Sekali lagi, Belajar Menari dari Youtube

Awalnya mau belajar menari Wira Pertiwi adalah karena permintaan. Ada acara Archery Competition di sekolah tengah bulan Februari, dan PIC acaranya meminta saya untuk mengisi pembukaan dengan tarian tradisional. Ya, karena acaranya lomba panah, makanya saya cari tarian yang pakai properti panah. Di Youtube saya nemu video tari Wira Pertiwi ini di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=SuMPEAxP9cA. Sekali lihat langsung jatuh cinta. Gerakan srikandi pemanah di video itu bagus banget! Benar-benar menggambarkan seorang wira (pahlawan) yang seorang pertiwi (perempuan) yang tegas, sigap, berani, mengamankan keraton Jawa dari marabahaya. Tari Wira Pertiwi ini adalah tari kreasi Bagong Kussudiardja, dan video yang saya sebut tadi dibuat di Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja Jogjakarta. Pas sudah, video ini saya pakai buat acuan belajar.

Akan tetapiii, acara Archery Competition itu tidak jadi menyiapkan slot pembukaan pakai tarian tradisional. Sedih juga, padahal niat belajarnya sudah kenceng banget, dan sudah jalan dua minggu latihan sendiri di rumah. Step by step saya tiru langkah penari di video itu. Sambil membayang-bayangkan setiap malam sebelum tidur. Sampai akhirnya saya hapal. Again, the power of visual learning. Thanks, Youtube!

Untungnya bulan April ada acara Indonesian Cultural Week, yang kebetulan tahun ini diadakan tanggal 21 April, pas di Hari Kartini. Jadinya saya ajukan saja ke panitia, saya mau ajak guru-guru menarikan Wira Pertiwi ini. Kenapa bukan ajak siswa? Karena untuk siswa, saya ada project lain, ethnic hiphop dance namanya.

Oke, latihan dimulai dan tantangan datang. Tantangan kali ini ada dua. Pertama, ini tarian Jawa yang di mata saya kayaknya susah banget. Ya itu tadi, harus bisa gagah seperti jagoan panah, sekaligus lembut juga seperti perempuan anggun. Benar-benar saya cuma bisa mengandalkan Youtube karena memang tidak ada budget untuk sewa pelatih tari. Sekaligus saya harus mengajarkan gerakan ke guru-guru lainnya. Padahal saya juga baru belajar sebulan sebelumnya.

Tantangan kedua adalah partner nari kali ini adalah ibu-ibu yang awam menari. Tapi buat saya yang penting mereka punya NIAT BELAJAR. Itu pasti bisa mengalahkan segalanya. Ekspektasi dibuat sederhana, yaitu kami semua hapal gerakan dan mengikuti pola lantai yang rapi. Saya yakin pasti bisa! Lagian ternyata proses belajarnya menyenangkan banget. Miss Diona yang guru biologi aktif bertanya dan aktif ngajak berlatih, bahkan beli panah mainan bocah buat properti latihan. Miss Emma yang guru matematika suka pakai hitungan, tidak ragu bertanya dan konfirmasi. Sementara Miss Retno yang guru fisika lebih seru lagi. Dia sangat suka pakai hitungan di setiap gerakan, plus dia orang yang sulit membedakan kanan dan kiri. Kebayang kan, gimana rempongnya kami saat latihan. :))

Rempong berikutnya adalah tentang kostum. Kami semua berkerudung jadi kami akhirnya beli kerudung jaring untuk hiasan kepala. Biar gampang juga ditusuk konde dan hiasan bunga. Sementara kostum, kan itu all size ya, jadinya yaa dipas-pasin dengan beragam ukuran tubuh kami. Yang tinggi seperti Diona jadinya celananya ngatung. Miss Emma juga tinggi, dan dia nggak mau kakinya terlihat, jadinya dia pakai manset. Miss Retno dan saya, hmm kami mengandalkan korset dan slimming suit. :))

Harinya tiba, dan seperti inilah kami bergaya.

photo (5) (Kiri-kanan) Bawah: Miss Emma, Miss Diona. Atas: Miss Retno, saya.

 

DSC_1145

Ini foto saat pentas di hall sekolah. Menurut penonton sih, cakep kelihatannya.😀

Kalau mau lihat videonya, bisa diklik di sini: wira pertiwi 1

Yang kualitas videonya lebih bagus, waktu menarikan ini di acara wisuda kelas 12 tanggal 23 April. Nah, videonya ada di sini:

 

 

Puisi Remix

Dulu waktu jaman jomblo, ketika kreativitas meninggi seiring masa mencari suami, isenglah saya bikin video baca puisi. Puisi Acep Zamzam Noor yang berjudul “Aku Ingin Menemanimu” itu saya rekam di sini: https://www.youtube.com/watch?v=HZbCpLlqxMk. Itu tahun 2012 ya bikinnya. Tiba-tiba aja, di tahun 2015 ada orang (yes, totaly stranger) mengirim pesan di blog ini.

Raf:  Saya nemu link video Youtube kamu yang bacain puisi Asep Z. Noor, dan seorang kawan saya tertarik untuk ‘meramu’ pembacaan puisimu jadi lebih hidup. Silakan didengar di sini bila berkenan: https://www.spreaker.com/user/senartogok/acep-z-noor-aku-ingin-menemanimu-st-rmx

Puisi remix! Keren, yaaa?  Nggak nyangka bisa terlibat bikin musikalisasi puisi, padahal nggak pernah kenal orangnya hingga saat ini. Siapapun kamu, terima kasih yaa.:)

Oya, bikin ginian lagi, yuk! Anyone?

 

 

Mengajar Puisi dan Cerpen yang Tidak Membosankan

Minggu lalu tiba-tiba ada teman kampus yang menghubungi via whatsapp. Dia cerita, katanya dia diminta mengajar murid SMP dan SMA sekolah Indonesia di Singapura. Pengalaman selama ini dia mengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), makanya dia agak bingung saat diminta mengajar kelas dengan kurikulum KTSP. Dia tanya, gimana cara ngajar sastra yang nggak membosankan?  Kataku, wah panjang jawabannya. Kusarankan untuk baca aja blogku, ada banyak contoh cerita dan ngajar. Dia bilang lagi, iya dia sudah baca dan sudah pakai ide ngajar di sana. :) Dia lanjut bilang lagi: di sekolah itu tidak tersedia novel, bahannya hanya cerpen dan puisi, dan itu pun yang mudah dicari di internet. Oke, pembicaraan itu yang akan aku bagi di sini sekarang. Sengaja bentuknya kayak chat, biar terasa asli aja.:)

 

Oke, puisi ya. Mulai dari objektif, murid bisa membedakan puisi lama dan baru, memahami ciri-cirinya, menganalisis, dan membuat.

Awalnya, lo sediakan handout, kasih contoh pantun syair gurindam dan puisi baru di satu paper. Group discussion, biarkan anak melihat langsung contoh itu dan mereka menyimpulkan, apa beda puisi-puisi itu.

Guru lalu bantu menyimpulkan hasil temuan, ini lho yang namanya pantun, syair, gurindam, soneta, dll. Jadi anak bukan dicekokin pengertian.

Setelah anak paham, kasih paper berikutnya. Sekarang ini ada pantun dan ada puisi Chairil. Sekarang cari berapa jumlah baris, jumlah suku kata per baris, rimanya gimana, sesuai unsur-unsur puisi. Anak bisa lihat, ooo beda ya puisi lama dan baru. Giring hingga menemukan bahwa ciri puisi lama serba terikat dan puisi baru serba bebas.

Next, anak sudah paham ciri-ciri. Baru mereka bisa diajak membuat. Ajak anak bikin pantun. Ini yang paling seru. Sebagai guide, guru bisa kasih contoh sampiran pantun. Jalan-jalan ke Pasar Minggu/ Jangan lupa beli pepaya. Nah minta anak buat isi baris 3-4.

Jenis pantun kan beda-beda. Dengan satu sampiran, bisa dibuat jadi beragam isi. Misalnya, buat pantun cinta dengan sampiran tadi. Lalu berikutnya pantun nasihat masih dari sampiran tadi.

Lalu minta anak berdiri dan bacakan hasilnya. Anak-anak lain bisa mendengar dan mengapresiasi. Sekaligus mengecek apakah pantun buatan temannya sudah memenuhi syarat pantun. Rimanya sudah benar belum? Isinya sesuai tidak? Back to floor. Anak yang jawab dan menilai hasil kerja temannya.

T: Kalo untuk pengajaran cerpen gimana? Gw kemarin baru coba. Minta mereka membaca dan ujung-ujungnya gw minta itu dijadikan sebuah naskah drama. Cuma gw gada ide lain bikin mereka tertarik. Kebetulan di kelas ada anak yang udah buat novel teenlit gitu dan udah diterbitin pula.

Balik lagi ke objektif pembelajaran. Ini paling mendasar dan acuan guru mau ngapain di kelas. Misalnya tujuan pembelajarannya adalah siswa mampu menganalisis cerpen. Maka semua kegiatan harus bertumpu ke situ.

Anak udah bisa bikin novel justru bisa lo ajak jadi semacam asisten untuk bantu jawab, kasih contoh ke temannya.

Itu bagus, cerpen dibuat drama. Berarti mengaplikasikan pemahaman sastra. Sebelum itu anak harus paham dulu analisisnya. Misalnya menemukan semua unsur intrinsik, baru kemudian bahas unsur ekstrinsik, baru kemudian merespon pemahaman. Bentuk merespon adalah cerpen jadi drama yang lo buat tadi.

Yah, demikian. Semoga bisa membantu.:)

 

 

 

 

Menggambar Kesedihan

photo 2 (5)

Ini Gemintang, keponakan saya. Usianya empat tahun. Beberapa pekan lalu saya main dengan dia di rumah Depok. Dia minta diajari menggambar orang. Saya pun menggambar, lalu dia meniru tahapannya. Setelah jadi satu-dua gambar orang senyum, saya ajak Gemintang menggambar ekspresi wajah lain. Nah, ini hasilnya. Wajah sedih. Karya Gemintang itu yang kanan, perempuan yang menangis. Yang kiri gambar saya.:) Yang keren adalah Gemintang kemudian menulis sendiri kalimat di tengah gambar itu.

Tanpa secara khusus menargetkan tujuan pembelajaran “menunjukkan rasa simpati”, Gemintang telah menunjukkannya lewat kata “cupcup”. Ia pasti sadar bahwa “hidup tidak selamanya tersenyum”. Kadang-kadang Gemintang juga menangis, kan? Saya juga bilang, si tante ini juga masih suka menangis, kok.:)

 

Mencabut Kenanga

Biasanya para lelaki lain tidak akan terlalu mempedulikan warna peralatan berkebunnya. Selama berfungsi, warna tidak jadi persoalan berarti. Namun, itu tidak berlaku untuk Rudi. Sekop, garu, ember, botol penyemprot, sebutlah semua peralatan berkebunnya punya bagian yang berwarna kuning. Dengan sengaja ketika membeli alat-alat itu dulu, warna jadi pertimbangan penting.

Lelaki itu mengambil sekop kecil berwarna kuning dan garu kecil berwarna sama. Dengan sandal jepit yang sudah mulai melengkung, ia berjalan dari teras menuju kebun kecil di halaman rumah. Diedarkannya pandangan, sekilas mengamati daun-daun hijau sayuran. Bayam dan terong muda. Beberapa daun tampak kuning pupus, bukan kuning sempurna, melainkan kuning bercak seolah daun itu dijatuhi tahi burung. Rudi lupa kapan terakhir kali ia menyemprotkan pupuk daun untuk tanaman itu. Mungkin setelah ini ia akan mengurusnya. Mungkin, jika energinya masih tersisa.

Rudi telah tiba di tujuannya. Sebuah tempat yang semestinya terlihat biasa saja, tetapi tidak untuknya. Ia berjongkok. Tangan tertahan di kiri kanan paha. Sekop dan garu berada di satu genggaman tangan. Tanah gembur di hadapannya, bekas penganiayaan paksa yang Rudi lakukan pada tumbuhan yang semula hidup di atasnya. Tanah tempat tumbuh pohon bunga kenanga. Tanah yang dulu pernah dikenal oleh Kenanga.

Kemarin sore Rudi mencabut pohon bunga kenanga itu. Batang pohon itu tidak terlalu dalam tertanam. Bunganya sedang banyak, menguarkan aroma harum tipis di hidung Rudi. Namun, aroma itu tak mampu menghentikan langkahnya untuk setidaknya berpikir ulang. Niatnya sudah terlalu kuat. Emosinya sudah terlalu sesak. Kenanga ini harus dicabut, seperti juga Kenanga yang hidupnya telah tercabut.

Dengan sebuah hentakan kuat Rudi menarik perdu itu. Kayunya masih belum begitu kuat, akarnya juga belum lama terikat. Pohon bunga itu seolah tak menolak dicabut. Rudi justru semakin marah. Ia mengharap akan terjebak pada adegan tarik menarik anak yang malas diajak sekolah. Namun, tidak. Pohon itu seakan menyerahkan kayu kecilnya melayang dari tanah. Enggan dipaksa oleh lelaki yang tengah kalut jiwanya. Rudi mendengus. Betapa mudah pohon ini menyerah. Kesal di hatinya mulai bercampur dengan sesak. Kau telah mencabut dirimu sendiri, kau telah mencabut hatiku mati. Pohon kenanga itu telah berpisah dari tanah.

***

Kenanga pertama kali Rudi temukan di sebuah taman dekat kantin kantornya. Ia tidak tumbuh di tanah taman yang hampir seluruhnya ditutupi rumput itu. Kenanga hidup dan berjalan dengan kakinya. Perlahan langkahnya mendekat menuju meja Rudi siang itu. Rudi dan dua temannya sedang makan, seperti rutinitas normal yang dilakukan orang-orang di taman itu. Rupanya perempuan itu teman dari Fajar dan Boni, kedua teman Rudi tadi. Si perempuan menjabat tangan Rudi dengan kesopanan yang wajar, sambil menyebutkan nama dengan suara yang terdengar lemah di telinga: Kenanga.

Kenanga lalu ikut duduk satu meja dengan mereka. Ia memesan es teh manis dan seporsi nasi goreng, lalu membahas laporan keuangan yang sedang ia kerjakan. Merasa senasib diburu deadline yang sama, mereka pun kemudian menertawai angka-angka yang sama, tumpukan berkas yang sama tingginya, meskipun suara lemah tawa Kenanga jadi terdengar sumbang di antara tawa para lelaki di meja itu. Rudi sempat menebak apakah yang menyebabkan perempuan bersuara lemah ini mau duduk semeja dengan tiga lelaki begini. Tak adakah ia punya teman perempuan? Rudi menjadi begitu naif, berpikir bahwa suara lemah Kenanga semestinya bergaul dengan suara perempuan saja, tak pantas bersahutan dengan gelegar tawa para lelaki.

Dari ekor mata sebelah kanan, Rudi memperhatikan. Kenanga rupanya tipe orang yang tak banyak bergerak. Rasanya sejak ia duduk di sini, ia belum juga berubah posisi. Rasanya setiap kali Kenanga bergerak, pastilah ada tujuannya. Jika ia menggerakkan tangan, itu karena ia ingin menyendokkan nasi dari piring. Setelah menyuap, ia akan meletakkan pergelangan tangan di tepian meja. Begitu terus, setidaknya sampai setengah nasi di piringnya hampir habis. Bola mata Rudi bergulir memperhatikan teman lelakinya. Fajar, seperti biasa, sibuk bicara sambil mengunyah sambil sibuk menggerakkan kedua tangan. Boni menyuap makanan lalu mengaduk-aduk es teh lalu merapikan rambut lalu mengetuk-ngetukkan jari di meja. Rudi sendiri, selalu menggoyang-goyangkan kaki tanpa arti.

Ketika Fajar akhirnya berhenti bicara dan menyuapkan makanan, Rudi mengambil jeda yang ada untuk bertanya pada Kenanga.

“Kenanga itu nama bunga, kan, ya?” entah mengapa pertanyaan itu yang terlintas. Rudi sedikit khawatir jika pertanyaannya dianggap terlalu bodoh.

“Oh, iya,” sahut Kenanga. Matanya melirik pada Rudi. Jari kirinya bergerak menyibakkan rambut agak ikalnya ke punggung. Sebuah gerakan baru, pikir Rudi. Karena gerakan itulah kini lehernya tersingkap. Telinganya juga. Rudi melihat tak ada anting atau giwang di daun telinganya. Namun, Rudi menemukan sebuah bros berbentuk jari-jari bunga tersemat di bawah kerah blasernya. Bros keemasan itu menyembul di dada Kenanga, membuat Rudi lekas memalingkan wajahnya.

“Tahu kenanga yang kayak apa?” tanya perempuan itu, yang seolah tahu Rudi tadi telah mencuri pandang ke arah dadanya. “Yang kayak ini…”

Karena terlanjur, sekalianlah Rudi menyahut agar tak canggung.

“Ah, iya, saya ingat sekarang, bunganya warna kuning, kan? Kuning campur hijau gitu. Panjang-panjang kelopaknya. Eh, bukan kelopak barangkali itu, ya? Seperti, apa ya… bintang laut.”

“Iya, dan harum bunganya,” Kenanga menambahkan sambil tersenyum.

“Oh iya, besok Mbak Ratna mau kasih kita proyek lho!” potong Fajar tiba-tiba. Lalu terputuslah pembicaraan tentang bunga kenanga siang hari itu.

***

 

Rudi masih berjongkok di depan tanah bekas pohon kenanga itu pernah hidup. Oh, yang kemarin hidup dan telah ia buat mati, koreksinya. Tak ada lagi jejak yang menandakan pernah ada pohon kenanga di sana. Bahkan bunga yang rontok pun tidak ada. Dalam emosi kemarin sore, Rudi membuang pohon kenanga itu sekaligus memunguti ceceran daun dan bunga yang jatuh. Seolah tak ingin menyisakan satu petunjuk pun di tempat perkara. Namun, kini saat Rudi berjongkok di depan tanah itu, entah angin mana yang membawanya, Rudi menghidu kembali bau bunga kenanga. Bau yang sama seperti pertama kali ia mengambung wewangian yang menguar tipis dari tubuh Kenanga. Bau yang meninggalkan bekas harum di sofa café tempat mereka bercanda. Bau yang kemudian sering ia hirup dengan jarak intim dari leher perempuan itu. Bau yang telah begitu melekat di batang otak Rudi. Oh, Kenanga yang berbau bunga kenanga. Semacam simbol yang sangat mudah dicerna.

Karena Rudi menyukai hal-hal yang simbolik, ia pun mencoba mengabadikan sosok Kenanga di rumahnya. Rudi ingat betul tentang sore yang satu itu. Sepulang kerja, Rudi menunggu Kenanga di lobi kantor. Duduk di sofa lobi, kaki Rudi terus bergoyang tak berhenti. Ia telah bersiap menyampaikan rencana yang membuatnya sangat cemas dua hari belakangan itu.

Kenanga muncul dengan langkah teraturnya seperti biasa.

“Kamu mau ajak aku ke mana?” tanya Kenanga curiga.

Rudi tak langsung menjawab. Matanya memandang ke scarf jingga yang bergelung di leher Kenanga, berpadu lembut dengan blus kuning pupus yang menyelimuti tubuh kecil perempuan itu.

“Nggak ajak Fajar dan Boni? Kayaknya mereka masih ada di atas,” tanya Kenanga lagi. Rudi menyesal tadi ia tidak langsung saja menyebutkan tujuan sewaktu mengirim pesan ke ponsel Kenanga. Rudi akhirnya menatap mata sayu perempuan itu.

“Saya mau ajak kamu ke tukang bunga. Yuk, kita jalan sekarang!”

Rudi benar-benar mengajak Kenanga ke tukang bunga. Agak jauh berkendara dari gedung-gedung perkantoran tempat mereka bekerja, ada deretan tukang yang menjual berbagai tanaman. Rumput dan pohon besar siap tanam ada. Segala rupa dekorasi taman juga ada. Namun, Rudi sudah bulat ingin mencari satu jenis bunga saja. Kemarin ia sudah ke tempat ini juga untuk memesan tanaman yang ia inginkan. Persis saat Rudi melongok-longok mencari ke mana si bapak tukang bunga berada, Kenanga bertanya.

“Kamu mau cari apa, Di?”

Rudi tadinya ingin memulai menjelaskan sendiri. Ia sudah punya susunan kalimat yang telah ia susun rapi dan ditaruh di benak. Tapi karena Kenanga sudah lebih dulu bertanya, Rudi malah jadi bingung mau memulai kalimatnya dari mana.

“Saya mau menanam bunga. Untuk di halaman rumah yang baru saja saya bayar DP-nya beberapa bulan lalu…” Rudi menaruh jeda di ujung kalimat itu.

“Oooh, jadi mau pamer kamu ambil rumah, ya?” sambar Kenanga menggoda.

Rudi merasa dirinya kurang tegas. Mungkin Kenanga pikir ini hanya lelucon. Mungkin Kenanga pikir ia mengajak perempuan ke tukang bunga sekadar untuk membantu menawar harga. Akhirnya Rudi memilih untuk menjelaskan semuanya kepada Kenanga, sekarang juga.

“Saya sudah pesan satu jenis bunga sama bapak yang jual di sini. Bunga kenanga…” Rudi memberi ruang pada kalimat tadi, memberi ruang pada Kenanga, kemudian melanjutkan, “Saya mau tanam bunga kenanga di rumah saya nanti, untuk simbol awal hidup baru. Saya… mau ajak kenanga, eh kamu, Kenanga… untuk tinggal bersama saya di rumah itu.” Rudi melepas napas yang sejak tadi ditahan.

Kenanga diam saja. Perempuan itu masih berdiri tegak di tempatnya dan menatap Rudi dengan pandang setengah kosong. Rudi berpikir cepat, menduga apakah ada kalimatnya tadi yang menyinggung perasaan. Seperti teringat sesuatu, kemudian Rudi menambahkan buru-buru.

“Maksud saya, saya ingin menikah dengan kamu, Kenanga…”

***

 

Sekop dan garu kuning mulai bekerja. Rudi menyekop tanah yang secoklat warna kulitnya itu hingga terbentuklah lubang di hadapannya. Tanah mulai menumpuk di kanan kiri lubang. Lubang itu masih belum cukup dalam, tetapi Rudi harus berhenti karena menemukan batu di dalam lubang itu. Kenapa ada batu besar di dalam tanah ini, pikir Rudi. Sekop tergeletak di tanah, lelah tak sanggup melawan kerasnya batu. Rudi berpikir untuk mengambil cangkul, tapi urung karena rasanya cangkul pun tak akan bisa menembus kerasnya batu. Rudi mengorek tanah yang masih sedikit tersisa di atas batu dalam lubang itu. Batu ini datar. Oh, mungkin ini peluran semen. Mungkin pengembang rumah ini mau membuat batu itu sebagai pondasi pagar? Tapi aneh, mengapa kemudian malah tertutup tanah untuk taman?

Rudi mulai kesal. Rencananya hari ini harus terus berjalan. Ia harus menanam bunga baru pengganti kenanga yang telah dicabutnya. Harus hari ini. Tapi ada batu yang tiba-tiba menghalangi rencananya. Ah, dasar batu. Keras kau seperti Kenanga. Keras kepala! Kepala batu! Rudi mengumpat terus. Tiba-tiba terlintas gambaran alat yang cocok untuk mendongkel atau memecah si batu. Dengan sigap Rudi berdiri, berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya sedikit menyisakan noda kotor pada lantai. Rudi tidak hirau. Ia segera ke dapur mengambil kotak tempat penyimpanan alat pertukangannya. Kotak hitam itu akhirnya ia temukan berdiam di bawah bak cuci piring. Ia mengeluarkan alat itu, entah kenapa sambil tersenyum pedas. Akan kuhancurkan batu itu dengan bor.

Kabel ke colokan listrik telah terpasang. Rudi mengangkat bor, memegangnya seperti anak-anak yang bangga punya mainan pistol baru. Ketika tombol ditekan, mata bor itu berputar dan berderu. Rudi kembali berjongkok di depan lubang. Batu itu harus dihancurkan. Sekeras apapun harus dihancurkan.

Mata bor berdesing ngilu ketika menghunjam kerasnya batu. Debu dan serpih halus berhambur. Tepat seperti dugaan Rudi, batu sekeras ini pun pasti bisa ditembus. Rasa sedih menyelinap di benaknya. Sepertinya memang cuma keras hati Kenanga yang tidak bisa ditembusnya.

***

Rudi masih ingat betul, Kenanga terdiam, mungkin kaget mendengar pernyataan cinta Rudi yang tidak diduganya. Masih terasa hangat pula hati Rudi mendengar Kenanga menjawab ‘ya’ pada lamarannya. Setelah itu, Rudi meninggalkan Kenanga sebentar. Ia masuk mencari bapak tukang kebun, mengambil pesanannya. Sebatang pohon kenanga dalam kantong plastik hitam. Rudi segera menggandeng tangan Kenanga dan mengajaknya pulang. Si bapak penjual bunga mengantar kepergian mereka dengan senyum yang terkembang.

Mengajak calon istri pergi ke calon rumah. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu. Sudah lewat magrib ketika mereka sampai di rumah bercat putih bernomor tiga.

“Inilah rumahku. Mmm, rumah kamu juga nantinya,” ujar Rudi malu-malu. Kenanga tersenyum melihat Rudi. Ia tidak memandangi rumah itu sungguh-sungguh. Hanya Rudi yang ia perhatikan. Jika Rudi mau mengingat peristiwa itu lebih teliti, semestinya Rudi bisa menangkap raut sendu yang hinggap di wajah Kenanga. Bahagianya tak seperti bahagia perempuan pada umumnya ketika dilamar seseorang. Ada kerut tipis di kening Kenanga yang menyiratkan entah sesuatu apa yang berlintasan di benaknya. Bayang gelap magrib menyelimuti wajah Kenanga, sehingga Rudi tidak bisa lekas membaca. Rudi terlalu buta karena keburu bahagia mendengar sekadar kata ‘ya’.

Maka dari itu, Rudi jadi seorang buta yang tolol ketika dua bulan kemudian ia tidak bisa menemukan Kenanga. Perempuan itu menghilang. Begitu saja, tiba-tiba. Padahal beberapa hari sebelumnya Rudi masih bisa menghubunginya. Sebulan sebelumnya Rudi masih bisa mengajak Kenanga kembali ke rumah nomor tiga. Menanam pohon bunga kenanga di tanah taman yang agak kering akibat kemarau. Rudi menyekop tanah dengan perkakas yang baru dibelinya. Sebetulnya ia sudah punya cangkul, tapi hanya bergagang kayu polos. Demi Kenanga, atau demi pemujaan simbolisasi rasa cinta, ia membeli lagi perkakas baru. Semua berwarna kuning, warna yang sering melekat pada Kenanga. Penuh sukacita ia menanam pohon bunga itu. Kenanga juga membantunya menyiram. Tak banyak kata yang mereka perbincangkan saat itu. Rudi hanya ingat, usai membersihkan tangan dari tanah, dengan telapak tangan yang masih basah, Rudi memegang tangan Kenanga, mendekatkan tubuh ke tubuhnya. Bibir Kenanga ingin dilumatnya, tetapi wajah perempuan itu menunduk. Rudi mengurungkan gerak.

Maka Rudi sempat menduga apakah hilangnya Kenanga disebabkan oleh tingkahnya yang tak sopan. Rudi juga baru menyadari bahwa tidak banyak pengetahuan yang ia miliki tentang perempuan itu. Dari Fajar dan Boni, Rudi juga tidak menemukan petunjuk yang berarti. Kata mereka, Kenanga memang teman, tapi hanya sekadar teman kerja di gedung kantor itu. Tak ada yang mereka tahu tentang urusan pribadi Kenanga. Mereka hanya tahu biodata sederhana, bahwa Kenanga bekerja di lantai 21, tinggal sendiri di daerah Tanah Abang, dan berulang tahun di bulan April entah di tanggal berapa. Fajar dan Boni justru merasa aneh mengapa bisa Rudi hanya mengetahui tak lebih banyak dari yang mereka tahu. Bahkan terbilang hanya tahu sedikit sekali tentang perempuan yang telah diajaknya menikah.

“Kamu sudah pernah bertemu orang tuanya? Jangan-jangan dia lagi pulang kampung? Kampungnya di mana memangnya?”

“Kamu bikin dia marah barangkali? Pernah nggak, dia bilang nggak suka sama tindakan kamu? Kamu sih. Hati-hati makanya sama orang selembut Kenanga.”

“Sudah cek sosmednya? Dia sudah off di mana-mana lho. Apa dia terlibat hal yang ilegal? Kalau enggak, kenapa dia sampai harus bersembunyi?

“Atau jangan-jangan dia resign, ya? Rasanya dulu dia pernah bilang mau pindah ke gedung tetangga. Eh tapi itu cuma bercanda kali, ya?”

Yang muncul hanya dugaan-dugaan. Tak ada satu pun kepastian. Rudi sudah mengecek ke kantor Kenanga, dan sudah mendapat kabar bahwa benar Kenanga telah mengundurkan diri. Entah ke mana, perempuan itu tak juga minta surat rekomendasi. Rudi mati langkah. Ia masih belum bisa menerima kepergian Kenanga. Perempuan itu begitu keras kepala, hanya mengirimkan satu pesan perpisahan lewat ponsel berbunyi “Maaf, aku tak bisa jadi kenanga.”, lalu kemudian mati sebab tak bisa dihubungi berkali-kali.

Kemarahan itu muncul lagi. Bor dihunjam dalam-dalam. Ke titik sana, ke titik sini. Namun, tusukan bor rupanya hanya membuat batu itu berlubang-lubang. Batu tidak pecah sempurna. Seperti juga persoalannya, tak bisa pecah, musnah, dan sudah.

Rudi benci harus menyetujui bahwa Kenanga harus ia relakan mati. Mungkin ia masih hidup entah di mana, tetapi ia menghilang, jadi anggap saja dia mati. Rudi sungguh tak menyesal telah mencabut kenanga itu kemarin. Meski mencabut kenanga tak berarti pula mencabut kenangan. Namun, ia harus segera mengganti kenanga yang sudah tiada itu dengan pohon baru. Lalu batu ini? Seharusnya ini hanya perkara strategi.

Rudi bergeser sedikit, kembali menyekop tanah di sebelah lubang berisi batu tadi. Lubang diperluas, dan di atasnya akan ia tanam pohon bunga baru. Kemarin ia menemukan tumbuhan merambat ini. Daunnya banyak, berwarna hijau lebar, dan punya bunga merah ungu kecil-kecil. Kata bapak si penjual, namanya bunga air mata pengantin. Namanya sialan betul. Namun, Rudi langsung menyukai bunga itu, semacam menemukan simbol baru. Rudi akan menanam bunga itu dan merawatnya, entah sampai kapan. Semoga cukup sampai beberapa bulan ke depan, ketika luka hatinya tak lagi diperban.  (*Nov 2015)

That awkward moment when…

your student suddenly ask you, “Miss, miss mantannya sodara aku ya?”

Spicles banget nggak lo kalo tau-tau ada anak murid ngomong gini. Baru aja keluar kelas di hari Senin, ada murid cewe melintas dan menanyakan itu. Dia sebutlah nama satu lelaki. Ugh, nama yang paling nggak mau saya dengar lagi. Udah dibuang ke tempat sampah, kok tau-tau kembali?


Di waktu singkat itu, nih murid berceritalah, weekend kemarin dia ada acara keluarga, trus salah satu sepupunya nanya apa ada guru bernama Arnellis di sekolahnya. Si murid bilang iya. Trus sepupunya itu ngaku mantan pacar saya.

Demi terlihat cool, saya cuma bilang, “Ohh, kamu sodaranya?” Lalu lempar senyum dan segera berlalu sambil sok ketawa-ketawa. Padahal dalam hati, oh no, ini murid pegang kartu saya banget. Sambil sebel sama dunia, kenapa sih masa lalu sering kembali hadir tanpa disengaja?

Soyong Kusayang

IMG_4237

Tari Soyong sangat berkesan buat saya. Sebulan sebelum tampil, mulanya saya diminta untuk menampilkan tarian untuk acara Internationalism Week di sekolah. Ceritanya pertunjukan untuk mewakili negara Indonesia. Kebetulan tanggal perayaannya adalah 28 Oktober 2015, Hari Sumpah Pemuda. Jadi, motivasi untuk mengiyakan tawaran itu jadi semakin kuat.

Masalahnya… saya tidak tahu siapa yang harus saya ajak menari. Murid yang biasa menari bersama saya sudah kelas 12 dan tidak bisa diganggu. Yang tampil harus dari kelas 10 atau 11. Jadinya saya mencoba menghubungi Vivi, satu anak yang gabung di ekskul tari tahun kemarin, dan saya cari dua orang lagi, siapa saja yang mau deh. Akhirnya ketemulah Aya dan Miranda dari kelas 10. Kenapa saya pilih mereka? Gampang saja. Karena mereka mau. Punya hasrat. Mau belajar. Mau mencoba. Itu kan yang terpenting?

Kami mempelajari tari itu lewat Youtube – Tari Soyong. Masing-masing dari kami mempelajari sendiri di rumah. Kemudian kami berlatih beberapa kali pertemuan. Iya, saya jadi murid juga. Namun, karena saya berstatus guru, jadinya ya mereka masih juga minta diajari. Padahal kami sama-sama belajar dari nol juga.

Saya belajar lebih dari sekadar menari lewat Soyong ini. Saya belajar gemulai karena ini pertama kalinya saya nari Jawa. Belajar menginstruksikan gerakan, terutama kepada Aya yang kidal. Belajar menularkan pede ke Aya dan Miranda yang baru pertama kali tampil nari. Belajar sabar menghadapi waktu latihan yang cuma sebulan. Plus juga belajar irit mengurus kostum, sampur, dan asesoris yang merogoh kantong sendiri (itu semua yang dipakai penari saya beli dengan harga murah terbaik di Tokopedia.:) Nah, obi kuning itu saya jahit sendiri.)

Kenangan tentang Tari Soyong bikin hati senang, bahagia. Apalagi saat Aya bilang, “Ms, thank you udah ngasih kesempatan aku buat nari. Aku jadi jauh lebih percaya diri. Terima kasih karena udah ngajarin aku berbagai macam hal.” Aih, makin sayang rasanya sama Soyong.❤

photo (4)

Cara Menganalisis Pidato

Ini salah satu cara untuk menganalisis pidato yang saya lakukan kemarin bersama murid kelas 12. Mereka membaca naskah Pidato Pelantikan Joko Widodo, 2014, “Di Bawah Kehendak Rakyat dan Konstitusi”. Murid membaca dengan saksama, memahami struktur pidato itu, kemudian diminta untuk mencari satu quote yang menarik baginya.

Berikut ini beberapa contoh jawaban murid-murid saya.

photo 1 (5)“Dan kita tidak pernah betul-betul merdeka tanpa kerja keras.” Kalimat ini saya pilih karena kalimat tersebut merupakan suatu motivasi bagi orang-orang Indonesia agar ikut serta dalam membangun negeri. Kalimat ini juga bisa dijadikan quote dalam hidup kita saya agar tidak malas-malasan dalam belajar supaya bisa lulus kelas SMA. (Felicia, 12B, 2016)

photo 3Satu kalimat yang bisa dijadikan quote adalah “Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri” karena kalimat ini memiliki efek yang kuat (penduduk negara maritim) dan sangat pas dengan salah satu isi pidato Joko Widodo, yaitu untuk mengembalikan status negara maritim.  (Bayu, 12C, 2016)

photo 2 (4)“Kita akan kembangkan layar yang kuat”. Arti yang saya tangkap adalah untuk selalu berjuang, tidak mudah menyerah atau goyah. Saya memilih ini karena sikap ini diperlukan bagi para pemuda Indonesia. Karena dari pengalaman saya, generasi muda ini, setidaknya teman-teman saya, kebanyakan mempunyai sikap dan mental pasrah dan mudah menyerah. Oleh karena itu, pengeluhan-pengeluhan yang dikeluarkan dari mereka tidak akan membantu mereka untuk menjadi orang yang sukses. (Kris, 12A, 2016)

Bagus-bagus ya jawabannya? Menurut saya ini adalah salah satu bentuk aplikasi belajar yang asyik. Apa yang dipelajari bukan sekadar teori, tetapi benar-benar bisa murid kaitkan dengan kehidupan mereka sendiri. Semacam, ada hikmahnya, begitu.:)

 

 

Belajar Pidato Tanpa Aduh

Aduuhh…

Entah kenapa, setiap kali menyebut judul topik ini di depan murid kelas 12, ada saja yang bilang aduh begitu. Ya, memang, bagi beberapa murid, materi pidato ini lumayan susah. Objektif pembelajarannya saja ada tiga: Murid memahami struktur naskah pidato, murid mampu menulis naskah pidato, dan juga mampu membacakan pidato dengan baik. Guru juga harus berusaha ekstra supaya materi ini bisa disampaikan dengan asyik, tanpa membuat murid terus berkata aduh.

Ada beberapa yang sudah saya lakukan untuk mengatasi aduh ini.

  • Kasih contoh dua atau tiga naskah pidato. Dimulai dari contoh lewat kertas handout, murid bisa melihat langsung pidato itu “yang seperti ini lho”. Murid juga harus melihat beberapa contoh agar mereka bisa membandingkan ragam bahasa pidato. Kemarin saya pakai contoh pidato Kampanye Obama “Yes We Can” di New Hampshire dan pidato pelantikan presiden Jokowi “Di Bawah Kehendak Rakyat dan Konstitusi”. Tambahannya adalah contoh pidato sederhana di lingkup sekolah dengan topik masalah sosial. Bisa juga ditambahkan contoh naskah pidato pelantikan Ketua OSIS di sekolah sendiri, pasti akan terasa lebih mengena.
  • Menganalisis struktur naskah pidato. Setelah mereka membaca langsung naskah pidato, biarkan murid menyimpulkan seperti apa naskah pidato itu. Mereka pasti akan bisa menemukan sendiri salam pembuka dan penutup, bagian pendahuluan-isi-penutup, dan juga kalimat sapaan. Mereka juga bisa melihat bagaimana peletakan setiap unsur dan penyusunan setiap paragraf yang baik. Mereka juga akan bisa menilai sendiri gaya bahasa pidato setiap tokoh. Misalnya, Obama membuka pidato dengan “thank you”, sementara Jokowi membuka dengan salam semua agama di Indonesia. Lalu, ajak mereka berdiskusi, mengapa gaya bahasa pidato Obama dan Jokowi berbeda? Mengapa pilihan kata mereka berbeda? Faktor apa saja yang mempengaruhi adanya perbedaan itu?
  • Menonton video tokoh yang membawakan pidato. Tunjukkan ke murid seperti apa Obama dan Jokowi menyampaikan naskah pidato tadi. Videonya bisa diambil dari Youtube. Sambil menonton video, murid bisa menilai sikap tubuh para orator itu. Apa metode yang dia pakai? Bagaimana gerak tubuhnya? Gerak tangan? Cara berdiri? Cara menatap pendengar? Cara bicaranya? Tempo dan artikulasi? Enak tidak pidato itu disimak? Dari sini, murid bisa menyimpulkan, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan saat menyampaikan pidato. Tentu saja, mereka juga bisa gunakan pengetahuan ini untuk praktik pidato mereka sendiri nanti.
  • Membaca artikel tentang penulis naskah pidato. Ini tambahan pengetahuan buat murid bahwa ternyata pekerjaan Penulis Pidato itu eksis. Saya pakai artikel tentang Jon Favreau, yang menulis naskah pidato Obama, yang juga menjabat Direktur Penulis Pidato Gedung Putih. Ini bisa jadi inspirasi, terutama murid yang suka menulis, bahwa menulis pidato itu adalah sebuah pekerjaan yang penting. Ya, bisa dijadikan cita-cita juga.

 

Semua teknik tadi bisa diselesaikan dalam waktu 120 menit saja.:)

Beberapa contoh assessment/penilaian tentang topik ini akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya, ya.

Tentang Rambut di Toilet

photo (3)

“Cuma mau bilang, yang buang rambut di wastafel tolong dibuang sendiri, dikumpulin + taro di tempat sampah. Do not depend on ISS. It’s your trash.

Thank you,

Whoever you are:)

PS: Rambutnya bikin wastafel kesumbat. Kasian ISS.”

 

Ini saya temukan di toilet perempuan di lantai 4 gedung sekolah saya. It’s kinda sweet. Bentuk kepedulian siswa pada pekerja cleaning service yang setiap hari menjaga kebersihan di sekolah.

Kertas ini sudah hampir dua bulan menggantung di tembok. Pernah saya tanya pada ibu petugas kebersihan di situ: kenapa tidak dicopot? Jawabnya sederhana: Nggak apa-apa, saya senang dibantu begini.:)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,391 other followers

%d bloggers like this: