pembicara untuk kebaikan bangsa Indonesia di dunia. Anda boleh tidak setuju dengan pendapat saya. Bolehlah hal ini kita perdebatkan. :)

Apa yang kamu lihat?

Apa yang kamu lihat?

Pertanyaan “Apa yang kamu lihat?” ternyata bukan sekadar pertanyaan sederhana jika jawaban yang diminta bukan sebuah kata. Coba tanyakan itu pada siswa ketika mereka melakukan perjalanana study tour atau trip sekolah lainnya. Kata pertama yang akan keluar untuk menjawab pertanyaan tadi umumnya adalah sebuah kata objek benda yang mudah terlihat dan teringat mereka sepanjang jalan.

Saya dan siswa mencoba mengajukan pertanyaan itu ketika melakukan university trip bulan lalu. Siswa berkeliling ke beberapa universitas di pulau Jawa, yaitu Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Indonesia. Dalam perjalanan semacam itu, sering kali kita menemukan siswa yang tidak fokus pada inti perjalanan ini. Mungkin beberapa siswa hanya ingin main-main atau jalan-jalan saja. Nah, pertanyaan “apa yang kamu lihat?” itu bisa dijadikan permainan seru di akhir acara. Siswa diajak untuk memikirkan sebuah objek menarik yang mewakili pelajaran yang mereka dapat selama trip berlangsung. Hal tersebut kemudian bisa diceritakan kepada orang lain. Siapkan saja sejumlah alat sederhana, seperti kertas koran, balon, lem, dan gunting, lalu biarkan siswa berkreasi dengan penemuannya.

Hasilnya sangat menarik. Siswa dari kelompok IPS, misalnya, membuat sebuah tiruan karya seni buatan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Mereka juga membuat bangunan Bosscha.

Sementara siswa dari kelompok IPA membuat sebuah alat pengebor tanah yang mereka lihat ketika berkunjung ke Fakultas Pertambangan dan Perminyakan ITB. Masing-masing kelompok ini kemudian mempresentasikan karya mereka. “Apa yang mereka lihat?” dijabarkan dengan penjelasan seperti sebesar apa objek itu, apa material pembuatnya, apa fungsi alat tersebut, dan beragam pertanyaan dari teman-teman mereka.

Siswa juga diminta untuk menjelaskan mengapa objek tersebut yang dipilih. Mereka kompak menjawab, objek benda itulah yang mudah dibuat untuk menjawab pertanyaan “Apa yang kamu lihat?”. Mungkin kegiatan ini akan lebih menarik jika kelompok dibuat lebih kecil, sehingga akan ada banyak ragam karya yang terlihat.

Objek itu hanya sebuah contoh jawaban. Intinya, siswa dapat melakukan refleksi dari perjalanan atau study tour yang mereka lakukan. Sebuah tulisan laporan perjalanan tentunya juga bagus untuk bahan refleksi. Misalnya buatan salah satu siswa saya ini: http://geovanilaskar.blogspot.com/2011/10/university-trip

Nah, sekarang coba tanyakan pertanyaan ini setiap sore usai sekolah: Apa yang kamu lihat hari ini? :)