Cara Menganalisis Pidato

Ini salah satu cara untuk menganalisis pidato yang saya lakukan kemarin bersama murid kelas 12. Mereka membaca naskah Pidato Pelantikan Joko Widodo, 2014, “Di Bawah Kehendak Rakyat dan Konstitusi”. Murid membaca dengan saksama, memahami struktur pidato itu, kemudian diminta untuk mencari satu quote yang menarik baginya.

Berikut ini beberapa contoh jawaban murid-murid saya.

photo 1 (5)“Dan kita tidak pernah betul-betul merdeka tanpa kerja keras.” Kalimat ini saya pilih karena kalimat tersebut merupakan suatu motivasi bagi orang-orang Indonesia agar ikut serta dalam membangun negeri. Kalimat ini juga bisa dijadikan quote dalam hidup kita saya agar tidak malas-malasan dalam belajar supaya bisa lulus kelas SMA. (Felicia, 12B, 2016)

photo 3Satu kalimat yang bisa dijadikan quote adalah “Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri” karena kalimat ini memiliki efek yang kuat (penduduk negara maritim) dan sangat pas dengan salah satu isi pidato Joko Widodo, yaitu untuk mengembalikan status negara maritim.  (Bayu, 12C, 2016)

photo 2 (4)“Kita akan kembangkan layar yang kuat”. Arti yang saya tangkap adalah untuk selalu berjuang, tidak mudah menyerah atau goyah. Saya memilih ini karena sikap ini diperlukan bagi para pemuda Indonesia. Karena dari pengalaman saya, generasi muda ini, setidaknya teman-teman saya, kebanyakan mempunyai sikap dan mental pasrah dan mudah menyerah. Oleh karena itu, pengeluhan-pengeluhan yang dikeluarkan dari mereka tidak akan membantu mereka untuk menjadi orang yang sukses. (Kris, 12A, 2016)

Bagus-bagus ya jawabannya? Menurut saya ini adalah salah satu bentuk aplikasi belajar yang asyik. Apa yang dipelajari bukan sekadar teori, tetapi benar-benar bisa murid kaitkan dengan kehidupan mereka sendiri. Semacam, ada hikmahnya, begitu. :)

 

 

Belajar Pidato Tanpa Aduh

Aduuhh…

Entah kenapa, setiap kali menyebut judul topik ini di depan murid kelas 12, ada saja yang bilang aduh begitu. Ya, memang, bagi beberapa murid, materi pidato ini lumayan susah. Objektif pembelajarannya saja ada tiga: Murid memahami struktur naskah pidato, murid mampu menulis naskah pidato, dan juga mampu membacakan pidato dengan baik. Guru juga harus berusaha ekstra supaya materi ini bisa disampaikan dengan asyik, tanpa membuat murid terus berkata aduh.

Ada beberapa yang sudah saya lakukan untuk mengatasi aduh ini.

  • Kasih contoh dua atau tiga naskah pidato. Dimulai dari contoh lewat kertas handout, murid bisa melihat langsung pidato itu “yang seperti ini lho”. Murid juga harus melihat beberapa contoh agar mereka bisa membandingkan ragam bahasa pidato. Kemarin saya pakai contoh pidato Kampanye Obama “Yes We Can” di New Hampshire dan pidato pelantikan presiden Jokowi “Di Bawah Kehendak Rakyat dan Konstitusi”. Tambahannya adalah contoh pidato sederhana di lingkup sekolah dengan topik masalah sosial. Bisa juga ditambahkan contoh naskah pidato pelantikan Ketua OSIS di sekolah sendiri, pasti akan terasa lebih mengena.
  • Menganalisis struktur naskah pidato. Setelah mereka membaca langsung naskah pidato, biarkan murid menyimpulkan seperti apa naskah pidato itu. Mereka pasti akan bisa menemukan sendiri salam pembuka dan penutup, bagian pendahuluan-isi-penutup, dan juga kalimat sapaan. Mereka juga bisa melihat bagaimana peletakan setiap unsur dan penyusunan setiap paragraf yang baik. Mereka juga akan bisa menilai sendiri gaya bahasa pidato setiap tokoh. Misalnya, Obama membuka pidato dengan “thank you”, sementara Jokowi membuka dengan salam semua agama di Indonesia. Lalu, ajak mereka berdiskusi, mengapa gaya bahasa pidato Obama dan Jokowi berbeda? Mengapa pilihan kata mereka berbeda? Faktor apa saja yang mempengaruhi adanya perbedaan itu?
  • Menonton video tokoh yang membawakan pidato. Tunjukkan ke murid seperti apa Obama dan Jokowi menyampaikan naskah pidato tadi. Videonya bisa diambil dari Youtube. Sambil menonton video, murid bisa menilai sikap tubuh para orator itu. Apa metode yang dia pakai? Bagaimana gerak tubuhnya? Gerak tangan? Cara berdiri? Cara menatap pendengar? Cara bicaranya? Tempo dan artikulasi? Enak tidak pidato itu disimak? Dari sini, murid bisa menyimpulkan, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan saat menyampaikan pidato. Tentu saja, mereka juga bisa gunakan pengetahuan ini untuk praktik pidato mereka sendiri nanti.
  • Membaca artikel tentang penulis naskah pidato. Ini tambahan pengetahuan buat murid bahwa ternyata pekerjaan Penulis Pidato itu eksis. Saya pakai artikel tentang Jon Favreau, yang menulis naskah pidato Obama, yang juga menjabat Direktur Penulis Pidato Gedung Putih. Ini bisa jadi inspirasi, terutama murid yang suka menulis, bahwa menulis pidato itu adalah sebuah pekerjaan yang penting. Ya, bisa dijadikan cita-cita juga.

 

Semua teknik tadi bisa diselesaikan dalam waktu 120 menit saja. :)

Beberapa contoh assessment/penilaian tentang topik ini akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya, ya.

Tentang Rambut di Toilet

photo (3)

“Cuma mau bilang, yang buang rambut di wastafel tolong dibuang sendiri, dikumpulin + taro di tempat sampah. Do not depend on ISS. It’s your trash.

Thank you,

Whoever you are :)

PS: Rambutnya bikin wastafel kesumbat. Kasian ISS.”

 

Ini saya temukan di toilet perempuan di lantai 4 gedung sekolah saya. It’s kinda sweet. Bentuk kepedulian siswa pada pekerja cleaning service yang setiap hari menjaga kebersihan di sekolah.

Kertas ini sudah hampir dua bulan menggantung di tembok. Pernah saya tanya pada ibu petugas kebersihan di situ: kenapa tidak dicopot? Jawabnya sederhana: Nggak apa-apa, saya senang dibantu begini. :)

Cara Memakan Novel Atheis

Akhirnya merasakan juga satu semester mempelajari novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Kenyang, dari Agustus sampai Desember 2015 lalu. Awalnya kebetulan memang. Buku bersampul hijau ini diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka. Jadinya saya berani mengusulkan untuk pakai buku ini sebagai bahan bacaan wajib di sekolah. Maklum, untuk mengajukan penggunaan suatu buku, guru harus memperhitungkan ketersediaan buku di penerbit. Akhirnya, jadilah buku ini bisa dipakai oleh ratusan siswa kelas 10 sekolah saya.

Ada banyak juga yang sudah kami (saya dan murid) lakukan terhadap novel ini. Berikut ini saya susun beberapa cara memakan novel ini. Semoga siswa Anda juga bisa jadi lahap ya makannya. :)

  • Reading Response. Sebetulnya semua aktivitas yang dilakukan sepanjang semester adalah merespon bacaan. Bentuk Reading Response biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan panduan tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik novel. Biasanya dicetak di kertas sebagai handout dan assessment siswa. Berikut ini contohnya:

Bacalah bagian 1-3 novel Atheis, kemudian carilah sudut pandang siapa yang sedang berbicara dalam bagian itu? Mengapa terjadi perbedaan sudut pandang pencerita?

Perhatikan tabel yang berisi kutipan novel Atheis ini. Tentukan manakah kutipan yang mengandung nilai budaya! Mana saja buktinya?

  • Game Benar atau Salah. Dengan memakai papan kertas bertuliskan B dan S, permainan ini lumayan seru dilakukan. Guru menampilkan powerpoint berisi kalimat-kalimat dari novel. Murid bergiliran memegang papan B dan S itu. Murid kemudian akan menebak, apakah pernyataan di papan tulis itu Benar atau Salah. Permainan ini juga bisa dilakukan lisan saja, tidak perlu pakai proyektor dan komputer. Guru tinggal menyebutkan satu kalimat, lalu siswa menebak.

photo (2)

  • Mengumpulkan nama semua tokoh. Dengan siswa mengumpulkan nama tokoh, siswa bisa sambil mengingat kembali apa peran dari masing-masing tokoh. Bisa pula sebagai bahan analisis tentang karakter tiap tokoh.
  • Mencari deskripsi. Siswa dapat menilai langsung bagaimana bentuk paragraf deskripsi yang digunakan pengarang dalam novel. Jadi, guru bukan hanya mengenalkan teori deskripsi saja, bukan hanya mencontohkan potongan paragraf deskripsi saja. Siswa jadi tahu fungsi deskripsi dalam sebuah bacaan. Siswa bisa bilang, “Ohh, ini yang namanya deskripsi, bisa membuat cerita jadi lebih detail, ya.”
  • Teka Teki Silang. Nah, ini favorit siswa saya. Mereka suka sekali mengerjakan TTS yang pertanyaannya berdasarkan novel ini. Untuk membuat TTS, guru harus mencari sejumlah kata yang akan dibuat jawaban. Bisa diambil dari nama tokoh, nama lokasi, atau kata khas di dalam novel. Untuk membuat TTS, saya biasanya menggunakan aplikasi di web ini:  http://worksheets.theteacherscorner.net/make-your-own/crossword/
  • Game detektif. Ini baru saya coba buat setelah saya tahu anak-anak sangat suka misteri. Mendekati akhir cerita, siswa akan bertanya-tanya tentang akhir nasib Hasan si tokoh utama. Saya persiapkan sebuah permainan. Sebuah kertas bertuliskan “Apa penyebab kematian Hasan?”. Lalu setiap kelompok siswa diberikan sebuah amplop yang berisi potongan petunjuk. Siswa kemudian berdiskusi, memisahkan mana yang fakta dan opini. Kemudian siswa akan menyimpulkan, berdasarkan fakta yang ada, Hasan meninggal dengan cara apa.

photo (1)

  • Menulis resensi. Setelah siswa selesai membaca novel dengan tuntas, kegiatan ini bisa dilakukan. Ajak siswa menuliskan kritik mereka atas novel melalui resensi. Anak juga bisa belajar menulis persuasi, mengajak teman lain untuk ikut membaca novel ini juga.

Jadi Editor Buku Anak Bertanya

Saat nulis ini, saya berusaha mengingat-ingat lagi, kapan persisnya pertama kali kenal Pak Hendra Gunawan. Kok ya nggak ingat juga. He-he. Seingat saya pertama kali kenal ya karena saling follow di twitter. Lalu saya baru tahu kemudian Pak Hendra ini seorang profesor matematika di ITB. Lalu rasanya tak lama sejak itu, tahun 2013, ia mengajak saya bergabung di proyek keren berjudul Anak Bertanya. Tahu, kan, website yang menampung pertanyaan anak-anak dan dijawab oleh para pakar itu?

Nah, saya diminta menjadi editor untuk memeriksa sejumlah artikel jawaban para pakar. Untuk tugas ini saya tidak bekerja sendiri, tapi berdua bersama teman bernama Eveline. Kerja penyuntingannya sebetulnya sederhana sekali. Iya, jawaban para pakar kebanyakan sudah bagus-bagus. Makanya saya senang jadi editor di Anak Bertanya.

photoLalu Pak Hendra menawarkan keasyikan berikutnya, saya diminta memeriksa buku Anak Bertanya jilid 2b. Well, sebetulnya ngedit tandem bersama Pak Hendra, sih. Untuk penerbitan jilid dua ini, saya memeriksa tulisan tentang Karya & Aksi Manusia serta Isu Sosial & Ekonomi. Sementara, jilid 2a tentang Alam & Kehidupan serta Bumi & Lingkungan, disunting oleh Pak Hendra dan Pak Dasapta Erwin Irawan

Nah, sekarang bagian promosinya. Ini buku penting. Ini buku bagus.

Buku ini dipersembahkan khusus bagi anak-anak di seluruh Indonesia yang tak pernah berhenti bertanya dan mencari jawaban.

Buku ini juga dipersembahkan untuk orang tua yang seringkali kebingungan menjawab pertanyaan anak-anak yang maha kritis. Misalnya, mengapa orang harus punya cita-cita? Mengapa orang harus belajar berulang-ulang? Bagaimana kalau matahari tidak ada? Apa warna air sebenarnya? Pertanyaan yang kelihatan sederhana, tapi perlu jawaban tidak sederhana, kan? :)

Jika berminat memiliki satu paket buku ini (Jilid 1a-1b-2a-2b) seharga Rp100ribu saja (tidak termasuk ongkos kirim), silakan pesan ke twitter @AnakBertanya. Atau kalau mau berdonasi, silakan lihat infonya di bawah ini ya.

CVlxbLbWoAEEDq2

 

Dari 10D

Coba baca  notes dari murid 10D ini, maka kau akan bisa menduga seberapa ngos-ngosannya saya jadi wali kelas tahun ini. :)  
   
  

  

Chika dan TSAD 2015

Bertukar Peran sudah jadi tradisi perayaan Hari Guru di sekolahku. Guru menjadi murid dan murid menjadi guru. Guru akan menyimak kelas dan murid akan mengajar. Ya, termasuk bertukar seragam juga. Tujuannya, supaya murid bisa memahami pekerjaan guru dan bisa mengapresiasi dengan lebih baik. Ini sesuai dengan judul acaranya, Teacher and Staff Appreciation Day.

Tahun ini, kelas Bahasa Indonesia saya diampu oleh Salsabila Chika. Dia mengajar di kelas 10A, bercerita tentang novel Atheis yang sedang kami pelajari. Chika menjelaskan kisah “Kartini dan Anwar di penginapan” sementara teman-temannya mendengarkan. Sesekali ada protes atau celetukan jika Chika menyebutkan apa yang terjadi dengan kode yang samar.

Sambil menjelaskan, Chika meminta teman-temannya untuk mengisi kertas tanggapan membaca (reading response). Ia akan memanggil nama temannya secara acak, dengan metode silang, sehingga mereka selalu awas. Saat ada teman yang berisik sendiri di pojok kelas, Chika memanggil nama mereka sambil melotot matanya. :)

Jelas Chika sukses mengajar di hari itu. Tidak semua murid yang jadi guru berhasil mengatur kelas seperti dia (bahkan biasanya di kelas lain si muridguru cuma memberikan free time). Saya hanya memberikan lesson plan lisan dan materi ajar kepadanya dan Chika bisa mengaplikasikanya sendiri.

Mengutip gaya bahasa Hasan dalam Atheis, yang nyata kini ialah bahwa aku sekarang sudah berganti keadaan. Keadaan bahagia sejati. :)

Kenapa Anak Tetangga Sering Main ke Rumah Saya?

Tadi pagi saya tiba-tiba bertanya kepada suami saya, “Kenapa ya anak-anak kecil sering main ke rumah kita?” Padahal, kami belum punya anak yang bisa diajak main oleh mereka. Namun, hampir setiap hari ada saja balita anak tetangga yang datang. Mereka akan berjalan setengah berlari, menegur kami, mengajak bicara patah-patah, lalu masuk ke rumah. Biasanya para pengasuh mereka akan sibuk meminta mereka ke luar rumah saya, mungkin karena sungkan atau tak enak mengganggu kami yang akan berangkat bekerja.

Sore hari sepulang kerja pun adegannya sama. Bianca dan Fadhlan langganan saya. Ada juga Alga, Fany, Caca, Khansa, yang sesekali datang. Bianca (2 tahun) yang paling sering, hampir tak pernah absen. Biasanya dia akan mengejar saya dan suami yang pulang kerja sore, lalu masuk dan duduk di karpet bulu. Lalu dia akan minta minum atau kerupuk. Kalau energi saya masih berlebih, saya ajak dia membaca buku cerita bersama.

Yang baru sering main adalah Alga. Anak lelaki empat tahun ini dicap “bandel” oleh ibu-ibu komplek sini. Anaknya memang kelewat aktif, petakilan, dan cerewet. Pertama kali dia main ke rumah kami, saya ajak dia main bola empuk dan belajar lempar tangkap. Sampai magrib dia tidak mau pulang. Sampai harus saya angkat semi geret dan mengembalikannya pulang. Sementara pagi tadi, tiba-tiba Alga main ke rumah tanpa saya tahu. Saya di dapur dan rupanya ia sudah asyik baca buku cerita yang ada di ruang tamu dengan tenang.

Pertanyaan saya tadi akhirnya dijawab suami. Katanya, “Ya karena kita memperbolehkan mereka main.” Benar juga, mereka sering datang karena mereka merasa diterima. Alasan kedua, saya dan suami agak tidak sadar (mungkin sadar juga sih) telah menciptakan semacam playground buat anak-anak, atau anak kami kelak. Yah, macam beginilah yang membuat mereka betah. :)

photo 1 (2)photo 2 (1)

Atheis dan Sidomuncul

Di akhir semester satu, setelah kami selesai membaca novel Atheis, saya membuat evaluasi pembelajaran dengan cara ini. Siswa diajak memilih siapa tokoh favorit mereka dan menyertakan alasannya. Siswa juga diajak untuk berefleksi, apa yang bisa dipelajari dari tokoh tersebut. Plus, siswa diminta memberi rating pakai bintang-bintang. :)

Berikut ini contoh hasilnya.

photo 1 (3)

Evaluasi lainnya muncul dalam ujian akhir semester. Salah satu bentuk assessment yang diberikan adalah membuat sebuah paragraf kritik atas novel Atheis. Harapan para guru adalah siswa dapat menyampaikan pengetahuan mereka atas novel tersebut, dan lebih jauh lagi, dapat menilai kelebihan dan kekurangan novel.

Khusus untuk gambar di bawah ini, rasanya saya masih gagal memberikan pengetahuan dasar tentang novel. Meskipun lucu, habis kata saya membacanya.

photo 2 (2)

Ini Pekerjaan Rumah untuk saya, belajar lagi bagaimana cara membuat evaluasi hasil pembelajaran yang benar-benar merasuk ke jiwa siswa.

 

 

A Note from Lovely Man

 
Ini epic sekali pemirsa! A NOTE FROM DONNY DAMARA! 😄 Iyaa jadi ceritanya ini dikasih murid kelas 10 yang minggu lalu kutugaskan melakukan wawancara.  Johan, Farrell, dan Andra dari kelas 10F, mereka ketemu Donny Damara di Citos dan mengajukan pertanyaan yang sudah disiapkan. Donny sudah kasih pesan sebelumnya, ia ingin ditanya pertanyaan yang “nggak standar”. Jadilah tiga murid saya degdegan seru menyiapkan pertanyaan panduan. Setelah ketemu Donny langsung, Johan bilang, “Ternyata Om Donny orangnya baik banget. Asyik. Seru. Jadi nggak takut lagi ngobrolnya.”

Nah, pengalaman belajar ini yang saya harap terjadi. Dan benar telah tercipta. Senang rasanya. Apalagi dapat note cantik dari Mister Lovely Man itu. :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,320 other followers

%d bloggers like this: