Category Archives: anak

Menggambar Kesedihan

photo 2 (5)

Ini Gemintang, keponakan saya. Usianya empat tahun. Beberapa pekan lalu saya main dengan dia di rumah Depok. Dia minta diajari menggambar orang. Saya pun menggambar, lalu dia meniru tahapannya. Setelah jadi satu-dua gambar orang senyum, saya ajak Gemintang menggambar ekspresi wajah lain. Nah, ini hasilnya. Wajah sedih. Karya Gemintang itu yang kanan, perempuan yang menangis. Yang kiri gambar saya. 🙂 Yang keren adalah Gemintang kemudian menulis sendiri kalimat di tengah gambar itu.

Tanpa secara khusus menargetkan tujuan pembelajaran “menunjukkan rasa simpati”, Gemintang telah menunjukkannya lewat kata “cupcup”. Ia pasti sadar bahwa “hidup tidak selamanya tersenyum”. Kadang-kadang Gemintang juga menangis, kan? Saya juga bilang, si tante ini juga masih suka menangis, kok. 🙂

 

Advertisements

Jadi Editor Buku Anak Bertanya

Saat nulis ini, saya berusaha mengingat-ingat lagi, kapan persisnya pertama kali kenal Pak Hendra Gunawan. Kok ya nggak ingat juga. He-he. Seingat saya pertama kali kenal ya karena saling follow di twitter. Lalu saya baru tahu kemudian Pak Hendra ini seorang profesor matematika di ITB. Lalu rasanya tak lama sejak itu, tahun 2013, ia mengajak saya bergabung di proyek keren berjudul Anak Bertanya. Tahu, kan, website yang menampung pertanyaan anak-anak dan dijawab oleh para pakar itu?

Nah, saya diminta menjadi editor untuk memeriksa sejumlah artikel jawaban para pakar. Untuk tugas ini saya tidak bekerja sendiri, tapi berdua bersama teman bernama Eveline. Kerja penyuntingannya sebetulnya sederhana sekali. Iya, jawaban para pakar kebanyakan sudah bagus-bagus. Makanya saya senang jadi editor di Anak Bertanya.

photoLalu Pak Hendra menawarkan keasyikan berikutnya, saya diminta memeriksa buku Anak Bertanya jilid 2b. Well, sebetulnya ngedit tandem bersama Pak Hendra, sih. Untuk penerbitan jilid dua ini, saya memeriksa tulisan tentang Karya & Aksi Manusia serta Isu Sosial & Ekonomi. Sementara, jilid 2a tentang Alam & Kehidupan serta Bumi & Lingkungan, disunting oleh Pak Hendra dan Pak Dasapta Erwin Irawan

Nah, sekarang bagian promosinya. Ini buku penting. Ini buku bagus.

Buku ini dipersembahkan khusus bagi anak-anak di seluruh Indonesia yang tak pernah berhenti bertanya dan mencari jawaban.

Buku ini juga dipersembahkan untuk orang tua yang seringkali kebingungan menjawab pertanyaan anak-anak yang maha kritis. Misalnya, mengapa orang harus punya cita-cita? Mengapa orang harus belajar berulang-ulang? Bagaimana kalau matahari tidak ada? Apa warna air sebenarnya? Pertanyaan yang kelihatan sederhana, tapi perlu jawaban tidak sederhana, kan? 🙂

Jika berminat memiliki satu paket buku ini (Jilid 1a-1b-2a-2b) seharga Rp100ribu saja (tidak termasuk ongkos kirim), silakan pesan ke twitter @AnakBertanya. Atau kalau mau berdonasi, silakan lihat infonya di bawah ini ya.

CVlxbLbWoAEEDq2

 

Kenapa Anak Tetangga Sering Main ke Rumah Saya?

Tadi pagi saya tiba-tiba bertanya kepada suami saya, “Kenapa ya anak-anak kecil sering main ke rumah kita?” Padahal, kami belum punya anak yang bisa diajak main oleh mereka. Namun, hampir setiap hari ada saja balita anak tetangga yang datang. Mereka akan berjalan setengah berlari, menegur kami, mengajak bicara patah-patah, lalu masuk ke rumah. Biasanya para pengasuh mereka akan sibuk meminta mereka ke luar rumah saya, mungkin karena sungkan atau tak enak mengganggu kami yang akan berangkat bekerja.

Sore hari sepulang kerja pun adegannya sama. Bianca dan Fadhlan langganan saya. Ada juga Alga, Fany, Caca, Khansa, yang sesekali datang. Bianca (2 tahun) yang paling sering, hampir tak pernah absen. Biasanya dia akan mengejar saya dan suami yang pulang kerja sore, lalu masuk dan duduk di karpet bulu. Lalu dia akan minta minum atau kerupuk. Kalau energi saya masih berlebih, saya ajak dia membaca buku cerita bersama.

Yang baru sering main adalah Alga. Anak lelaki empat tahun ini dicap “bandel” oleh ibu-ibu komplek sini. Anaknya memang kelewat aktif, petakilan, dan cerewet. Pertama kali dia main ke rumah kami, saya ajak dia main bola empuk dan belajar lempar tangkap. Sampai magrib dia tidak mau pulang. Sampai harus saya angkat semi geret dan mengembalikannya pulang. Sementara pagi tadi, tiba-tiba Alga main ke rumah tanpa saya tahu. Saya di dapur dan rupanya ia sudah asyik baca buku cerita yang ada di ruang tamu dengan tenang.

Pertanyaan saya tadi akhirnya dijawab suami. Katanya, “Ya karena kita memperbolehkan mereka main.” Benar juga, mereka sering datang karena mereka merasa diterima. Alasan kedua, saya dan suami agak tidak sadar (mungkin sadar juga sih) telah menciptakan semacam playground buat anak-anak, atau anak kami kelak. Yah, macam beginilah yang membuat mereka betah. 🙂

photo 1 (2)photo 2 (1)

Cita-Citaku Jadi Guru

Image* Cerita ini saya tulis untuk buku Kaki Mimpi: Kumpulan Cita-Cita Anak Indonesia, sebuah inisiatif ShoeBox Project pada Februari 2012.

 

Ah, rasanya senang sekali kalau di antara kita ada yang bercita-cita menjadi guru. Apakah itu cita-cita kamu?

Ketika kamu berani bilang kamu bercita-cita menjadi guru, kamu sudah menjadi orang hebat. Kamu tahu mengapa? Karena tidak banyak lho yang berani bercita-cita menjadi guru. Dulu aku juga tidak berani pamer kepada teman-teman lain yang kebanyakan bilang cita-citanya adalah dokter, pilot, atau presiden. Aku sempat merasa malu sebab sepertinya pekerjaan guru tidak keren. Ya, dulu waktu sekolah dasar aku berpikir begitu.

Namun, pikiranku berubah setelah memahami pertanyaan Ibu Guru di sekolah. Suatu hari beliau tanya, “Guru itu apa?” Hampir satu kelas menjawab hal yang sama. Guru adalah orang yang mengajarkan banyak ilmu kepada murid. Ibu Guru kemudian melanjutkan, “Murid-murid itu akan jadi apa ketika besar nanti?” Teman-temanku berebut mengangkat jari.

“Jadi dokter!”

“Jadi pilot!”

“Jadi presiden!”

Ibu Guru tersenyum lalu kembali bertanya, “bagaimana cara mereka bisa jadi dokter, pilot, atau presiden?” Seorang temanku menjawab sambil mengkerutkan dahi, “Ya, mereka harus pintar, kan?”

Ibu Guru hanya mengangguk. Beliau kemudian kembali bertanya, “Siapa yang membuat mereka pintar?” Seorang temanku yang lain gesit menjawab, “Guru!”

Tak diduga, Bu Guru menggeleng manis. “Yang membuat mereka pintar adalah diri mereka sendiri.”

Anak-anak terdiam. Mereka merasa ada yang aneh dari jawaban Bu Guru. Aku pun merasa begitu. Kupikir, yang membuatku bisa memasang puzzle saat TK adalah guru. Yang membuatku jadi bisa membaca huruf adalah guru. Yang membuatku bisa menghitung perkalian adalah guru. Yang membuatku paham peta Indonesia dan cara ikan bernapas adalah guru juga.

Tapi tadi Bu Guru bilang, kita sendiri yang bisa mencapai segala pekerjaan hebat itu. Jadi apa itu guru?

“Guru adalah sahabat murid, yang menemani murid mencapai cita-citanya,” ujar Bu Guru seolah tahu apa yang kami pikirkan. Beliau lalu menjelaskan, guru selalu hadir hampir setiap hari untuk belajar bersama kita. Guru juga yang siap bantu menjelaskan segala ilmu saat kita mulai tak paham suatu masalah. Gurulah yang menemani si calon dokter memahami bagaimana cara luka bisa sembuh. Guru juga mendongengkan kisah antariksa pada si calon pilot. Guru pula yang menjelaskan kehebatan Indonesia pada si calon presiden. Guru yang hebat akan mengantar murid-muridnya menjadi pintar. Guru yang cerdas akan menemani muridnya mencapai segala pekerjaan yang hebat.

Saat itu aku langsung berani bilang dalam hatiku, aku ingin menjadi guru! Ah, tapi bagaimana caranya, ya?

Bu Guru bilang, syarat menjadi guru itu satu, kita harus pintar. Sebab gurulah yang akan menemani murid-muridnya menjadi lebih pintar. Aku agak takut, karena aku merasa tidak pintar. Namun, Bu Guru segera melanjutkan, pintar itu bukan hanya ada di otak, tetapi pintar di hati juga. Bu Guru meletakkan tangan di dadanya. Kami menirunya dan memejamkan mata. Menjadi guru adalah sebuah cita-cita yang baik. Guru akan mengantar anak-anak dan remaja menjadi lebih baik. Dengan hati, guru akan menemani mereka mencapai segala prestasi. Lalu, hidup murid-muridnya kelak akan lebih sejahtera. Guru pun akan merasa bahagia.

Jadi, mulai sekarang aku akan makin rajin belajar. Aku akan banyak membaca buku dan koran. Aku akan belajar internet dan banyak bertanya pada orang. Aku mau membuat diriku pintar. Aku ingin sekolah sampai kuliah, agar aku bisa semakin pintar.

Bu Guru bilang, pekerjaan guru adalah pekerjaan mulia dan berharga. Banyak pahlawan Indonesia yang mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Sebut contohnya, Ki Hajar Dewantara atau Dewi Sartika. Kesuksesan mereka adalah berhasil mendirikan sekolah untuk anak-anak. Sementara guru masa kini, mereka juga meraih macam-macam prestasi. Guru juga diberi penghargaan yang besar, gaji yang tinggi, atau bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Sejak itu, aku semakin percaya bahwa cita-cita menjadi guru itu sangat keren. Kata Bu Guru, segala jenis guru itu baik, selama kita melakukannya dengan cara yang baik. Wah, aku jadi bingung mau jadi guru apa. Guru taman kanak-kanak, guru agama, guru SD, guru pelajaran, guru bimbingan belajar, atau dosen di kampus ya?

Ah, aku mau jadi guru apa saja. Yang penting, aku sekarang berani bilang dengan lantang, cita-citaku adalah menjadi seorang guru. Apa itu juga cita-citamu? 🙂

Anak Telanjang di Kelas

Jadi, begini situasinya:

Seorang guru perempuan baru saja masuk ke kelas 10 setelah pelajaran olahraga. Terlihat sebagian murid perempuan dan lelaki sudah ada di sana. Beberapa merapikan pakaian olahraga, beberapa menyisir rambut, bersiap untuk pelajaran berikutnya. Tiba-tiba terdengar genjreng gitar dari barisan belakang. Si guru menengok, dan ia melihat seorang anak lelaki berdiri di sana, memakai baju seragam. Gitar berada di depan tubuhnya. “Oh, no!” kata si guru. Si anak lelaki memakai baju seragamnya, tetapi tidak celananya. Si guru menegur, meminta si anak memakai celananya segera. Lalu, si guru berbalik, menyiapkan papan tulis. Tiba-tiba gitar terdengar lagi. Rupanya si anak ini masih juga bermain dengan gitarnya, dan belum memakai celananya. Teman-teman lain mulai memperhatikan dia. Si guru akhirnya meminta si anak lelaki ini segera memakai celananya. Si guru menunggui sampai si anak selesai berpakaian. Si anak yang berbadan kecil dan terlihat polos itu kemudian memakai celana, ya… di depan guru perempuan dan teman-teman lainnya.

Mendengar kisah itu saya jadi sibuk bertanya-tanya:

– Mengapa si anak remaja tak malu hanya mengenakan celana dalam di kelas yang ramai?

– Mengapa si anak remaja lelaki ini tak malu bertelanjang sampai ditegur guru perempuan?

– Bagaimana cara mengajarkan kepada anak remaja tentang rasa malu?

– Apa mungkin si anak merasa bercelana-dalam sudah cukup baginya, sama seperti bercelana-renang ketika berenang?

– Sebenarnya apa fungsi pakaian: sekadar pelindung tubuh dari cuaca atau juga menimbulkan penghargaan atas tubuh?

– Bagaimana seharusnya orang tua mengajarkan tentang tubuh dan berpakaian pada anak?

Saya butuh banyak masukan dari semuanya. Mari kita diskusi!

Surat dari Keanu

Surat dari Keanu

Ini surat dari murid saya yang bernama Keanu Hambali, ditulis saat dia kelas 1 SD, tahun 2009. Tak ada lagi kata selain ‘haru’.

“Ms Arne, you are a great teacher. You provide many games. I love you.”

Lala Tak Lagi Sombong

Ini naskah drama pendek yang pernah saya buat dan saya sutradarai untuk pentas drama bulan Ramadhan di Sekolah Dasar. Cocok untuk belajar drama anak usia 6-10 tahun. 🙂

LALA TAK LAGI SOMBONG

Tokoh:
Narator, Lala, Ibu, Bapak, Ibu guru, Bapak guru, enam orang Teman

Layar dibuka. Semua pemain berada di posisi atas panggung.

Narator : Inilah kisah tentang Lala.
Seorang anak cantik jelita.
Sungguh beruntung nasib dirinya.
Sudah jelita, pandailah pula.

Lala : Lala lalala… Lala lalala…
Akulah Lala, si cantik jelita!
Wajahku manis seperti manggis.
Otakku pintar seperti Aljabar.

Narator : Saat di rumah bersama bapak ibu.
Lala terlihat sungguh angkuh.

(Lala berjalan menuju bapak ibu.)

Lala : Assalamu’alaikum, bapak dan ibu.
Inilah Lala putri cantikmu.

Bapak, Ibu: Wa’alaikumsalam, Lala anakku.
Ayo masuk dan tutup pintu.

Lala : Wahai Ibu, lihatlah aku!
Kian hari, kian cantik selalu.

Ibu : Kau memang cantik, anakku.
Maka bersyukurlah untuk itu.

Lala : Wahai bapak, lihatlah aku!
Kian hari, kian berilmu.

Bapak : Kau memang pandai, anakku.
Maka bersyukurlah untuk itu.

Ibu : Jangan sampai kamu lupa.
Semua itu dari Allah Taala.
Bersyukurlah atas semua.
Dengan berdoa sepanjang usia.

(Lala berjalan ke tengah panggung.)

Narator : Lala juga seorang manusia.
Seringkali ia lupa.
Segalanya jadi sia-sia.
Jika ia lupa berdoa.

Lala : Lala lalala… Lala lalala…
Akulah Lala si cantik jelita.
Tak apalah kalau lupa berdoa.
Wajahku tak’kan jadi buruk rupa.

(Lala berjalan menuju bapak ibu guru.)

Lala : Assalamu’alaikum, bapak ibu guru.
Inilah Lala, murid pandaimu!

Bapak, Ibu guru: Wa’alaikumsalam, Lala.

Ibu guru: Ada perlu apa, Lala?
Bermainlah dengan teman-temanmu.

Lala : Saya malas main dengan mereka.
Mereka tak pandai seperti saya.

Bapak guru: Lala, jangan bicara begitu.
Mereka semua adalah temanmu.
Bodoh dan pandai sama saja.
Semua ciptaan Allah Yang Kuasa.

Lala : Ah, saya malas main dengan mereka.
Mereka tak cantik seperti saya.

Ibu guru: Lala, jangan sombong begitu.
Mereka semua adalah temanmu.
Cantik atau tidak sama saja.
Semua milik Allah Yang Perkasa.

(Lala berjalan ke tengah panggung.)

Narator : Lala oh Lala…
Semakin sombong saja dia.
Dengan penuh keangkuhan.
Ia menemui teman-teman.

(Lala berjalan menuju kelompok teman.)

Teman 1 : Hey, kita main kucing dan tikus, yuk!
Teman 2 : Ayo! Aku jadi kucingnya, ya!
Teman 3 : Iya. Aku jadi tikusnya, ya!

Lala : Aku ikut main, ya!
Tapi aku harus jadi kucingnya.
Karena aku paling cantik.
Aku tak mau jadi tikusnya.

Teman 2 : Ah, sombong sekali kamu!
Siapa saja boleh jadi kucingnya.

Teman 1 : Iya, betul itu.
Kalau kamu gak mau, ya sudah
gak usah ikut saja.

Teman 3 : Iya, main sama yang lain saja.

(Lala kesal. Ia berjalan menuju kelompok teman yang lain.)

Teman 4 : Oke, kita main bola ya sekarang!
Teman 5 : Oke, aku jadi strikernya, ya!
Teman 6 : Tapi kita masih kurang orang, nih!

Lala : Hey, aku ikut ya!
Teman 4 : Boleh. Kamu bisa main bola, kan?
Lala : Aku belum pernah sih. Tapi aku pasti
bisa, aku kan pintar.
Teman 5 : Wooo, sombong sekali kamu!
Kamu harus berlatih untuk bisa main
bola.
Lala : Ah, gak usah latihan aku juga bisa.
Aku kan jago!
Teman 4 : Wooo, memang sombong kamu ya!
Kalau mau jago bola, kamu harus
banyak berlatih dulu.
Teman 6 : Udahlah, kita cari teman-teman yang
lain aja yuk!
Teman 4,5: Iyalah! Yok!

(Lala kesal. Ia kembali ke tengah panggung.)

Lala : Kenapa gak ada yang mau main denganku ya?

Narator : Lala bersedih hati.
Ia bingung sekali.
Mengapa tak ada yang mau main
dengannya?
Padahal ia pandai dan cantik jelita?

Tiba-tiba,
Lala mendengar suara ibunya.
Lala mendengar suara bapaknya.
Lala mendengar suara ibu gurunya.
Lala mendengar suara bapak gurunya.

(Ibu, Bapak, Ibu Guru dan Bapak Guru, berada di sisi panggung, seperti bersuara dari awang-awang.)

Ibu : Ingat-ingat, Lala.
Bersyukur atas apa yang kau punya.

Bapak : Ingat-ingat, Lala.
Semua makhluk milik Allah Taala.

Ibu guru: Ingat-ingat, Lala.
Orang sombong tak disukai teman.

Bapak guru: Ingat-ingat, Lala.
Orang sombong tak disukai Tuhan.

Narator : Ingat-ingat, Lala.
Tak ada makhluk yang sempurna.

Lala : (menutup muka sejenak)

Ohh, jadi itulah sebabnya.
Mengapa aku tak berteman.
Ohh, maafkan aku wahai semua.
Mengapa aku menjadi alpa.

Sekarang ini aku berjanji.
Aku tak akan sombong lagi.

Narator : Itulah kisah tentang Lala.
Seorang anak cantik jelita.
Sungguh baik sikap hatinya.
Sudah jelita, tak sombong pula.

Layar tertutup. SELESAI.

Hari Merdeka buat ibu

Hari Merdeka buat ibu

Rangga, 7 tahun, membuat kartu ucapan bertuliskan
selamat hari merdeka buat ibu” pada saat kegiatan Dongeng Minggu, 17 Agustus 2012.

Story Telling oleh anak (2)

Ini adalah tulisan lanjutan dari “Story Telling untuk anak SMA”. Pencerita pada tulisan itu adalah guru. Nah, bagaimana jika sekarang murid yang berperan sebagai pencerita?

Seorang guru bahasa sangat dianjurkan untuk menggunakan kegiatan bercerita di kelas. Murid-murid senang mendengar cerita, seperti mereka senang mendengar curhat temannya. Sekarang, buatlah murid yang bercerita di kelas. Jika tidak ada persiapan khusus, guru bisa gunakan cara paling mudah. Tunjuk beberapa nama murid atau mempersilakan siapa saja yang ingin membacakan cerita di depan kelas. Pastikan mereka punya kemampuan vokal yang cukup baik agar teman-teman lain bisa menyimak cerita dengan maksimal.

Tentukan cerpen, drama, atau penggalan novel mana yang akan dibacakan. Guru membagi tugas, siapa yang akan membacakan paragraf mana, atau siapa yang akan berperan sebagai tokoh apa. Ajak murid pencerita menghayati peran dan murid pendengar untuk memahami cerita.

Guru sebaiknya mengukur lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca berantai ini. Pertimbangkan berapa lama cerita selesai dibaca, termasuk jika murid butuh waktu untuk konsentrasi atau ketika ada kesalahan baca. Akan lebih baik jika guru sudah menyiapkan murid-murid yang akan bercerita di pertemuan sebelumnya. Biarkan mereka yang berbagi tugas bagian membaca dan mereka bisa berlatih dulu sebelum tampil di pertemuan kelas nanti.

Untuk anak SMP, kegiatan mendongeng kelompok bagus dijadikan penilaian kompetensi menulis dan berbicara. Murid dalam kelompok membuat sebuah cerita, bisa tokoh nyata atau fabel. Nanti mereka pula yang akan mementaskannya. Guru menyiapkan rubrik penilaian yang mencakup aspek menulis naskah, cara bercerita (artikulasi, vokal, intonasi), penggunaan alat dan kostum, dan kerjasama kelompok. Kelompok lain akan melakukan penilaian kepada kelompok yang sedang pentas sebagai penerapan student-self-assessment. Kritik dan saran disampaikan oleh murid kepada temannya di akhir kelas. Tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi juga tak boleh dilupakan.


Untuk anak SD, gunakan boneka/mainan untuk membantu anak-anak berperan menjadi pencerita. Guru harus memastikan bahwa cerita yang dibawakan sudah diketahui oleh anak. Cerita bisa diambil dari buku yang pernah mereka baca bersama, atau bisa juga dongeng buatan mereka sendiri. Pastikan mereka bertanggung jawab menjadi tokoh. Beri pembagian tugas pada sejumlah anak, siapa menjadi ayam, siapa menjadi pohon, siapa menjadi raja, misalnya.

Guru bertugas sebagai penjaga alur. Biarkan anak menciptakan dialog mereka sendiri. Boleh juga kembangkan pop idea yang hadir dari anak. Guru tinggal arahkan pada tujuan akhir cerita. Ketika cerita sampai pada klimaksnya, guru mengajak murid ke penyelesaian dan buat anak berdiskusi. Apa rasanya ya menjadi tokoh dalam cerita? Bagaimana jika teman lain mengubah alur cerita? Bagaimana jika akhir cerita dibuat berbeda? Pancing terus anak dengan pertanyaan yang membuatnya bernalar.

Kira-kira begitu yang pernah saya lihat dan lakukan. Ada ide lainnya, kawan? 🙂

Belajar Sejarah di TKP

Saat berkunjung ke Kota Lama, Semarang, kemarin, saya hanya berkeliling tanpa mendapatkan informasi yang cukup banyak. Padahal ada banyak bangunan lama yang menarik sekali. Tentu juga ada kisah sejarah yang menarik pula untuk didengar. Anak-anak sekolah seharusnya bisa belajar dari lingkungan seperti ini. Pelajaran sejarah misalnya, tentu akan lebih seru jika diadakan langsung di lokasinya. Saya jadi berpikir, bagaimana ya cara agar tempat bersejarah di suatu kota bisa bermanfaat lebih untuk pendidikan anak?

Ada beberapa yang saya pikirkan waktu itu.
* Mendongeng di bangunan tua
Orang tua atau guru bisa mendongengkan kisah bersejarah dengan lebih dramatis jika dilakukan di lokasi kejadian. Sebaiknya orang tua/guru mencari data dahulu tentang cerita sejarah yang akan disampaikan. Misalnya, cerita diniatkan untuk menjawab kenapa Gedung Marabunta di Kota Lama Semarang memiliki dua semut besar di atap bangunannya? Nah, pencerita bisa buku cerita atau boneka semut sebagai alat peraga untuk anak di usia TK dan SD. Untuk kelompok yang lebih besar, boleh juga undang pendongeng terkenal untuk bercerita dengan cara yang tentu menarik.

* Anak di usia SMP dan SMA bisa diminta mencari data tentang peristiwa bersejarah yang terkait dengan tempat tersebut. Cari dulu data di buku-buku atau di internet, buat ringkasannya lalu datang bersama kelas ke lokasi cerita. Presentasikan hasil temuan riset sebelumnya di sana. Tentu rasanya akan lebih menarik daripada sekadar presentasi di kelas, kan?

* Murid SMP dan SMA bisa juga ditantang untuk membuat proyek menarik tentang tempat sejarah. Misalnya melakukan rally foto atau film pendek bersama kelompok kelas. Hasilnya akan dibuat pameran dan ditonton di sekolah. Atau ajak murid membantu pemerintah daerah untuk membuat booklet informasi wisata tentang tempat-tempat bersejarah. Tentu lebih asyik belajar dan menghasilkan kreasi nyata untuk daerah kita.

Tentu ada ide lain ya? Yuk, berbagi!

%d bloggers like this: