Category Archives: pendidikan

Guru Wajib Dandan!

Ada agenda cantik di hari pertama masuk sekolah di semester dua ini: Beauty Class! Sekolah saya bekerja sama dengan The Body Shop, yang kebetulan memang sedang promo program baru yaitu The Body Shop @ You. Guru dan karyawan diajari cara dandan untuk kegiatan sehari-hari di sekolah. Guru lelaki juga dapat Grooming Class. Bagi beberapa orang, ini seperti acara “super make over”. Iya, karena banyak juga yang mengakui malas atau enggan berdandan. Saya sendiri bukan termasuk orang itu. Sebaliknya malah, saya selalu luangkan waktu untuk dandan minimal 15 menit setiap pagi sebelum pergi bekerja. Bagi saya, buat orang yang pekerjaannya berbicara dan berhadapan dengan orang banyak, berdandan itu penting.
IMG-20140106-WA002

Sebetulnya, isu dandan ini pernah jadi masalah serius bagi beberapa sekolah. Ada banyak cerita tentang ini. Ini satu contoh berdasarkan kisah nyata. Suatu hari seorang guru perempuan dipanggil oleh kepala sekolahnya. Dia tidak tahu dalam rangka apa dia diminta menghadap. Di meja Kepsek sudah ada alat-alat kosmetik yang menimbulkan tanda tanya. Si Kepsek langsung mengatakan masalahnya kepada si guru: ada orang tua murid yang mengira si guru adalah petugas kebersihan! Ya, si ortu mengira begitu karena guru ini tidak berdandan dan tidak terlihat berwibawa sebagai seorang guru. Kepsek pun memintanya untuk berdandan. Tak lupa diingatkan dengan tegas: harap selalu berdandan dan berpenampilan elegan.
IMG-20140106-WA001

Kenapa sih mesti dandan? Buat saya, terlihat cantik itu kebutuhan untuk diri sendiri. Bukan narsis, tapi merawat pemberian Tuhan. Nomor dua, tentu saya akan lebih enak dilihat orang lain kalau terlihat cantik. Nah, bagi guru, yang termasuk orang lain ini ada tiga pihak: rekan guru, orang tua murid, dan para murid. Jangan aneh, anak SMP-SMA kota besar sekarang makin hobi berdandan. Anak perempuan dan lelaki, keduanya bisa (dan berani) mengomentari penampilan gurunya. Tak segan mereka memuji kalau gurunya terlihat cantik. Sebaliknya, berani pula mereka mengkritik kalau gurunya terlihat kusam dan kuyu. Kalau gurunya saja sudah tidak enak dilihat ketika mengajar, wajar dong muridnya malas juga memperhatikan. Iya, memang jangan menilai orang hanya dari luarnya saja: bisa jadi luarnya kusam, tapi otaknya luar biasa pandai. Namun, akan lebih baik kalau otak dan wajah sama cemerlangnya, kan? 🙂

ImageTips: Berdandan bukan berarti harus menor. Riasan tipis dan cerah cukup untuk membuat wajah tampak menarik. “Natural look” bisa jadi pilihan sederhana buat pemula.

 

 

 

Anak Telanjang di Kelas

Jadi, begini situasinya:

Seorang guru perempuan baru saja masuk ke kelas 10 setelah pelajaran olahraga. Terlihat sebagian murid perempuan dan lelaki sudah ada di sana. Beberapa merapikan pakaian olahraga, beberapa menyisir rambut, bersiap untuk pelajaran berikutnya. Tiba-tiba terdengar genjreng gitar dari barisan belakang. Si guru menengok, dan ia melihat seorang anak lelaki berdiri di sana, memakai baju seragam. Gitar berada di depan tubuhnya. “Oh, no!” kata si guru. Si anak lelaki memakai baju seragamnya, tetapi tidak celananya. Si guru menegur, meminta si anak memakai celananya segera. Lalu, si guru berbalik, menyiapkan papan tulis. Tiba-tiba gitar terdengar lagi. Rupanya si anak ini masih juga bermain dengan gitarnya, dan belum memakai celananya. Teman-teman lain mulai memperhatikan dia. Si guru akhirnya meminta si anak lelaki ini segera memakai celananya. Si guru menunggui sampai si anak selesai berpakaian. Si anak yang berbadan kecil dan terlihat polos itu kemudian memakai celana, ya… di depan guru perempuan dan teman-teman lainnya.

Mendengar kisah itu saya jadi sibuk bertanya-tanya:

– Mengapa si anak remaja tak malu hanya mengenakan celana dalam di kelas yang ramai?

– Mengapa si anak remaja lelaki ini tak malu bertelanjang sampai ditegur guru perempuan?

– Bagaimana cara mengajarkan kepada anak remaja tentang rasa malu?

– Apa mungkin si anak merasa bercelana-dalam sudah cukup baginya, sama seperti bercelana-renang ketika berenang?

– Sebenarnya apa fungsi pakaian: sekadar pelindung tubuh dari cuaca atau juga menimbulkan penghargaan atas tubuh?

– Bagaimana seharusnya orang tua mengajarkan tentang tubuh dan berpakaian pada anak?

Saya butuh banyak masukan dari semuanya. Mari kita diskusi!

Kaitan Sains dan Seni : Diskusi MLI 26 Juni 2013

Rabu lalu, ada kegiatan diskusi bulanan MLI (Moedomo Learning Initiative) di perpustakaan ITB (Institut Teknologi Bandung). Topiknya menarik, Kaitan Sains dan Seni, yang dibahas oleh Prof. Susanto Imam Rahayu, Phd. (FMIPA Kimia ITB). Sambil mendengarkan penjelasan beliau, saya mengetik twit bertagar #SainsdanSeni. Catatan di bawah ini bersumber pada pembicara dan hadirin dalam diskusi yang sebisa mungkin saya tuliskan dalam bahasa mereka, atau saya singkat dalam bahasa saya sendiri.

Susanto: Scientist and Artist itu mirip-mirip. Scientist is an Artist. Banyak ahli sains yang seorang seniman. Teknologi berbeda dari sains, teknologi lebih tua dari sains. Kesamaan scientist dan artist adalah keduanya sama-sama menggunakan kreativitas dan mencari kebenaran. Artist dan scientist terjangkiti penyakit yang sama, menyendiri untuk menemukan hasil karya. Hasil kerja scientist dapat diulang. Otokritik orang dapat memperbarui hasil karya. Artist tidak begini. Scientist mengolah yang nyata menjadi abstraksi. Artist mengolah yang abstrak menjadi sesuatu yang nyata. Sayangnya sekarang, anak-anak sekarang belajar sains dengan dry. Kering. Cuma hitung-hitungan tanpa tahu arahnya kemana. Ada kisah, Einstein kalau lagi pusing, dia akan main musik dulu. Einstein pun sebut itu bekerja.

Iwan Pranoto (Matematika ITB): Apa itu eksak? Rupanya ilmu sains tidak se”eksak” bayangan orang awam. Pemisahan sains, seni, humaniora, menyebabkan anak-anak melihat sains itu superior dibanding ilmu lain. Ini bahaya!

Susanto: Art erat kaitannya dengan ritual keagamaan. Ada tarian, lagu, musik. Itu sejak dahulu memang begitu. Dulunya art dan sains memang menyatu. Namun, perkembangannya jadi terpisah karena ada perbedaan penekanan kajian. Sains mencoba menjawab, the real world itu ada atau tidak? Pikiran orang sains begini ya? Itulah objektivitas, walau sifatnya tidak absolut. Makanya ada penelitian berulang-ulang, untuk menguji the real world tadi.

Susanto: Tadinya musik hanya musik, persembahan untuk Tuhan, macam Bach begitu. Makin ke sini, musik jadi ekspresi perasaan. Itu sebabnya kita bisa kebawa perasaan saat mendengar musik sekarang, karena musiknya memang mengandung perasaan komposernya. Ada joke: Makin nggak berguna, itulah art.

Imam Bukhori (Seni Rupa ITB): Seni rupa dianggap anomali dalam kampus sains. Hmm. Tak ada profesor Seni Rupa atau arsitektur karena untuk menjadi profesor itu harus memenuhi pengujian ala sains. Padahal secara keilmuan, banyak seniman, desainer, arsitek, yang sudah pantas menyandang gelar profesor. Dalam dunia akademis, bisa menggambar tak lantas bisa menjadi arsitek/seniman. Harus belajar sains juga. Cara bekerja seniman itu partikular sekali. Di masa depan, sangat penting sains dan seni bersatu. Contohnya: gadget. Nggak bisa itu orang sains dan orang seni kerja sendiri-sendiri. Perkembangan hidup dunia butuh kemajuan keduanya bersama! Seharusnya kampus teknik punya mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar dan Ilmu Budaya Dasar sebab itu penting sekali.

Susanto: Ujian Nasional itu menjadikan pelajaran hanya rumus-rumus, tanpa keindahan sama sekali. Tantangan di Indonesia, kita tidak punya tradisi akademis yang mapan. Pendidikan sarjana harusnya tidak mengkotak-kotakkan ilmu. Sayangnya di Indonesia masih begitu. Dilema kita: sarjana S1 kok belum bisa apa-apa? Harusnya jangan aneh jika ketemu S1 Kimia, lalu berakhir jadi guru besar Ekonomi. Pendidikan harusnya begini. Dulunya semua sains bersatu. Tapi makin ke sini jadi sendiri-sendiri. Fisika, Kimia, Bio, Math, tak bersatu. Bahayanya, pengkotak-kotakan sains ini malah menyempitkan kajian untuk mensejahterakan manusia. Dari pengalaman Susanto, di Amrik tahun 75 belajar Kimia tuh baru mulai di kelas 3 SMA. Jadi kebayang, wajar dong ya anak-anak sekarang megap-megap ketemu Kimia di kelas 10. Hmm. Culture dan seni harusnya masuk di pelajaran sekolah. Bukan sebagai unit ekskul saja. Tapi keberadaan UKM budaya dan seni di kampus teknik (ITB) sangat patut diapreasiasi sebagai keseimbangan belajar sains dan seni.

Hendra Gunawan (Matematika ITB): Menurut Pak Susanto, matematika itu lebih dekat ke sains atau ke seni?
Susanto: Matematika justru lebih dekat ke bahasa. Bahasa untuk memproses informasi. Hmm, kenapa ada kebanyakan fakultas atau jurusan kuliah? Karena masyarakat membagi pembagian lahan kerja. Lupa esensi.

Hadirin (mahasiswa): Dukun tradisional itu scientist bukan?
Susanto: Dukun bukan scientist karena dia hanya pengguna, tidak mencari tau penyebab kenapa obat bisa berguna.

Hadirin (mahasiswa): Kenapa ya waktu di sekolah dulu pelajaran seni kadang terasa nggak asyik?
Susanto: Seharusnya tahun pertama kuliah justru diajar para guru besar! Bukannya oleh dosen-dosen muda. Mahasiswa muda tidak percaya diri dengan pilihannya, dosen muda masih tidak percaya diri juga, yang terjadi adalah kebingungan. Justru kehadiran guru besar mengajar mahasiswa tahun pertama itu memberi kepercayaan diri untuk belajar terus.

Iwan Pranoto menutup diskusi: Di sini, sains hanya dipelajari sebagai fungsi, lupa esensinya bahwa ada unsur seni untuk bersenang-senang. Kalimat penutup diskusi dewasa ini adalah seperti seks, sains seharusnya sering dikerjakan bukan untuk fungsinya.

Buat Apa Sekolah?

Suatu malam, saya bersama dua teman zine ini nongkrong bareng. Kami ngobrol macam-macam, tapi ada satu cerita yang paling melekat sampai saya pulang. Salah satu teman saya menceritakan betapa parahnya sekolah SMP dia dulu. Seberapa parah?  Mari ikut saya membayangkan. Di sekolah dia dahulu, daerah Tangerang udik di awal tahun 1990-an, kegiatan berantem itu adalah semacam kegiatan rutin serupa upacara bendera. Hampir tiap hari ada saja anak yang berantem fisik habis-habisan. Tawuran antar kampung dengan senjata tajam kadang-kadang masuk ke dalam area sekolah. Bayangkan cerita ini juga: Ada anak yang terancam tidak naik kelas, ia justru membawa bapaknya datang ke sekolah. Si bapak akan mendatangi Bu Guru dengan membawa golok, mengancam supaya anaknya bisa naik kelas. Ini lagi yang lebih gila: Anak-anak itu biasa mempertontonkan kegiatan seks di kelas. Bukan nonton video porno, tapi nonton langsung temannya berbuat seks di kelas!

Saya tahu ada banyak hal ajaib yang bisa muncul di sekolah, tapi yang seperti cerita teman saya itu… wah itu sangat gila. Saya langsung berpikir, buat apa sekolah kalau kelakuan masih barbar begitu? Saya syok sekali membayangkan sebuah institusi pendidikan yang seharusnya mengajarkan moral justru malah jadi tempat pembangkangan moral. Sekolah menjadi tidak ada artinya. Saya tanyakan pada teman saya itu, bagaimana kondisi sekolah itu di tahun-tahun sekarang? Kabarnya, fasilitas sekolah sudah lebih bagus, pendidikan juga sudah lebih baik. Tapi saya curiga, kehancuran moral di sana cuma berubah bentuk, sebab si teman ini bercerita bahwa sekolah itu berdiri dekat lokasi rumah bordil yang diamini warga sekitar.

Fungsi Sekolah

Semua orang sudah paham bahwa sekolah adalah tempat mendidik orang. Kebanyakan anak di dunia akan memasuki institusi formal semacam ini, sejak kecil usia 6 tahun hingga usia sebelum 20. Kemudian sekolah dilanjutkan lagi ke institusi lanjutan bernama universitas. Sejak anak lahir, orang tua biasanya sudah memikirkan adegan “menyekolahkan anak” ini. Begitulah, sekolah jadi sebuah keharusan dalam hidup.

Dulu sekali di masa sebelum Masehi, anak belajar hidup dari orang tuanya di rumah. Namun kemudian, orang tua dirasa tak mencukupi bekal ilmu anak. Ada ilmu yang perlu didapatkan dari orang lain. Muncullah sekolah, sebuah konsep sederhana berupa menggabungkan beberapa orang yang butuh ilmu lebih dalam suatu tempat. Kata ‘sekolah’ itu sendiri berasal dari bahasa Yunani  σχολή (scholē) yang artinya ‘masa senggang’ atau ‘kemewahan’. Arti itu berkembang menjadi ‘sekumpulan orang yang mendapat pendidikan dari seorang guru’. Di masa Socrates, nyatanya memang hanya orang kaya yang bisa mengisi masa senggangnya dengan berguru ilmu baru. Sementara anak lainnya mesti bekerja dan berguru pada orang tua sendiri.

Sekolah dalam bentuk formal kemudian berkembang di banyak kebudayaan kuno seperti Yunani, Roma, India, dan Cina. Kebudayaan Islam juga mulai memunculkan madrasah di abad 9 Masehi. Semuanya punya prinsip dasar sama, menciptakan sebuah sistem yang mengajarkan pendidikan dan pengetahuan untuk generasi penerus. Bentuk pengajaran dari sistem itu adalah anak akan diajarkan ilmu matematika, ilmu alam, ilmu sosial, dan tambahan ilmu sesuai promosi setiap sekolah.

Kembali lagi ke cerita teman saya tadi, jadi apa fungsi sekolah jika di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan ilmu pembentukan moral? Memang anak tetap mendapatkan sesuatu, setidaknya ilmu berhitung dan pengetahuan umum. Anak dapat banyak teman karena memang sekolah menjadi tempat mengumpulkan orang. Namun, kalau sekadar tahu ilmu umum, anak bisa saja mendapatkannya lewat koran, buku, atau internet. Tak perlulah bersekolah formal.

Saya jadi teringat Septi Peni Wulandari, teman yang baru saya kenal di suatu acara pendidikan. Ia adalah seorang perempuan mandiri berlabel ibu rumah tangga profesional (cek www.ibuprofesional.com). Ia bersama suami mendidik sendiri tiga orang anaknya di rumah. Bukan homeschooling, melainkan home educating, lebih dari sekadar bersekolah di rumah. Darinya saya tahu, bukan berarti institusi sekolah formal tidak berguna, tapi pendidikan keluarga adalah yang paling penting untuk mengembangkan karakter anak. Ia bahkan menciptakan sendiri kurikulum yang harus dijalankan anaknya di rumah, dengan jadwal yang teratur layaknya di sekolah formal. Hasilnya, dua orang anaknya yang berusia belasan sudah menjadi pengusaha dan bahkan bisa memberi pekerjaan warga sekitar rumahnya.

Dari cerita teman-teman itu saya belajar lagi, pendidikan yang terpenting tetaplah berasal dari rumah. Pendidikan sekolah hanya pelengkap. Ilmu pengetahuan itu penting, dan ilmu moral karakter itu lebih penting. Karena kalau cuma sekadar berseragam dan berkumpul di kelas, hmm… buat apa sekolah?

*artikel ini ditulis untuk zine SlaveMade #2

Lulus UN Tidak Bikin Bangga

Sebetulnya saya ingin sekali mengatakan kepada anak-anak sekolah bahwa tak perlu terlalu bangga jika bisa lulus Ujian Nasional. Pula sebaliknya, tak perlu bersedih amat kalau tak lulus Ujian Nasional. Kenapa begitu? Karena apa yang diujikan di Ujian Nasional model Indonesia punya sekarang ini hanyalah ujian tes hapalan semata. Sama sekali tidak menguji nalar berpikir anak. Maka, tak perlu bangga kalau bisa lulus dari sekadar tes pengetahuan begitu.

Sayangnya, saya tak mudah mengatakan itu kepada anak-anak sekolah. Bahkan juga kepada orang tua dan guru. Mereka semua dikaburkan pemahamannya tentang fungsi UN yang semestinya. Katanya, UN adalah syarat kelulusan. Seolah dipatrikan, tak lulus Ujian Nasional sama saja tak pantas lulus belajar selama enam atau tiga tahun sekolah. Ini jelas tak masuk logika dasar. bagaimana mungkin menilai kelulusan anak sekolah di Indonesia yang begini luasnya dengan soal ujian yang sama. Anak ibukota yang bersekolah dengan fasilitas belajar memadai dan bonus ikut bimbingan belajar tambahan, semestinya tak perlu bangga jika lulus UN. Apalagi bila dibandingkan dengan anak pulau terdepan Indonesia yang belajar dengan satu guru berantai untuk banyak kelas, yang tak pernah kenal laboratorium atau buku bersampul bagus.

Sebuah standardisasi ujian jelas tidak bisa diterapkan untuk Indonesia yang teramat kompleks kondisi sosialnya. Ujian Nasional bisa dilakukan, tetapi bukan dengan model seperti sekarang ini. Bukan pula dijadikan sebagai ujian kelulusan belajar. UN masih bisa diterima hanya sebagai pemetaan kualitas pendidikan. Jadi masyarakat bisa tahu, apa yang harus dibangun lagi dari pendidikan di setiap daerah. Nah, sekarang cobalah masyarakat menilai, apakah pemerintah selama ini sudah pernah mengeluarkan evaluasi hasil UN?

Kasihan sebetulnya anak sekolah sekarang. Ujian Nasional yang harus mereka lakukan tidak akan membuat mereka sejajar dengan anak lain di dunia. Pendidikan mereka harus diselamatkan dari rendahnya nalar. Pemerintah dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan terlihat main-main dengan proyek UN ini. Soal-soal tak mutu uji, bocoran di mana-mana, penggelembungan dana, bahkan waktu ujian yang tak serempak secara nasional. Ini semua mesti dibenahi. Salah satu caranya, coba ikut dukung petisi reposisi Ujian Nasional di sini:

http://www.change.org/id/petisi/kemdikbud-lakukan-reposisi-terhadap-ujian-nasional.

Bukan mimpi yang sulit untuk menciptakan generasi muda yang membanggakan prestasinya di dunia. Satu caranya, dengan menciptakan model ujian yang kualitasnya bisa bikin bangga.

An education isn’t how much you have committed to memory, or even how much you know. Its being able to differentiate between what you know and what you don’t.

Anatole France (French poet, journalist, novelist)

Tulisan ini dimuat di zine Slavemade #1. Pesan, hubungi: slavemd@gmail.com

Image

Guru Kontrak

Tanggal 2 Mei, hari pendidikan kemarin, saya menangis karena gagal jadi guru tetap di sekolah yang sudah saya jalani selama dua tahun terakhir. Saya gagal lolos seleksi yang modelnya seperti persentase Ujian Nasional yang sering saya gugat itu. Sedih.

Namun, seorang orang tua murid mendukung saya untuk terus bekerja di sana, tanpa perlu melihat status. Kenapa? Karena ternyata murid-murid membutuhkan saya. Testimoni mereka yang menguatkan saya bahwa saya adalah guru yang cukup baik dan menyenangkan.

Meski keadilan tetap harus dipertanyakan, tetapi hidup mesti tetap dijalani, kan? Sekarang 4 Mei, saya ulang tahun. Banyak doa datang dari murid. Saya aminkan semua, semoga saya bisa bekerja dan belajar untuk mereka dengan bahagia.

Temani Aku Bunda

Pukul 8 pagi, Sabtu 6 April lalu, saya sudah ada di Epicentrum XXI Jakarta. Saya datang untuk menonton “Temani Aku Bunda” bersama Kresha Aditya dan Deta Ratna Kristanti dari Bincang Edukasi. Suasana ramai oleh orang-orang yang sering terlibat di acara pendidikan. Kami tertawa satire atas pertanyaan kenapa yang datang orang-orang ini lagi. Seharusnya acara pendidikan ini ditonton juga oleh para pejabat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

IMG-20130406-03982

Temani Aku Bunda adalah sebuah video dokumenter. Footage video diambil oleh Irma Winda Lubis, seorang ibu yang menjadi tokoh utama dalam film ini. Ia dan suami berjuang untuk anaknya, Abrar, yang terintimidasi oleh pihak sekolah SD yang menyuruh Abrar untuk memberikan jawaban Ujian Nasional kepada teman-temannya. Anda harus saksikan sendiri video ini dan lihat betapa mengenaskannya orang dewasa (guru dan kepala sekolah) menyuruh anak untuk berbuat jahat. Ada rekaman jelas bagaimana guru meminta anak-anak murid  pintar untuk membuat kesepakatan untuk merahasiakan kecurangan yang akan berlangsung di ujian esok harinya. Gila, sekolah mendoktrin anak kecil untuk tidak jujur! Menyontek jelas perbuatan curang. Dan kecurangan itu diajarkan di sekolah? Anda bisa bayangkan sendiri, apa jadinya generasi mereka nanti. Generasi sakit.

IMG-20130406-03984

Jika Anda berminat untuk memiliki DVD video ini, atau mengadakan kegiatan nonton bersama dan diskusi, silakan hubungi kampunghalaman.org. Video ini perlu ditonton oleh murid, guru, orang tua, pihak sekolah, dan semua yang memang peduli pendidikan yang jujur.

IMG-20130406-03983

Ujian Nasional masih tidak membawa keuntungan jelas untuk bangsa ini. Reposisi fungsi Ujian Nasional mesti dilakukan segera. Cek laman petisi UN ini dan beri dukunganmu untuk pendidikan Indonesia!

IMG-20130406-03990

Kamu Guru Hebat? Ceritakan!

Image

Saya deg-degan. Tangan saya bergetar. Memegang mic tidak menyelamatkan. Saya tidak ingin menyampaikan ke hadirin Bincang Edukasi 14 kemarin bahwa saya deg-degan. Sebab, dua pembicara sebelumnya, Lestia Primayanti dan Yosea  Kurnianto sudah mengatakan itu juga. Jadi saya simpan saja dan sok asyik mulai menyampaikan materi saya pagi itu: Drama sebagai proses pembelajaran sastra.

Biasanya saya tak pernah ragu menyampaikan segala perasaan saya di kelas. Di depan murid, saya tak menutupi jika sedang merasa cemas, galau, atau senang yang terlalu. Saya pernah mendengar ada guru yang mengatakan jangan terlalu membawa perasaan pribadi dalam kelas. Murid bisa tidak menghormati. Justru menurut saya, perasaan adalah hal penting dan sangat mendukung dalam proses belajar. Apalagi pelajaran sastra.

Bined14

 

Sastra itu hidup. Di kelas sastra, murid dan guru bersama mempelajari hidup yang tentu saja penuh dengan segala rasa. Perasaan itulah yang digali, perasaan diri sendiri terhadap satu masalah hidup, kemudian nanti memahami perasaan orang lain atas masalah hidup lain. Karena itulah, saya membiarkan murid mengetahui perasaan saya di kelas dan saya pun ingin tahu perasaan murid di kelas. Kami menggali perasaan terhadap buku-buku sastra yang kami baca. Kami merasakan hidup.

Lalu di acara Bincang Edukasi itu, kenapa saya menutupi rasa cemas saya? Mungkin saya grogi sebab ada banyak guru-guru hebat di sana. Mungkin juga saya malu, merasa belum jadi apa-apa. Rupanya kecemasan saya ditampar oleh materi presentan berikutnya, Dedi Dwitagama.

Image

Kata Pak Dedi, guru hebat itu sedikit. Guru hebat yang berani menunjukkan diri lebih sedikit lagi. Saya kemudian bertanya-tanya, siapa yang bisa melabeli seseorang itu hebat? Lalu, apa saya sudah bisa dikatakan hebat? Saya curiga kegugupan saya tadi sebab saya tidak percaya diri bahwa  saya pun hebat.

Seharusnya, kita mempunyai kesadaran diri pada apa yang kita capai. Seharusnya, kita meyakini bahwa pencapaian itu baik untuk kita, juga untuk orang lain. Sadar bahwa diri hebat memang bisa mencemplungkan diri pada kesombongan. Kemudian ketika kita bercerita apa saja prestasi yang kita capai, orang bisa nyinyir mengatakan bahwa itu pamer. Namun, di sisi lain, berbagi cerita tentang prestasi bisa juga menginspirasi orang lain. Mana tahu jika kisah hebat kita bisa membuat orang lain ingin melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih hebat.

Saran dari Pak Dedi sebagian sudah saya lakukan. Buatlah blog, ceritakan apa hal menarik yang terjadi di kelas. Berbagilah cerita pelajaran baik yang muncul saat belajar. Yang masih harus dicoba: Sebarkan prestasi dirimu di banyak kesempatan, dan percayalah bahwa itu bisa memberi semangat pada guru lain. Kesimpulannya, kalau kamu guru hebat, maka ceritakan!

Karya Tulis di Sekolah

Apa tujuan membuat karya tulis di sekolah?
Memberikan pemahaman terhadap siswa agar dapat berpikir secara logis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan. Mengajak siswa dapat menuangkan ide secara sistematis dan terstruktur.

Materi yang dianalisis bagaimana?
1. Relevan dengan situasi dan kondisi yang ada.
2. Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
3. Masalah dibatasi sesempit mungkin.

Struktur penulisan karya tulis itu seperti apa?

Bagian Awal, terdiri dari:

1. Halaman Judul
2. Lembar Pernyataan
3. Lembar Pengesahan
4. Abstraksi
5. Kata Pengantar
6. Daftar Isi
7. Daftar tabel, grafik, diagram, bagan, peta dan sebagainya

Bagian Tengah, terdiri dari:

1. Pendahuluan
2. Landasan Teori atau Tinjauan Pustaka
3. Metode Penelitian
4. Analisis Data dan Pembahasan
5. Kesimpulan dan Saran

Bagian Akhir, terdiri dari:

1. Daftar Pustaka
2. Lampiran

 

Ada penjelasan lebih lanjut tentang struktur karya tulis?

A. BAGIAN AWAL
1. Halaman Judul; Ditulis sesuai dengan cover depan sesuai aturan yang ada.

2. Lembar Pernyataan; Yakni merupakan halaman yang berisi pernyataan bahwa penulisan karya tulis ini merupakan hasil karya sendiri bukan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap hasil karya orang lain.

3. Lembar Pengesahan; Pada Lembar Pengesahan ini berisi Daftar Komisi Pembimbing atau guru pembina, Pada Bagian bawah sendiri juga disertai tanda tangan Pembimbing.

4. Abstraksi; Yakni berisi ringkasan tentang hasil dan pembahasan secara garis besar dari Penulisan karya tulis dengan maksimal 1 halaman.

5. Kata Pengantar; Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan serta dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan karya tulis (contoh: kepala sekolah, guru, orang tua, dan teman).

6. Halaman Daftar Isi; Berisi semua informasi secara garis besar dan disusun berdasarkan urut nomor halaman.

7. Halaman Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Grafik, Daftar Diagram

B. BAGIAN TENGAH

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang Masalah; Menguraikan tentang alasan dan motivasi dari penulis terhadap topik permasalahan yang bersangkutan.
b. Rumusan Masalah; Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan masalah dalam penelitian yang bersangkutan.
c. Batasan Masalah; Memberikan batasan yang jelas pada bagian mana dari persoalan atau masalah yang dikaji dan bagian mana yang tidak.
d. Tujuan Penelitian; Menggambarkan hasil-hasil apa yang bisa dicapai dan diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti.
e. Metode Penelitian; Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan data, alat yang digunakan dan cara analisa data.
Jenis-Jenis Metode Penelitian :
a. Studi Pustaka : Semua bahan diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.
b. Studi Lapangan : Data diambil langsung di lokasi penelitian.
c. Gabungan : Menggunakan gabungan kedua metode di atas.
f. Sistematika Penulisan; Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Karya tulis ilmiah

2. Landasan Teori; Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang bisa diperkuat dengan menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.

3. Metode Penelitian; Menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat analisis yang ada.

4. Analisis Data dan Pembahasan; Membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.

5. Kesimpulan (dan Saran); Berisi Kesimpulan, yaitu jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari penelitian.
Boleh ditambahkan Saran yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.

B. BAGIAN AKHIR

1. Daftar Pustaka; Berisi daftar referensi (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan

2. Lampiran; Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhitungan, grafik atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait sebelumnya.

 

Bagaimana teknik penyajian tulisan itu?

Penomoran Bab serta subbab

Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor bab/subbab dimana bagian ini terdapat.
II ………. (Judul Bab)
2.1 ………………..(Judul Subbab)
2.2 ………………..(Judul Subbab)
2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
– Penulisan nomor dan judul bab di tengah dengan huruf besar, font 14, tebal.
– Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan huruf besar, font 12, tebal.

Penomoran Halaman

Bagian Awal, nomor halaman ditulis dengan angka romawi huruf kecil (i,ii,iii,iv,…). Posisi di tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar pengesahan, nomor halaman tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.

Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari bab pertama adalah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap awal bab di bagian bawah tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.

Bagian akhir, nomor halaman ditulis di bagian bawah tengah dengan angka latin dan merupakan kelanjutan dari penomoran pada bagian pokok.

Format Pengetikan

Kertas ukuran A4
Margin Atas: 4 cm/ Bawah: 3 cm/ Kiri: 4 cm/ Kanan: 3 cm
Jarak spasi : 1,5 (khusus ABSTRAKSI hanya 1 spasi)
Jenis huruf (Font) : Times New Roman.
Ukuran / variasi huruf : Judul Bab 14 / tebal + huruf kapital
Isi 12 / huruf normal; Subbab 12 / tebal/ huruf normal


Pada pelajaran apa saja karya tulis ini dipakai?

Apa saja!

kelas kilat #PetisiUN

Tadi ada murid di kelas 10 yang bertanya, “Petisi UN apa sih, Miss?”
Akhirnya saya cerita tentang itu dengan semangat walau suara saya sedang serak. Saya minta Ilya, salah seorang murid untuk mencari info tentang Petisi UN di komputer kelas. Proyektor dinyalakan dan satu kelas melihat petisi itu di papan tulis. Saya ceritakan apa yang salah dengan posisi Ujian Nasional. Thami bertanya, reposisi itu apa? Saat ini UN ditempatkan sebagai standar kelulusan. Nah, reposisi bermaksud menempatkan UN sebagai pemetaan kualitas layanan pendidikan di Indonesia.

Tiba-tiba ada murid menyeletuk canda, “Ah, enakan ada UN. Kan gampang, cuma gitu doang, belajar juga cuma sehari aja.” Dengan gemas saya katakan, “Nah, justru itu UN harus dihapus kalau hanya memanjakan anak yang malas belajar begini!” Anak-anak sekelas tertawa serentak. Saya lanjutkan tuduhan saya mengapa UN gampang buat anak sekolah di kota besar. Anak-anak yang terbiasa dengan akses pendidikan mudah dan didukung dengan guru yang berkualitas, tentu tidak aneh jika bisa mengerjakan soal pilihan yang mudah begitu. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang sekolahnya tidak ciamik?

Seorang murid bertanya kenapa saya suara saya meninggi. “Sabar, Miss,” katanya. Saya bilang pada kelas, saya gemas karena saya tidak ingin kalian atau anak saya nanti masih mendapatkan model pendidikan yang tidak membuat cerdas. Indonesia saat ini menempati posisi rendah kualitas pendidikannya di dunia. Kalaupun petisi ini tidak tercapai sekarang, setidaknya saya, kita, sudah berjuang. Cuma diam dan tidak mendukung jelas tidak akan membuat keadaan lebih baik. Jam pelajaran hampir habis, saya tutup persuasi saya dengan kesimpulan bahwa Ujian Nasional sebagai standar kelulusan itu sangatlah tidak adil! Anak-anak mengangguk setuju.

Petisi Ujian Nasional

Komentar para guru besar dan pemerhati pendidikan yang bersuara lantang tentang Petisi UN dapat dilihat di tulisan Karina Adistiana di sini: Petisi Reposisi Ujian Nasional

Ayo, segera dukung Petisi UN di sini sekarang!

%d bloggers like this: