Isu Anak-Anak di #FestivalSinemaPrancis

Catatan ini harus saya buat, mengingat ada beberapa isu tentang anak yang muncul dengan menarik di Kompilasi Film Pendek Indonesia di Festival Sinema Prancis, Kineforum, Sabtu (7/12) kemarin. Total ada delapan film pendek yang diputar, tapi ada tiga film yang menarik perhatian saya.

Lembar Jawaban Kita
IMAG0808
Saya suka isu yang diangkat film ini: Ujian Nasional. Materi yang diangkat Sofyana sudah banyak saya dengar karena saya tahu sejumlah kasus kecurangan dalam pelaksanaan UN. Sebetulnya ini sudah jadi rahasia umum (sudah banyak juga yang membocorkannya ke publik) bahwa guru dan murid bekerjasama untuk berbagi jawaban dalam UN. Buat yang belum pernah tahu kasus gilanya UN, adegan guru di akhir cerita bisa jadi kejutan yang mengagetkan. Saya tidak kaget, tapi tetap saja sedih melihatnya.

Adegan bertukar jawaban antarmurid sengaja diberi musik komikal. Penonton jadi tertawa-tawa. Entah, mungkin mereka geli melihat anak kecil bisa kompak sekali menyiasati gelagat curang. Atau mungkin penonton mendapati diri mereka sendiri di sana. Saya sendiri bergeming. Sedih. Satu yang saya suka, cara kamera membuka adegan awal film. Ibu-ibu digiring polisi, lalu “dimasukkan” ke balik jeruji besi. Rupanya itu adalah pagar sekolah. Rupanya ibu-ibu itu adalah wali murid, dan rupanya polisi itu adalah penjaga keamanan Ujian Nasional. Hahaha, adegan ini membuat saya tertawa ngenes. Cuma di Indonesia lho ada ujian anak sekolah yang mesti dijaga oleh aparat keamanan macam kerusuhan! Gila! Tapi nyata ada. Film ini perlu sekali ditonton unsur mendukung kampanye #HentikanUN dan #petisiUN. Saya yakin Sofyana akan mendukung kampanye itu.

Halaman Belakang
IMAG0809
Ceritanya bisa membuat penonton awam bengong karena tak paham buat apa menyajikan gambar anak kecil yang sibuk bermain, bermain, dan bermain saja tanpa ada masalah. Padahal, justru “masalah” hadir dan ada di sana. Kita bisa menemukannya dalam sejumlah kode bunyi dan sikap tokoh dewasa. Tapi apa yang dilakukan si anak? Dia terus bermain-main saja. Entah tidak peduli, entah tidak tahu. Namun di akhir cerita saya melihat anak ini hirau juga pada sekitarnya. Sebab itulah ia merasa kesepian dan “tak senang” yang terlihat dari warna hitam putih yang dipakai Yusuf dalam film ini.

Kausalitas
IMAG0810
Idenya tak baru. Sudah banyak dibahas oleh psikolog di surat kabar tentang kausalitas sikap anak di sekolah/lingkungan dengan pengalaman hidup di rumah. Pelajar yang terlibat tawuran bisa disebabkan oleh adanya kekerasan yang dilihat atau dialami di rumah. Sebetulnya premis ini masih bisa menarik ditonton kalau saja para pemain dewasa bisa berakting natural. Aktor anak yang bermain di sini malah bisa berakting lebih baik. Film ini bolehlah dijadikan contoh visual untuk pembelajaran bimbingan konseling di sekolah.

Hasil kompetisi ini sudah diumumkan. Yusuf Radjamuda dengan “Halaman Belakang” dihadiahi gelar Sutradara Terbaik dan berhak ke ajang film pendek internasional Clermont-Ferrand, Prancis. Satu lagi, BW Purbanegara dengan filmnya “Kamu di Kanan Aku Senang” sebagai Penulis Skrip Terbaik dapat hadiah belajar selama sebulan di sekolah sinematografi di Paris. Sementara Sofyana Ali Bindar dan “Lembar Jawaban Kita” mendapat penghargaan khusus juri. Selamat!

One response

  1. wah, terimakasih telah menuliskan ini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: