Category Archives: cerpen

Mengajar Puisi dan Cerpen yang Tidak Membosankan

Minggu lalu tiba-tiba ada teman kampus yang menghubungi via whatsapp. Dia cerita, katanya dia diminta mengajar murid SMP dan SMA sekolah Indonesia di Singapura. Pengalaman selama ini dia mengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), makanya dia agak bingung saat diminta mengajar kelas dengan kurikulum KTSP. Dia tanya, gimana cara ngajar sastra yang nggak membosankan?  Kataku, wah panjang jawabannya. Kusarankan untuk baca aja blogku, ada banyak contoh cerita dan ngajar. Dia bilang lagi, iya dia sudah baca dan sudah pakai ide ngajar di sana. 🙂 Dia lanjut bilang lagi: di sekolah itu tidak tersedia novel, bahannya hanya cerpen dan puisi, dan itu pun yang mudah dicari di internet. Oke, pembicaraan itu yang akan aku bagi di sini sekarang. Sengaja bentuknya kayak chat, biar terasa asli aja. 🙂

 

Oke, puisi ya. Mulai dari objektif, murid bisa membedakan puisi lama dan baru, memahami ciri-cirinya, menganalisis, dan membuat.

Awalnya, lo sediakan handout, kasih contoh pantun syair gurindam dan puisi baru di satu paper. Group discussion, biarkan anak melihat langsung contoh itu dan mereka menyimpulkan, apa beda puisi-puisi itu.

Guru lalu bantu menyimpulkan hasil temuan, ini lho yang namanya pantun, syair, gurindam, soneta, dll. Jadi anak bukan dicekokin pengertian.

Setelah anak paham, kasih paper berikutnya. Sekarang ini ada pantun dan ada puisi Chairil. Sekarang cari berapa jumlah baris, jumlah suku kata per baris, rimanya gimana, sesuai unsur-unsur puisi. Anak bisa lihat, ooo beda ya puisi lama dan baru. Giring hingga menemukan bahwa ciri puisi lama serba terikat dan puisi baru serba bebas.

Next, anak sudah paham ciri-ciri. Baru mereka bisa diajak membuat. Ajak anak bikin pantun. Ini yang paling seru. Sebagai guide, guru bisa kasih contoh sampiran pantun. Jalan-jalan ke Pasar Minggu/ Jangan lupa beli pepaya. Nah minta anak buat isi baris 3-4.

Jenis pantun kan beda-beda. Dengan satu sampiran, bisa dibuat jadi beragam isi. Misalnya, buat pantun cinta dengan sampiran tadi. Lalu berikutnya pantun nasihat masih dari sampiran tadi.

Lalu minta anak berdiri dan bacakan hasilnya. Anak-anak lain bisa mendengar dan mengapresiasi. Sekaligus mengecek apakah pantun buatan temannya sudah memenuhi syarat pantun. Rimanya sudah benar belum? Isinya sesuai tidak? Back to floor. Anak yang jawab dan menilai hasil kerja temannya.

T: Kalo untuk pengajaran cerpen gimana? Gw kemarin baru coba. Minta mereka membaca dan ujung-ujungnya gw minta itu dijadikan sebuah naskah drama. Cuma gw gada ide lain bikin mereka tertarik. Kebetulan di kelas ada anak yang udah buat novel teenlit gitu dan udah diterbitin pula.

Balik lagi ke objektif pembelajaran. Ini paling mendasar dan acuan guru mau ngapain di kelas. Misalnya tujuan pembelajarannya adalah siswa mampu menganalisis cerpen. Maka semua kegiatan harus bertumpu ke situ.

Anak udah bisa bikin novel justru bisa lo ajak jadi semacam asisten untuk bantu jawab, kasih contoh ke temannya.

Itu bagus, cerpen dibuat drama. Berarti mengaplikasikan pemahaman sastra. Sebelum itu anak harus paham dulu analisisnya. Misalnya menemukan semua unsur intrinsik, baru kemudian bahas unsur ekstrinsik, baru kemudian merespon pemahaman. Bentuk merespon adalah cerpen jadi drama yang lo buat tadi.

Yah, demikian. Semoga bisa membantu. 🙂

 

 

 

 

Advertisements

Mencabut Kenanga

Biasanya para lelaki lain tidak akan terlalu mempedulikan warna peralatan berkebunnya. Selama berfungsi, warna tidak jadi persoalan berarti. Namun, itu tidak berlaku untuk Rudi. Sekop, garu, ember, botol penyemprot, sebutlah semua peralatan berkebunnya punya bagian yang berwarna kuning. Dengan sengaja ketika membeli alat-alat itu dulu, warna jadi pertimbangan penting.

Lelaki itu mengambil sekop kecil berwarna kuning dan garu kecil berwarna sama. Dengan sandal jepit yang sudah mulai melengkung, ia berjalan dari teras menuju kebun kecil di halaman rumah. Diedarkannya pandangan, sekilas mengamati daun-daun hijau sayuran. Bayam dan terong muda. Beberapa daun tampak kuning pupus, bukan kuning sempurna, melainkan kuning bercak seolah daun itu dijatuhi tahi burung. Rudi lupa kapan terakhir kali ia menyemprotkan pupuk daun untuk tanaman itu. Mungkin setelah ini ia akan mengurusnya. Mungkin, jika energinya masih tersisa.

Rudi telah tiba di tujuannya. Sebuah tempat yang semestinya terlihat biasa saja, tetapi tidak untuknya. Ia berjongkok. Tangan tertahan di kiri kanan paha. Sekop dan garu berada di satu genggaman tangan. Tanah gembur di hadapannya, bekas penganiayaan paksa yang Rudi lakukan pada tumbuhan yang semula hidup di atasnya. Tanah tempat tumbuh pohon bunga kenanga. Tanah yang dulu pernah dikenal oleh Kenanga.

Kemarin sore Rudi mencabut pohon bunga kenanga itu. Batang pohon itu tidak terlalu dalam tertanam. Bunganya sedang banyak, menguarkan aroma harum tipis di hidung Rudi. Namun, aroma itu tak mampu menghentikan langkahnya untuk setidaknya berpikir ulang. Niatnya sudah terlalu kuat. Emosinya sudah terlalu sesak. Kenanga ini harus dicabut, seperti juga Kenanga yang hidupnya telah tercabut.

Dengan sebuah hentakan kuat Rudi menarik perdu itu. Kayunya masih belum begitu kuat, akarnya juga belum lama terikat. Pohon bunga itu seolah tak menolak dicabut. Rudi justru semakin marah. Ia mengharap akan terjebak pada adegan tarik menarik anak yang malas diajak sekolah. Namun, tidak. Pohon itu seakan menyerahkan kayu kecilnya melayang dari tanah. Enggan dipaksa oleh lelaki yang tengah kalut jiwanya. Rudi mendengus. Betapa mudah pohon ini menyerah. Kesal di hatinya mulai bercampur dengan sesak. Kau telah mencabut dirimu sendiri, kau telah mencabut hatiku mati. Pohon kenanga itu telah berpisah dari tanah.

***

Kenanga pertama kali Rudi temukan di sebuah taman dekat kantin kantornya. Ia tidak tumbuh di tanah taman yang hampir seluruhnya ditutupi rumput itu. Kenanga hidup dan berjalan dengan kakinya. Perlahan langkahnya mendekat menuju meja Rudi siang itu. Rudi dan dua temannya sedang makan, seperti rutinitas normal yang dilakukan orang-orang di taman itu. Rupanya perempuan itu teman dari Fajar dan Boni, kedua teman Rudi tadi. Si perempuan menjabat tangan Rudi dengan kesopanan yang wajar, sambil menyebutkan nama dengan suara yang terdengar lemah di telinga: Kenanga.

Kenanga lalu ikut duduk satu meja dengan mereka. Ia memesan es teh manis dan seporsi nasi goreng, lalu membahas laporan keuangan yang sedang ia kerjakan. Merasa senasib diburu deadline yang sama, mereka pun kemudian menertawai angka-angka yang sama, tumpukan berkas yang sama tingginya, meskipun suara lemah tawa Kenanga jadi terdengar sumbang di antara tawa para lelaki di meja itu. Rudi sempat menebak apakah yang menyebabkan perempuan bersuara lemah ini mau duduk semeja dengan tiga lelaki begini. Tak adakah ia punya teman perempuan? Rudi menjadi begitu naif, berpikir bahwa suara lemah Kenanga semestinya bergaul dengan suara perempuan saja, tak pantas bersahutan dengan gelegar tawa para lelaki.

Dari ekor mata sebelah kanan, Rudi memperhatikan. Kenanga rupanya tipe orang yang tak banyak bergerak. Rasanya sejak ia duduk di sini, ia belum juga berubah posisi. Rasanya setiap kali Kenanga bergerak, pastilah ada tujuannya. Jika ia menggerakkan tangan, itu karena ia ingin menyendokkan nasi dari piring. Setelah menyuap, ia akan meletakkan pergelangan tangan di tepian meja. Begitu terus, setidaknya sampai setengah nasi di piringnya hampir habis. Bola mata Rudi bergulir memperhatikan teman lelakinya. Fajar, seperti biasa, sibuk bicara sambil mengunyah sambil sibuk menggerakkan kedua tangan. Boni menyuap makanan lalu mengaduk-aduk es teh lalu merapikan rambut lalu mengetuk-ngetukkan jari di meja. Rudi sendiri, selalu menggoyang-goyangkan kaki tanpa arti.

Ketika Fajar akhirnya berhenti bicara dan menyuapkan makanan, Rudi mengambil jeda yang ada untuk bertanya pada Kenanga.

“Kenanga itu nama bunga, kan, ya?” entah mengapa pertanyaan itu yang terlintas. Rudi sedikit khawatir jika pertanyaannya dianggap terlalu bodoh.

“Oh, iya,” sahut Kenanga. Matanya melirik pada Rudi. Jari kirinya bergerak menyibakkan rambut agak ikalnya ke punggung. Sebuah gerakan baru, pikir Rudi. Karena gerakan itulah kini lehernya tersingkap. Telinganya juga. Rudi melihat tak ada anting atau giwang di daun telinganya. Namun, Rudi menemukan sebuah bros berbentuk jari-jari bunga tersemat di bawah kerah blasernya. Bros keemasan itu menyembul di dada Kenanga, membuat Rudi lekas memalingkan wajahnya.

“Tahu kenanga yang kayak apa?” tanya perempuan itu, yang seolah tahu Rudi tadi telah mencuri pandang ke arah dadanya. “Yang kayak ini…”

Karena terlanjur, sekalianlah Rudi menyahut agar tak canggung.

“Ah, iya, saya ingat sekarang, bunganya warna kuning, kan? Kuning campur hijau gitu. Panjang-panjang kelopaknya. Eh, bukan kelopak barangkali itu, ya? Seperti, apa ya… bintang laut.”

“Iya, dan harum bunganya,” Kenanga menambahkan sambil tersenyum.

“Oh iya, besok Mbak Ratna mau kasih kita proyek lho!” potong Fajar tiba-tiba. Lalu terputuslah pembicaraan tentang bunga kenanga siang hari itu.

***

 

Rudi masih berjongkok di depan tanah bekas pohon kenanga itu pernah hidup. Oh, yang kemarin hidup dan telah ia buat mati, koreksinya. Tak ada lagi jejak yang menandakan pernah ada pohon kenanga di sana. Bahkan bunga yang rontok pun tidak ada. Dalam emosi kemarin sore, Rudi membuang pohon kenanga itu sekaligus memunguti ceceran daun dan bunga yang jatuh. Seolah tak ingin menyisakan satu petunjuk pun di tempat perkara. Namun, kini saat Rudi berjongkok di depan tanah itu, entah angin mana yang membawanya, Rudi menghidu kembali bau bunga kenanga. Bau yang sama seperti pertama kali ia mengambung wewangian yang menguar tipis dari tubuh Kenanga. Bau yang meninggalkan bekas harum di sofa café tempat mereka bercanda. Bau yang kemudian sering ia hirup dengan jarak intim dari leher perempuan itu. Bau yang telah begitu melekat di batang otak Rudi. Oh, Kenanga yang berbau bunga kenanga. Semacam simbol yang sangat mudah dicerna.

Karena Rudi menyukai hal-hal yang simbolik, ia pun mencoba mengabadikan sosok Kenanga di rumahnya. Rudi ingat betul tentang sore yang satu itu. Sepulang kerja, Rudi menunggu Kenanga di lobi kantor. Duduk di sofa lobi, kaki Rudi terus bergoyang tak berhenti. Ia telah bersiap menyampaikan rencana yang membuatnya sangat cemas dua hari belakangan itu.

Kenanga muncul dengan langkah teraturnya seperti biasa.

“Kamu mau ajak aku ke mana?” tanya Kenanga curiga.

Rudi tak langsung menjawab. Matanya memandang ke scarf jingga yang bergelung di leher Kenanga, berpadu lembut dengan blus kuning pupus yang menyelimuti tubuh kecil perempuan itu.

“Nggak ajak Fajar dan Boni? Kayaknya mereka masih ada di atas,” tanya Kenanga lagi. Rudi menyesal tadi ia tidak langsung saja menyebutkan tujuan sewaktu mengirim pesan ke ponsel Kenanga. Rudi akhirnya menatap mata sayu perempuan itu.

“Saya mau ajak kamu ke tukang bunga. Yuk, kita jalan sekarang!”

Rudi benar-benar mengajak Kenanga ke tukang bunga. Agak jauh berkendara dari gedung-gedung perkantoran tempat mereka bekerja, ada deretan tukang yang menjual berbagai tanaman. Rumput dan pohon besar siap tanam ada. Segala rupa dekorasi taman juga ada. Namun, Rudi sudah bulat ingin mencari satu jenis bunga saja. Kemarin ia sudah ke tempat ini juga untuk memesan tanaman yang ia inginkan. Persis saat Rudi melongok-longok mencari ke mana si bapak tukang bunga berada, Kenanga bertanya.

“Kamu mau cari apa, Di?”

Rudi tadinya ingin memulai menjelaskan sendiri. Ia sudah punya susunan kalimat yang telah ia susun rapi dan ditaruh di benak. Tapi karena Kenanga sudah lebih dulu bertanya, Rudi malah jadi bingung mau memulai kalimatnya dari mana.

“Saya mau menanam bunga. Untuk di halaman rumah yang baru saja saya bayar DP-nya beberapa bulan lalu…” Rudi menaruh jeda di ujung kalimat itu.

“Oooh, jadi mau pamer kamu ambil rumah, ya?” sambar Kenanga menggoda.

Rudi merasa dirinya kurang tegas. Mungkin Kenanga pikir ini hanya lelucon. Mungkin Kenanga pikir ia mengajak perempuan ke tukang bunga sekadar untuk membantu menawar harga. Akhirnya Rudi memilih untuk menjelaskan semuanya kepada Kenanga, sekarang juga.

“Saya sudah pesan satu jenis bunga sama bapak yang jual di sini. Bunga kenanga…” Rudi memberi ruang pada kalimat tadi, memberi ruang pada Kenanga, kemudian melanjutkan, “Saya mau tanam bunga kenanga di rumah saya nanti, untuk simbol awal hidup baru. Saya… mau ajak kenanga, eh kamu, Kenanga… untuk tinggal bersama saya di rumah itu.” Rudi melepas napas yang sejak tadi ditahan.

Kenanga diam saja. Perempuan itu masih berdiri tegak di tempatnya dan menatap Rudi dengan pandang setengah kosong. Rudi berpikir cepat, menduga apakah ada kalimatnya tadi yang menyinggung perasaan. Seperti teringat sesuatu, kemudian Rudi menambahkan buru-buru.

“Maksud saya, saya ingin menikah dengan kamu, Kenanga…”

***

 

Sekop dan garu kuning mulai bekerja. Rudi menyekop tanah yang secoklat warna kulitnya itu hingga terbentuklah lubang di hadapannya. Tanah mulai menumpuk di kanan kiri lubang. Lubang itu masih belum cukup dalam, tetapi Rudi harus berhenti karena menemukan batu di dalam lubang itu. Kenapa ada batu besar di dalam tanah ini, pikir Rudi. Sekop tergeletak di tanah, lelah tak sanggup melawan kerasnya batu. Rudi berpikir untuk mengambil cangkul, tapi urung karena rasanya cangkul pun tak akan bisa menembus kerasnya batu. Rudi mengorek tanah yang masih sedikit tersisa di atas batu dalam lubang itu. Batu ini datar. Oh, mungkin ini peluran semen. Mungkin pengembang rumah ini mau membuat batu itu sebagai pondasi pagar? Tapi aneh, mengapa kemudian malah tertutup tanah untuk taman?

Rudi mulai kesal. Rencananya hari ini harus terus berjalan. Ia harus menanam bunga baru pengganti kenanga yang telah dicabutnya. Harus hari ini. Tapi ada batu yang tiba-tiba menghalangi rencananya. Ah, dasar batu. Keras kau seperti Kenanga. Keras kepala! Kepala batu! Rudi mengumpat terus. Tiba-tiba terlintas gambaran alat yang cocok untuk mendongkel atau memecah si batu. Dengan sigap Rudi berdiri, berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya sedikit menyisakan noda kotor pada lantai. Rudi tidak hirau. Ia segera ke dapur mengambil kotak tempat penyimpanan alat pertukangannya. Kotak hitam itu akhirnya ia temukan berdiam di bawah bak cuci piring. Ia mengeluarkan alat itu, entah kenapa sambil tersenyum pedas. Akan kuhancurkan batu itu dengan bor.

Kabel ke colokan listrik telah terpasang. Rudi mengangkat bor, memegangnya seperti anak-anak yang bangga punya mainan pistol baru. Ketika tombol ditekan, mata bor itu berputar dan berderu. Rudi kembali berjongkok di depan lubang. Batu itu harus dihancurkan. Sekeras apapun harus dihancurkan.

Mata bor berdesing ngilu ketika menghunjam kerasnya batu. Debu dan serpih halus berhambur. Tepat seperti dugaan Rudi, batu sekeras ini pun pasti bisa ditembus. Rasa sedih menyelinap di benaknya. Sepertinya memang cuma keras hati Kenanga yang tidak bisa ditembusnya.

***

Rudi masih ingat betul, Kenanga terdiam, mungkin kaget mendengar pernyataan cinta Rudi yang tidak diduganya. Masih terasa hangat pula hati Rudi mendengar Kenanga menjawab ‘ya’ pada lamarannya. Setelah itu, Rudi meninggalkan Kenanga sebentar. Ia masuk mencari bapak tukang kebun, mengambil pesanannya. Sebatang pohon kenanga dalam kantong plastik hitam. Rudi segera menggandeng tangan Kenanga dan mengajaknya pulang. Si bapak penjual bunga mengantar kepergian mereka dengan senyum yang terkembang.

Mengajak calon istri pergi ke calon rumah. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu. Sudah lewat magrib ketika mereka sampai di rumah bercat putih bernomor tiga.

“Inilah rumahku. Mmm, rumah kamu juga nantinya,” ujar Rudi malu-malu. Kenanga tersenyum melihat Rudi. Ia tidak memandangi rumah itu sungguh-sungguh. Hanya Rudi yang ia perhatikan. Jika Rudi mau mengingat peristiwa itu lebih teliti, semestinya Rudi bisa menangkap raut sendu yang hinggap di wajah Kenanga. Bahagianya tak seperti bahagia perempuan pada umumnya ketika dilamar seseorang. Ada kerut tipis di kening Kenanga yang menyiratkan entah sesuatu apa yang berlintasan di benaknya. Bayang gelap magrib menyelimuti wajah Kenanga, sehingga Rudi tidak bisa lekas membaca. Rudi terlalu buta karena keburu bahagia mendengar sekadar kata ‘ya’.

Maka dari itu, Rudi jadi seorang buta yang tolol ketika dua bulan kemudian ia tidak bisa menemukan Kenanga. Perempuan itu menghilang. Begitu saja, tiba-tiba. Padahal beberapa hari sebelumnya Rudi masih bisa menghubunginya. Sebulan sebelumnya Rudi masih bisa mengajak Kenanga kembali ke rumah nomor tiga. Menanam pohon bunga kenanga di tanah taman yang agak kering akibat kemarau. Rudi menyekop tanah dengan perkakas yang baru dibelinya. Sebetulnya ia sudah punya cangkul, tapi hanya bergagang kayu polos. Demi Kenanga, atau demi pemujaan simbolisasi rasa cinta, ia membeli lagi perkakas baru. Semua berwarna kuning, warna yang sering melekat pada Kenanga. Penuh sukacita ia menanam pohon bunga itu. Kenanga juga membantunya menyiram. Tak banyak kata yang mereka perbincangkan saat itu. Rudi hanya ingat, usai membersihkan tangan dari tanah, dengan telapak tangan yang masih basah, Rudi memegang tangan Kenanga, mendekatkan tubuh ke tubuhnya. Bibir Kenanga ingin dilumatnya, tetapi wajah perempuan itu menunduk. Rudi mengurungkan gerak.

Maka Rudi sempat menduga apakah hilangnya Kenanga disebabkan oleh tingkahnya yang tak sopan. Rudi juga baru menyadari bahwa tidak banyak pengetahuan yang ia miliki tentang perempuan itu. Dari Fajar dan Boni, Rudi juga tidak menemukan petunjuk yang berarti. Kata mereka, Kenanga memang teman, tapi hanya sekadar teman kerja di gedung kantor itu. Tak ada yang mereka tahu tentang urusan pribadi Kenanga. Mereka hanya tahu biodata sederhana, bahwa Kenanga bekerja di lantai 21, tinggal sendiri di daerah Tanah Abang, dan berulang tahun di bulan April entah di tanggal berapa. Fajar dan Boni justru merasa aneh mengapa bisa Rudi hanya mengetahui tak lebih banyak dari yang mereka tahu. Bahkan terbilang hanya tahu sedikit sekali tentang perempuan yang telah diajaknya menikah.

“Kamu sudah pernah bertemu orang tuanya? Jangan-jangan dia lagi pulang kampung? Kampungnya di mana memangnya?”

“Kamu bikin dia marah barangkali? Pernah nggak, dia bilang nggak suka sama tindakan kamu? Kamu sih. Hati-hati makanya sama orang selembut Kenanga.”

“Sudah cek sosmednya? Dia sudah off di mana-mana lho. Apa dia terlibat hal yang ilegal? Kalau enggak, kenapa dia sampai harus bersembunyi?

“Atau jangan-jangan dia resign, ya? Rasanya dulu dia pernah bilang mau pindah ke gedung tetangga. Eh tapi itu cuma bercanda kali, ya?”

Yang muncul hanya dugaan-dugaan. Tak ada satu pun kepastian. Rudi sudah mengecek ke kantor Kenanga, dan sudah mendapat kabar bahwa benar Kenanga telah mengundurkan diri. Entah ke mana, perempuan itu tak juga minta surat rekomendasi. Rudi mati langkah. Ia masih belum bisa menerima kepergian Kenanga. Perempuan itu begitu keras kepala, hanya mengirimkan satu pesan perpisahan lewat ponsel berbunyi “Maaf, aku tak bisa jadi kenanga.”, lalu kemudian mati sebab tak bisa dihubungi berkali-kali.

Kemarahan itu muncul lagi. Bor dihunjam dalam-dalam. Ke titik sana, ke titik sini. Namun, tusukan bor rupanya hanya membuat batu itu berlubang-lubang. Batu tidak pecah sempurna. Seperti juga persoalannya, tak bisa pecah, musnah, dan sudah.

Rudi benci harus menyetujui bahwa Kenanga harus ia relakan mati. Mungkin ia masih hidup entah di mana, tetapi ia menghilang, jadi anggap saja dia mati. Rudi sungguh tak menyesal telah mencabut kenanga itu kemarin. Meski mencabut kenanga tak berarti pula mencabut kenangan. Namun, ia harus segera mengganti kenanga yang sudah tiada itu dengan pohon baru. Lalu batu ini? Seharusnya ini hanya perkara strategi.

Rudi bergeser sedikit, kembali menyekop tanah di sebelah lubang berisi batu tadi. Lubang diperluas, dan di atasnya akan ia tanam pohon bunga baru. Kemarin ia menemukan tumbuhan merambat ini. Daunnya banyak, berwarna hijau lebar, dan punya bunga merah ungu kecil-kecil. Kata bapak si penjual, namanya bunga air mata pengantin. Namanya sialan betul. Namun, Rudi langsung menyukai bunga itu, semacam menemukan simbol baru. Rudi akan menanam bunga itu dan merawatnya, entah sampai kapan. Semoga cukup sampai beberapa bulan ke depan, ketika luka hatinya tak lagi diperban.  (*Nov 2015)

Reading Response Cerpen: Mengomentari Pekerjaan Pelawak

Sudah pernah membaca cerpen “Klown dengan Lelaki Berkaki Satu” karya Ratna Indraswari Ibrahim? Saya dan murid-murid kelas 11 membaca cerpen itu di kelas analisis sastra. Cerpen yang diambil dari buku Cerpen Pilihan Kompas 2010 ini memang kami jadikan bahan bacaan, untuk kemudian ditanggapi oleh murid dalam pandangan remaja.

Cerpen itu bercerita tentang tokoh bernama Pak Klown dan dunia melawaknya. Sebuah kisah yang terasa menyedihkan, betapa pelawak seringkali dianggap lelucon bahkan ketika di luar panggung dan tidak sedang berakting. Saya coba lemparkan tanya: Seringkah kamu menonton acara lawak? Siapa pelawak yang kalian suka? Kenal Srimulat? Bagaimana bentuk lawak sekarang ini? Stand up comedy? Gampang atau susah sih melawak itu? Kemudian saya mengajak murid untuk membaca satu kutipan cerpen itu.

Aku tahu, aku tidak bisa dibanggakan seperti bapak teman mereka, apalagi peranku dalam dunia lawak sering sebagai pembantu yang di pundaknya selalu ada lap dan kelihatan dungu! Penonton ingin melihatku seperti itu di luar panggung, kalau tidak aneh kan? Seperti mencabik-cabik mimpi mereka, kau tahu suatu kali anakku membersihkan kamar di kosnya, anakku menaruh lap di pundaknya, dan seorang temannya yang masuk ke kamar itu nyeletuk, ‘Doni, kamu setolol pelawak itu (dia menyebut namaku).’

Setelah itu, saya minta murid menyatakan pendapatnya:

“Jika kamu menjadi Doni, jawaban apa yang akan kamu berikan pada temanmu itu?”

Ada beragam jawaban muncul. Berikut ini adalah salah satunya yang sangat menarik perhatian saya.

photo

…Dan seberani itu. Siapa yang berani berada di antara banyak penonton dan harus menyenangkan semuanya? Tuhan saja tidak bisa menyenangkan semua pihak; aku bicara tentang setan. Menjadi pelawak itu harus berpikir bagaimana menciptakan lelucon sembari memastikan semuanya senang. Para penonton dengan profesi beragam itu berdatangan untuk membeli satu: kebahagiaan dan tawa. Tolol? Oh, aku setuju denganmu. Siapa yang cukup tolol mau bersaing dengan Tuhan selain badut itu. Bapakku.                      (Koen Irina Putri, kelas 11, 2015)

Cita-Citaku Jadi Guru

Image* Cerita ini saya tulis untuk buku Kaki Mimpi: Kumpulan Cita-Cita Anak Indonesia, sebuah inisiatif ShoeBox Project pada Februari 2012.

 

Ah, rasanya senang sekali kalau di antara kita ada yang bercita-cita menjadi guru. Apakah itu cita-cita kamu?

Ketika kamu berani bilang kamu bercita-cita menjadi guru, kamu sudah menjadi orang hebat. Kamu tahu mengapa? Karena tidak banyak lho yang berani bercita-cita menjadi guru. Dulu aku juga tidak berani pamer kepada teman-teman lain yang kebanyakan bilang cita-citanya adalah dokter, pilot, atau presiden. Aku sempat merasa malu sebab sepertinya pekerjaan guru tidak keren. Ya, dulu waktu sekolah dasar aku berpikir begitu.

Namun, pikiranku berubah setelah memahami pertanyaan Ibu Guru di sekolah. Suatu hari beliau tanya, “Guru itu apa?” Hampir satu kelas menjawab hal yang sama. Guru adalah orang yang mengajarkan banyak ilmu kepada murid. Ibu Guru kemudian melanjutkan, “Murid-murid itu akan jadi apa ketika besar nanti?” Teman-temanku berebut mengangkat jari.

“Jadi dokter!”

“Jadi pilot!”

“Jadi presiden!”

Ibu Guru tersenyum lalu kembali bertanya, “bagaimana cara mereka bisa jadi dokter, pilot, atau presiden?” Seorang temanku menjawab sambil mengkerutkan dahi, “Ya, mereka harus pintar, kan?”

Ibu Guru hanya mengangguk. Beliau kemudian kembali bertanya, “Siapa yang membuat mereka pintar?” Seorang temanku yang lain gesit menjawab, “Guru!”

Tak diduga, Bu Guru menggeleng manis. “Yang membuat mereka pintar adalah diri mereka sendiri.”

Anak-anak terdiam. Mereka merasa ada yang aneh dari jawaban Bu Guru. Aku pun merasa begitu. Kupikir, yang membuatku bisa memasang puzzle saat TK adalah guru. Yang membuatku jadi bisa membaca huruf adalah guru. Yang membuatku bisa menghitung perkalian adalah guru. Yang membuatku paham peta Indonesia dan cara ikan bernapas adalah guru juga.

Tapi tadi Bu Guru bilang, kita sendiri yang bisa mencapai segala pekerjaan hebat itu. Jadi apa itu guru?

“Guru adalah sahabat murid, yang menemani murid mencapai cita-citanya,” ujar Bu Guru seolah tahu apa yang kami pikirkan. Beliau lalu menjelaskan, guru selalu hadir hampir setiap hari untuk belajar bersama kita. Guru juga yang siap bantu menjelaskan segala ilmu saat kita mulai tak paham suatu masalah. Gurulah yang menemani si calon dokter memahami bagaimana cara luka bisa sembuh. Guru juga mendongengkan kisah antariksa pada si calon pilot. Guru pula yang menjelaskan kehebatan Indonesia pada si calon presiden. Guru yang hebat akan mengantar murid-muridnya menjadi pintar. Guru yang cerdas akan menemani muridnya mencapai segala pekerjaan yang hebat.

Saat itu aku langsung berani bilang dalam hatiku, aku ingin menjadi guru! Ah, tapi bagaimana caranya, ya?

Bu Guru bilang, syarat menjadi guru itu satu, kita harus pintar. Sebab gurulah yang akan menemani murid-muridnya menjadi lebih pintar. Aku agak takut, karena aku merasa tidak pintar. Namun, Bu Guru segera melanjutkan, pintar itu bukan hanya ada di otak, tetapi pintar di hati juga. Bu Guru meletakkan tangan di dadanya. Kami menirunya dan memejamkan mata. Menjadi guru adalah sebuah cita-cita yang baik. Guru akan mengantar anak-anak dan remaja menjadi lebih baik. Dengan hati, guru akan menemani mereka mencapai segala prestasi. Lalu, hidup murid-muridnya kelak akan lebih sejahtera. Guru pun akan merasa bahagia.

Jadi, mulai sekarang aku akan makin rajin belajar. Aku akan banyak membaca buku dan koran. Aku akan belajar internet dan banyak bertanya pada orang. Aku mau membuat diriku pintar. Aku ingin sekolah sampai kuliah, agar aku bisa semakin pintar.

Bu Guru bilang, pekerjaan guru adalah pekerjaan mulia dan berharga. Banyak pahlawan Indonesia yang mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Sebut contohnya, Ki Hajar Dewantara atau Dewi Sartika. Kesuksesan mereka adalah berhasil mendirikan sekolah untuk anak-anak. Sementara guru masa kini, mereka juga meraih macam-macam prestasi. Guru juga diberi penghargaan yang besar, gaji yang tinggi, atau bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Sejak itu, aku semakin percaya bahwa cita-cita menjadi guru itu sangat keren. Kata Bu Guru, segala jenis guru itu baik, selama kita melakukannya dengan cara yang baik. Wah, aku jadi bingung mau jadi guru apa. Guru taman kanak-kanak, guru agama, guru SD, guru pelajaran, guru bimbingan belajar, atau dosen di kampus ya?

Ah, aku mau jadi guru apa saja. Yang penting, aku sekarang berani bilang dengan lantang, cita-citaku adalah menjadi seorang guru. Apa itu juga cita-citamu? 🙂

Cerita Baru Mulai

Pagi ini aku ingin sekali menjadi Superman. Oh, tidak, maksudku Superwoman. Eh, atau apalah namanya. Yang jelas aku ingin mempunyai sayap ajaib yang bisa membuatku terbang. Aku ingin segera meluncur dengan satu tangan ke depan, melayang cepat, dan menertawai kemacetan di jalanan. Tapi saat ini, jika ada Superman lewat, dialah yang akan menertawakan aku. Ya, aku terjebak di tengah kemacetan. Sementara sayup-sayup aku mendengar suara anak-anak memanggilku untuk segera datang. Suara imajiner itu membuat jantungku berdegup makin cepat. Akulah superhero yang ditunggu-tunggu anak-anak yang menjerit karena sebuah monster datang menyerbu kota.

Duusshh!!! Asap knalpot menyergap hidung. Bayangan monster hilang seketika. Jangan-jangan monster yang nyata sungguh-sungguh sedang menghalangi jalan raya. Mungkin Si Komo namanya. Ini kelewatan. Sudah hampir setengah jam aku duduk gelisah dalam angkot merah ini. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Aku sudah terlambat.

Masih ada waktu beberapa menit untuk menangkap pukul 7.30. Aku harus segera bergerak! Sekarang aku tak lagi ingin jadi Superman. Aku mau jadi Ksatria Baja Hitam dengan motor capungnya. Ohooo, itu dia! Aku segera menunggangi sebuah motor hitam yang bersinar di persimpangan jalan. Motor balap itu segera melarikanku sekuat tenaga. Tapi, aku tidak mengendarainya sendirian. Seorang ksatria berjaket hitam apek memboncengiku. Aku berharap cemas ia akan membawaku segera ke tempat tujuan. Ahahay, dialah Ksatria Baja Hitamku, si abang tukang ojek!

Pukul 7.20. Hebat! Ksatria itu mengantarku secepat kilat. Sambil mengatur nafas, aku berteriak dalam hati dan menatap gedung krem di depan wajahku. Yak, ini dia! Inilah awal mula hari penuh tantangan. Inilah saatnya bertempur bersama pasukan cilik pembela kebenaran. Inilah saatnya berlayar bersama bocah nelayan di laut dalam. Inilah waktunya bertualang bersama dalam hutan. Aku siap! Bahkan sejak tadi aroma kanak sudah merasuki otak. Memberi semangat yang menyegarkan. Sekarang aku akan berteriak seperti Sailor Moon mendapat kekuatan bulan.

Inilah aku! Seorang guru SD kelas satu!

 

November 2010

Bermain Kuis Benar Salah

Remaja senang diajak bermain-main. Kita bisa gunakan permainan kuis untuk cara belajar sastra. Saya pernah coba ini untuk belajar intrinsik cerpen. Silakan dicontek jika pas buat kelas Anda. 🙂

1. Baca penggalan cerpen (bisa juga novel atau drama) dengan cara silent reading. Membaca bersama secara bergantian juga bisa dilakukan untuk membuat kelas fokus membaca dengan durasi yang sama.
2. Kelas akan dibagi menjadi dua bagian: kelompok kiri dan kanan. Bisa juga kelompok laki-laki dan perempuan. Setiap jawaban yang benar akan masuk kantong nilai kelompok.
3. Guru sudah menyiapkan sejumlah pertanyaan terkait cerita yang dibaca. Pertanyaan harus bersifat pasti benar atau salahnya.
4. Murid akan memegang kertas papan yang bertuliskan huruf B atau S. Saat guru memberikan pertanyaan kepadanya, murid dipersilakan menjawab dengan mengacungkan papan itu.
5. Guru akan langsung memberitahukan kunci jawaban per nomor.
6. Papan B/S diberikan pada teman di sebelahnya. Dia akan menjawab soal berikutnya. Demikian seterusnya.
7. Kantong nilai akan dibacakan setelah semua pertanyaan disampaikan. Kelompok pemenang akan diberi tepuk tangan paling meriah! #prokprokprok
20140305-123524.jpg

Kerudung

Sebuah siang yang panas. Ruang kelas SD Kelas 1 itu terasa semakin panas. Mungkin hanya aku yang merasakannya sebab Netha menggelendoti aku dan menembakkan pertanyaan panas itu. Ia yang cerewet luar biasa itu memang tidak bisa membendung pertanyaan apapun yang melintas di benaknya. Yang jelas, pernyataan dan pertanyaan Netha klai ini sangat mengguncang.

“Miss, I want to see your hair…” ujar Netha dengan manjanya.

Kujawab, “Oh, sorry dear, you can’t…”

“Why, Miss?”

“Well, you can’t.”

“Why??”

Yeah, why? Aku mulai tergagap. Ruang kelas terasa semakin panas.

“Umm, yea, just can’t.”

Netha menyerbu.

“Miss, kenapa sih muslim harus pakai kerudung?”

“Hanya yang perempuan, kok…” jawabku berusaha tenang.

“Iya, Netha tau. Tapi kenapa perempuan muslim harus pakai kerudung?”

“Iya, Miss, kenapa, sih?” Albert yang duduk di sebelah Netha tiba-tiba ikut bertanya. Rupanya sejak tadi ia mengikuti pembicaraan kami. Anak ini juga sama cerewetnya dengan Netha.

“Mmm, kenapa, ya?” Aku berusaha mengendalikan pembicaraan sambil mencari-cari jawaban yang tepat untuk kusampaikan pada mereka. Ini pertanyaan yang agak riskan. Bingung aku memilih kata agar tak menyinggung sesuatu yang berkenaan dengan kepercayaan mereka. Tapi kuputuskan untuk bicara saja, nanti idenya juga akan ketemu di sepanjang aku bicara berbusa.

“Mmm, kamu tau kan, perempuan itu makhluk yang indah. Do you agree? Iya loh, perempuan itu makhluk yang cantik, kan?”

Netha mengangguk senang. Albert mengangguk cengengesan.

“Naaah, makhluk yang indah itu harus dilindungi. Kalau gak dilindungi,nanti bisa dinakali orang-orang jahat. Seperti kupu-kupu, ia harus dilindungi supaya sayapnya yang cantik nggak mudah patah.”

Aku memperhatikan wajah ingin tahu mereka. Sejenak aku ragu apakah kalimatku mudah untuk mereka. Jangan-jangan mereka nggak mengerti. Aku juga sedikit ragu dengan perumpamaan kupu-kupu tadi. Apakah tepat hubungannya. Tapi begitu melihat mereka mengangguk-angguk, kuanggap jawabanku berterima.

“Mmm, kamu pernah lihat nggak, ada perempuan yang dinakali orang jahat, karena dia pakai rok yang terlalu pendek? Terus dia dinakali laki-laki gitu.”

Albert menyambar, “Dicolek-colek gitu, ya?”

Oh my God, dari mana dia tahu? Oh, TV mungkin.

“Iya, kayak begitu. Kan kalau dinakali gitu, nanti perempuannya bisa marah, bisa sedih. Kasihan, kan. Nah, perempuan muslim diajak pakai baju panjang, atau pakai baju tertutup, supaya nggak dinakali laki-laki.”

Aku menahan napas dua detik, sambil berharap cemas penjelasanku masuk akal buat mereka. Aku belum tahu alasan lain yang bisa kuajukan jika mereka masih belum puas dengan penjelasan itu. Ternyata, setelah itu jantungku harus berguncang untuk kedua kalinya.

“Ih, Islam baik, ya!” cetus Netha.

“Iya, ya!” sahut Albert, masih sambil cengengesan.

Aku ternganga.

– Jakarta, 2008

Membuat Naskah Pidato berdasarkan Cerpen?

Ini satu contoh tugas integrasi antara materi menulis naskah pidato dan materi pemahaman sastra. Saya coba lakukan ini bersama siswa kelas 10. Dengan menggunakan buku antologi Cerpen Pilihan Kompas 2009, guru memilih beberapa cerpen yang bisa dijadikan dasar penulisan naskah pidato. Siswa akan menjadi salah satu tokoh dalam cerpen yang mereka pilih. Misalnya, Asia Soenargo, murid saya, memilih cerpen “Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” dan membuat pidato pledoi Sang Ibu. Dia menghayati tokoh dan kemudian menuliskan pembelaan dirinya dalam peristiwa pembunuhan suaminya. Hasilnya luar biasa menarik! 🙂

Pidato Pembelaan Ibu Radian dalam pengadilan atas pembunuhan Ayah Radian

“Saya tidak bersalah”

Selamat siang, saudara-saudara sekalian. Hari ini saya akan menyatakan bahwa saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah atas pembunuhan suami saya. Saya telah melakukannya, tetapi saya tidak bersalah atas hal itu. Saya tidak merasa bersalah karena saya hanya melakukannya untuk membela diri saya sendiri.

Pembunuhan ini hanya saya lakukan untuk membela diri saya sendiri. Suami saya telah menganiaya saya selama bertahun-tahun. Tentu saja, sudah hal yang layak dan wajar ketika suatu hari emosi saya meledak dan membunuhnya. Hal yang terus ditahan, lama-lama tidak akan bisa dibendung lagi. Hari itu, saya sudah tidak tahan lagi. Selama ini, saya tidak bisa melapor ke siapa-siapa. Saat saya menceritakan penganiayaan yang dilakukan suami saya terhadap saya pada ibu dan bapak saya, hal itu yang mereka katakan. Saya tidak punya pilihan lain. Selain itu, ia juga telah mendesak dan menganiaya anak saya, Radian. Radian juga anaknya, tetapi ia tetap berlaku kasar kepadanya. Jujur saja, saya takut. Saya takut akan apa yang akan terjadi kepada Radian apabila pada suatu saat nanti, saya yang meninggal terlebih dahulu daripada suami saya. Saya terus bertanya kepada diri saya sendiri tentang hal yang mungkin terjadi kepada anak saya, dan kalau saya tega membiarkannya terjadi kepada anak saya sendiri. Saya tidak ingin Radian mengalami hal buruk seperti saya. Saya khawatir akan kesehatan mental anak saya nanti. Ia masih muda, tetapi masih bisa mendapatkan trauma yang dapat melekat kepadanya bertahun-tahun nanti. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bukankah sudah tanggung jawab orang tua untuk menjaga anaknya? Suami saya tidak dapat melakukan hal itu. Oleh karena itu, tentu saja saya harus melakukannya dengan lebih baik lagi untuk Radian. Saya harus melakukannya.

Saya memang menyesal. Mungkin saja ia dapat berubah dengan cara selain kematian. Mungkin saja ia bisa berhenti minum-minum dan menjadi sosok ayah untuk Radian. Oleh karena itu, saya hanya meminta keringanan. Siapa yang akan menjaga Radian nanti? Saya tidak mau anak saya sendirian tanpa orang tua. Ia masih muda. Saya tidak mau ia kehilangan kedua orang tuanya oleh karena kematian. Jangan eksekusi saya. Selamat siang. Terima kasih.

Cerpen dan Ilustrasi

“Mengapa gambarnya begitu?”

Murid sering menanyakan ini kepada saya ketika membaca buku kumpulan cerpen. Tentu saya lemparkan balik pertanyaan itu kepada mereka, “menurutmu kenapa?” Jawaban mereka bermacam-macam, kebanyakan tentu saja merujuk pada kedekatan hubungan isi cerpen. Kadang mereka mengajukan ide gambar lain yang menurutnya lebih baik.

Pertanyaan itu juga sempat terucap ketika saya bersama murid kelas 10 membaca cerpen “Ayat Keempat” karya Joni Syahputra di buku Cerpen KOMPAS Pilihan 2009. Di sana ada ilustrasi karya Budi Kustarto yang melukiskan seorang lelaki berkepala buntung. Kepalanya dipegang sendiri di tangan kiri, sementara tangan kanan memegang keris. Beberapa murid mengatakan gambar itu persis betul dengan tokoh Johan yang dibicarakan dalam cerpen. Galak dan tegas.

Image

 

Setelah membaca cerpen, saya ajak murid untuk menganalisis unsur intrinsik cerpen. Sebelumnya, saya minta murid untuk membuat ilustrasi sederhana untuk latar kejadian. Peristiwa dalam cerita terjadi di daerah Solok, Sumatera Barat. Tepatnya, di sebuah rumah gadang. Maka, murid-murid pun menggambar rumah gadang di kertas analisis mereka. Dengan menggambar, mereka jadi sadar betul seperti apa lokasi kejadian dalam cerpen.

Image

Setelah itu, murid menganalisis tokoh protagonis dan antagonis serta mencari karakternya. Namun, sebelumnya saya minta mereka menggambar ilustrasi tokoh. Beberapa anak membayangkan rupa tokoh dengan begitu baik, beberapa lainnya menyerah hanya menggambar stick-man saja. Tidak masalah, yang penting murid telah coba membayangkan tokoh. Ini juga cara yang menyenangkan untuk anak-anak yang punya kesukaan menggambar. Hasilnya bisa mereka pamerkan ke teman sebangku atau sekelas. Atau minimal, kertas analisis mereka jadi lebih menarik sebab ada ilustrasi buatan mereka sendiri.

Image

Guna Pelawak

Pelawak

Saya mudah kagum pada analisis murid yang berbeda dari kebanyakan jawaban murid lainnya. Ini adalah salah satu contohnya. Anastasia Shierly (kelas 11) menuliskan ini ketika menganalisis cerpen “Klown dengan Lelaki Berkaki Satu” karya Ratna Indraswari Ibrahim. Apa guna pelawak di dunia ini? Ini jawabnya.

“Menjadi seorang pelawak tidak harus dijadikan profesi. Kelucuan seorang pelawak adalah manifestasi sederhana dari relaksasi. Jika tidak ada pelawak sama sekali di dunia, dunia akan menjadi lebih muram dan diisi hanya oleh hal-hal yang artifisial dan kosong. Hiburan memang dapat ditemukan dalam bentuk yang lain, namun tidak sesederhana sebuah tawa.”

%d bloggers like this: