Category Archives: remaja

T dan J, kritis!

Dari #twitedu bersama @bincangedukasi Selasa 8 November 2011


Mendidik anak berpikir kritis, mulailah dengan bertanya. Bebaskan anak bertanya apapun. Sejak kecil, orang tua harus mencontohkan cara bertanya, sebab nyatanya bertanya itu tidak mudah juga. “Apa ini?” dan “Apa itu?” harus sudah mulai diajarkan orang tua sejak anak masih bayi. Ketika TK, anak akan terbiasa bertanya ini juga. Ketika SD, orang tua ajak anak bertanya lebih dari sekadar “apa”. Konsep 5W dan 1H (What, Who, Where, When, Why, How) sudah harus diperkenalkan. Ketika SMP dan SMA anak bisa diajak berpikir lebih di pertanyaan “why” dan “how”. Ini puncak berpikir kritis.

Ketika anak sudah terbiasa bertanya, anak harus diajak untuk bisa mencari jawaban sendiri. Bertanya dan menjawab itulah yang harus terus dipupuk agar anak selalu berpikir kritis. Bahan ajar? Kehidupan sehari-hari. Banyak membaca buku/internet tentu akan berguna untuk melatih anak bertanya lalu menjawab sendiri. Kritis adalah hasil.

Orang tua harus senang, bukan sebaliknya, saat anak bertanya atau banyak komentar. Itu tanda anak yang berpikir kritis! Guru harus biasakan murid untuk bertanya juga. Tidak hanya melulu menjawab soal. Kalau anak kritis pada hal-hal sensitif semacam agama atau seks gimana? Orang tua dan guru tetap harus menjawab dengan bijak. Saya percaya pada dasarnya manusia (anak-anak juga) tentu punya kesadaran untuk bertanya. Itulah modal berpikir kritis. Tinggal orang tua, guru, dan anak itu sendiri yang harus menajamkan kebiasaan kritis dalam menganalisis masalah.

“Bagaimana ajarkan berpikir kritis di sekolah? Benarkah bagian ini agak terabaikan karena beratnya beban kurikulum?” tanya seorang pemerhati pendidikan. Saya sendiri merasa hal itu agak benar adanya. Ketika guru dan murid dibebani kurikulum yang berorientasi nilai saja, kegiatan kelas kebanyakan hanya menjawab pertanyaan. Seorang lain bilang, jika ingin membuat budaya berpikir kritis muncul di sekolah, kita perlu ubah dua hal: tes dan pola pikir guru. Saya sedikit tidak setuju. Tes atau ujian tetap perlu dilakukan untuk menilai sejauh mana anak bisa berpikir kritis dalam media tulis. Di kelas, sistem penilaian silang antarmurid (siswa mengoreksi pekerjaan teman) bisa digunakan untuk latihan berpikir kritis. Di beragam pelajaran, ajak siswa mencari kaitan topik yang sedang dipelajari dengan kehidupan harian. Misal, apa guna belajar trigonometri?

Saya pendukung “kuliah harus lulus dengan skripsi”. Ini adalah pembuktian siswa mampu berpikir kritis. Saya mengkritik kebijaksanaan universitas yang memperbolehkan mahasiswa lulus tanpa skripsi. Hanya penuhi kuliah lalu bisa lulus? Dalam skripsi, mahasiswa harus mengajukan sebuah pertanyaan dan sekaligus menjawabnya melalui penelitian. Mahasiswa harus kritis menuliskan rumusan masalah. Lalu buktikan jawaban di bagian analisis. Ujian berpikir kritis itu terjadi di sidang skripsi. Mahasiswa menjelaskan jawaban pada beberapa penguji. Usai lulus kuliah, pendidikan berpikir kritis akan terus berlanjut. Meski bukan di bangku akademis.

Nah, ayo kita biasakan berpikir kritis. Mulai dari kicau di media twitter juga boleh. 🙂

Hamil Hilang dalam #Saman


Anak remaja suka dengar cerita horor. Pas banget deh, mereka seru banget waktu diskusi novel kelas #Saman bagian bayi ibu Wis yang tiba-tiba menghilang.

Ada satu murid, @jsschrs , yang bercerita tentang pembantunya yang juga pernah mengalami kisah “hamil hilang”, seperti kisah ibu Wisanggeni dalam #Saman.

Membahas karya sastra paling enak jika bisa dikaitkan dengan kehidupan nyata. Murid bisa berkaca langsung di cerita keseharian.

Kisah “hamil hilang” itu ternyata sering diberitakan di teve kita. Seorang ibu hamil, tiba-tiba besoknya perutnya rata, bayinya hilang!

Atau ada kisah seorang perempuan yang tidak kawin, tiba-tiba perutnya hamil lalu melahirkan! Fiksi campur nyata! Seru bahas ini di kelas, ya kan @carixza ?

Setelah itu murid sekelas fokus dalam satu konsep belajar yang seru. Masing-masing anak berlomba kisahkan cerita misteri yang mereka tahu.

Saat murid bercerita, saya menilai kemampuan bicara naratif mereka. Mungkin @Jeegee @adrianmikha @ubayHAHA @nabnabibil gak kerasa ya kalau sedang belajar dan dinilai? Kelihatannya murid hanya bagi cerita bergantian saja.

Itulah process of real-life learning. Murid bisa santai belajar tanpa tertekan karena beban ujian. Nilai-nilai belajar bisa didapat di keseharian. #twitedu

Girang Pensi, di Mata atau di Hati?

Girang! Itu perasaan saya ketika tahu sekolah tempat saya bekerja mengadakan konser musik. Pensi, istilahnya, pentas seni dan kreasi anak sekolah, seperti yang saya pernah gandrungi sewaktu masa sekolah menengah. Yang segera terbayang adalah kegirangan loncat-loncat mendengar dentum musik dengan dandanan ala remaja. Saya ingat betul, sekolah SMA saya dulu mengundang PAS band. Waktu itu saya merasa seperti anggota keenam geng Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta. Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan…

Kegirangan saya murni terjadi karena saya ingin mengingat kenangan serunya masa sekolah. Beberapa waktu belakangan saya masih sering menonton konser musik, tapi itu bukan pensi sekolah. Nah ini, ada kesempatan di kandang sendiri, maka kata girang itu begitu menjadi-jadi.

Saya tumpahkan kegirangan saya dengan membeli 10 tiket. Saya sebar infonya di twitter, berharap ada kawan yang sama rasa, ingin membunuh kangen masa sekolah. Beberapa teman menyahut, janji bertaut. Namun sebagian membatalkan karena urusan pekerjaan. Ah, betapa kini pekerjaan sering menahan kita untuk bersenang-senang.

Namun, berkah akan lari kepada orang yang tepat. Secara kebetulan teman saya bilang ia punya anak asuh usia remaja yang tentu akan sangat senang jika bisa datang ke konser musik. Sungguh, itu adalah rejeki mereka. Jadilah tiket itu milik tiga murid sekolah keperawatan di ujung Serpong. Semoga sekolah raksasa tempatku bekerja menerima mereka dengan hangat.

Saya tidak tahu apakah murid-murid bisa menangkap kegirangan saya. Saya merasa banyak tebar senyum ke setiap murid yang menyapa ketika amprokan, lalu banyak cengengesan ketika mereka menggoda sebab di sebelah saya ada kawan lelaki. Mungkin mereka merasa bingung kenapa gurunya berlagak seperti mereka. Kenapa gurunya bisa kenal dengan band pengisi acara. Jessica, murid saya usia remaja, tampak aneh kenapa saya bisa tiba-tiba nongkrong bareng band Lunarian di ruang tunggu artis. Saya bilang saja, saya teman mereka. Lalu dia berseru, “Ih, Miss gaul dong yaa!”

Ini pensi terlucu sebab saya menjadi penonton yang serupa artis. Rasanya mata murid tak lepas mengamat-amati saya. Mungkin rasanya lucu melihat guru mereka bergoyang mendengar Endah n Rhesa. Itu tak biasa sebab guru-guru yang lain memilih tidak datang atau sekedar duduk dan mengamati dari jauh saja. Lebih aneh lagi ketika murid panitia melihat saya tiba-tiba di belakang panggung, menemui Nobie dan Angkuy Bottlesmoker dan ngobrol dengan mereka. Ah, agaknya mereka lupa usia saya tak jauh dari mereka. 😀

Namun, kegirangan saya agak buyar usai hadirnya sebuah SMS. Dari Wanto dan Heri, remaja penjaga konter pulsa di sebelah sekolah raksasa ini. “Mbak, di dalam ada konser ya? Siapa artisnya? Mintain tiket masuk kek. Hehe.” Saya langsung merasa tak enak. Mereka itu kedua teman baru saya di kampung Lengkong belakang BSD City ini. Saya cuma bisa bilang “Maaf ya, gak ada tiket lagi. Artisnya Netral.” Mereka membalas, “Netralnya masih ngopi nih di konter, hhe. Tp kok suaranya gak kedengeran ya?” Ah, jelas saja tak terdengar. Gedung serba guna itu agak kedap suara, letaknya pun jauh di tengah area sekolah yang begitu luas. Riuh teriak remaja pun tak terbagi ke lingkungan sekitar. Semua terpendam hanya untuk yang berada di dalam.

Konser selesai tengah malam. Saya tahu konter pulsa itu masih buka. Entah mengapa ketika pulang, saya mengambil jalan lain, dengan kesengajaan agar tak terlihat Wanto dan Herri. Saya kirimi mereka pesan, semoga lain kali saya bisa berbagi kegirangan dengan mereka.

Saya 22!

Foto di samping diambil waktu saya di sekolah. Iya, waktu saya di sekolah, tapi bukan ketika saya masih jadi murid. Gambar ini justru diambil oleh murid saya.

Waktu itu saya jadi tahu, murid-murid itu sangat senang ketika gurunya berlakuan seperti mereka. Di acara pesta kelas itu, saya berpakaian casual seperti mereka, berkacamata lucu, dan berlaku unyu-unyu. Jadi seharusnya saya tidak kaget karena mereka tiba-tiba memeluk saya dan berebutan ingin foto bareng sambil memonyongkan mulut biar tampak imut.

Di acara pentas drama sekolah, saya membebaskan diri untuk berekspresi layaknya remaja. Motivasinya saat itu terlihat formal: untuk menjiwai karakter, walau sebetulnya saya hanya berperan sebagai MC acara. Lalu berhamburlah komentar murid-murid saya yang rerata berusia 17 tahun ini. Sambil nyengir, mereka bilang “Miss gaul deh!” Gaul itu yang semacam apa? Ya, mungkin bergaya ala mereka, semacam foto inilah. 😀

Gaul, unyu, lucu, ah semuda apa sih saya?
Pertanyaan itu asal datangnya bukan dari saya, tapi dari murid-murid remaja saya. Kalau mereka bertanya, “Miss umurnya berapa sih?” saya akan balik bertanya, “menurut kamu berapa?” Lucunya, dua orang murid saya, satu perempuan dan satu lagi lelaki, memberikan jawaban yang sama: 22.

Kontan saya tertawa, dan belagak tersipu malu. Lucu juga taksiran mereka meleset empat umur ke bawah. Saya bukan lantas girang, justru malah berpikir kenapa bisa mereka menerka saya sebegitu muda. Mereka mengatakan beberapa alasan, misalnya muka saya lucu (entah lucu bagaimana) dan cara saya bicara serupa mereka (kalau ini saya sadar). Ketika saya ceritakan ini ke teman seumuran saya, dia punya alasan lain. Katanya, anak remaja belasan itu belum pandai menaksir perkiraan usia, menambah jumlah tahun belajar sekolah dan kuliah. Yah, saya tidak berpikir sejauh itu. Saya cuma merasa senang yang sederhana. Tebakan 22 itu bikin saya tertawa lalu merasa muda. Saya mencoba merumuskan, muda bukan ada di kencangnya kulit remaja saja, atau di gaya gaul remaja ibukota. Muda ada di jiwa saya, yang selalu mau bercanda dan belajar bersama remaja.

You are as young as your faith, as old as your doubt; as young as your self-confidence, as old as your fear; as young as your hope, as old as your despair. ~ Douglas MacArthur

Kepada anak-anak dan Sahabat Anak

Anak-anak berkuku hitam bergigi gompal tertawa riang.
Mereka bebas main bersama teman, bukan lagi di jalan.

Kalimat itu saya kirim ke akun @kotakhitam_ di twitter tepat setelah melihat anak-anak jalanan di hadapan saya kemarin lalu. Saya begitu yakin gambaran itu akan segera jadi kenangan berharga. Saya bersyukur dapat bertemu anak-anak yang selama ini hanya saya lihat di berita televisi. Anak-anak yang bekerja di lampu merah jalan raya, atau bermain dan tertawa di pinggir sungai dan rel kereta.

Kepada Sahabat Anak (@sahabatanak) saya harus berterima kasih. Saya dapat kesempatan bermain dengan anak-anak itu di Jambore Sahabat Anak XV tanggal 2-3 Juli lalu. Ini adalah kesempatan pertama saya bergabung dengan teman-teman relawan lain. Saya digabungkan dengan Sahabat Anak Tanah Abang. Lompat Karet nama tenda jambore mereka. Ada sekitar 30 anak di tenda ini. Saya tidak hapal semua karena banyak yang baru berkenalan di saat acara, kecuali setidaknya tiga anak manis ini: Nita (14 tahun), Yuniar (10 tahun), dan Yani (12 tahun). Nama-nama tenda adalah nama permainan anak-anak. Ada 29 kelompok tenda di JSA tahun ini dan semuanya menggunakan nama permainan, seperti congklak, engrang, atau hompimpa. Tema jambore jadi teraplikasi walau tak semua permainan itu bisa dilakukan anak-anak pada saat jambore berlangsung.

Tema “Bermain” ini mengakomodasi hak anak Indonesia yang pertama. Saya pikir ini menjadi poin yang begitu penting dan mendasar mengingat anak-anak ini sebagian besar telah mengalami kehilangan waktu bermain seperti anak-anak seharusnya. Kalau kata Iwan Fals, anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, dipaksa pecahkan karang padahal lemah kepal jarinya. Anak-anak kecil itu telah terbebani dengan keharusan mencari nafkah untuk pemenuhan diri sendiri atau membantu kebutuhan orang tua mereka. Sahabat Anak telah berusaha menanamkan pengertian hak bermain ini kepada anak-anak binaan. Saat belajar bimbel harian, mereka sering diingatkan apa saja 10 poin Hak Anak Indonesia (HAI). Di rumah Sahabat Anak poster dipajang. Pada saat jambore lagu HAI dibuat dan dinyanyikan bersama. Manfaat bermain itu pun ditulis besar-besar di punggung kaos kegiatan.

Hamburan pujian banyak terlimpah untuk Sahabat Anak yang sudah menyelenggarakan acara jambore ini kesekian kali. Saya sangat mengapresiasi kebaikan hati mereka semua. Betapa ini adalah hal mulia yang sebetulnya bisa dilakukan banyak orang. Ada sekitar 600 orang mahasiswa dan pekerja yang menjadi pendamping adik-adik ini. Ada pula sejumlah orang yang sibuk menjadi panitia yang repot bekerja sejak empat bulan sebelumnya. Para donatur dan pihak pemerintah, sejumlah artis ibukota, juga keluarga yang bergabung di hari H acara, tentu semua punya niat baik untuk sekitar 1100 anak-anak ini. Tentu nilai-nilai baik pula yang ingin kita ajarkan kepada anak-anak bukan? Misalnya, perihal sopan santun, semangat sekolah, menolong orang, hidup bersih, dan juga kedisiplinan.

Sebab itulah saya gemas ketika acara ini mengalami keterlambatan atau kekurangan fasilitas yang mendukung tujuan baik itu. Saya dan adik-adik dari SA Tanah Abang berangkat pukul lima pagi dari Tanah Abang ke Pasar Minggu. Mereka bahkan sudah bersiap dan berbaris sejak pukul empat pagi. Semangat mereka sangat menggebu. Lalu kami tiba di Kebun Binatang Ragunan pukul 5.30 dan menunggu. Setelah registrasi, kami masuk ke dalam Kebun Binatang dan menjadi yang pertama berfoto kelompok dan masuk ke arena panggung pembuka. Kami lalu menunggu kedatangan 28 kelompok tenda lain yang datang beriringan satu persatu ke lapangan rumput depan panggung itu.

Matahari mulai meninggi. Rangkaian acara pembukaan memakan waktu lama. Sambutan sana-sini, pelepasan balon, menyanyikan yel-yel berurutan, absensi, hiburan, doa pembuka, tanda tangan artis, semua itu menghabiskan banyak waktu. Acara Amazing Race (berkeliling Ragunan sambil menyelesaikan permainan di tiap trek) yang seharusnya dijadwalkan mulai pukul 8 pun harus mundur hingga pukul 10. Anak-anak mengeluhkan kepanasan dan mulai tidak tahan untuk tidak berlarian. Berkali-kali mereka bertanya kapan acara main dimulai dan kapan pergi ke tenda. Ini adalah sebuah hal yang wajar. Sebagian besar peserta JSA adalah anak usia sekolah dasar. Di kelompok tenda saya saja ada dua anak usia 6 tahun. Karena Amazing Race dimulai pukul 10 itu, beberapa anak mulai kelelahan. Meski begitu, semua tertutup semangat untuk melihat binatang-binatang idola dalam kebun binatang. Keterlambatan berikutnya menyusul ketika acara jalan kaki secara ular naga menuju lokasi kemah Ragunan. Iring-iringan 1700 orang tentu butuh pengaturan luar biasa. Kelompok tenda kami meminta untuk jalan lebih dulu mengingat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Anak-anak kecil ini sudah lelah. Sementara mereka masih harus berjalan satu kilometer dari Kebun Binatang ke Bumi Perkemahan. Namun, saya berterima kasih kepada tim dari Tagana yang membantu kelancaran perjalanan kami sepanjang ruas jalan raya Ragunan.

Yang patut menjadi catatan evaluasi adalah panitia dan semua pihak yang terlibat wajib ingat bahwa peserta jambore ini anak-anak dan remaja dengan rentang usia 5/6 tahun yang belum bersekolah hingga usia 17/18 tahun yang baru saja lulus sekolah menengah. Kegiatan yang dilakukan memang sudah diusahakan panitia memenuhi semua kebutuhan anak ini. Namun, ada baiknya jika beberapa kegiatan dipisahkan sesuai kebutuhan usia anak. Anak usia SD akan lebih sulit menunggu dan diminta diam selama sekian jam sebab mereka adalah anak usia aktif bergerak. Berbeda pula dengan anak remaja yang menginginkan jenis permainan yang sesuai usia mereka. Sementara itu, saya mengesampingkan kebutuhan kakak pendamping sebab itu bukan prioritas yang harus dipuaskan dalam jambore ini.

Terkait itu pula, saya bingung sekali ketika pada malam hari di panggung hiburan muncul artis pendatang baru Emily Laras dengan pakaian dress seksi yang mengingatkan saya pada Syahrini. Penonton di sana adalah semua anak peserta jambore dan juga kakak pendamping tentunya. Lalu Emily Laras menyanyikan lagu “Dont Sleep Away” Daniel Sahuleka itu yang dengan miris kocak bertentangan dengan Janji Peserta JSA nomor tiga. Saya menyukai kedatangan band yang saya lupa namanya menyanyikan lagu Laskar Pelangi atau Kepompong, juga dongeng musik Kak Resa yang kelihatan disukai anak-anak kecil. Isi acara untuk anak, maka wajib hukumnya setiap detil acara untuk memenuhi kebutuhan anak, sesuai dengan kebutuhan psikologis anak dan juga mendidik kebaikan untuk anak. Sebaiknya panitia memilah urutan acara. Acara dongeng dan lagu anak ditaruh di jam awal sehingga bisa dinikmati anak kecil. Ketika memasuki acara remaja dan dewasa, anak-anak usia kecil bisa diajak pulang dan tidur di tenda. Dengan begitu, kebutuhan hiburan anak remaja tetap bisa terpenuhi tanpa melanggar hak anak yang lebih kecil.

Ohya, masalah besar berikutnya adalah masalah air dan kebersihan. Begitu sampai di tenda, acara mandi jadi agenda repot untuk anak-anak dan pendamping sebab ternyata kamar mandi yang berfungsi baik hanya kurang dari 10 saja. Lampu tak ada di beberapa kamar mandi. Panitia menyediakan bilik mandi semacam di lokasi pengungsian, tetapi tak ada ember dan air. Jadi, sebagian besar anak dan kakak kreatif sekali memakai keran di masjid untuk keramas dan sikat gigi. Yang menyedihkan, ada anak kecil yang mencoba buang air besar di selokan tempat wudu yang kecil itu. Dari sini saja adik-adik dan kakak mulai kesulitan menaati janji JSA nomor delapan. Urusan kebersihan sampah memang bisa tertangani dengan baik. Anak-anak paham dimana sampah harus dibuang dan acara operasi semut adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan bersama. Kritik saya untuk pengelola Buper Ragunan, seharusnya segala fasilitas diperbaiki dan dipersiapkan untuk menampung kebutuhan penyewa lokasi. Ini penting demi kenyamanan bersama.

Kegiatan permainan hari Minggu sangat ditunggu. Sembilan pos permainan yang disiapkan panitia sangat menarik dan disukai anak-anak. Anak usia SD, SMP, dan SMA, serta kakak pendamping juga terlibat dalam permainan bersama-sama. Saya bisa merasakan bahagianya tawa anak-anak di balik keringat semangat mereka. Saya yakin perasaan saya sama dengan kakak pendamping lain, terutama yang baru pertama kali ini punya kesempatan bergaul bersama anak jalanan. Kamilah yang sangat beruntung mendapat pengalaman tidur di terpal tenda sementara selama ini tidur santai di kasur empuk. Kami yang dapat pengalaman tidak mandi dan kesulitan buang air dengan nyaman. Pengalaman kebersamaan sosial itulah yang coba dibangun. Kebersamaan anak berkuku gompal hitam bersandal kotor dan kakak bersepatu kets dan berkulit kaki halus.

Kepada Sahabat Anak saya berterima kasih, dan kepada anak-anak itu saya sangat berterima kasih. Belajar dan bermain dan hidup layak adalah hak mereka.

Sahabat Anak Tanah Abang

Simbah

Saat cemas menunggu kabar dua orang kawan saya yang menjadi relawan di Merapi, saya menuliskan drama ini. Secara kebetulan, drama ini kemudian dipentaskan di acara sekolah untuk donasi Merapi. Drama singkat ini lalu dimainkan oleh murid-murid kelas 8. Apresiasi mereka apik. Penonton pun baik. Melalui cara lelang, drama ini mengumpulkan donasi yang lumayan besar dari orangtua murid.

Saya menuliskan naskah ini dalam cemas dan berselubung misteri. Maka yang tercipta ternyata kisah misteri pula. Ya, hidup itu kan memang misteri?

SIMBAH

Suasana di sebuah posko pengungsi bencana Gunung Merapi. Siang hari penuh debu. Tampak banyak orang beristirahat. Beberapa orang menahan sakit. Mereka berusaha melepas kecemasan.

Di sudut ruangan, seorang petugas jaga sibuk di meja. Seorang relawan datang terburu-buru ke arahnya.

Relawan     :    Masih ada satu!

Petugas      :    (kaget) Apa?

Relawan     :    Ya, masih ada satu di Cangkringan!

Petugas      :    Satu apa? Coba bicara yang jelas.

Relawan     :    Masih ada satu orang tertinggal di Cangkringan.

Petugas      :    (kaget lagi) Lho, bagaimana bisa?

Relawan     :    Ya, dia tertinggal. Lebih tepatnya, sengaja meninggalkan diri.

Petugas      :    (bangkit berdiri) Coba kamu tenang. Lalu coba jelaskan.

Relawan     :    Ya, aku baru dapat info tadi. Ada seorang nenek yang tertinggal di desa itu. Aku tahu langsung dari cucunya.

Petugas      :    Keluarganya ada di sini?

Relawan     :    Ya. Mereka mengungsi dua hari lalu. Satu bapak, satu ibu, dan satu anak kecil. Aku nggak sengaja ngobrol sama mereka. Lalu anaknya yang kecil itu bilang, simbahnya masih ada di Cangkringan.

Petugas      :    Lho, waktu mereka ngungsi, apa simbah itu ndak diajak?

Relawan     :    Itulah. Kata mereka, ndak mau.

Petugas      :    Hmm… (berpikir)

Relawan     :    (tidak sabar) Gimana? Kita harus samper, kan? Aku akan minta tim SAR balik ke sana. Siang ini.

Petugas      :    Tapi di sana masih bahaya. Tadi aku dapat info sore ini mungkin awan panas turun lagi.

Relawan     :    Berarti kita harus cepat!

Petugas      :    Hmm, baik. Nanti aku coba koordinasi dulu dengan tim. Coba kamu tanya dimana rumah simbah itu. Minta anaknya ikut.

Relawan     :    Ya! (beranjak pergi cepat)

Petugas      :    (mengerutkan dahi, bingung sendiri) Hmm, aneh, kenapa dia ndak mau ngungsi?

Sang relawan berjalan terburu-buru menuju seorang ibu yang sedang memijat suaminya. Mereka terlihat lelah. Mereka tidak sadar ada seseorang yang datang.

Bapak         :    Menil tadi kemana?

Ibu              :    Lha kan tadi diajak sama mbak-mbak. Bajunya merah. Diajak belajar katanya.

Bapak         :    Hoo… Yaa…

Relawan     :    Permisi, Pak, Bu.

Bapak         :    (menengok) Ya? Eeeh, mas.

Relawan     :    Ya, Pak. Kita harus ke rumah Bapak sekarang.

Bapak         :    Sekarang?

Relawan     :    Ya, mumpung masih bisa.

Bapak         :    Tapi saya ndak bisa ajak. Pokoknya Mas saja yang ajak. Saya ndak bisa.

Relawan     :    Iya, Pak. Saya akan ke sana dengan tim siang ini. Bapak ikut untuk kasih tau jalan. Bisa kan, Pak?

Bapak         :    (menghela napas berat) Bukan saya ndak mau, Mas. Tapi saya memang ndak bisa. Saya ndak bisa maksa ibu saya. (istri mengangguk-angguk)

Relawan     :    Tapi ini demi kebaikan bersama. Biar saya yang urus.

(Bapak menatap ibu. Ibu mengangguk memberi isyarat.)

Bapak         :    Yo wis, Mas.

Relawan     :    (tersenyum) Mari, Pak.

(Relawan dan Bapak berdiri, lalu pergi.)

 

Waktu berlalu. Siang hari. Suasana sepi. Desa Cangkringan tampak seperti desa mati. Semua tampak pucat, putih, dan tidak berdaya. Rumah-rumah tertutup abu tebal. Beberapa pohon tampak tumbang. Tidak terdengar suara apapun.

SAR 1         :    (sambil melihat ke arah kaki) Masih panas!

SAR 2         :    Ini sudah mending ketimbang kemarin.

SAR 3         :    Sepatuku mulai meleleh.

SAR 2         :    Masih untung pakai sepatu.

SAR 1         :    Dimana simbah itu?

SAR 3         :    Kita sisir hutan.

(terus berjalan mencari-cari)

Relawan     :    Biasanya kemana, Pak, kalau siang begini?

Bapak         :    Ngangon kambing. Atau cari kayu. Lha tapi kalau begini, ndak tau juga saya.

Relawan     :    Rumah kosong. Sekitar halaman nggak ada.

Bapak         :    Koyo’e di hutan. Biasanya cari-cari di sana, Mas.

Dari kejauhan, mereka melihat sesuatu. Salah seorang dari mereka berteriak tiba-tiba.

SAR 1         :    Itu!

SAR 3         :    Mana? Ah, iya itu!

SAR 2         :    Itu bukan, Pak?

Bapak         :    Mana? Mana? Oh ya, mak! Mak! (berteriak)

Mereka berjalan bergegas. Terlihat seorang nenek tua kaget melihat rombongan datang.

SAR 3         :    Simbah! Dari mana, Mbah?

(mendekat dan berusaha menggandeng)

SAR 2         :    Ayo, Mbah. Turun. Wes ra aman di sini.

Simbah       :    Emoh! (ketus)

SAR 1         :    Nanti selak weduse turun lagi, Mbah. Simbah harus ngungsi sekarang. Ben slamet. Ayo, Mbah.

Simbah       :    Emoh!!!

Relawan     :    Simbah, ini ada Pardi. Ayo, Mbah, turun. Kalau di sini bisa nggak selamat nanti.

Simbah       :    Emoh!

SAR 2         :    (merayu, sambil mencengkeram tangan Simbah ) Tapi Simbah harus turun. Nanti boleh balik lagi kalau sudah aman. Ayo, Mbah.

Simbah       :    Emoh! Emoh!

Tim SAR memaksa Simbah untuk dievakuasi. Simbah meronta-ronta, kukuh menolak untuk pergi dari desa. Dua orang memegang tangannya, menggiringnya ke dalam mobil. Relawan dan Bapak mengikuti dengan cemas.Mereka berjalan menuju mobil.

SAR 2         :    Sudah, Simbah aman di sini. Kita turun sekarang.

Simbah       :    Kulo sibuk! Kulo sibuk!

Relawan     :    Sibuk apa, Mbah?

Simbah       :    Among tamu!

Relawan     :    Among tamu? Terima tamu?

SAR 2         :    Tamu siapa? Sudah ndak apa orang di sini, Mbah.

Simbah       :    Simbah among tamu. Masih rame dari Atas.

Relawan     :    Atas? (bingung)

Simbah       :    Kulo harus balik! Tamune banyak.

SAR 2         :    Ya, Mbah. Nanti.

Relawan     :    (bertanya pada SAR 2) Terima tamu siapa?

Relawan masih bingung dengan keterangan Simbah tadi. Ada rasa ngeri yang tiba-tiba datang. Siapa tamu dari atas yang dimaksud Simbah? Relawan memperhatikan wajah kukuh Simbah. Ada keyakinan dalam wajah tua itu.

Bapak         :    Mas?

Relawan     :    Ya, Pak?

Bapak         :    Jangan dipikirkan.

Relawan     :    Among tamu.Terima tamu siapa maksudnya?

Bapak         :    Sudah Mas. Ndak usah dipikirkan. Makanya, saya ndak bisa maksa dia.

Relawan     :    (mengerutkan dahi) Kenapa?

Bapak         :    Mas, Emak saya ndak waras!

Relawan     :    Ooh!

Mobil terus melaju meninggalkan desa itu. Tidak ada suara apapun, kecuali deru mobil menggilas debu. Desa itu makin sepi. Tanpa penghuni.

 

Selesai

 

 

 

 

Another Failed

Hari ini saya mulai menulis blog diantar dengan dua kegagalan. Pertama, tidak menang lomba menulis novel yang diadakan sebuah penerbit buku populer. Kedua, tidak lolos seleksi kerja di tempat yang tampak ideal bagi pendidikan Indonesia.

Keduanya membuat saya sedih dan gatal minta perhatian teman. Reaksi balasan mereka bermacam-macam. Kebanyakan bilang, nggak apa, pasti ada kesempatan berikutnya, di tempat lainnya. Ada juga yang bilang, kamu udah menang karena udah mencoba.

Teman lain beda rumusan. Dia bilang, you’re not failed, cuma jalan yang agak berbeda dari perkiraan aja. Seorang teman malah lebih tegas bilang, its another achievement! Semua tergantung bagaimana kita menghayatinya.

Ya, saya berusaha memahami itu semua. Lalu berusaha menerima dan bersyukur atas apa yang masih saya punya sekarang. Masih punya kerjaan yang lumayan. Masih bisa menulis kecil-kecilan.

Lalu saya menghibur diri dengan ngobrol bareng anak-anak kelas 8 (2 SMP). Mendengar curhat kisah asmara mereka yang lugu dan malu-malu. Asyik makan coklat dari mereka sambil dihembus angin sore. Saya iri dengan kisah mereka yang tampak masih jauh dari kegagalan. Mereka masih asyik merayakan kemudahan. Seorang anak bercerita, dia dapat hadiah sepatu seharga 1,3 juta dari cowo yang menyukainya (baru gebetan belum jadian). Ah, detik itu saya iri, dan saya tau saya masih gagal memaknai syukur dan ikhlas.

Tapi biar gagal, saya tetap harus terus mencoba kan? Iya.

 

%d bloggers like this: