Membuat Puisi dari Cerpen

Guru sastra harus coba ini. Menulis puisi yang inspirasinya diambil dari konflik dalam cerpen! Ini bisa mengatasi kesulitan murid yang sering bilang bahwa menulis puisi itu susah.

Saya coba ini bersama murid kelas 10. Dari buku Cerpen Kompas Pilihan 2009, murid diminta untuk memilih satu cerpen. Bebaskan murid untuk memilih konflik apa yang akan diambil. Setelah itu, ajak murid untuk memilih satu tokoh yang bisa dipakai sudut pandangnya untuk berpuisi. Saya katakan: Jadilah tokoh itu, lalu buatlah sebuah puisi yang menggambarkan perasaan hatinya.

Di sini guru bisa selipkan dengan ujian pemahaman unsur puisi. Dalam rubrik penilaian, sebutkan detil penilaian seperti kehadiran unsur majas, imaji, diksi, dan tipografi. Nilai yang lebih besar akan diberikan untuk murid yang bisa menggunakan 3 jenis majas, misalnya. Diksi yang variatif dan simbolis juga akan dapat nilai yang lebih besar, misalnya. Ini penting untuk memudahkan guru juga saat menilai karya sastra yang sangat beraneka rupa hasilnya.

Ini satu contoh karya murid saya: Alifa Nabila (10A, 2014). Sebuah puisi yang terinspirasi dari cerpen “Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian”. Mengagumkan.

20140418-210424.jpg

Jari Ungu

Namanya Gemintang. Dia sangat penasaran kenapa semua orang di rumahnya tiba-tiba punya tanda ungu di jari-jari mereka. Saya katakan padanya, habis nyoblos Pemilu. Tentu saja dia belum paham apa itu Pemilu. Yang dia paham adalah tanda habis nyoblos itu lucu. Dia ingin punya juga. Lalu, dengan krayon mainannya, dia coba membuat tanda itu juga. “Gak bica,” katanya. Aku tertawa saja. Politik bisa jadi hal sederhana di mata kanak-kanak.

20140409-110547.jpg

Melahirkan…

Sembilan bulan mengandung dan merawat novel Bumi Manusia di kelas bersama murid kelas dua belas. Belajar memahami setiap makna yang ada. Lalu tiba saat melahirkan, muncullah salah satu yang membuat tangis jatuh begini.

20140327-090124.jpg
Semoga hidup selalu anak-anak manusia yang membawa kebaikan untuk buminya.

;

Penyalahgunaan Sensor Film

Berikut ini adalah paragraf argumentatif untuk topik debat karya murid saya di soal ujian harian Bahasa Indonesia SMA Kelas 12. Sebuah masukan bagus dari pikiran remaja untuk perfilman kita.

ketika-lembaga-sensor-film-katakan-tidak1

Sementara orang-orang ribut mengenai pornografi dan hal-hal yang tidak senonoh dalam sebuah film, saya sebagai seorang remaja yang akan melangkah menuju umur yang dianggap dewasa mempertanyakan penggunaan sensor film di Indonesia. Sebagai pihak kontra, saya menyataan bahwa sensor film tidak diperlukan.

Pada dasarnya semua film memiliki batasan umur bagi penontonnya. Para produser sudah menargetkan karya mereka kepada umur-umur tertentu. Lantas mengapa hal tersebut tidak bisa dianggap cukup? Mengapa film harus melalui sensor lagi? Tidak hanya pada layar lebar bioskop. Film-film Barat yang ditayangkan di televisi dalam acara tengah malam juga harus melalui sensor. Sebenarnya apa gunanya sebuah sensor? Mengapa perempuan-perempuan di pantai menggunakan bikini dipertunjukkan, tetapi perempuan menggunakan pakaian dalam terkena sensor? Mengapa adegan seks dilarang, tetapi adegan pembunuhan dibiarkan saja dan disiarkan ke seluruh negara?

Orang-orang mungkin tahu film Hansel and Gretel: The Witch Hunter. Pada bioskop TransTV saat hampir tengah malam, film itu diputar. Dan benar saja, adegan seks dalam film itu langsung dipotong, tetapi adegan mereka memotong-motong bagian badan dan kepala tetap disiarkan. Apakah sebenarnya yang ingin dicapai dengan penggunaan sensor film?

Kita semua tahu bahwa dalam sebuah tayangan selalu ada batasan umur. U untuk Umum, BO untuk Bimbingan Orangtua, R untuk Remaja, dan D untuk Dewasa. Pada dasarnya produser akan menghindari hal-hal yang berdampak buruk untuk anak-anak untuk film umum. Yang saya tidak mengerti adalah mengapa film dewasa harus melewati sensor? Orang dewasa lebih bertanggung jawab dan tahu benar hal-hal di film tersebut yang membuat sebuah film distempel sebagai “untuk dewasa”. Tidak seperti anak-anak yang masih serba ingin tahu dan coba-coba. Tentu kita sebagai orang dewasa tidak akan mencoba-coba menusuk orang dengan gergaji, bukan?

Pada dasarnya sensor film Indonesia sebaiknya dihentikan, karena yang dipertunjukkan kepada umum adalah adegan berdarah-darah penuh kekerasan serta bahasa kasar yang dianggap lulus sensor. Hal ini dapat merusak psikologi anak yang bisa beranggapan bahwa seks adalah hal tabu tetapi pembunuhan dan kekerasan adalah hal yang wajar.

Dengan ini saya simpulkan bahwa sensor film lebih baik ditiadakan atau direvisi kembali, karena hal tersebut dapat merusak mentalitas maupun pandangan anak dan remaja kebanyakan.

- Hosiana Eunike, 24 Februari 2014

sumber gambar: tourismnews.co.id

 

Bermain Kuis Benar Salah

Remaja senang diajak bermain-main. Kita bisa gunakan permainan kuis untuk cara belajar sastra. Saya pernah coba ini untuk belajar intrinsik cerpen. Silakan dicontek jika pas buat kelas Anda. :)

1. Baca penggalan cerpen (bisa juga novel atau drama) dengan cara silent reading. Membaca bersama secara bergantian juga bisa dilakukan untuk membuat kelas fokus membaca dengan durasi yang sama.
2. Kelas akan dibagi menjadi dua bagian: kelompok kiri dan kanan. Bisa juga kelompok laki-laki dan perempuan. Setiap jawaban yang benar akan masuk kantong nilai kelompok.
3. Guru sudah menyiapkan sejumlah pertanyaan terkait cerita yang dibaca. Pertanyaan harus bersifat pasti benar atau salahnya.
4. Murid akan memegang kertas papan yang bertuliskan huruf B atau S. Saat guru memberikan pertanyaan kepadanya, murid dipersilakan menjawab dengan mengacungkan papan itu.
5. Guru akan langsung memberitahukan kunci jawaban per nomor.
6. Papan B/S diberikan pada teman di sebelahnya. Dia akan menjawab soal berikutnya. Demikian seterusnya.
7. Kantong nilai akan dibacakan setelah semua pertanyaan disampaikan. Kelompok pemenang akan diberi tepuk tangan paling meriah! #prokprokprok
20140305-123524.jpg

Menari di Bynamic 2014

Menari di Bynamic 2014

Menari di Bynamic Festival @Binus International School Serpong, 15 Februari 2014

16
Tari Kalimantan (Dhita, Darin, Nadia)

15
Tari Betawi (saya! dan Fira)

14
Tari Zapin Melayu (Qilla dan Itie)

Yang mau lihat video tariannya, silakan nonton di link ini ya: Kalimantan Betawi Melayu Medley Dance

Training Guru Perdana!

Saya harus berterima kasih kepada Provisi Education dan Antam yang memberikan peluang kepada saya untuk menjadi trainer guru. Ini adalah pelatihan perdana saya. Tentu saja rasanya campur aduk, antara deg-degan dan juga antusias! Selama enam jam di hari Sabtu 19 Oktober 2013 itu, saya berkenalan dan belajar bersama 49 guru SMP, SMA, dan SMK di Halmahera Timur, Maluku. Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan.

Perkenalan adalah saat yang menentukan imej seseorang. Pada waktu itulah seseorang dinilai oleh pendengar atau lawan bicaranya. Saya pun tak luput dari hal ini. Ada satu peserta yang meninggalkan ruang pelatihan ketika tahu bahwa saya jauh lebih muda daripadanya. Mungkin baginya saya tak akan mendatangkan manfaat. Namun, saya lebih peduli pada peserta lain yang punya semangat belajar tinggi dan tetap bertahan di sana.

Topik pelatihan kali itu adalah “Menjadi Guru Inspiratif”. Secara keseluruhan, kegiatan ini adalah sebuah momen belajar yang menyenangkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers

%d bloggers like this: