Category Archives: bahasa

Mendongeng di Halmahera

Jumat, 18 Oktober 2013

Pukul 07.00 pagi saya sudah berada di sebuah SD. Ya, pagi itu terasa berbeda sebab hari itu saya mendapatkan pengalaman pertama saya mendongeng untuk anak-anak di luar Jawa. Saya mendongeng untuk murid kelas 1-3 SD Inpres Buli, Halmahera Timur, Maluku. Baru sehari sebelumnya saya tiba di pulau penghasil nikel ini. Dari pesawat kita bisa melihat pulau ini sebetulnya cantik, tetapi sebagian wilayahnya sudah tak lagi hijau sebab ditambang oleh banyak perusahaan tambang di sana. Selebihnya, pulau ini dan juga pulau-pulau lain di sekelilingnya dilingkupi laut yang biru, terlihat indah sekali jika dipandang dari atas.

Itu juga yang saya ceritakan saat membuka dongeng. Bukan kebetulan saya membawakan dongeng tentang binatang-binatang laut. Sengaja memang karena anak-anak yang akan mendengarkan ini adalah anak laut, anak pantai. Saya senang sekali melihat wajah ceria mereka pagi itu. Sangat bersemangat!
IMG_0964

Keceriaan itu langsung saya manfaatkan. Saya mengajak dua anak untuk membantu saya mendongeng. Hampir separuh anak mengacungkan tangannya minta dipilih. Akhirnya, saya memilih Daniel, murid kelas 3 yang ternyata berasal dari Surabaya, dan Tasya, murid kelas 3, asli dari Buli.
IMG_0971
Mendongengnya jadi seru sekali karena bantuan dua anak hebat ini. Nah, video lengkapnya bisa dilihat di SINI .

Setelah itu, anak-anak kembali ke kelas, dan saya melanjutkan sesi dengan memberikan presentasi kepada orang tua murid. Judulnya adalah “Mendongeng untuk Pengembangan Karakter Baik Anak”. Saya hanya berbagi apa yang saya tahu tentang mendongeng. Sisanya, saya ingin para orangtua ini langsung mempraktikkan, ya, membuat dongeng. Dari mereka dan dari bocoran rekan di sana saya akhirnya tahu bahwa karakter warga Halmahera itu senang bercerita. Tentunya ini potensi yang baik untuk memberikan pengajaran pada anak lewat mendongeng.

Makanya, saya lemparkan kembali aktivitas pada orangtua. Mereka membentuk kelompok, berdiskusi menciptakan dongeng, kemudian mempresentasikannya. Hasilnya luar biasa!

Sebuah paket pengalaman yang berharga. Saya belajar banyak dari mereka tentang mendongeng, dan semoga kisah mendongeng saya juga berguna untuk mereka. 🙂

Advertisements

Berpidato sebagai Tokoh Novel Bumi Manusia

Sekolah yang beruntung punya fasilitas buku, serta kemapanan materi peserta didik, mesti mencoba menggunakan model pembelajaran sastra ini. Ini satu contoh yang baru saja saya coba lakukan bersama murid kelas 12 SMA. Kami membaca novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Murid-murid menganalisis cerita, mencoba memahami jalan pikiran tokoh, kemudian mencoba menyuarakan pikiran tokoh dalam bentuk pidato.

Objektif yang ingin dicapai dari pembelajaran ini jadinya meluas. Tidak hanya murid memahami intrinsik dan ekstrinsik novel, tetapi juga memahami pidato. Saya mengembangkan ini dari objektif KTSP, yang dipadukan dengan bahan sastra kelas. Sebagai pengantar, murid digiring untuk memahami pidato melalui contoh langsung. Kebetulan sekolah ini mempunyai komputer kelas dan proyektor, maka tak sulit untuk menampilkan video pidato. Saya ambil contoh pidato Obama dan Oprah saat “50th anniversary celebrations of Martin Luther KIng’s I Have a Dream”. Topik anti rasisme bisa mereka gunakan sebagai bahan inspirasi sebab temanya serupa dengan masalah apartheid dalam Bumi Manusia.  

Dari video ini  mereka belajar, bagaimana struktur pidato yang baik, bagaimana cara menyampaikan argumentasi dalam pidato, apa metode pidato yang pas untuk diri mereka, juga bagaimana menyampaikan persuasi yang baik dalam pidato. Dari situ, mereka bisa dapat gambaran saat mengerjakan naskah pidato mereka sendiri. Oya, tugas ini bisa dibuat tugas berpasangan, satu orang membuat naskah dan satu orang lagi yang akan membacakan pidatonya.

Image

May Marais (Arintha Vysistha) dan Jean Marais (Ardiya Nugraha)

Supaya lebih menarik, ajak murid untuk menggunakan kostum tokoh ketika hari pembacaan pidato tiba. Penilaian kostum ini dimasukkan juga dalam rubrik penilaian. Ini kegiatan super asyik! Murid akan sibuk menentukan pakaian dalam lemari mereka yang sesuai dengan karakter tokoh. Murid bisa asyik membayangkan, dan bahkan mengubah dirinya menjadi tokoh cerita. Kostum ini tentu juga berguna untuk membuat mereka lebih menghayati peran ketika berpidato. Murid lain yang menonton bisa juga saling mengomentari, sesuaikah kostum tokoh itu seperti deskripsi dalam cerita?

Image

Herman Mellema (Pangeran Edyana Putra), Nyai Ontosoroh (Aulia Sabrina), Minke (M. Ryan Dirgantara), Annelies Mellema (Sellina Windri), Robert Mellema (James Hendry)

Dari apa yang sudah terjadi, rupanya murid-murid bisa “serius tapi santai” ketika melakukan pidato ini. Ketegangan berbicara di depan orang tentu saja masih ada. Namun, saya yakin mereka menikmati proses belajar ini. Ada Minem yang tertawa-tawa karena berusaha melafalkan logat Jawa, ada Jean yang tak paham benar cara melafalkan bonjour, ada juga Robert Mellema yang begitu dingin menyuarakan kebenciannya pada pribumi. Kelas jadi menyenangkan. Murid-murid yang menyimak jadi turut belajar juga dari tokoh yang nyata ada di depan mereka.

Jika kamu menggunakan novel untuk belajar sastra di kelas, kegiatan ini wajib dicoba! Seru!

What student do to the blank paper

I can do anything in here, right? :3

Mind Map Analisis Sastra

Salah satu cara yang bisa mempermudah siswa ketika menganalisis karya sastra adalah menggunakan mind map. Di bawah ini adalah salah satu contoh mind map sederhana yang dibuat oleh murid-murid kelas 11 ketika membahas cerpen.

IMG-20130131-03836

Unsur intrinsik dan ektrinsik dijabarkan menjadi cabang utama dari pikiran. Setelah itu, penjelasan dari setiap unsur ditaruh dalam ranting-ranting. Tambahkan lagi ranting jika ada  tambahan penjelasan.

Mind map ini bisa dibuat sebagai tugas kelas tiap-tiap murid, berpasangan, atau dalam kelompok. Dalam waktu satu jam pelajaran, 40-70 menit, mind map bisa selesai  dikerjakan. Kegiatan sederhana ini perlu dicoba oleh guru bahasa Indonesia di kelas. Yuk! 😉

Karya Tulis di Sekolah

Apa tujuan membuat karya tulis di sekolah?
Memberikan pemahaman terhadap siswa agar dapat berpikir secara logis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan. Mengajak siswa dapat menuangkan ide secara sistematis dan terstruktur.

Materi yang dianalisis bagaimana?
1. Relevan dengan situasi dan kondisi yang ada.
2. Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
3. Masalah dibatasi sesempit mungkin.

Struktur penulisan karya tulis itu seperti apa?

Bagian Awal, terdiri dari:

1. Halaman Judul
2. Lembar Pernyataan
3. Lembar Pengesahan
4. Abstraksi
5. Kata Pengantar
6. Daftar Isi
7. Daftar tabel, grafik, diagram, bagan, peta dan sebagainya

Bagian Tengah, terdiri dari:

1. Pendahuluan
2. Landasan Teori atau Tinjauan Pustaka
3. Metode Penelitian
4. Analisis Data dan Pembahasan
5. Kesimpulan dan Saran

Bagian Akhir, terdiri dari:

1. Daftar Pustaka
2. Lampiran

 

Ada penjelasan lebih lanjut tentang struktur karya tulis?

A. BAGIAN AWAL
1. Halaman Judul; Ditulis sesuai dengan cover depan sesuai aturan yang ada.

2. Lembar Pernyataan; Yakni merupakan halaman yang berisi pernyataan bahwa penulisan karya tulis ini merupakan hasil karya sendiri bukan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap hasil karya orang lain.

3. Lembar Pengesahan; Pada Lembar Pengesahan ini berisi Daftar Komisi Pembimbing atau guru pembina, Pada Bagian bawah sendiri juga disertai tanda tangan Pembimbing.

4. Abstraksi; Yakni berisi ringkasan tentang hasil dan pembahasan secara garis besar dari Penulisan karya tulis dengan maksimal 1 halaman.

5. Kata Pengantar; Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan serta dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan karya tulis (contoh: kepala sekolah, guru, orang tua, dan teman).

6. Halaman Daftar Isi; Berisi semua informasi secara garis besar dan disusun berdasarkan urut nomor halaman.

7. Halaman Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Grafik, Daftar Diagram

B. BAGIAN TENGAH

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang Masalah; Menguraikan tentang alasan dan motivasi dari penulis terhadap topik permasalahan yang bersangkutan.
b. Rumusan Masalah; Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan masalah dalam penelitian yang bersangkutan.
c. Batasan Masalah; Memberikan batasan yang jelas pada bagian mana dari persoalan atau masalah yang dikaji dan bagian mana yang tidak.
d. Tujuan Penelitian; Menggambarkan hasil-hasil apa yang bisa dicapai dan diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti.
e. Metode Penelitian; Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan data, alat yang digunakan dan cara analisa data.
Jenis-Jenis Metode Penelitian :
a. Studi Pustaka : Semua bahan diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.
b. Studi Lapangan : Data diambil langsung di lokasi penelitian.
c. Gabungan : Menggunakan gabungan kedua metode di atas.
f. Sistematika Penulisan; Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Karya tulis ilmiah

2. Landasan Teori; Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang bisa diperkuat dengan menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.

3. Metode Penelitian; Menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat analisis yang ada.

4. Analisis Data dan Pembahasan; Membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.

5. Kesimpulan (dan Saran); Berisi Kesimpulan, yaitu jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari penelitian.
Boleh ditambahkan Saran yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.

B. BAGIAN AKHIR

1. Daftar Pustaka; Berisi daftar referensi (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan

2. Lampiran; Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhitungan, grafik atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait sebelumnya.

 

Bagaimana teknik penyajian tulisan itu?

Penomoran Bab serta subbab

Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor bab/subbab dimana bagian ini terdapat.
II ………. (Judul Bab)
2.1 ………………..(Judul Subbab)
2.2 ………………..(Judul Subbab)
2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
– Penulisan nomor dan judul bab di tengah dengan huruf besar, font 14, tebal.
– Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan huruf besar, font 12, tebal.

Penomoran Halaman

Bagian Awal, nomor halaman ditulis dengan angka romawi huruf kecil (i,ii,iii,iv,…). Posisi di tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar pengesahan, nomor halaman tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.

Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari bab pertama adalah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap awal bab di bagian bawah tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.

Bagian akhir, nomor halaman ditulis di bagian bawah tengah dengan angka latin dan merupakan kelanjutan dari penomoran pada bagian pokok.

Format Pengetikan

Kertas ukuran A4
Margin Atas: 4 cm/ Bawah: 3 cm/ Kiri: 4 cm/ Kanan: 3 cm
Jarak spasi : 1,5 (khusus ABSTRAKSI hanya 1 spasi)
Jenis huruf (Font) : Times New Roman.
Ukuran / variasi huruf : Judul Bab 14 / tebal + huruf kapital
Isi 12 / huruf normal; Subbab 12 / tebal/ huruf normal


Pada pelajaran apa saja karya tulis ini dipakai?

Apa saja!

Denmark?

Demak atau Denmark?

Yang tahu dan pernah baca novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer pasti akan tertawa melihat tulisan siswa kelas 10 ini. 😀

Foto diambil pada September 2012.

Musikalisasi Puisi Itu Apa?

Saya tidak bisa main alat musik. Makanya, saya selalu kagum jika ada orang yang bisa memainkan alat musik. Apalagi jika mereka anak-anak dan remaja, terlebih lagi murid-murid saya.

Saya tidak pandai menciptakan puisi. Makanya, saya selalu kagum pada penyair yang bisa memainkan kata-kata. Menyusun makna dalam serangkum rangkai lema.

Menariknya, kedua seni itu, musik dan puisi, rupanya mulai banyak berkahwin dan menjelma anak baru bernama musikalisasi puisi. Saya sendiri belum memahami bagaimana sebuah karya bisa disebut sebagai musikalisasi puisi. Saya pikir, sebuah larik puisi yang diaransemen, diberi nada, merupa lagu, itulah sudah disebut musikalisasi puisi. Sayangnya, sebab itulah saya dan murid-murid kalah dalam lomba yang diadakan di suatu sekolah. Rupanya konsep yang ada di benak juri berbeda dengan konsep yang kami pahami. Saat saya dan murid-murid bertanya kepada juri, dengan niat belajar ilmu baru, kami mendapati sebuah pengertian bahwa musikalisasi puisi lebih seperti dramatisasi puisi. Puisi dibacakan, dinyanyikan, dan juga digerakkan. Salah satu juri bilang, “Ini performing art. Kalau cuma bermain musik, apa bedanya dengan ngeband?” Sedikit bingung saya coba mencerna, apa ngeband itu bukan performing art?

Saya teringat Ari Reda, yang karya musikalisasi puisinya begitu saya suka. Mereka membawakannya dengan sederhana, tapi menurut saya itu sudah cukup disebut sebagai transformasi puisi jadi lagu. Pada akhirnya, murid-murid saya yang terbiasa mendapatkan penilaian dengan rubrik yang jelas, harus belajar memahami. Penilaian yang diberikan juri berusaha memenuhi kategori penilaian versi panitia, yaitu: kesesuaian tema puisi dan instrumen musik, penampilan/artistik (kostum, tata rias, penguasaan panggung), penghayatan dan ekspresi, serta kekompakan tim. Perhatikan, ada penilaian artistik panggung di situ. Jadi, saya memahami bahwa musikalisasi puisi yang diinginkan dalam hal ini serupa dramatisasi puisi.

Namun, saya pribadi sudah berbahagia dengan hasil kreasi murid saya. Keberanian mereka menafsir puisi, kemudian mengubahnya menjadi lirik lagu, sangat saya apresiasi. Saya mendapatkan rasa lain ketika mendengar puisi “Cahaya Bulan” Soe Hok Gie. Silakan simak video ( ini ) dan ( ini ) lalu katakan kepada saya, bagaimana saya bisa untuk tidak kagum pada mereka? 🙂

Belajar dari Jepara (1)

Berkat twitter, saya berkenalan dengan Alvin Noor. Ia seorang guru pelajaran komputer di SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah. Maka begitu saya punya acara di kota Kartini itu, saya langsung menyusun janji bertemu dengan beliau. Saya senang berkenalan dengan rekan guru di kota lain. Pasti akan ada banyak hal yang bisa dipelajari. Benar saja, Pak Alvin yang malam itu datang bersama istri dan anak perempuannya, mengajak saya bercerita ke sana ke mari tentang kondisi sekolah di Jepara secara umum. Ketika saya tanya, seberapa melek anak-anak dan guru pada social media, beliau menjawab: masih belum banyak yang menggunakannya sebagai media pembelajaran aktif. Ia juga menceritakan kendala yang dihadapi, tetapi wajahnya yang optimis membuat pembicaraan satu jam kami begitu menyenangkan. Bahkan terlalu menyenangkan sebab di ujung percakapan, Pak Alvin melontarkan satu ide dadakan. Dia meminta saya untuk menjadi guru tamu di sekolahnya. Saya kaget, sekaligus merasa tertantang. Saya iyakan dan bersiap datang ke sekolah pada hari Sabtu, 27 Oktober itu.

Alvin Noor, guru SMAN 1 Jepara, beserta putrinya

Kelas X-4 menjadi teman yang sangat seru di Sabtu pagi itu. Saya berbagi cerita bahwa internet (dalam hal ini twitter) yang sudah memungkinkan saya hadir di tengah mereka. Saya kemudian bercerita tentang nama saya, tentang membaca, juga tentang sastra. Saya katakan pada mereka, beruntunglah mereka memiliki kampung halaman yang menyimpan cerita bersejarah. Jepara, kota tempat lahir Kartini, perempuan yang namanya begitu santer dibicarakan perihal pembaharuan wanita Indonesia. Seharusnya remaja ini bisa yang menghasilkan karya sastra sebab ada segudang hal istimewa di kota mereka.

Berbagi cerita pengalaman belajar di sekolah lain

Saya kutip apa kata Pramoedya, yang pernah membuat novel berjudul Panggil Aku Kartini Saja, menulis itu pekerjaan yang butuh keberanian. Semua bisa menulis, jadi cuma masalah kamu mau menulis atau tidak. Beberapa murid mengangguk-angguk setuju. Saya langsung ajak mereka menciptakan satu cerita bersama. Sebutlah sebuah latihan dasar membuat antologi. Murid di barisan depan saya minta menggambarkan satu binatang apa pun yang pertama kali melintas di benak mereka. Kemudian, kertas digeser ke teman di sebelahnya, lalu biarkan mereka menuliskan satu kalimat yang menceritakan tentang binatang itu. Kertas lalu diteruskan ke teman di belakang mereka. “Bebaskan imajinasi kalian, berceritalah tentang apa saja.”

Murid menceritakan karya cerita berantai mereka dengan penuh percaya diri.

Akhirnya, jadilah sebuah paragraf pendek yang sangat menarik. Murid perwakilan kelompok maju ke depan membacakan karya mereka. Kelas sangat meriah, penuh tawa, mendengar khayalan teman-teman sendiri. Di akhir pembacaan, saya berterima kasih atas apresiasi mereka pada karya yang sudah mereka buat. Saya katakan, beranilah menulis, itu dulu. Mulailah bercerita tentang diri sendiri, kemudian tentang lingkunganmu, kemudian tentang bangsamu. Dua orang murid menyimpulkan apa yang telah mereka pelajari dari kegiatan tadi. Ada sebuah kalimat yang begitu baik dari seorang murid bernama Rizal Maulana, begini katanya: Kita harus berani mengeluarkan unek-unek dalam bentuk tulisan untuk dibaca orang lain. Ah, terima kasih, Jepara!

Video kegiatan pada waktu itu bisa dilihat di sini. 😉
baca tautan: Belajar dari Jepara (2)

Belajar dari Jepara (2)

Cerita berantai selalu menyenangkan untuk dilakukan. Murid-murid kelas X-4 SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah, juga menyukainya. Pada kesempatan lalu, Sabtu 27 Oktober lalu, saya ajak mereka membuat cerita tentang binatang. Murid bergantian menciptakan kalimat bebas yang tetap berkaitan dengan gambar di kertas. Seorang murid mengatakan di akhir kelas, kegiatan ini sangat menarik sebab mereka bisa mengetahui banyak diksi yang beragam. Mereka juga bisa mengenal beragam jenis paragraf dan gaya penceritaan. Lihat saja buktinya di bawah ini. 🙂

Ragam diksi menjadi pengetahuan baru untuk teman sekelas.

Kura-kura atau Penyu?

Kepik

Kisah komedi selalu hadir dalam imaji remaja.

Sapi atau Jenglot?

Kelinci Horor

Seorang murid di kelompok ini mengaku terpengaruh gaya cerita Raditya Dika.

Kucing Garong

Cerita yang sesuai dengan fantasi remaja.

Ikan

Domba

Bisa juga menghasilkan gaya penulisan berita. Ini contohnya.

Kambing

baca tautan: Belajar dari Jepara (1)

Meramu Novel Jadi Berita

Seorang rekan guru bahasa Indonesia di sekolah saya kemarin membuat sebuah penilaian pemahaman sastra yang inovatif. Ia membuat ramuan KTSP dan novel kelas yang tersaji dengan menarik. Rencana Intan, nama guru tersebut, telah kami coba di kelas 11 dan menurut saya, hasilnya begitu menyenangkan untuk dibaca.

Sekolah kami menggunakan novel Arok Dedes sebagai bahan bacaan sastra. Jika dilihat pada KTSP kelas XI, terdapat kompetensi menulis berupa “mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman/ringkasan; menulis ringkasan isi buku”. Membuat ringkasan cerita saja sebetulnya bisa sangat mudah dilakukan setelah murid membaca. Mereka bisa menceritakan ulang dengan bahasa sederhana. Sayangnya, itu sama sekali tidak menantang untuk murid SMA. Lagipula rangkuman isi novel bisa dengan mudah didapatkan di internet. Dari pemikiran itulah Intan menawarkan model penilaian lain.

Murid diajak membuat berita berdasarkan novel yang mereka baca. Tentu saja tantangannya menjadi lebih sulit. Berita itu biasanya aktual, sementara cerita dalam novel Arok Dedes terjadi di masa lampau. Selain itu, siswa jadi harus benar-benar membaca sebelum bisa menemukan unsur 5W 1H pembentuk berita. Tentu saja tidak semua isi novel yang digunakan sebagai sumber berita. Murid dipersilakan memilih bagian yang mereka mau dari bab-bab novel itu. Guru kemudian mengajak siswa mempersiapkan kerangka penulisan. Ajak pula mereka membayangkan bahwa kisah fiksi dalam novel ini benar-benar terjadi serupa fakta.

Kesulitan hanya terjadi pada murid yang enggan membaca, itu saja. Selebihnya, murid-murid pasti bisa mengerjakannya. Guru bisa menilai dua kemampuan dari kegiatan ini: membaca dan menulis. Saya yakin semua sekolah dengan beragam kurikulum bisa menggunakan ini, selama disesuaikan dengan metode belajar murid di kelas. Berikut ini adalah salah satu contoh karya murid yang begitu apik. Saya senang membacanya. Anda jugakah? 🙂

Kelud Meletus, Tewaskan Warga dan Kuburkan Kediri

KEDIRI (18/9) Amarah Bathari Durga kembali meledak. Lagi-lagi ulah ksatria yang berkhianat kepada para dewa. Kemarin pagi, terjadilah letusan besar dari puncak Sang Kelud yang menutupi seluruh Kediri dengan kegelapan abunya yang tebal dan hitam. Beberapa saksi mata melaporkan bahwa sejumlah tiang api menyembur dari beberapa titik di kawasan pegunungan. Gempa yang besar pun dirasakan oleh rakyat yang ada di kota.

Berdasarkan laporan dari sang Paramesywari, Dedes, yaitu istri Sang Akuwu Tumapel, dikabarkan bahwa Sang Akuwu Tumapel telah menghilang ditelan tanah dalam hujan abu tersebut. Saat ini para pengawal istana masih belum dapat memastikan hilangnya sang akuwu dikarenakan kondisi pasca letusan yang masih berbahaya.

Dedes, yang tak lama lalu baru menikah dengan Sang Akuwu menyatakan bahwa semua ini bermula dari dipindahkannya Patung Bathari Durga kepada Bilik Agung. Maka marahlah Sang Bathari Durga karena Tunggul Ametung dan satrianya telah meninggikan para leluhurnya di atas segalanya.

Saat ini proses evakuasi di kawasan Selatan Kediri telah dimulai, dengan ratusan rakyat yang masih terkubur di bawah abu, baik hidup maupun mati. Keberadaan sang akuwu hingga kini masih dicari, dan para brahmana memastikan bahwa akibat peristiwa ini matahari tak akan muncul hingga tiga hari ke depan. Diharapkan bahwa Sang Akuwu akan selamat.

Ki Jagat Pramoeditya, Harian Kediri

Dave Gregory, Ki Jagat Pramoeditya