Category Archives: remaja

Seujung Kuku Guru Zirah

Pada suatu hari saya membagi info tentang  lomba video pendek dari Kemdikbud. Saya share di Twitter dan Line. Murid-murid biasanya lebih update di Line sih, jadi saya post begini di timeline.

 
Ada yang memberi jempol, cuma satu orang. Ada juga yang nulis komen. Eeh komennya macam begini. 

  
Haduhh… PLZ… Canda aja nih!

Sebetulnya normal banget ya murid laki-laki “menggoda” guru perempuannya. Remaja ya umurnya puber, lagi belajar menarik perhatian lawan jenis. Bosan menggoda teman seumuran, kadang mereka menguji diri, bisa nggak atau berani nggak menggoda wanita dewasa. Bentuknya bisa sekadar bercanda sederhana, tapi bisa juga kelepasan jadi serius. Pernah dengar kan ada murid yang serius ‘nembak’ gurunya?

Pertanyaannya kemudian, kok bisa sih mereka berani menggoda saya? Apa saya seunyu itu? Apa saya seseksi Guru Zirah favorit murid badung macam Iwan Fals? Hehee, nggak lah. Bodi saya nggak montok. Cuma seujung kukunya Zirah.
Buat yang belum tahu lagu “Guru Zirah”, ini liriknya.
Dia cantiknya guru muda kelasku

Zirah namamu asli cangkokan Jawa

Busana biasa saja

Ramping kau punya pinggang



Tahi lalatmu genit nangkring di jidat

Goda batinku kilikitik imanku

Pantatmu aduhai

Bagai salak raksasa



Merah bibirmu bukan polesan pabrik

Mulus kulitmu tak perlu lagi ke salon

Betismu bukan main

Indah bak padi bunting



Tidur pun aku tak nyenyak

Sebelum aku sebutkan

Namamu

Guru Zirah bodi montok



Rasanya ingin punya bank

Tuk traktir engkau seorang

Impianku

Guru Zirah bodi montok



Baru melihat kaki ibu melangkah

Hati di dalam dag dig dug mirip beduk

Apalagi he he he

Tak kan kuat ku berdiri


Zirah guruku ibu manis bak permen

Berilah les privat agar otakku paten

Hadiahku tas plastik

Boleh pesan di butik


Tidur pun aku tak nyenyak

Sebelum aku sebutkan

Namamu

Guru Zirah bodi montok
Rasanya ingin punya bank

Tuk traktir engkau seorang

Impianku

Guru Zirah VeWe Kodok



Kalau setuju kita bolos sehari

Bohong sedikit mungkin Tuhan tak marah

Asmara tak bedakan

Aku murid kau guru


Kebun binatang lokasi yang ideal

Murah meriah ongkos buat pacaran

Ku tahu gaji ibu

Hanya cukup untuk beli tahu


Tidur pun aku tak nyenyak

Sebelum aku sebutkan

Namamu

Guru Zirah bodi montok

Advertisements

Anak Telanjang di Kelas

Jadi, begini situasinya:

Seorang guru perempuan baru saja masuk ke kelas 10 setelah pelajaran olahraga. Terlihat sebagian murid perempuan dan lelaki sudah ada di sana. Beberapa merapikan pakaian olahraga, beberapa menyisir rambut, bersiap untuk pelajaran berikutnya. Tiba-tiba terdengar genjreng gitar dari barisan belakang. Si guru menengok, dan ia melihat seorang anak lelaki berdiri di sana, memakai baju seragam. Gitar berada di depan tubuhnya. “Oh, no!” kata si guru. Si anak lelaki memakai baju seragamnya, tetapi tidak celananya. Si guru menegur, meminta si anak memakai celananya segera. Lalu, si guru berbalik, menyiapkan papan tulis. Tiba-tiba gitar terdengar lagi. Rupanya si anak ini masih juga bermain dengan gitarnya, dan belum memakai celananya. Teman-teman lain mulai memperhatikan dia. Si guru akhirnya meminta si anak lelaki ini segera memakai celananya. Si guru menunggui sampai si anak selesai berpakaian. Si anak yang berbadan kecil dan terlihat polos itu kemudian memakai celana, ya… di depan guru perempuan dan teman-teman lainnya.

Mendengar kisah itu saya jadi sibuk bertanya-tanya:

– Mengapa si anak remaja tak malu hanya mengenakan celana dalam di kelas yang ramai?

– Mengapa si anak remaja lelaki ini tak malu bertelanjang sampai ditegur guru perempuan?

– Bagaimana cara mengajarkan kepada anak remaja tentang rasa malu?

– Apa mungkin si anak merasa bercelana-dalam sudah cukup baginya, sama seperti bercelana-renang ketika berenang?

– Sebenarnya apa fungsi pakaian: sekadar pelindung tubuh dari cuaca atau juga menimbulkan penghargaan atas tubuh?

– Bagaimana seharusnya orang tua mengajarkan tentang tubuh dan berpakaian pada anak?

Saya butuh banyak masukan dari semuanya. Mari kita diskusi!

Surat Kencan di Papan Tulis

Surat Kencan di Papan Tulis

Beginilah kalau remaja kelas 12 iseng menggoda gurunya. Tulisan ini saya temukan di papan tulis kelas. Kejadiannya sekitar tengah tahun 2011. Menurut si penulisnya, ini semacam pesan dari ibu untuk calon pacar anaknya. Ya, ini lelucon manis. πŸ™‚

Hari Kostum!

Ini satu cara seru untuk remaja menyalurkan ekspresi diri: Pakai kostum di sekolah!

Ya, menurut saya, sekolah perlu mengadakan acara ini satu dua kali dalam setahun. Gunakan hari-hari besar nasional atau internasional sebagai waktu pelaksanaannya. Bisa juga digunakan untuk perayaan ulang tahun sekolah yang menggunakan tema tertentu. Atau, misalnya, sesuaikan dengan salah satu materi pelajaran sosiologi atau seni rupa.

Yang paling bikin seru, ajak semua penghuni sekolah untuk turut serta berkostum ria. Murid, guru, dan semua karyawan sekolah! Sebisa mungkin, gunakan ini sebagai ajang berkreasi menciptakan kostum dengan bahan-bahan yang ada di rumah. Kalau perlu, dilarang menyewa kostum dari rental busana, supaya anak makin kreatif bermain bahan dan mencipta asesoris sendiri.

Berkreasi sendiri

Ini satu contoh kostum ala Yunani hasil kreasi saya dan murid. Perhatikan detilnya deh! πŸ™‚

Lucu ya?! Silakan dicoba di sekolah kamu ya! πŸ˜€

Story Telling oleh anak (2)

Ini adalah tulisan lanjutan dari “Story Telling untuk anak SMA”. Pencerita pada tulisan itu adalah guru. Nah, bagaimana jika sekarang murid yang berperan sebagai pencerita?

Seorang guru bahasa sangat dianjurkan untuk menggunakan kegiatan bercerita di kelas. Murid-murid senang mendengar cerita, seperti mereka senang mendengar curhat temannya. Sekarang, buatlah murid yang bercerita di kelas. Jika tidak ada persiapan khusus, guru bisa gunakan cara paling mudah. Tunjuk beberapa nama murid atau mempersilakan siapa saja yang ingin membacakan cerita di depan kelas. Pastikan mereka punya kemampuan vokal yang cukup baik agar teman-teman lain bisa menyimak cerita dengan maksimal.

Tentukan cerpen, drama, atau penggalan novel mana yang akan dibacakan. Guru membagi tugas, siapa yang akan membacakan paragraf mana, atau siapa yang akan berperan sebagai tokoh apa. Ajak murid pencerita menghayati peran dan murid pendengar untuk memahami cerita.

Guru sebaiknya mengukur lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca berantai ini. Pertimbangkan berapa lama cerita selesai dibaca, termasuk jika murid butuh waktu untuk konsentrasi atau ketika ada kesalahan baca. Akan lebih baik jika guru sudah menyiapkan murid-murid yang akan bercerita di pertemuan sebelumnya. Biarkan mereka yang berbagi tugas bagian membaca dan mereka bisa berlatih dulu sebelum tampil di pertemuan kelas nanti.

Untuk anak SMP, kegiatan mendongeng kelompok bagus dijadikan penilaian kompetensi menulis dan berbicara. Murid dalam kelompok membuat sebuah cerita, bisa tokoh nyata atau fabel. Nanti mereka pula yang akan mementaskannya. Guru menyiapkan rubrik penilaian yang mencakup aspek menulis naskah, cara bercerita (artikulasi, vokal, intonasi), penggunaan alat dan kostum, dan kerjasama kelompok. Kelompok lain akan melakukan penilaian kepada kelompok yang sedang pentas sebagai penerapan student-self-assessment. Kritik dan saran disampaikan oleh murid kepada temannya di akhir kelas. Tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi juga tak boleh dilupakan.


Untuk anak SD, gunakan boneka/mainan untuk membantu anak-anak berperan menjadi pencerita. Guru harus memastikan bahwa cerita yang dibawakan sudah diketahui oleh anak. Cerita bisa diambil dari buku yang pernah mereka baca bersama, atau bisa juga dongeng buatan mereka sendiri. Pastikan mereka bertanggung jawab menjadi tokoh. Beri pembagian tugas pada sejumlah anak, siapa menjadi ayam, siapa menjadi pohon, siapa menjadi raja, misalnya.

Guru bertugas sebagai penjaga alur. Biarkan anak menciptakan dialog mereka sendiri. Boleh juga kembangkan pop idea yang hadir dari anak. Guru tinggal arahkan pada tujuan akhir cerita. Ketika cerita sampai pada klimaksnya, guru mengajak murid ke penyelesaian dan buat anak berdiskusi. Apa rasanya ya menjadi tokoh dalam cerita? Bagaimana jika teman lain mengubah alur cerita? Bagaimana jika akhir cerita dibuat berbeda? Pancing terus anak dengan pertanyaan yang membuatnya bernalar.

Kira-kira begitu yang pernah saya lihat dan lakukan. Ada ide lainnya, kawan? πŸ™‚

Story Telling untuk anak (1)

Seorang teman di twitter kemarin bertanya, bagaimana ya melakukan story telling untuk anak SMA dengan menarik?

Sederhananya, ada dua pilihan pencerita di kelas. Bisa si guru, atau si murid. Jika si guru yang akan melakukan story telling itu, guru tersebut harus punya kemampuan bercerita dengan menarik. Caranya bagaimana? Jelas, buat persiapan dulu agar tidak canggung di kelas.

1. Bahan cerita mana?
Apa yang mau diceritakan? Sebuah cerpen, penggalan novel, atau dialog drama? Pastikan cerita yang dipilih bisa didiskusikan seusai cerita disampaikan.

2. Pendengar mau apa?
Apa yang guru harapkan dari murid akan menentukan persiapan bercerita. Jika murid diminta hanya mendengar cerita saja, guru bisa fokus pada persiapan diri sendiri. Murid cukup diminta mendengarkan dan bertanya di akhir cerita. Jika guru merasa perlu murid mengetahui juga apa yang sedang diceritakan, murid harus dibekali dengan kertas bacaan. Berilah mereka cerpen yang Anda bacakan, atau minta mereka siapkan novel kelas. Sambil mereka baca, guru bercerita di depan kelas.

3. Ceritanya bagaimana?
Menarik minat remaja mendengar cerita tentu harus memakai jurus jitu. Dasar yang harus dimiliki adalah teknik membaca lancar. Perhatikan: vokal yang pas didengar seisi kelas, artikulasi dan nada sesuai kalimat, dan juga mimik pencerita. Tambahkan gerak yang sesuai dengan adegan dalam cerita. Boleh juga gunakan kostum yang mendukung cerita, seperti selendang atau topi.

4. Bagaimana memulainya?
Penting sekali mencuri perhatian di kesempatan pertama, persis di judul cerita. Pakai pengantar dulu, sampaikan bahwa cerita yang akan dibawakan berkaitan dengan hidup murid Anda. Gambarkan sedikit rangkuman cerita dengan ekspresi maksimal. Contoh yang pernah saya lakukan di kelas seperti ini:


“Hari ini, saya akan bercerita cepat dan ringkas bagian pertama novel Gadis Pantai. Sesuai judulnya, cerita ini tentang seorang gadis yang berusia 14 tahun, persis seusia kalian, murid-murid di kelas ini… (saya menunjuk seisi kelas). Bayangkan, di usia kalian yang semuda ini, yang masih bisa duduk di kelas seperti sekarang, tiba-tiba… harus menikah dengan seorang bapak-bapak yang tidak kalian kenal! (biasanya murid perempuan bergidik di sini) Kalian yang lelaki silakan bayangkan, teman-teman perempuan di sebelah kamu, harus menikah dengan oom-oom! (biasanya mereka tertawa di sini) Nah… langsung saja ya saya bercerita. Bermula seperti ini…”

5. Saat bercerita gimana? Mengakhirinya?
Bacakan cerita dengan sungguh-sungguh. Ajak murid mendengar dan terlibat dalam cerita. Tanyakan pendapat mereka secara acak di tengah cerita tentang sikap tokoh. Bandingkan dengan kisah hidup tokoh idola mereka. Selipkan penjelasan tentang kosakata yang belum pernah mereka dengar. Mainkan nada suara di klimaks cerita, kemudian menurun untuk akhir cerita. Semakin dramatis guru berkata-kata, murid akan terpesona dan bisa memahami cerita.

Ya, kira-kira seperti itu. πŸ™‚
Bagaimana jika murid yang jadi pencerita?

Belajar Sejarah di TKP

Saat berkunjung ke Kota Lama, Semarang, kemarin, saya hanya berkeliling tanpa mendapatkan informasi yang cukup banyak. Padahal ada banyak bangunan lama yang menarik sekali. Tentu juga ada kisah sejarah yang menarik pula untuk didengar. Anak-anak sekolah seharusnya bisa belajar dari lingkungan seperti ini. Pelajaran sejarah misalnya, tentu akan lebih seru jika diadakan langsung di lokasinya. Saya jadi berpikir, bagaimana ya cara agar tempat bersejarah di suatu kota bisa bermanfaat lebih untuk pendidikan anak?

Ada beberapa yang saya pikirkan waktu itu.
* Mendongeng di bangunan tua
Orang tua atau guru bisa mendongengkan kisah bersejarah dengan lebih dramatis jika dilakukan di lokasi kejadian. Sebaiknya orang tua/guru mencari data dahulu tentang cerita sejarah yang akan disampaikan. Misalnya, cerita diniatkan untuk menjawab kenapa Gedung Marabunta di Kota Lama Semarang memiliki dua semut besar di atap bangunannya? Nah, pencerita bisa buku cerita atau boneka semut sebagai alat peraga untuk anak di usia TK dan SD. Untuk kelompok yang lebih besar, boleh juga undang pendongeng terkenal untuk bercerita dengan cara yang tentu menarik.

* Anak di usia SMP dan SMA bisa diminta mencari data tentang peristiwa bersejarah yang terkait dengan tempat tersebut. Cari dulu data di buku-buku atau di internet, buat ringkasannya lalu datang bersama kelas ke lokasi cerita. Presentasikan hasil temuan riset sebelumnya di sana. Tentu rasanya akan lebih menarik daripada sekadar presentasi di kelas, kan?

* Murid SMP dan SMA bisa juga ditantang untuk membuat proyek menarik tentang tempat sejarah. Misalnya melakukan rally foto atau film pendek bersama kelompok kelas. Hasilnya akan dibuat pameran dan ditonton di sekolah. Atau ajak murid membantu pemerintah daerah untuk membuat booklet informasi wisata tentang tempat-tempat bersejarah. Tentu lebih asyik belajar dan menghasilkan kreasi nyata untuk daerah kita.

Tentu ada ide lain ya? Yuk, berbagi!

Teknologi Sekarang Buat Belajar Jadi Senang

β€œSaya cari data di bebe, ya!”

Kalimat itu sering terucap dari mulut murid-murid saya ketika ada tugas yang membutuhkan pencarian data. Ketika saya menjawab, β€œSilakan!”, mereka pun akan senang. Bebe atau Blackberry memang sering jadi solusi cepat untuk kebutuhan tugas murid di era teknologi tinggi sekarang ini. Apalagi di daerah perkotaan, benda elektronik seperti ponsel pintar adalah makanan bagi murid. Bahkan posisinya melebihi kebutuhan mereka akan sarapan. Setiap pagi mereka lebih memilih menggenggam Blackberry ketimbang roti.

ponsel dan laptop di meja murid

Sebagai guru dari anak-anak yang karib dengan gadget itu, saya pun merasa harus mengikuti perkembangan mereka. Saya tidak ingin menciptakan jarak yang semakin jauh karena rentang usia guru dan murid sudah jauh terpaut puluhan tahun. Langkah pertama, saya coba mengakrabkan diri dengan cara ikut menggunakan ponsel itu. Itu salah satu upaya yang bisa saya jangkau. Namun, bukanlah kewajiban kita untuk harus memiliki semua gadget karena dana kita tentu terbatas. Jika dana Anda berlebih, boleh juga Anda memiliki benda elektronik lain yang banyak juga dimiliki oleh remaja kota besar sekarang. Tujuan guru memiliki gadget keren sebaiknya jangan hanya supaya bisa menyamai pergaulan murid. Sebisa mungkin kita harus pergunakan benda teknologi itu untuk kebutuhan pembelajaran. Ketika ada tugas, murid bisa dipersilakan menggunakan ponsel pintar mereka untuk mencari informasi di internet.

Banyak sekolah yang sudah memiliki komputer di kelas. Banyak juga sekolah yang memperbolehkan muridnya membawa laptop ke kelas. Banyak anak kota besar juga sudah biasa menggunakan kamera dan video handycam. Semua media itu sudah seharusnya dimaksimalkan untuk kegiatan belajar yang menyenangkan. Guru dari berbagai mata pelajaran bisa mengajak murid menciptakan banyak proyek belajar dengan desain seni yang menarik. Misalnya, tugas pelajaran kimia dalam bentuk komik animasi, laporan pelajaran ekonomi dengan proyek video, atau membuat podcast untuk pelajaran bahasa.

Pengetahuan teknologi yang sudah dipunya anak dan remaja itu harus dipergunakan untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Persilakan mereka berkreasi dengan pengetahuan mereka dan biarkan guru menjadi mentor mereka. Misalnya ketika murid diajak untuk membuat tugas membuat grafik di pelajaran bahasa Indonesia, ajak murid berkreasi lebih maksimal dengan teknologi. Suatu kali murid saya membuat karya menarik, yaitu sebuah grafik dengan lampu-lampu yang digunakan sebagai penanda data. Mereka merangkai sistem listrik sederhana pada papan grafik itu. Ketika tugas ini dipresentasikan di kelas, pertunjukan hasil penelitian mereka menjadi lebih menarik untuk dilihat.

Bermain lampu di proyek grafik

Bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapat akses mudah untuk menggunakan teknologi? Adalah tugas kita untuk menciptakan kesempatan itu untuk mereka. Pada suatu kesempatan di kegiatan Dongeng Minggu di Depok, saya dan teman-teman datang membawa CD film, laptop, dan proyektor. Biasanya anak-anak di sana belajar lewat dongeng yang dibawakan oleh kakak pendongeng menggunakan boneka-boneka binatang. Namun kali itu, kami mencoba hal lain dengan teknologi yang akrab dengan kami, tetapi belum akrab untuk mereka. Kami memutarkan film kartun anak yang mengajarkan tentang ikhlas. Anak-anak duduk manis menyimak film, tanpa merasa terbebani bahwa mereka sedang belajar. Tentu ini menyenangkan untuk anak-anak.

Adik-adik Dongeng Minggu menonton film dengan proyektor.

Masih banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membuat suasana yang asyik untuk belajar. Yang paling penting kita siapkan adalah keinginan untuk berkreasi, baik dari guru dan juga murid. Setelah itu, pasti ada banyak alat teknologi yang bisa kita dipakai. Maksimalkan penggunaannya dan jangan kaget jika anak-anak bisa belajar dengan hati senang.

MobTech untuk Pendidikan

Dari #twitedu bersama @bincangedukasi, Selasa 17 Januari 2012

Pemanfaatan Mobile Technology untuk Pendidikan
@bincangedukasi: Tweeps, pk 19.30 kt mulai #twitedu ttg pemanfaatan mobile technology utk pendidikan yaa. Sudah siap kan?

Lihat saja apa yang selalu murid-murid pegang di kota-kota Indonesia sekarang? Sebuah ponsel pintar. Alat main, juga belajar. Anak remaja sebagian besar sudah dibekali hape. Mereka biasa main Bebe bahkan Ipad di sekolah. Ini media belajar juga. Ada beberapa sekolah yang punya kebijakan terbuka tentang penggunaan ponsel pintar di kelas. Murid bisa browsing data tugas via Bebe/Ipad. Murid bisa pakai Hp/Bb/Ipad tentu dengan pengawasan guru. Yaa, supaya ketika diminta cari data, gak lalu malah main games. Ini tantangan super buat guru, gimana cara mereka mengajak murid SMP/SMA memanfaatkan mobile tech dengan maksimal untuk belajar. Saya sering gunakan BBM untuk ingatkan murid kumpulkan tugas. Efektif sekali. Murid dan guru bisa berinteraksi tanpa batas waktu. Di awal tahun ajaran, murid dan guru sekelas bisa buat Blackberry group atau Jarkom SMS untuk memudahkan sebar info belajar.

@kreshna: Adakah etika/etiket yang mengatur tentang komunikasi guru/murid di media online & di luar jam sekolah?
Di awal tahun ajaran, guru berkenalan dengan ortu murid. Di situlah waktunya kasih kebijakan bersama. Jam berapa guru bisa dihubungi. Ada kebijakan sekolah yang ikut mengatur jam komunikasi guru dan ortu. Misalnya, ortu hanya boleh telepon/SMS selama jam sekolah. Ada juga guru yang perbolehkan ortu SMS bebas waktu, tapi jangan telepon. Ortu dan guru harus paham waktu privasi masing-masing. Nah, begitu juga dengan murid-murid SMP/SMA. Beri kebijakan bersama di awal tahun. Ini no hape saya. Silakan telepon/teks saya di jam sekian.

@kreshna: Atau mungkin batasan profesionalitas hubungan guru dan murid. Adakah yg terkait dgn media & waktunya? Profesionalitas guru dan murid tergantung media dan waktu? Hmm, ini bergantung pada kebijakan diri sendiri dan sekolah. Ada sekolah yang punya aturan agar guru dan murid hanya berhubungan pada jam sekolah. Di luar jam, hanya boleh tanya tugas. Banyak pula sekolah yang persilakan guru tanggung jawab sendiri tentang hubungan profesionalnya dengan murid. Saya suka yang ini. Bagi saya, guru itu pekerjaan belajar yang tidak berbatas waktu. Makanya saya berusaha untuk bebaskan anak tanya di jam luar sekolah. Tentu saja dengan etika yang wajar. Anak sopan akan tanya dulu bolehkan dia menelepon gurunya waktu malam untuk tanya PR. Saya pernah di-Ping BBM berkali-kali. Jika terasa mengganggu, bicarakan saja dengan muridnya. Buat aturan bersama. Twitter! Wah, ini media yang sering saya pakai untuk bicara/tegur sapa dengan murid. Waktunya tak berbatas. Yang penting jaga etika.

@bincangedukasi: Kebanyakan guru belum manfaatkan mobile tech dalam pendidikan ya rasanya? Bagaimana cara meyakinkan mereka tentang manfaatnya?
Berbagilah ilmu dengan guru lain di kantor. Atau saat rapat, bagi cerita bahwa mobtech ini berguna juga kok untuk pendidikan. Jangan paksakan juga guru yang belum biasa dengan alat tekno untuk langsung bermain dengan tekno. Dia harus kenal benda tekno dulu. Murid juga perlu maklum. Ada guru yg tidak bisa buka email tugas murid di hapenya. Atau yang lama mengetik SMS. Kemudahan dan kesulitan penggunaan mobtech harus dibahas bersama di kelas. Diskusi aja, gimana guru-murid bisa manfaatkan itu bersama.

@bincangedukasi: Konten pendidikan apa saja yang bisa dibagi melalui mobile devices? Mungkinkan pengajaran juga dilakukan dengan mobile devices?
Konten pelajaran bisa juga kok dibagi lewat mobile tech. Broadcast message BBM bisa untuk sebarkan bahan ajar loh. Semacam kejutan: Kirim broadcast sebuah rumus fisika. Minta murid cari di buku. Jadi penyulut belajar besok di kelas. Saya pernah review materi ujian di twitter. Beri hashtag dan mereka bisa pantau. Bisa tanya jawab juga. Ngobrol pelajaran via BBM juga saya sering. Lokasi tak berbatas, yang penting klop aja waktu guru dan muridnya.

@ratnakristanti: Kalau tentang konten twitternya gimana, Mbak? Kan kadang mbak tidak hanya ngobrol dengan murid. Atau ada aturan juga pas ngobrol dengan murid?
Kalau tentang konten twitter, ini bisa jadi topik #twitedu berikutnya ya. Ini berkaitan dengan #PersonalBranding. Yang pasti untuk bahas materi pelajaran, saya bisa pakai twitter. Murid bisa cari kapan saja di mana saja selama ada tagar topiknya.

@Lutfi_333: Pertanyaan yang sering dihadapi guru yang ingin gunakan mobile tech adalah soal kesetaraan: tidak semua murid pake mobile/smartphone. Solusinya?
Untuk kegiatan kelas, buat tugas dalam kelompok. Satu punya smartphone bertugas cari data, yang lain mencatat. Bisa kok! Tugas rumah, murid bisa pakai PC di rumah atau warnet. Semua bisa asal ada niat belajar teknologi.

@Lutfi_333: Yang menjadi permasalahan nggak semua siswa punya akun twitter/Fb. Nah cara mengatasinya bagaimana??
Ya, ketika guru ingin beri materi tambahan di twitter, diharapkan semua murid sudah punya akun. Tapi ingat, pembelajaran di twitter itu sifatnya tambahan. Maka bukan kewajiban murid untuk harus ikut serta di sana.

@kurniasepta: Ini @bincangedukasi topik2nya #twitedu terlalu di atas angin, kurang menyentuh akar rumput. Ah, Indonesia.
@gurubimbel: Bahasan#twitedu tentang mobile technology memang hanya cocok untuk sekolah kalangan menengah ke atas.
Jangan terjebak bahwa mobile techno itu hanya sebatas gadget mahal. Hape murah pun itu mobtech. Remaja akar rumput juga pakai itu. Hape murah dengan fasilitas Fb bisa dipakai untuk media belajar juga. Untuk komunikasi, bisa pakai jarkom SMS. Menurut @Amung_Palupi Radio, TV, Toa, Surat Post, Layar tancep, Motor, bahkan person untuk konseling itu adalah Mobile Tech juga. Menurutnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan: @Amung_Palupi: yang pernah dilakuin sih, 1. Meminta teman untuk mengirimkan bahan ajar ke desa lewat post memprosesinya seperti MLM. 2. Dengan bahan dari teman yang kemungkinan sedikit maka gunakanlah VOV dari toa mushola. Sementara menurut @ayu_kartikadewi: mobile devices bisa jadi alat yang menarik untuk mengenalkan huruf.

@gurubimbel: Ibu, di Banten masih banyak kan yang ke sekolah tanpa alas kaki? Lalu bagaimana mereka bisa mengenal mobile technology?
Apa yang tidak mungkin? Mengapa anak yang ke sekolah tak pakai alas kaki maka tak bisa kenal mobile tech? Maka perkenalkanlah. Jika tadi yg dimaksud mobile tech hanya sebatas ponsel dan laptop, itu pun masih memungkinkan utk disebar kepada anak-anak di pelosok. Jika pemerintah atau lembaga besar tidak memberi bantuan, maka lakukanlah sendiri dengan apa yang dipunya di sekitar.

Kesimpulan #twitedu ini: Manfaatkan maksimal mobile technology yang ada di sekitar. Segala rupa bentuk dan jenis. Semua berguna untuk belajar. Satu lagi: guru, murid, dan ortu, semua harus berpikir positif. Mobile techno bisa digunakan dengan cara praktis dan hasilnya bisa baik. Nah, berpikir positif bisa dimulai dengan menghindari kata ‘tapi’.

Pendidikan Kearifan Lokal #twitedu

Berikut ini adalah rangkuman tweet saya di #twitedu edisi Pendidikan Kearifan Lokal, Selasa 20 Desember 2011.
Silakan disimak. πŸ™‚

#twitedu malam ini temanya kearifan lokal. Saya coba kaitkan dengan sikap orang dewasa dan remaja belakangan. Kearifan lokal berkaitan dengan etika dan sopan santun berkehidupan. Lokal maksudnya bercermin pada lingkungan sekitar. Sejak kecil ortu sudah harus menanamkan bentuk-bentuk kearifan dalam berhubungan, baik dengan sesama manusia atau alam. Jadilah seorang anak dibekali sopan santun adat setempat. Bagaimana cara balas salam atau bagaimana jika ditanya orang. Bentuk kearifan lokal tentu berbeda-beda. Anak pantai berbeda sikap dengan anak gunung. Anak kota beda pandangan dengan anak desa.

Kurikulum sekolah sudah seharusnya memahami kearifan lokal. Tak bisa kita gunakan satu buku ajar untuk anak-anak di beda daerah. Pahami struktur budaya lokal. Maka hasilnya, Ujian Nasional di Indonesia pun tak bisa dibuat sama soalnya. Sekolah harus membuat pelajaran yang sesuai dg adat setempat. Anak sungai tak bisa dipaksa kenal bus kota. Itu bukan kearifan lokal. Anak sungai harus diajari pelajaran fisika yang tepat. Gimana cara bangun jembatan. Ekonomi? Sumber Daya Alam apa yang bisa dimanfaatkan dari sungai. Pelajaran PLBJ (Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta) ya hanya diajarkan untuk anak sekolah Jakarta. Pengetahuan tentang Jakarta yang harus diketahui anak luar pulau Jawa adalah bahwa Jakarta adalah ibukota negara/pusat pemerintahan. Tak bijak jika pendidikan memaksa anak Maluku harus tahu ondel-ondel. Sementara anak Jakarta tak tahu di mana letak Pulau Buru. Pendidikan dengan basis kearifan lokal diharapkan membuat anak cinta daerah, dan berkeinginan mengembangkan daerahnya.

“@kurniasepta: kearifan lokal itu dikembangkan lewat pelajaran muatan lokal, eh tp knp bahasa inggris masuk mulok?” Ayo bahas! Kenapa bahasa Inggris termasuk muatan lokal dalam pelajaran nasional? Sebenarnya muatan lokal itu apa? Saya kurang memahami istilah kurikulum nasional. Tapi agaknya mulok dimaksudkan jadi pelajaran tambahan. Ini lucunya. Yang termasuk mulok sekarang ini adalah pelajaran bahasa daerah, bahasa Inggris, dan/atau komputer. Kategorinya tambahan saja. Agaknya kenapa bahasa Inggris dimasukkan sebagai mulok, ya karena itu dianggap pelajaran tambahan. Pelajaran wajib adalah bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Inggris diharapkan jadi muatan tambahan untuk meningkatkan pengetahuan agar bisa kembangkan budaya lokal. Setelah anak paham dunia lokalnya, bahasa Inggris bisa dipakai untuk memahami pengetahuan lain yang berguna untuk daerahnya.

“@kurniasepta: @arnellism #twitedu Siapa yg menciptakan kearifan lokal?” Pertanyaannya luas sekali. Yuk coba kita diskusi. Siapa pencipta kearifan lokal? Manusia yang ciptakan. Orang tua kita. Agar anak cucunya bisa nikmati dunia lebih lama. Kearifan lokal mengajarkan anak Kalimantan tak asal bunuh orang utan. Mereka harus tahu apa guna hewan itu. Fungsi ortu dan guru adalah mengajarkan anak untuk pahami kenapa orang utan dan hutan harus dilindungi. Di sinilah hadir kearifan lokal. Kasus pembunuhan orang utan oleh warga setempat adalah bukti pendidikan di sana belum berbasis kearifan lokal. Pelajaran Ekonomi harus diselipi pendidikan kearifan lokal. Manusia jangan asal cari untung lalu bebas babat hutan seisinya. Nah, pendidikan kearifan lokal tidak boleh berhenti di SD. Anak SMP dan SMA harus lebih banyak diskusi pentingnya hal ini.

“@bincangedukasi: Apa sih manfaat mempertimbangkan Kearifan Lokal dlm pendidikan di era globalisasi ini?” Era globalisasi begini sangat harus diimbangi dengan pendidikan kearifan lokal. Selain baik, teknologi punya sifat merusak juga. Era global membebaskan budaya luar menyerang budaya lokal. Kearifan lokal harus berbicara untuk mengatasinya. Kasus punk di Aceh itu adalah contoh bentroknya budaya lokal dengan budaya asing. Bagaimana kearifan lokal berperan? Jika pendidikan kearifan lokal berjalan dengan baik, topik ‘punk di Aceh’ itu harusnya bisa ditangani dengan mudah.
Banyak contoh masih kurangnya pendidikan kearifan lokal di negara ini. Kasus Freeport dan Mesuji misalnya.
Ada berapa kampus yang punya jurusan pertanian, perikanan, dan kelautan di Indonesia? Di mana kita belajar kearifan lokal?

“@_kawit: @bincangedukasi @arnellism lalu bagaimana dengan brick dance? Beat box? Suffle dance? Normal kah?” Boleh saja pelajari itu. Di sekolah saya anak-anak juga sedang gandrung suffle dance dan KPop. Tak apa, selama bertanggung jawab untuk tak lupa budaya sendiri. Tapi kearifan lokal anak kota memang jadi bias. Lokal buat mereka adalah budaya dunia. Jangan kaget jika kearifaan lokal anak SMA Jakarta sekarang adalah kerjakan tugas di StarBucks atau Sevel. Bentukan lokal kota. Kearifan lokal gagal terjadi ketika anak kota itu berantem karena rebutan tongkrongan di Sevel.
Pelajaran Sosiologi harus mengajarkan bagaimana bersikap arif dalam budaya kota yang dianut remaja di kota besar.
Prinsipnya sama, anak kota harus paham dulu bagaimana menyikapi mal atau gadget, sebelum pelajari tongkonan atau badik.

Kesimpulan: mari pelajari segala sumber daya lokal dan gunakan untuk kemajuan daerah masing-masing dengan arif bijaksana.

%d bloggers like this: