Tag Archives: novel

Atheis dan Sidomuncul

Di akhir semester satu, setelah kami selesai membaca novel Atheis, saya membuat evaluasi pembelajaran dengan cara ini. Siswa diajak memilih siapa tokoh favorit mereka dan menyertakan alasannya. Siswa juga diajak untuk berefleksi, apa yang bisa dipelajari dari tokoh tersebut. Plus, siswa diminta memberi rating pakai bintang-bintang. 🙂

Berikut ini contoh hasilnya.

photo 1 (3)

Evaluasi lainnya muncul dalam ujian akhir semester. Salah satu bentuk assessment yang diberikan adalah membuat sebuah paragraf kritik atas novel Atheis. Harapan para guru adalah siswa dapat menyampaikan pengetahuan mereka atas novel tersebut, dan lebih jauh lagi, dapat menilai kelebihan dan kekurangan novel.

Khusus untuk gambar di bawah ini, rasanya saya masih gagal memberikan pengetahuan dasar tentang novel. Meskipun lucu, habis kata saya membacanya.

photo 2 (2)

Ini Pekerjaan Rumah untuk saya, belajar lagi bagaimana cara membuat evaluasi hasil pembelajaran yang benar-benar merasuk ke jiwa siswa.

 

 

Tips Menulis dari Ahmad Fuadi

Ahmad Fuadi, iya, dia penulis novel Negeri Lima Menara yang juga sudah difilmkan itu. Saya beruntung bisa bertemu dia ketika dia menjadi guru di kelas Akademi Berbagi Tangerang, Sabtu 17 November 2012. Di sana dia berbagi tips menulis yang sederhana tapi dalam maknanya. Katanya, nomor satu yang paling harus dicari untuk memulai menulis adalah NIAT. Niat menulis setiap orang pasti berbeda. Ada yang iseng mengisi waktu luang, ada yang jadi cita-cita, ada juga yang memang bekerja untuk menulis. Kuatkan niat untuk menulis. Jadi ketika mood menulis tiba-tiba hilang, kembalilah mengingat niat kita untuk menulis itu apa.

Nah, sumber cerita yang akan dituliskan dari mana? Inspirasi bisa didapat dari segala pengalaman hidup yang pernah kita dapatkan. Fuadi bercerita bahwa novel-novel yang dia tuliskan berasal dari pengalaman pribadi, yang tentu saja ditambahkan dengan bumbu fiksi.

Pengalaman bisa dikumpulkan jadi tulisan.

Proses menulis hingga jadi sebuah tulisan yang baik dirangkum Fuadi menjadi gambar di bawah ini. What, Why, When, and How.

Tulisan yang baik itu begini.

Terakhir, kita harus percaya bahwa kesuksesan sebuah karya adalah misteri. Bersiap bahwa tulisan kita mungkin tidak akan dibaca atau disukai orang. Namun sebaliknya, bersiap juga jika cerita kita meledak di pasaran dan menjadi film yang mendunia. Lalu, senyum deh selebar-lebarnya. 😀

Senyum saya dan Ahmad Fuadi

Kembali ke niat kita untuk menulis, lalu percaya bahwa:
“Man jadda wajada, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.”

%d bloggers like this: