Senin ini (6/4) murid kelas 11 baru saja saya sajikan cerpen Martin Aleida “Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian”. Pas betul cerpen ini kami baca seminggu sebelum Ujian Nasional 2015 dimulai. Saya bercerita sekilas tentang bagaimana beban UN di tahun sebelum 2015. Tentang anak sekolah sampai bunuh diri karena tidak lulus UN. Tentang tragedi menyontek massal di banyak sekolah. Baru kemudian saya bilang, cerpen ini merekam salah satu kisah guru dan murid yang tak bisa bebas untuk bersikap jujur, dan guru yang dipaksa kepala sekolah membeli kunci jawaban UN. 

Lalu Selasa ini (7/4) seorang murid membawa kabar mengagetkan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: