Ga Baper

photo (11)

Belajar Lagi dari Ahmad Tohari

SAM_1148

Agak sulit saya menulis cerita panjang tentang pengalaman memandu acara Author Talk tanggal 1 Juni lalu. Itu hari yang terlalu menyenangkan. Jelas saja, bisa berbincang kembali dengan Ahmad Tohari yang terkemas dalam acara sekolah yang asyik. Jadi, yang akan saya bagi di sini adalah kesan-kesan utama saja.

Saya membuka sesi Bincang Pengarang itu dengan kalimat, “Terakhir kita mengobrol seperti ini tahun 2007 ya Pak, waktu saya nulis skripsi (Sensor Atas Karya Sastra). Sekarang, bahagia sekali saya bisa membawa Bapak untuk mengobrol santai lagi, tidak hanya dengan saya, tetapi juga dengan murid-murid saya…”

Saya lalu bercerita bahwa malam sebelumnya (31/5), kami (Heny, Roys, saya) menjemput Pak Tohari di Bentara Budaya Jakarta. Kami tidak tahu bahwa malam itu ada acara Malam Jamuan Cerpen Pilihan Kompas 2015. Kami juga tidak tahu bahwa cerpen pemenangnya adalah “Anak Itu Mau Mengencingi Jakarta?” karya Ahmad Tohari. Acara belum usai, ia justru buru-buru pulang dari acara dan ikut kami pulang ke Serpong. Saya tanya, “Mengapa Pak? Padahal Bapak bintangnya malam itu.” Beliau menjawab sederhana, “Saya sudah membuat janji dengan kalian akan menuju Serpong jam 9 malam. Ya, saya harus penuhi janji saya.” Teringat piala patung Nyoman Nuarta yang terbungkus kardus di jok belakang mobil jemputan saya malam itu, saya kembali mengejar, “Lalu, seberapa penting sebuah penghargaan untuk Bapak?” Jawabnya, “Saya tidak mengejar penghargaan. Tugas saya menulis. Jika kemudian ada yang memberi penghargaan, tentu saya apresiasi.”

Sebelumnya, acara sudah dimulai dengan pementasan drama fragmen novel Ronggeng Dukuh Paruk oleh kelas 11. Saya duduk di sebelah Pak Tohari persis, jadi saya bisa lihat dia senyum, tertawa pada adegan yang lucu, dan juga saat dia dua kali mengambil tisu untuk mengusap haru di matanya.

 

SAM_1054

Setelah pentas drama itu selesai, Pak Tohari dengan sigap langsung menuju panggung dan mengajak para pemain berfoto. Lalu, dia menghampiri para pemain, menyalaminya satu persatu dengan hangat.

SAM_1121

Kembali lagi ke sesi tanya jawab. Setelah menjawab satu dua, Pak Tohari memutuskan untuk berdiri. Penonton bertepuk karenanya. Mungkin Pak Tohari merasa ucapannya akan lebih terasa jika disampaikan dengan penuh karib. Ada banyak yang dia sampaikan, beberapa tentang hal-hal yang sudah saya ketahui sebelumnya dari wawancara dulu dan beberapa literatur. Satu yang sangat saya suka hari itu, dia mengajak murid (dan juga guru atau siapapun) untuk mulai menulis. Katanya: Tulislah kisah cinta yang cengeng, tidak apa-apa… Tulislah puisi cengeng, tidak apa-apa… Yang penting kamu mulai menulis…

 

SAM_1175

Malam sebelumnya, saya bilang padanya, besok ada sesi tanda tangan. Kalau Bapak nanti lelah, mungkin cukup beberapa buku saja. Saya bisa buatkan kuis, pemenangnya boleh minta tanda tangan Bapak. Namun, dia langsung jawab, tidak… saya akan tanda tangani semua bukunya selama saya bisa. Dan benar saja, setumpuk buku milik murid dan guru ludes dia tanda tangani semuanya.

SAM_1189

Ya, begitulah. Saya belajar banyak lagi dari lelaki ini. Seorang sederhana yang tak membela siapapun selain rasa kemanusiaan, ajaran Tuhan yang paling hakiki.

 

Hadiah dari Aya

Sudah lewat beberapa hari dari 4 Mei, eh masih ada kejutan datang.

Ini dari Anindya Putri Pramadi, muridku di kelas 10D. Doanya manis betul.❤

photo (9)

Cerita 4 Mei Tahun Ini

Seumur-umur belum pernah merasa sedih saat ulang tahun. Meskipun nggak pernah selalu ada acara khusus, tanggal ultah biasanya aku sambut bahagia. Selalu ada aja keluarga, kumpulan teman, atau murid satu kelas yang membuat tanggal itu jadi raya.

Tahun ini beda. Rasa sedih mulai menekan sejak awal bulan. Entah, rasanya kali ini benar-benar baru melepas masa remaja. Bhay 30, welcome 31. Ada banyak ketakutan dan kecemasan yang datang. Ada banyak keinginan yang dibarengi penderitaan. Ngerti sih teorinya, hidup harus dibawa bersyukur, harus banyak ikhlas, harus banyak bahagia di pikiran, tapi… melaksanakan segala teori itu tidak mudah. Oke, niat bisa kencang di hari ultah, tapi membuatnya kencang sepanjang tahun berjalan itu yang susah.

Lalu, pagi tanggal 3 Mei, aku dipeluk suami. Dia tanya aku mau apa buat ultah besok. Aku cuma bisa jawab dengan tangis. Pagi itu aku datang bulan lagi. Kami berdoa dalam hati masing-masing, dan ditutup dengan ucapannya, “Sabar ya…”

Lalu, pagi ini tanggal 4 Mei. Haru datang lagi ketika buka Fb notifikasi, ada pesan dari murid alumni di negeri seberang. Pengingat lagi bahwa Bapak pernah kasih aku nama sekeren ini.

photo (1)

Lalu subuh pesan singkat dari Bapak datang. “Mengenang peristiwa anak manusia yang lahir di dunia sekarang sudah dewasa. Selamat semoga sehat, selalu murah rizki, doa orang tua selalu mengiringi.” Tangis pecah lagi. Setelah dapat pengingat-pengingat itu, aku yang tadinya mau break berobat kandungan yang sudah jalan dua tahun ini, jadi kembali yakin untuk meneruskan. Oke, sore nanti datang ke dokter obgyn lagi.

Lalu, pagi ini, di ruang kantor guru, nangis lagi ketika ada rekan departemen Bahasa Indonesia yang mengucapkan selamat ulang tahun. Nangis yang beneran nangis! Mereka bingung karena aku dikenal tukang nyengir di sekolah. Sampai akhirnya dipeluk seorang guru Biologi perempuan, yang kepadanya aku harus bercerita dan berguru, bagaimana bisa tegar dan tabah menghadapi hasrat punya bayi. Yeah, hari melodrama.

Lalu, begitu sampai kelas untuk CA time (jam wali kelas), ruang kelas gelap, tidak ada satu pun muridku di sana. Ah, becanda nih. Emang masih jaman ya bikin surprise yang bikin kesel orang yang lagi ultah? Sampai aku kirim pesan di grup line: “I have bad day and you all make it worst.” KZL!  Lalu aku balik ke ruang guru, dan mereka mengejar. Takut takut ketuk pintu, dan ternyata satu kelas datang bawa kue berlilin dan bunga. Ya lalu nangisku kembali PETJAH!  Gemes-gemes gimana gitu lho. Mengutip apa kata salah satu murid paling ndregil, “sebandel-bandelnya kita, masih inget dong kapan tanggal ultah CA (wali kelas)nya!”  Iya, iya, bisaan. :’)

photo (6)

Bunga dari muridku, Rayi, dan pantun nasi uduk.😀

Itu tadi tangis ke berapa ya? Setelah itu badan capek banget. Kayak habis olahraga, lari pagi keliling kampung Lengkong Karya. Tapi hari ini masih panjang. Tahun ini juga masih panjang. Semoga semangat “HAPPY” di kata happy birthday itu selalu ada.❤

photo 1 (9)

Kue dari murid kelas 10D, yang langsung dicomot-comotin coklatnya. “Kenapa angkanya 1?” tanyaku. Jawab Tika, “Itu tanda 1 tahun kita bersama…” #eaaa #baper

photo 2 (8)

Ini nih kelas 10D yang sok mau kasih kejutan tapi malah bikin baper. Tapi siangnya aku udah ketawa-ketawa lagi sih. :))

photo (7)

Kado dari departemen Bahasa Indonesia HS. Isinya Soe Hok Gie banget. Harus ke gunung segera!                                                      “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah.”      -Gie

 

 

 

Sekali lagi, Belajar Menari dari Youtube

Awalnya mau belajar menari Wira Pertiwi adalah karena permintaan. Ada acara Archery Competition di sekolah tengah bulan Februari, dan PIC acaranya meminta saya untuk mengisi pembukaan dengan tarian tradisional. Ya, karena acaranya lomba panah, makanya saya cari tarian yang pakai properti panah. Di Youtube saya nemu video tari Wira Pertiwi ini di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=SuMPEAxP9cA. Sekali lihat langsung jatuh cinta. Gerakan srikandi pemanah di video itu bagus banget! Benar-benar menggambarkan seorang wira (pahlawan) yang seorang pertiwi (perempuan) yang tegas, sigap, berani, mengamankan keraton Jawa dari marabahaya. Tari Wira Pertiwi ini adalah tari kreasi Bagong Kussudiardja, dan video yang saya sebut tadi dibuat di Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja Jogjakarta. Pas sudah, video ini saya pakai buat acuan belajar.

Akan tetapiii, acara Archery Competition itu tidak jadi menyiapkan slot pembukaan pakai tarian tradisional. Sedih juga, padahal niat belajarnya sudah kenceng banget, dan sudah jalan dua minggu latihan sendiri di rumah. Step by step saya tiru langkah penari di video itu. Sambil membayang-bayangkan setiap malam sebelum tidur. Sampai akhirnya saya hapal. Again, the power of visual learning. Thanks, Youtube!

Untungnya bulan April ada acara Indonesian Cultural Week, yang kebetulan tahun ini diadakan tanggal 21 April, pas di Hari Kartini. Jadinya saya ajukan saja ke panitia, saya mau ajak guru-guru menarikan Wira Pertiwi ini. Kenapa bukan ajak siswa? Karena untuk siswa, saya ada project lain, ethnic hiphop dance namanya.

Oke, latihan dimulai dan tantangan datang. Tantangan kali ini ada dua. Pertama, ini tarian Jawa yang di mata saya kayaknya susah banget. Ya itu tadi, harus bisa gagah seperti jagoan panah, sekaligus lembut juga seperti perempuan anggun. Benar-benar saya cuma bisa mengandalkan Youtube karena memang tidak ada budget untuk sewa pelatih tari. Sekaligus saya harus mengajarkan gerakan ke guru-guru lainnya. Padahal saya juga baru belajar sebulan sebelumnya.

Tantangan kedua adalah partner nari kali ini adalah ibu-ibu yang awam menari. Tapi buat saya yang penting mereka punya NIAT BELAJAR. Itu pasti bisa mengalahkan segalanya. Ekspektasi dibuat sederhana, yaitu kami semua hapal gerakan dan mengikuti pola lantai yang rapi. Saya yakin pasti bisa! Lagian ternyata proses belajarnya menyenangkan banget. Miss Diona yang guru biologi aktif bertanya dan aktif ngajak berlatih, bahkan beli panah mainan bocah buat properti latihan. Miss Emma yang guru matematika suka pakai hitungan, tidak ragu bertanya dan konfirmasi. Sementara Miss Retno yang guru fisika lebih seru lagi. Dia sangat suka pakai hitungan di setiap gerakan, plus dia orang yang sulit membedakan kanan dan kiri. Kebayang kan, gimana rempongnya kami saat latihan. :))

Rempong berikutnya adalah tentang kostum. Kami semua berkerudung jadi kami akhirnya beli kerudung jaring untuk hiasan kepala. Biar gampang juga ditusuk konde dan hiasan bunga. Sementara kostum, kan itu all size ya, jadinya yaa dipas-pasin dengan beragam ukuran tubuh kami. Yang tinggi seperti Diona jadinya celananya ngatung. Miss Emma juga tinggi, dan dia nggak mau kakinya terlihat, jadinya dia pakai manset. Miss Retno dan saya, hmm kami mengandalkan korset dan slimming suit. :))

Harinya tiba, dan seperti inilah kami bergaya.

photo (5) (Kiri-kanan) Bawah: Miss Emma, Miss Diona. Atas: Miss Retno, saya.

 

DSC_1145

Ini foto saat pentas di hall sekolah. Menurut penonton sih, cakep kelihatannya.😀

Kalau mau lihat videonya, bisa diklik di sini: wira pertiwi 1

Yang kualitas videonya lebih bagus, waktu menarikan ini di acara wisuda kelas 12 tanggal 23 April. Nah, videonya ada di sini: wira pertiwi 2

 

 

Puisi Remix

Dulu waktu jaman jomblo, ketika kreativitas meninggi seiring masa mencari suami, isenglah saya bikin video baca puisi. Puisi Acep Zamzam Noor yang berjudul “Aku Ingin Menemanimu” itu saya rekam di sini: https://www.youtube.com/watch?v=HZbCpLlqxMk. Itu tahun 2012 ya bikinnya. Tiba-tiba aja, di tahun 2015 ada orang (yes, totaly stranger) mengirim pesan di blog ini.

Raf:  Saya nemu link video Youtube kamu yang bacain puisi Asep Z. Noor, dan seorang kawan saya tertarik untuk ‘meramu’ pembacaan puisimu jadi lebih hidup. Silakan didengar di sini bila berkenan: https://www.spreaker.com/user/senartogok/acep-z-noor-aku-ingin-menemanimu-st-rmx

Puisi remix! Keren, yaaa?  Nggak nyangka bisa terlibat bikin musikalisasi puisi, padahal nggak pernah kenal orangnya hingga saat ini. Siapapun kamu, terima kasih yaa.:)

Oya, bikin ginian lagi, yuk! Anyone?

 

 

Mengajar Puisi dan Cerpen yang Tidak Membosankan

Minggu lalu tiba-tiba ada teman kampus yang menghubungi via whatsapp. Dia cerita, katanya dia diminta mengajar murid SMP dan SMA sekolah Indonesia di Singapura. Pengalaman selama ini dia mengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), makanya dia agak bingung saat diminta mengajar kelas dengan kurikulum KTSP. Dia tanya, gimana cara ngajar sastra yang nggak membosankan?  Kataku, wah panjang jawabannya. Kusarankan untuk baca aja blogku, ada banyak contoh cerita dan ngajar. Dia bilang lagi, iya dia sudah baca dan sudah pakai ide ngajar di sana. :) Dia lanjut bilang lagi: di sekolah itu tidak tersedia novel, bahannya hanya cerpen dan puisi, dan itu pun yang mudah dicari di internet. Oke, pembicaraan itu yang akan aku bagi di sini sekarang. Sengaja bentuknya kayak chat, biar terasa asli aja.:)

 

Oke, puisi ya. Mulai dari objektif, murid bisa membedakan puisi lama dan baru, memahami ciri-cirinya, menganalisis, dan membuat.

Awalnya, lo sediakan handout, kasih contoh pantun syair gurindam dan puisi baru di satu paper. Group discussion, biarkan anak melihat langsung contoh itu dan mereka menyimpulkan, apa beda puisi-puisi itu.

Guru lalu bantu menyimpulkan hasil temuan, ini lho yang namanya pantun, syair, gurindam, soneta, dll. Jadi anak bukan dicekokin pengertian.

Setelah anak paham, kasih paper berikutnya. Sekarang ini ada pantun dan ada puisi Chairil. Sekarang cari berapa jumlah baris, jumlah suku kata per baris, rimanya gimana, sesuai unsur-unsur puisi. Anak bisa lihat, ooo beda ya puisi lama dan baru. Giring hingga menemukan bahwa ciri puisi lama serba terikat dan puisi baru serba bebas.

Next, anak sudah paham ciri-ciri. Baru mereka bisa diajak membuat. Ajak anak bikin pantun. Ini yang paling seru. Sebagai guide, guru bisa kasih contoh sampiran pantun. Jalan-jalan ke Pasar Minggu/ Jangan lupa beli pepaya. Nah minta anak buat isi baris 3-4.

Jenis pantun kan beda-beda. Dengan satu sampiran, bisa dibuat jadi beragam isi. Misalnya, buat pantun cinta dengan sampiran tadi. Lalu berikutnya pantun nasihat masih dari sampiran tadi.

Lalu minta anak berdiri dan bacakan hasilnya. Anak-anak lain bisa mendengar dan mengapresiasi. Sekaligus mengecek apakah pantun buatan temannya sudah memenuhi syarat pantun. Rimanya sudah benar belum? Isinya sesuai tidak? Back to floor. Anak yang jawab dan menilai hasil kerja temannya.

T: Kalo untuk pengajaran cerpen gimana? Gw kemarin baru coba. Minta mereka membaca dan ujung-ujungnya gw minta itu dijadikan sebuah naskah drama. Cuma gw gada ide lain bikin mereka tertarik. Kebetulan di kelas ada anak yang udah buat novel teenlit gitu dan udah diterbitin pula.

Balik lagi ke objektif pembelajaran. Ini paling mendasar dan acuan guru mau ngapain di kelas. Misalnya tujuan pembelajarannya adalah siswa mampu menganalisis cerpen. Maka semua kegiatan harus bertumpu ke situ.

Anak udah bisa bikin novel justru bisa lo ajak jadi semacam asisten untuk bantu jawab, kasih contoh ke temannya.

Itu bagus, cerpen dibuat drama. Berarti mengaplikasikan pemahaman sastra. Sebelum itu anak harus paham dulu analisisnya. Misalnya menemukan semua unsur intrinsik, baru kemudian bahas unsur ekstrinsik, baru kemudian merespon pemahaman. Bentuk merespon adalah cerpen jadi drama yang lo buat tadi.

Yah, demikian. Semoga bisa membantu.:)

 

 

 

 

Menggambar Kesedihan

photo 2 (5)

Ini Gemintang, keponakan saya. Usianya empat tahun. Beberapa pekan lalu saya main dengan dia di rumah Depok. Dia minta diajari menggambar orang. Saya pun menggambar, lalu dia meniru tahapannya. Setelah jadi satu-dua gambar orang senyum, saya ajak Gemintang menggambar ekspresi wajah lain. Nah, ini hasilnya. Wajah sedih. Karya Gemintang itu yang kanan, perempuan yang menangis. Yang kiri gambar saya.:) Yang keren adalah Gemintang kemudian menulis sendiri kalimat di tengah gambar itu.

Tanpa secara khusus menargetkan tujuan pembelajaran “menunjukkan rasa simpati”, Gemintang telah menunjukkannya lewat kata “cupcup”. Ia pasti sadar bahwa “hidup tidak selamanya tersenyum”. Kadang-kadang Gemintang juga menangis, kan? Saya juga bilang, si tante ini juga masih suka menangis, kok.:)

 

Mencabut Kenanga

Biasanya para lelaki lain tidak akan terlalu mempedulikan warna peralatan berkebunnya. Selama berfungsi, warna tidak jadi persoalan berarti. Namun, itu tidak berlaku untuk Rudi. Sekop, garu, ember, botol penyemprot, sebutlah semua peralatan berkebunnya punya bagian yang berwarna kuning. Dengan sengaja ketika membeli alat-alat itu dulu, warna jadi pertimbangan penting.

Lelaki itu mengambil sekop kecil berwarna kuning dan garu kecil berwarna sama. Dengan sandal jepit yang sudah mulai melengkung, ia berjalan dari teras menuju kebun kecil di halaman rumah. Diedarkannya pandangan, sekilas mengamati daun-daun hijau sayuran. Bayam dan terong muda. Beberapa daun tampak kuning pupus, bukan kuning sempurna, melainkan kuning bercak seolah daun itu dijatuhi tahi burung. Rudi lupa kapan terakhir kali ia menyemprotkan pupuk daun untuk tanaman itu. Mungkin setelah ini ia akan mengurusnya. Mungkin, jika energinya masih tersisa.

Rudi telah tiba di tujuannya. Sebuah tempat yang semestinya terlihat biasa saja, tetapi tidak untuknya. Ia berjongkok. Tangan tertahan di kiri kanan paha. Sekop dan garu berada di satu genggaman tangan. Tanah gembur di hadapannya, bekas penganiayaan paksa yang Rudi lakukan pada tumbuhan yang semula hidup di atasnya. Tanah tempat tumbuh pohon bunga kenanga. Tanah yang dulu pernah dikenal oleh Kenanga.

Kemarin sore Rudi mencabut pohon bunga kenanga itu. Batang pohon itu tidak terlalu dalam tertanam. Bunganya sedang banyak, menguarkan aroma harum tipis di hidung Rudi. Namun, aroma itu tak mampu menghentikan langkahnya untuk setidaknya berpikir ulang. Niatnya sudah terlalu kuat. Emosinya sudah terlalu sesak. Kenanga ini harus dicabut, seperti juga Kenanga yang hidupnya telah tercabut.

Dengan sebuah hentakan kuat Rudi menarik perdu itu. Kayunya masih belum begitu kuat, akarnya juga belum lama terikat. Pohon bunga itu seolah tak menolak dicabut. Rudi justru semakin marah. Ia mengharap akan terjebak pada adegan tarik menarik anak yang malas diajak sekolah. Namun, tidak. Pohon itu seakan menyerahkan kayu kecilnya melayang dari tanah. Enggan dipaksa oleh lelaki yang tengah kalut jiwanya. Rudi mendengus. Betapa mudah pohon ini menyerah. Kesal di hatinya mulai bercampur dengan sesak. Kau telah mencabut dirimu sendiri, kau telah mencabut hatiku mati. Pohon kenanga itu telah berpisah dari tanah.

***

Kenanga pertama kali Rudi temukan di sebuah taman dekat kantin kantornya. Ia tidak tumbuh di tanah taman yang hampir seluruhnya ditutupi rumput itu. Kenanga hidup dan berjalan dengan kakinya. Perlahan langkahnya mendekat menuju meja Rudi siang itu. Rudi dan dua temannya sedang makan, seperti rutinitas normal yang dilakukan orang-orang di taman itu. Rupanya perempuan itu teman dari Fajar dan Boni, kedua teman Rudi tadi. Si perempuan menjabat tangan Rudi dengan kesopanan yang wajar, sambil menyebutkan nama dengan suara yang terdengar lemah di telinga: Kenanga.

Kenanga lalu ikut duduk satu meja dengan mereka. Ia memesan es teh manis dan seporsi nasi goreng, lalu membahas laporan keuangan yang sedang ia kerjakan. Merasa senasib diburu deadline yang sama, mereka pun kemudian menertawai angka-angka yang sama, tumpukan berkas yang sama tingginya, meskipun suara lemah tawa Kenanga jadi terdengar sumbang di antara tawa para lelaki di meja itu. Rudi sempat menebak apakah yang menyebabkan perempuan bersuara lemah ini mau duduk semeja dengan tiga lelaki begini. Tak adakah ia punya teman perempuan? Rudi menjadi begitu naif, berpikir bahwa suara lemah Kenanga semestinya bergaul dengan suara perempuan saja, tak pantas bersahutan dengan gelegar tawa para lelaki.

Dari ekor mata sebelah kanan, Rudi memperhatikan. Kenanga rupanya tipe orang yang tak banyak bergerak. Rasanya sejak ia duduk di sini, ia belum juga berubah posisi. Rasanya setiap kali Kenanga bergerak, pastilah ada tujuannya. Jika ia menggerakkan tangan, itu karena ia ingin menyendokkan nasi dari piring. Setelah menyuap, ia akan meletakkan pergelangan tangan di tepian meja. Begitu terus, setidaknya sampai setengah nasi di piringnya hampir habis. Bola mata Rudi bergulir memperhatikan teman lelakinya. Fajar, seperti biasa, sibuk bicara sambil mengunyah sambil sibuk menggerakkan kedua tangan. Boni menyuap makanan lalu mengaduk-aduk es teh lalu merapikan rambut lalu mengetuk-ngetukkan jari di meja. Rudi sendiri, selalu menggoyang-goyangkan kaki tanpa arti.

Ketika Fajar akhirnya berhenti bicara dan menyuapkan makanan, Rudi mengambil jeda yang ada untuk bertanya pada Kenanga.

“Kenanga itu nama bunga, kan, ya?” entah mengapa pertanyaan itu yang terlintas. Rudi sedikit khawatir jika pertanyaannya dianggap terlalu bodoh.

“Oh, iya,” sahut Kenanga. Matanya melirik pada Rudi. Jari kirinya bergerak menyibakkan rambut agak ikalnya ke punggung. Sebuah gerakan baru, pikir Rudi. Karena gerakan itulah kini lehernya tersingkap. Telinganya juga. Rudi melihat tak ada anting atau giwang di daun telinganya. Namun, Rudi menemukan sebuah bros berbentuk jari-jari bunga tersemat di bawah kerah blasernya. Bros keemasan itu menyembul di dada Kenanga, membuat Rudi lekas memalingkan wajahnya.

“Tahu kenanga yang kayak apa?” tanya perempuan itu, yang seolah tahu Rudi tadi telah mencuri pandang ke arah dadanya. “Yang kayak ini…”

Karena terlanjur, sekalianlah Rudi menyahut agar tak canggung.

“Ah, iya, saya ingat sekarang, bunganya warna kuning, kan? Kuning campur hijau gitu. Panjang-panjang kelopaknya. Eh, bukan kelopak barangkali itu, ya? Seperti, apa ya… bintang laut.”

“Iya, dan harum bunganya,” Kenanga menambahkan sambil tersenyum.

“Oh iya, besok Mbak Ratna mau kasih kita proyek lho!” potong Fajar tiba-tiba. Lalu terputuslah pembicaraan tentang bunga kenanga siang hari itu.

***

 

Rudi masih berjongkok di depan tanah bekas pohon kenanga itu pernah hidup. Oh, yang kemarin hidup dan telah ia buat mati, koreksinya. Tak ada lagi jejak yang menandakan pernah ada pohon kenanga di sana. Bahkan bunga yang rontok pun tidak ada. Dalam emosi kemarin sore, Rudi membuang pohon kenanga itu sekaligus memunguti ceceran daun dan bunga yang jatuh. Seolah tak ingin menyisakan satu petunjuk pun di tempat perkara. Namun, kini saat Rudi berjongkok di depan tanah itu, entah angin mana yang membawanya, Rudi menghidu kembali bau bunga kenanga. Bau yang sama seperti pertama kali ia mengambung wewangian yang menguar tipis dari tubuh Kenanga. Bau yang meninggalkan bekas harum di sofa café tempat mereka bercanda. Bau yang kemudian sering ia hirup dengan jarak intim dari leher perempuan itu. Bau yang telah begitu melekat di batang otak Rudi. Oh, Kenanga yang berbau bunga kenanga. Semacam simbol yang sangat mudah dicerna.

Karena Rudi menyukai hal-hal yang simbolik, ia pun mencoba mengabadikan sosok Kenanga di rumahnya. Rudi ingat betul tentang sore yang satu itu. Sepulang kerja, Rudi menunggu Kenanga di lobi kantor. Duduk di sofa lobi, kaki Rudi terus bergoyang tak berhenti. Ia telah bersiap menyampaikan rencana yang membuatnya sangat cemas dua hari belakangan itu.

Kenanga muncul dengan langkah teraturnya seperti biasa.

“Kamu mau ajak aku ke mana?” tanya Kenanga curiga.

Rudi tak langsung menjawab. Matanya memandang ke scarf jingga yang bergelung di leher Kenanga, berpadu lembut dengan blus kuning pupus yang menyelimuti tubuh kecil perempuan itu.

“Nggak ajak Fajar dan Boni? Kayaknya mereka masih ada di atas,” tanya Kenanga lagi. Rudi menyesal tadi ia tidak langsung saja menyebutkan tujuan sewaktu mengirim pesan ke ponsel Kenanga. Rudi akhirnya menatap mata sayu perempuan itu.

“Saya mau ajak kamu ke tukang bunga. Yuk, kita jalan sekarang!”

Rudi benar-benar mengajak Kenanga ke tukang bunga. Agak jauh berkendara dari gedung-gedung perkantoran tempat mereka bekerja, ada deretan tukang yang menjual berbagai tanaman. Rumput dan pohon besar siap tanam ada. Segala rupa dekorasi taman juga ada. Namun, Rudi sudah bulat ingin mencari satu jenis bunga saja. Kemarin ia sudah ke tempat ini juga untuk memesan tanaman yang ia inginkan. Persis saat Rudi melongok-longok mencari ke mana si bapak tukang bunga berada, Kenanga bertanya.

“Kamu mau cari apa, Di?”

Rudi tadinya ingin memulai menjelaskan sendiri. Ia sudah punya susunan kalimat yang telah ia susun rapi dan ditaruh di benak. Tapi karena Kenanga sudah lebih dulu bertanya, Rudi malah jadi bingung mau memulai kalimatnya dari mana.

“Saya mau menanam bunga. Untuk di halaman rumah yang baru saja saya bayar DP-nya beberapa bulan lalu…” Rudi menaruh jeda di ujung kalimat itu.

“Oooh, jadi mau pamer kamu ambil rumah, ya?” sambar Kenanga menggoda.

Rudi merasa dirinya kurang tegas. Mungkin Kenanga pikir ini hanya lelucon. Mungkin Kenanga pikir ia mengajak perempuan ke tukang bunga sekadar untuk membantu menawar harga. Akhirnya Rudi memilih untuk menjelaskan semuanya kepada Kenanga, sekarang juga.

“Saya sudah pesan satu jenis bunga sama bapak yang jual di sini. Bunga kenanga…” Rudi memberi ruang pada kalimat tadi, memberi ruang pada Kenanga, kemudian melanjutkan, “Saya mau tanam bunga kenanga di rumah saya nanti, untuk simbol awal hidup baru. Saya… mau ajak kenanga, eh kamu, Kenanga… untuk tinggal bersama saya di rumah itu.” Rudi melepas napas yang sejak tadi ditahan.

Kenanga diam saja. Perempuan itu masih berdiri tegak di tempatnya dan menatap Rudi dengan pandang setengah kosong. Rudi berpikir cepat, menduga apakah ada kalimatnya tadi yang menyinggung perasaan. Seperti teringat sesuatu, kemudian Rudi menambahkan buru-buru.

“Maksud saya, saya ingin menikah dengan kamu, Kenanga…”

***

 

Sekop dan garu kuning mulai bekerja. Rudi menyekop tanah yang secoklat warna kulitnya itu hingga terbentuklah lubang di hadapannya. Tanah mulai menumpuk di kanan kiri lubang. Lubang itu masih belum cukup dalam, tetapi Rudi harus berhenti karena menemukan batu di dalam lubang itu. Kenapa ada batu besar di dalam tanah ini, pikir Rudi. Sekop tergeletak di tanah, lelah tak sanggup melawan kerasnya batu. Rudi berpikir untuk mengambil cangkul, tapi urung karena rasanya cangkul pun tak akan bisa menembus kerasnya batu. Rudi mengorek tanah yang masih sedikit tersisa di atas batu dalam lubang itu. Batu ini datar. Oh, mungkin ini peluran semen. Mungkin pengembang rumah ini mau membuat batu itu sebagai pondasi pagar? Tapi aneh, mengapa kemudian malah tertutup tanah untuk taman?

Rudi mulai kesal. Rencananya hari ini harus terus berjalan. Ia harus menanam bunga baru pengganti kenanga yang telah dicabutnya. Harus hari ini. Tapi ada batu yang tiba-tiba menghalangi rencananya. Ah, dasar batu. Keras kau seperti Kenanga. Keras kepala! Kepala batu! Rudi mengumpat terus. Tiba-tiba terlintas gambaran alat yang cocok untuk mendongkel atau memecah si batu. Dengan sigap Rudi berdiri, berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya sedikit menyisakan noda kotor pada lantai. Rudi tidak hirau. Ia segera ke dapur mengambil kotak tempat penyimpanan alat pertukangannya. Kotak hitam itu akhirnya ia temukan berdiam di bawah bak cuci piring. Ia mengeluarkan alat itu, entah kenapa sambil tersenyum pedas. Akan kuhancurkan batu itu dengan bor.

Kabel ke colokan listrik telah terpasang. Rudi mengangkat bor, memegangnya seperti anak-anak yang bangga punya mainan pistol baru. Ketika tombol ditekan, mata bor itu berputar dan berderu. Rudi kembali berjongkok di depan lubang. Batu itu harus dihancurkan. Sekeras apapun harus dihancurkan.

Mata bor berdesing ngilu ketika menghunjam kerasnya batu. Debu dan serpih halus berhambur. Tepat seperti dugaan Rudi, batu sekeras ini pun pasti bisa ditembus. Rasa sedih menyelinap di benaknya. Sepertinya memang cuma keras hati Kenanga yang tidak bisa ditembusnya.

***

Rudi masih ingat betul, Kenanga terdiam, mungkin kaget mendengar pernyataan cinta Rudi yang tidak diduganya. Masih terasa hangat pula hati Rudi mendengar Kenanga menjawab ‘ya’ pada lamarannya. Setelah itu, Rudi meninggalkan Kenanga sebentar. Ia masuk mencari bapak tukang kebun, mengambil pesanannya. Sebatang pohon kenanga dalam kantong plastik hitam. Rudi segera menggandeng tangan Kenanga dan mengajaknya pulang. Si bapak penjual bunga mengantar kepergian mereka dengan senyum yang terkembang.

Mengajak calon istri pergi ke calon rumah. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu. Sudah lewat magrib ketika mereka sampai di rumah bercat putih bernomor tiga.

“Inilah rumahku. Mmm, rumah kamu juga nantinya,” ujar Rudi malu-malu. Kenanga tersenyum melihat Rudi. Ia tidak memandangi rumah itu sungguh-sungguh. Hanya Rudi yang ia perhatikan. Jika Rudi mau mengingat peristiwa itu lebih teliti, semestinya Rudi bisa menangkap raut sendu yang hinggap di wajah Kenanga. Bahagianya tak seperti bahagia perempuan pada umumnya ketika dilamar seseorang. Ada kerut tipis di kening Kenanga yang menyiratkan entah sesuatu apa yang berlintasan di benaknya. Bayang gelap magrib menyelimuti wajah Kenanga, sehingga Rudi tidak bisa lekas membaca. Rudi terlalu buta karena keburu bahagia mendengar sekadar kata ‘ya’.

Maka dari itu, Rudi jadi seorang buta yang tolol ketika dua bulan kemudian ia tidak bisa menemukan Kenanga. Perempuan itu menghilang. Begitu saja, tiba-tiba. Padahal beberapa hari sebelumnya Rudi masih bisa menghubunginya. Sebulan sebelumnya Rudi masih bisa mengajak Kenanga kembali ke rumah nomor tiga. Menanam pohon bunga kenanga di tanah taman yang agak kering akibat kemarau. Rudi menyekop tanah dengan perkakas yang baru dibelinya. Sebetulnya ia sudah punya cangkul, tapi hanya bergagang kayu polos. Demi Kenanga, atau demi pemujaan simbolisasi rasa cinta, ia membeli lagi perkakas baru. Semua berwarna kuning, warna yang sering melekat pada Kenanga. Penuh sukacita ia menanam pohon bunga itu. Kenanga juga membantunya menyiram. Tak banyak kata yang mereka perbincangkan saat itu. Rudi hanya ingat, usai membersihkan tangan dari tanah, dengan telapak tangan yang masih basah, Rudi memegang tangan Kenanga, mendekatkan tubuh ke tubuhnya. Bibir Kenanga ingin dilumatnya, tetapi wajah perempuan itu menunduk. Rudi mengurungkan gerak.

Maka Rudi sempat menduga apakah hilangnya Kenanga disebabkan oleh tingkahnya yang tak sopan. Rudi juga baru menyadari bahwa tidak banyak pengetahuan yang ia miliki tentang perempuan itu. Dari Fajar dan Boni, Rudi juga tidak menemukan petunjuk yang berarti. Kata mereka, Kenanga memang teman, tapi hanya sekadar teman kerja di gedung kantor itu. Tak ada yang mereka tahu tentang urusan pribadi Kenanga. Mereka hanya tahu biodata sederhana, bahwa Kenanga bekerja di lantai 21, tinggal sendiri di daerah Tanah Abang, dan berulang tahun di bulan April entah di tanggal berapa. Fajar dan Boni justru merasa aneh mengapa bisa Rudi hanya mengetahui tak lebih banyak dari yang mereka tahu. Bahkan terbilang hanya tahu sedikit sekali tentang perempuan yang telah diajaknya menikah.

“Kamu sudah pernah bertemu orang tuanya? Jangan-jangan dia lagi pulang kampung? Kampungnya di mana memangnya?”

“Kamu bikin dia marah barangkali? Pernah nggak, dia bilang nggak suka sama tindakan kamu? Kamu sih. Hati-hati makanya sama orang selembut Kenanga.”

“Sudah cek sosmednya? Dia sudah off di mana-mana lho. Apa dia terlibat hal yang ilegal? Kalau enggak, kenapa dia sampai harus bersembunyi?

“Atau jangan-jangan dia resign, ya? Rasanya dulu dia pernah bilang mau pindah ke gedung tetangga. Eh tapi itu cuma bercanda kali, ya?”

Yang muncul hanya dugaan-dugaan. Tak ada satu pun kepastian. Rudi sudah mengecek ke kantor Kenanga, dan sudah mendapat kabar bahwa benar Kenanga telah mengundurkan diri. Entah ke mana, perempuan itu tak juga minta surat rekomendasi. Rudi mati langkah. Ia masih belum bisa menerima kepergian Kenanga. Perempuan itu begitu keras kepala, hanya mengirimkan satu pesan perpisahan lewat ponsel berbunyi “Maaf, aku tak bisa jadi kenanga.”, lalu kemudian mati sebab tak bisa dihubungi berkali-kali.

Kemarahan itu muncul lagi. Bor dihunjam dalam-dalam. Ke titik sana, ke titik sini. Namun, tusukan bor rupanya hanya membuat batu itu berlubang-lubang. Batu tidak pecah sempurna. Seperti juga persoalannya, tak bisa pecah, musnah, dan sudah.

Rudi benci harus menyetujui bahwa Kenanga harus ia relakan mati. Mungkin ia masih hidup entah di mana, tetapi ia menghilang, jadi anggap saja dia mati. Rudi sungguh tak menyesal telah mencabut kenanga itu kemarin. Meski mencabut kenanga tak berarti pula mencabut kenangan. Namun, ia harus segera mengganti kenanga yang sudah tiada itu dengan pohon baru. Lalu batu ini? Seharusnya ini hanya perkara strategi.

Rudi bergeser sedikit, kembali menyekop tanah di sebelah lubang berisi batu tadi. Lubang diperluas, dan di atasnya akan ia tanam pohon bunga baru. Kemarin ia menemukan tumbuhan merambat ini. Daunnya banyak, berwarna hijau lebar, dan punya bunga merah ungu kecil-kecil. Kata bapak si penjual, namanya bunga air mata pengantin. Namanya sialan betul. Namun, Rudi langsung menyukai bunga itu, semacam menemukan simbol baru. Rudi akan menanam bunga itu dan merawatnya, entah sampai kapan. Semoga cukup sampai beberapa bulan ke depan, ketika luka hatinya tak lagi diperban.  (*Nov 2015)

That awkward moment when…

your student suddenly ask you, “Miss, miss mantannya sodara aku ya?”

Spicles banget nggak lo kalo tau-tau ada anak murid ngomong gini. Baru aja keluar kelas di hari Senin, ada murid cewe melintas dan menanyakan itu. Dia sebutlah nama satu lelaki. Ugh, nama yang paling nggak mau saya dengar lagi. Udah dibuang ke tempat sampah, kok tau-tau kembali?


Di waktu singkat itu, nih murid berceritalah, weekend kemarin dia ada acara keluarga, trus salah satu sepupunya nanya apa ada guru bernama Arnellis di sekolahnya. Si murid bilang iya. Trus sepupunya itu ngaku mantan pacar saya.

Demi terlihat cool, saya cuma bilang, “Ohh, kamu sodaranya?” Lalu lempar senyum dan segera berlalu sambil sok ketawa-ketawa. Padahal dalam hati, oh no, ini murid pegang kartu saya banget. Sambil sebel sama dunia, kenapa sih masa lalu sering kembali hadir tanpa disengaja?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,466 other followers

%d bloggers like this: