Category Archives: sastra

Kata Siswa tentang Marxisme dalam Novel Atheis

Sekali lagi tahun ini saya dan murid kelas 10 memakai novel Atheis untuk diskusi sastra. Dalam satu kutipan di novel karya Achdiat Karta Mihardja itu, tokoh Rusli mengatakan seperti ini:

“Dan kiasan yang diambil oleh Marx itu tidak kurang tepatnya ialah Tuhan itu (atau persisnya Marx itu bilang ‘agama’), bahwa agama itu adalah madat bagi manusia. Apa itu artinya?”

Itu tiada lain artinya ialah bahwa seperti halnya dengan madat, Tuhan atau agama itu adalah satu sumber pelipur hati bagi orang-orang yang berada dalam kesengsaraan dan kesusahan. Suatu sumber untuk melupakan segala kesedihan dan penderitaan dalam dunia yang tidak sempurna ini. Sesungguhnya janganlah kita lupakan bahwa (seperti tempo hari saya uraikan kepada Saudara,) agama dan Tuhan adalah hasil atau akibat dari sesuatu masyarakat yang tidak sempurna, tegasnya ciptaan atau bikinan manusia juga. Manusia dalam keadaan serba kekurangan.”  (Atheis, hlm. 108-109)

Pernah saya dan murid-murid mendiskusikan hal ini di kelas. Beberapa masih bingung dengan mengapa agama disamakan dengan madat atau candu. Mengapa agama bisa bersifat adiktif? Beberapa dari mereka ada juga yang sudah mengerti dan membantah konsep marxisme di sini. Ya, saya akui memang kami tidak membaca buku Karl Marx secara khusus untuk memahami konsep marxisme (Ini PR kami semua! #crossheart). Makanya wajar jika masih banyak murid yang bingung, apalagi untuk mereka yang belum terbiasa membaca novel.

Menyenangkannya adalah, banyak juga murid yang bisa menyampaikan pendapat mereka, baik setuju atau tidak setuju pada kutipan tersebut. Yang saya suka adalah bahwa pendapat mereka begitu dekat mencirikan remaja. Ini dua contoh dari mereka. 🙂

jonathan

Jonathan Julian, 2016

 

karina

Karina Viella Darminto, 2016

Advertisements

Pertama Kali Bertemu Soesilo Toer

Satu setengah jam, dari pukul setengah tiga sampai empat sore, tanggal 30 Juni 2016, aku ngobrol dengan adik Pramoedya Ananta Toer itu. Aku tidak mengira akan bertemu dengannya. Ceritanya aku hanya ingin ikut saudara yang mengantar mebel pesanan ke Blora. Kebetulan memang aku sedang mudik di Jepara. Lalu aku ingat, di Blora ada Pataba, dan kuminta pada suamiku untuk mampir ke sana. Tanya suamiku, “Apa itu?” “Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa.”

IMG_8504

Satu lagi yang tidak kukira adalah kondisi Pataba itu. Sesampainya di Jalan Sumbawa Jetis, aku mencari nomor 40, seperti informasi yang kudapat di internet. Tapi mobilku nyasar sedikit ke Jalan Halmahera sampai depan SMPN 5. Rupanya rumah Pataba itu letaknya di siku jalan, mojok. Kelak aku tahu, lokasinya jadi semacam lelucon satir. Rumahnya di pojok, persis seperti penghuninya yang sering dipojokkan.

Pagar rumah pojokan itu miring, daunnya dikait dengan seutas tali. Ragu aku dan suamiku melangkah masuk, menyintas halaman tanah berumput yang kurang terawat baik. Sepi sekali. Kami menuju rumah lumayan besar yang terasnya terbuat dari tempelan berbagai jenis potongan keramik itu. Teras kecil itu berhias banyak butiran hitam. Tahi. Lalu datanglah pemiliknya, tiga ekor kambing besar, yang dari gelagatnya seperti ingin ngusel. Sementara aku kaget-kaget-takut, suamiku berinisiatif menyeru salam beberapa kali, sampai kemudian pintu rumah dibuka. Seorang lelaki tua menyambut ramah. Brewoknya putih memenuhi separuh wajah. Ia berpakaian batik gombrong dan sarung yang sama gombrongnya. Kami bersalaman dan dia menyebut namanya: Soesilo.

Tadinya aku mengira akan menemui orang lain, semacam pengurus khusus yang mengelola perpus itu. Tapi aku beruntung, ketemu langsung dengan Pak Soesilo. Pataba memang perpus liar, diurus sendiri oleh keluarga Toer yang tersisa. Ya, Pak Soesilo Toer inilah yang kini mengurusnya, bersama anak dan istri yang menempati rumah itu. Oh ya, rumah itu adalah milik mendiang Mastoer, orang tuanya, direktur Institut Boedi Oetomo di Blora tahun 1920an. Sudah pernah direnovasi, tidak seburuk yang pernah diceritakan Pram dalam novel Bukan Pasar Malam. Tapi tidak juga lantas menjadi sangat bagus, karena Pak Soesilo kemudian bercerita sejumlah kendala dan intrik keluarga yang menceritakan tentang renovasi rumah itu. Katanya, Pram, Koesalah, dan dirinya memang ingin membangun perpustakaan di rumah peninggalan Mastoer itu. Pram ingin bangunan itu ditingkat tiga. Agar muat menyimpan koleksi buku, dan bisa dibuat tempat berbagai acara sastra dan budaya. Adik-adiknya mendukung, tapi rupanya ada kendala keluarga lain. Akhirnya sampai Pram meninggal tahun 2006, bangunan hanya direnovasi seadanya. Niat membuat perpus tetap dijalankan. Bangunan dapur samping rumah dijadikan awal mulanya.

 

IMG_8521

Di ruangan inilah aku bertamu. Pintunya berat dan hanya bisa terbuka sedikit. Ruangan di dalamnya gelap, hanya diterangi cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Ada buku-buku bertumpuk di meja dan kursi. Dinding penuh dengan foto dan gambar tokoh dalam pigura. Eh, si kambing rupanya mengikutiku. Kepalanya melongok masuk dari pintu. Pak Soesilo santai saja. Suamiku akhirnya menutup pintu, takut kambing masuk dan memakan buku. Pak Soesilo malah tertawa, menunjukkan contoh lembaran kertas yang robek separuh, dimakan kambing itu katanya.

IMG_8524

Soesilo Toer ini pendongeng. Usianya hampir 80 tahun, tapi tetap ceriwis sekali bercerita macam-macam, menjawab semua pertanyaan yang kuajukan. Ngobrol santai itu seolah tanpa jeda. Karena memang asyik sekali. Ada banyak ‘rahasia keluarga’ yang ia bagikan cuma-cuma. Cerita ia di Rusia dan dapat gelar Phd di sana, pacaran dengan cewek bule (sama seperti Pram ini ya), cerita kanker prostat yang dialaminya (juga dialami Pram), cerita perlakuan tetangga dan warga pada keluarga, juga cerita tentang saudara dan anak Pram lainnya. Dia juga bertanya, ”Kamu tahu, Pram itu mati terbunuh, dibunuh, atau bunuh diri?” Gila, kataku dalam hati. Aku buru-buru menggeleng sambil menanti jawaban. Dia pun menceritakan “apa” yang terjadi dari sudut pandangnya. Aku terlongo-longo. Sempat aku merasa, ini kisah teramat sensitif, kok bisa-bisanya ia membaginya denganku? Oh, rupanya ia juga sudah menyajikannya dalam buku Pram dari Dalam. Berarti ia ingin banyak orang mengetahui kebenarannya, setidaknya dari sudut pandang dia. “Semua sudah saya tulis di situ,” katanya.

IMG_8555

Akhirnya aku memborong lima seri kisah Pram yang ditulisnya. Bonus dua buku tambahan. Juga kuminta ia menerakan tanda tangan di tiap buku. Lalu aku sadar, aku belum menyebutkan namaku sejak tadi.

“Namaku Arnellis, Pak.”
“Annelies?”
“Arnellis, pakai r. Bapakku takut kalau namanya terlalu sama dengan Annelies. Hehee…”
“Itu Annelies,” katanya menunjuk sebuah lukisan di atas kepalaku. Aku melongok dan menemukan gambar cat, seorang perempuan yang tak segera terlihat cantik.
“Lalu, ini mau ditandatangani kepada siapa? Annelies saja ya?”
“Eh, jangan ah, Arnellis saja, pakai r…”
“Oh… ya sudah.”

Tak lupa aku mengajaknya berfoto. Kuminta juga untuk bertemu dengan anaknya yang sejak tadi disebutnya bernama Benee Santoso. Begitu keluar, rupanya ia seorang pemuda 20-an yang ganteng-ganteng-kalem. Kami berfoto di ruangan itu, juga di teras.

IMG_8540

Lalu, kami mampir juga masuk ke ruang rumah utama. Buku yang baru dicetak Pataba ditaruh di situ. Foto-foto menghias dinding dan buku-buku terjejer di rak. Tadi sempat kutanya pada Pak Soesilo, kenapa tidak minta bantuan anak mahasiswa jurusan perpus, bantu merapikan dan mengkatalog. Jawabnya “Biar diurus sendiri saja, biar tetap jadi perpustakaan liar, hehe…” Sama saja seperti Pram, keras kepala betul, kupikir. Tapi kemudian ia menambahkan, bahwa ia nantinya akan menghibahkan bangunan dan perpus ini kepada pemerintah. Jika ditaksir, ada seharga 30 miliar lebih. “Tak usahlah ada warisan untuk keluarga, biar ini jadi warisan untuk negara.”

IMG_8547

Agak sulit menyudahi pertemuan itu, tapi aku harus kembali pulang ke Jepara. Pak Soesilo dan Benee mengantar kami ke pagar. Menyesali kami yang belum sempat mencoba sate Blora. Sambil memastikan kami masuk mobil, ia menunjukkan rute jalan pulang. “Sehat-sehat terus ya, Pak, nanti aku mampir lagi,” kataku. “Ya… terima kasih,” sahutnya sambil melambaikan tangan.

 

foto: Heru Rudiyanto

 

Belajar Lagi dari Ahmad Tohari

SAM_1148

Agak sulit saya menulis cerita panjang tentang pengalaman memandu acara Author Talk tanggal 1 Juni lalu. Itu hari yang terlalu menyenangkan. Jelas saja, bisa berbincang kembali dengan Ahmad Tohari yang terkemas dalam acara sekolah yang asyik. Jadi, yang akan saya bagi di sini adalah kesan-kesan utama saja.

Saya membuka sesi Bincang Pengarang itu dengan kalimat, “Terakhir kita mengobrol seperti ini tahun 2007 ya Pak, waktu saya nulis skripsi (Sensor Atas Karya Sastra). Sekarang, bahagia sekali saya bisa membawa Bapak untuk mengobrol santai lagi, tidak hanya dengan saya, tetapi juga dengan murid-murid saya…”

Saya lalu bercerita bahwa malam sebelumnya (31/5), kami (Heny, Roys, saya) menjemput Pak Tohari di Bentara Budaya Jakarta. Kami tidak tahu bahwa malam itu ada acara Malam Jamuan Cerpen Pilihan Kompas 2015. Kami juga tidak tahu bahwa cerpen pemenangnya adalah “Anak Itu Mau Mengencingi Jakarta?” karya Ahmad Tohari. Acara belum usai, ia justru buru-buru pulang dari acara dan ikut kami pulang ke Serpong. Saya tanya, “Mengapa Pak? Padahal Bapak bintangnya malam itu.” Beliau menjawab sederhana, “Saya sudah membuat janji dengan kalian akan menuju Serpong jam 9 malam. Ya, saya harus penuhi janji saya.” Teringat piala patung Nyoman Nuarta yang terbungkus kardus di jok belakang mobil jemputan saya malam itu, saya kembali mengejar, “Lalu, seberapa penting sebuah penghargaan untuk Bapak?” Jawabnya, “Saya tidak mengejar penghargaan. Tugas saya menulis. Jika kemudian ada yang memberi penghargaan, tentu saya apresiasi.”

Sebelumnya, acara sudah dimulai dengan pementasan drama fragmen novel Ronggeng Dukuh Paruk oleh kelas 11. Saya duduk di sebelah Pak Tohari persis, jadi saya bisa lihat dia senyum, tertawa pada adegan yang lucu, dan juga saat dia dua kali mengambil tisu untuk mengusap haru di matanya.

 

SAM_1054

Setelah pentas drama itu selesai, Pak Tohari dengan sigap langsung menuju panggung dan mengajak para pemain berfoto. Lalu, dia menghampiri para pemain, menyalaminya satu persatu dengan hangat.

SAM_1121

Kembali lagi ke sesi tanya jawab. Setelah menjawab satu dua, Pak Tohari memutuskan untuk berdiri. Penonton bertepuk karenanya. Mungkin Pak Tohari merasa ucapannya akan lebih terasa jika disampaikan dengan penuh karib. Ada banyak yang dia sampaikan, beberapa tentang hal-hal yang sudah saya ketahui sebelumnya dari wawancara dulu dan beberapa literatur. Satu yang sangat saya suka hari itu, dia mengajak murid (dan juga guru atau siapapun) untuk mulai menulis. Katanya: Tulislah kisah cinta yang cengeng, tidak apa-apa… Tulislah puisi cengeng, tidak apa-apa… Yang penting kamu mulai menulis…

 

SAM_1175

Malam sebelumnya, saya bilang padanya, besok ada sesi tanda tangan. Kalau Bapak nanti lelah, mungkin cukup beberapa buku saja. Saya bisa buatkan kuis, pemenangnya boleh minta tanda tangan Bapak. Namun, dia langsung jawab, tidak… saya akan tanda tangani semua bukunya selama saya bisa. Dan benar saja, setumpuk buku milik murid dan guru ludes dia tanda tangani semuanya.

SAM_1189

Ya, begitulah. Saya belajar banyak lagi dari lelaki ini. Seorang sederhana yang tak membela siapapun selain rasa kemanusiaan, ajaran Tuhan yang paling hakiki.

 

Cara Memakan Novel Atheis

Akhirnya merasakan juga satu semester mempelajari novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Kenyang, dari Agustus sampai Desember 2015 lalu. Awalnya kebetulan memang. Buku bersampul hijau ini diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka. Jadinya saya berani mengusulkan untuk pakai buku ini sebagai bahan bacaan wajib di sekolah. Maklum, untuk mengajukan penggunaan suatu buku, guru harus memperhitungkan ketersediaan buku di penerbit. Akhirnya, jadilah buku ini bisa dipakai oleh ratusan siswa kelas 10 sekolah saya.

Ada banyak juga yang sudah kami (saya dan murid) lakukan terhadap novel ini. Berikut ini saya susun beberapa cara memakan novel ini. Semoga siswa Anda juga bisa jadi lahap ya makannya. 🙂

  • Reading Response. Sebetulnya semua aktivitas yang dilakukan sepanjang semester adalah merespon bacaan. Bentuk Reading Response biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan panduan tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik novel. Biasanya dicetak di kertas sebagai handout dan assessment siswa. Berikut ini contohnya:

Bacalah bagian 1-3 novel Atheis, kemudian carilah sudut pandang siapa yang sedang berbicara dalam bagian itu? Mengapa terjadi perbedaan sudut pandang pencerita?

Perhatikan tabel yang berisi kutipan novel Atheis ini. Tentukan manakah kutipan yang mengandung nilai budaya! Mana saja buktinya?

  • Game Benar atau Salah. Dengan memakai papan kertas bertuliskan B dan S, permainan ini lumayan seru dilakukan. Guru menampilkan powerpoint berisi kalimat-kalimat dari novel. Murid bergiliran memegang papan B dan S itu. Murid kemudian akan menebak, apakah pernyataan di papan tulis itu Benar atau Salah. Permainan ini juga bisa dilakukan lisan saja, tidak perlu pakai proyektor dan komputer. Guru tinggal menyebutkan satu kalimat, lalu siswa menebak.

photo (2)

  • Mengumpulkan nama semua tokoh. Dengan siswa mengumpulkan nama tokoh, siswa bisa sambil mengingat kembali apa peran dari masing-masing tokoh. Bisa pula sebagai bahan analisis tentang karakter tiap tokoh.
  • Mencari deskripsi. Siswa dapat menilai langsung bagaimana bentuk paragraf deskripsi yang digunakan pengarang dalam novel. Jadi, guru bukan hanya mengenalkan teori deskripsi saja, bukan hanya mencontohkan potongan paragraf deskripsi saja. Siswa jadi tahu fungsi deskripsi dalam sebuah bacaan. Siswa bisa bilang, “Ohh, ini yang namanya deskripsi, bisa membuat cerita jadi lebih detail, ya.”
  • Teka Teki Silang. Nah, ini favorit siswa saya. Mereka suka sekali mengerjakan TTS yang pertanyaannya berdasarkan novel ini. Untuk membuat TTS, guru harus mencari sejumlah kata yang akan dibuat jawaban. Bisa diambil dari nama tokoh, nama lokasi, atau kata khas di dalam novel. Untuk membuat TTS, saya biasanya menggunakan aplikasi di web ini:  http://worksheets.theteacherscorner.net/make-your-own/crossword/
  • Game detektif. Ini baru saya coba buat setelah saya tahu anak-anak sangat suka misteri. Mendekati akhir cerita, siswa akan bertanya-tanya tentang akhir nasib Hasan si tokoh utama. Saya persiapkan sebuah permainan. Sebuah kertas bertuliskan “Apa penyebab kematian Hasan?”. Lalu setiap kelompok siswa diberikan sebuah amplop yang berisi potongan petunjuk. Siswa kemudian berdiskusi, memisahkan mana yang fakta dan opini. Kemudian siswa akan menyimpulkan, berdasarkan fakta yang ada, Hasan meninggal dengan cara apa.

photo (1)

  • Menulis resensi. Setelah siswa selesai membaca novel dengan tuntas, kegiatan ini bisa dilakukan. Ajak siswa menuliskan kritik mereka atas novel melalui resensi. Anak juga bisa belajar menulis persuasi, mengajak teman lain untuk ikut membaca novel ini juga.

Atheis dan Sidomuncul

Di akhir semester satu, setelah kami selesai membaca novel Atheis, saya membuat evaluasi pembelajaran dengan cara ini. Siswa diajak memilih siapa tokoh favorit mereka dan menyertakan alasannya. Siswa juga diajak untuk berefleksi, apa yang bisa dipelajari dari tokoh tersebut. Plus, siswa diminta memberi rating pakai bintang-bintang. 🙂

Berikut ini contoh hasilnya.

photo 1 (3)

Evaluasi lainnya muncul dalam ujian akhir semester. Salah satu bentuk assessment yang diberikan adalah membuat sebuah paragraf kritik atas novel Atheis. Harapan para guru adalah siswa dapat menyampaikan pengetahuan mereka atas novel tersebut, dan lebih jauh lagi, dapat menilai kelebihan dan kekurangan novel.

Khusus untuk gambar di bawah ini, rasanya saya masih gagal memberikan pengetahuan dasar tentang novel. Meskipun lucu, habis kata saya membacanya.

photo 2 (2)

Ini Pekerjaan Rumah untuk saya, belajar lagi bagaimana cara membuat evaluasi hasil pembelajaran yang benar-benar merasuk ke jiwa siswa.

 

 

Reading Response Cerpen: Mengomentari Pekerjaan Pelawak

Sudah pernah membaca cerpen “Klown dengan Lelaki Berkaki Satu” karya Ratna Indraswari Ibrahim? Saya dan murid-murid kelas 11 membaca cerpen itu di kelas analisis sastra. Cerpen yang diambil dari buku Cerpen Pilihan Kompas 2010 ini memang kami jadikan bahan bacaan, untuk kemudian ditanggapi oleh murid dalam pandangan remaja.

Cerpen itu bercerita tentang tokoh bernama Pak Klown dan dunia melawaknya. Sebuah kisah yang terasa menyedihkan, betapa pelawak seringkali dianggap lelucon bahkan ketika di luar panggung dan tidak sedang berakting. Saya coba lemparkan tanya: Seringkah kamu menonton acara lawak? Siapa pelawak yang kalian suka? Kenal Srimulat? Bagaimana bentuk lawak sekarang ini? Stand up comedy? Gampang atau susah sih melawak itu? Kemudian saya mengajak murid untuk membaca satu kutipan cerpen itu.

Aku tahu, aku tidak bisa dibanggakan seperti bapak teman mereka, apalagi peranku dalam dunia lawak sering sebagai pembantu yang di pundaknya selalu ada lap dan kelihatan dungu! Penonton ingin melihatku seperti itu di luar panggung, kalau tidak aneh kan? Seperti mencabik-cabik mimpi mereka, kau tahu suatu kali anakku membersihkan kamar di kosnya, anakku menaruh lap di pundaknya, dan seorang temannya yang masuk ke kamar itu nyeletuk, ‘Doni, kamu setolol pelawak itu (dia menyebut namaku).’

Setelah itu, saya minta murid menyatakan pendapatnya:

“Jika kamu menjadi Doni, jawaban apa yang akan kamu berikan pada temanmu itu?”

Ada beragam jawaban muncul. Berikut ini adalah salah satunya yang sangat menarik perhatian saya.

photo

…Dan seberani itu. Siapa yang berani berada di antara banyak penonton dan harus menyenangkan semuanya? Tuhan saja tidak bisa menyenangkan semua pihak; aku bicara tentang setan. Menjadi pelawak itu harus berpikir bagaimana menciptakan lelucon sembari memastikan semuanya senang. Para penonton dengan profesi beragam itu berdatangan untuk membeli satu: kebahagiaan dan tawa. Tolol? Oh, aku setuju denganmu. Siapa yang cukup tolol mau bersaing dengan Tuhan selain badut itu. Bapakku.                      (Koen Irina Putri, kelas 11, 2015)

Mengajak Murid Menolak Lupa Peristiwa 30S65

Tak ada pelajaran sejarah di sekolah bukanlah halangan bagi murid untuk tetap belajar sejarah. Lewat sastra yang mengandung sejarah Indonesia, murid bisa mempelajari banyak hal yang terjadi di masa lalu. Selama semester pertama kemarin, saya dan murid-murid kelas 11 telah mempraktikkan pelajaran sejarah lewat buku sastra. Proses belajar tersebut akan saya sajikan dalam urutan berikut ini.

1. Di awal tahun ajaran, murid diajak membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Pilihan novel ini disesuaikan dengan usia siswa (15-17 tahun), dan tentu saja nilai sejarah yang ada di dalamnya

2. Setelah membaca (kurang lebih selama 5 minggu belajar), siswa diperlihatkan video pendek berbagai versi Gerakan 30S. Atau, silakan cari ragam video serupa di Youtube.

3. Visual is always win. Maka, guru menampilkan Powerpoint Presentation yang memuat gambar-gambar yang berkaitan dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Peristiwa 30 September 1965. Tentu saja guru harus menguasai novel, lalu mengambil kutipan yang bisa dibahas terkait peristiwa sejarah ini. Misalnya: dalam cerita RDP disebutkan Srintil bertemu Tri Murdo, pemain musik yang memainkan lagu Genjer-Genjer. Guru bisa memasukkan pengetahuan sejarah tentang “Genjer-Genjer” itu. Tambahkan juga video lagu Genjer-Genjer dari Youtube, dan foto sayuran genjer sebagai pelengkap.

4. Guru lalu mengajak siswa membaca dan membahas Bab 5 Lintang Kemukus Dini Hari (buku kedua trilogi RDP). Ajak mereka mengungkapkan pengetahuan awal tentang “peristiwa tentara saling bunuh di Jakarta”.

5. Guru meminta murid untuk mencari tahu sendiri berbagai artikel tentang peristiwa bersejarah yang kelam ini. Kalau mencari bebas di internet, murid akan menemukan banyak sekali sumber, dan bisa jadi kebingungan sendiri. Untuk permulaan, artikel di wikipedia ini cukup untuk menjadi gambaran umum tentang peristiwa tersebut.

6. Sebagai latihan tambahan, guru bisa menampilkan berbagai kata kunci yang ada dalam novel. Misal: merah, ronggeng rakyat, tuan tanah, caping hijau, jenderal. Siswa diminta berdiskusi dalam kelompok untuk mencari tahu lagi apa makna kata-kata tersebut. Kemudian, guru membuat kuis tanya jawab untuk melihat pengetahuan siswa, bisakah mereka mengaitkan kata kunci dalam cerita itu dengan peristiwa dalam kejadian nyata.

7. Terakhir, sebagai penilaian pemahaman, siswa diminta menulis esai singkat. Dalam kertas ujian, siswa dapat membaca ulang kutipan novel Ronggeng Dukuh Paruk, lalu menjelaskan pengetahuan sejarah Peristiwa 30S65 yang sudah mereka pahami. Rubrik penilaian guru dituliskan di kertas itu juga, sehingga siswa tahu apa yang harus mereka sampaikan untuk memenuhi standar ekspektasi.

 

Ini salah satu hasil esai buatan siswa saya. Salah satu contoh yang cukup menggembirakan. 🙂

Pada bab 5 novel Ronggeng Dukuh Paruk terdapat peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi di Indonesia dan dikaitkan dengan cerita di novel tersebut. Dari situ dapat diambil beberapa nilai sejarah dan efek dari peristiwa itu terhadap desa-desa terpencil seperti Dukuh Paruk. Dari kutipan tersebut, kelompok Bakar ini merupakan bagian dari Partai Komunis Indonesia. Pak Bakar dan kelompoknya ini memanfaatkan warga Dukuh Paruk, terutama Srintil, untuk menyebarluaskan tentang PKI. Kelompok ronggeng Srintil dan PKI tidak punya kaitan langsung karena mereka tidak tahu akan keberadaan PKI. Yang mereka lakukan hanyalah menggelar pentas ronggeng atas nama kelompok Bakar tanpa tahu maksud tersembunyi Pak Bakar. Karena itu, warga Dukuh Paruk dianggap sebagai anggota dari PKI.

Di kutipan tersebut dijelaskan bahwa ada peristiwa pembunuhan di Jakarta. Peristiwa ini terjadi di Indonesia pada tanggal 30 September 1965 dan dikenal dengan nama Gerakan 30 September PKI atau G30S/PKI. Peristiwa itu terjadi di Jakarta, lebih tepatnya di Lubang Buaya, tempat enam jendral diculik, dibunuh, dan dikuburkan di Lubang Buaya. Peristiwa ini terjadi pada malam 30 September sampai 1 Oktober tahun 1965. Para jendral tersebut ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 oleh TNI. Akhirnya, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila karena Indonesia bebas dari malam G30S/PKI. Seperti namanya, pelaku yang diduga melakukan pembantaian G30S adalah PKI, tetapi hal ini masih belum terbukti jelas. Ada beberapa versi yang mempunyai pelaku berbeda yaitu Soekarno, Soeharto, Angkatan Darat, bahkan ada versi mengatakan bahwa ada campur tangan Amerika atau CIA dalam peristiwa ini. Ada enam korban yakni enam jendral yang meninggal pada peristiwa ini, sedangkan Jendral Nasution dapat selamat namun anaknya yang berumur lima tahun, Ade Irma, dan ajudannya meninggal malam itu.

Pada saat peristiwa ini, kepemimpinan ada di tangan presiden Soekarno yang pada zaman itu mencoba menerapkan Nasakom. Hal ini juga diduga menjadi pemicu bagi PKI, di peristiwa ini PKI diduga membunuh pemimpin-pemimpin tinggi Indonesia untuk merebut kekuasaan dan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Setelah peristiwa tersebut masyarakat yang diduga terlibat dalam PKI ditangkap dan dibunuh dalam peristiwa Pembantaian di Indonesia 1965-1966. Tujuan utama dari pembantaian ini adalah untuk ‘membersihkan’ Indonesia dari partai komunis dan agar peristiwa seperti G30S/PKI tidak terjadi lagi. Tak ada jumlah pasti korban dari peristiwa ini. Sampai sekarang keberadaan PKI dilarang keras di Indonesia.  (Shantika Aqilla Kurnia/kelas 11/September 2014)

Membuat Puisi dari Cerpen

Guru sastra harus coba ini. Menulis puisi yang inspirasinya diambil dari konflik dalam cerpen! Ini bisa mengatasi kesulitan murid yang sering bilang bahwa menulis puisi itu susah.

Saya coba ini bersama murid kelas 10. Dari buku Cerpen Kompas Pilihan 2009, murid diminta untuk memilih satu cerpen. Bebaskan murid untuk memilih konflik apa yang akan diambil. Setelah itu, ajak murid untuk memilih satu tokoh yang bisa dipakai sudut pandangnya untuk berpuisi. Saya katakan: Jadilah tokoh itu, lalu buatlah sebuah puisi yang menggambarkan perasaan hatinya.

Di sini guru bisa selipkan dengan ujian pemahaman unsur puisi. Dalam rubrik penilaian, sebutkan detil penilaian seperti kehadiran unsur majas, imaji, diksi, dan tipografi. Nilai yang lebih besar akan diberikan untuk murid yang bisa menggunakan 3 jenis majas, misalnya. Diksi yang variatif dan simbolis juga akan dapat nilai yang lebih besar, misalnya. Ini penting untuk memudahkan guru juga saat menilai karya sastra yang sangat beraneka rupa hasilnya.

Ini satu contoh karya murid saya: Alifa Nabila (10A, 2014). Sebuah puisi yang terinspirasi dari cerpen “Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian”. Mengagumkan.

20140418-210424.jpg

Melahirkan…

Sembilan bulan mengandung dan merawat novel Bumi Manusia di kelas bersama murid kelas dua belas. Belajar memahami setiap makna yang ada. Lalu tiba saat melahirkan, muncullah salah satu yang membuat tangis jatuh begini.

20140327-090124.jpg
Semoga hidup selalu anak-anak manusia yang membawa kebaikan untuk buminya.

 

Mandela dan Remaja Hari Gini

Hari ini Nelson Mandela meninggal dunia. Timeline twitter dipenuhi beragam kicau tentang dia. Muncul juga dua tiga tweet di timeline saya yang menampilkan gambar tweet anak remaja yang seragam bertanya “Siapa itu Nelson Mandela?”. Oh, mereka benar-benar tak tahu siapa tokoh Afrika jauh itu. Tengok di malesbanget ini deh bagaimana sebagian remaja sekarang buta sejarah dunia.

Saya sendiri senyum kecut melihat itu. Tidak aneh juga. Pelajaran sejarah memang ada di sekolah-sekolah, tapi tidak benar-benar ada. Bahkan ada juga sekolah yang tidak punya mata pelajaran sejarah. Dulu zaman tahun 80-90an ada yang namanya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dan porsinya lumayan dipentingkan. Namun, setelah era itu pelajaran sejarah hanya pelajaran sampingan. Saya kurang tahu persisnya berapa jam pelajaran sejarah hadir untuk anak-anak di sekolah setiap pekan. Jadi, harap maklum kalau generasi 2000an ini tidak kenal pengetahuan sejarah, apalagi memahaminya.

Untungnya, awal semester lalu saya sempat menyempilkan materi sejarah di pelajaran sastra. Kelas 12 sedang belajar novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Mereka membaca bagian awal novel, ada tokoh Minke yang mendapat perlakuan kasar dari Herman Mellema yang berbeda ras dengannya. Lewat cerita ini, murid saya ajak untuk mencari tahu masalah sosial yang ada dalam novel. Saya memberi kata kunci “apartheid”, kemudian murid mencari tahu sendiri apa arti kata itu. Untuk anak yang tinggal di kota besar yang dekat dengan sumber informasi internet, tugas semacam ini tentu tak susah dilakukan.

 

ImageKerinton, Reggie, Audry, Pritta, Theo mempresentasikan Politik Apartheid di kelas 12

Dari proses riset itulah akhirnya mereka menemukan nama Nelson Mandela. Mereka jadi tahu siapa dia, apa yang dia alami di negaranya. Mereka juga menemukan foto-foto menarik (sebagian besar menyeramkan) tentang bagaimana kulit hitam dan putih dibedakan. Data dan foto itu mereka masukkan ke dalam slide powwrpoint. Mereka kemudian mempresentasikan hasil temuannya kepada teman-teman lain. Kostum tak lupa dipakai, untuk menunjukkan pemahaman mereka tentang isu rasial yang terjadi di Hindia Belanda.

Mungkin teman-teman yang sekadar mendengar presentasi tidak akan mendapatkan pemahaman dalam seperti murid yang mencari tahu sendiri tentang Mandela. Tapi setidaknya ada proses transfer pengetahuan. Mereka dapat ilmu sejarah langsung dari cerita temannya. Guru hanya bertindak sebagai mentor kelas. Ya, tugas guru di sini adalah menciptakan kondisi yang menumbuhkan hasrat belajar murid. Meski pelajaran sejarah tak ada di sekolah mereka, nyatanya bisa juga kok sejarah dihadirkan dari pelajaran lainnya. Kalau sudah ada pelajaran sejarah, ajaklah anak untuk belajar sendiri mengenal sejarah dengan cara yang asyik.

“If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart.” – Nelson Mandela

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: