Dicky dan Kamera

Dicky punya mainan baru. Hadiah dari ayah ketika liburan semester satu. Sebuah kamera! Senang sekali dia. Yah, memang bukan kamera baru. Itu kamera digital ukuran saku yang biasa dipakai ayahnya ketika bekerja. Ayah Dicky sudah membeli kamera baru untuk keperluan kerjanya. Jadi, kamera lama itu pun diberikan kepada Dicky.

Sekarang Dicky selalu membawa kamera ke sekolah setiap hari. Jika ada teman yang bertanya tentang benda apa yang menggantung di lehernya, dia akan menjawab, “Ini kamera digital!” Dia begitu senang melihat wajah teman-teman yang memandangnya kagum. Dia merasa hebat memiliki kamera itu. Semua teman kelas 4 tahu hal itu. Bahkan kakak kelas 5 dan 6 juga cemburu. Dicky jadi satu-satunya pemilik kamera digital di sekolah. Kamera milik sendiri, bukan milik orang tua lagi.

Dengan kamera itu, Dicky bisa memotret apa saja. Segala jenis benda difotonya. Saat pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda, kamera itu akan bergoyang-goyang di leher Dicky. Setiap menemukan objek menarik di perjalanan, ia akan berhenti menggenjot sepeda. Difotonya semua benda yang menarik matanya. Sebatang pohon kelapa. Seekor kucing kurus. Seonggok kapal kayu. Sebutir batu karang.

Karena berhenti untuk memotret di perjalanan ke sekolah, suatu hari Dicky pun terlambat datang ke sekolah. Ibu guru menegurnya, dan bertanya mengapa.

“Tidak biasanya kamu terlambat datang ke sekolah. Sampai setengah jam begini. Kenapa, Dicky?” tanya Bu Riana, guru kelasnya.

“Saya… Saya memotret, Bu,” jawab Dicky takut.

Kamera yang menggantung di leher Dicky bergoyang ringan. Bu Riana pun menggeleng pelan. Ia persilakan Dicky masuk ke dalam kelas. Sekaligus Bu Riana memberi isyarat, sepulang sekolah Dicky harus menemuinya. Ada sesuatu yang harus dibahas.

Dicky jadi tidak fokus belajar hari itu. Ia tidak mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Diliriknya kamera yang berada dalam tas sekolah. Kemudian, Dicky mencolek lengan Neli.

“Kamu sudah kerjakan PR IPA untuk besok?” tanya Dicky.

“Oh, sudah. Kenapa?” tanya Neli kembali.

“Aku mau lihat jawaban kamu. Boleh?”

“Kamu sudah kerjakan sendiri belum?”

“Belum, sih.”

“Yah, kamu coba kerjakan sendiri dulu, dong! Baru nanti kamu boleh lihat jawabanku.”

“Hmmhh,” sahut Dicky malas-malasan.

Dicky memerhatikan Bu Riana. Ia sedang sibuk menerangkan soal kepada teman-teman di barisan depan. Dicky memerhatikan Neli. Ia sibuk mengerjakan soalnya sendiri. Saat itulah sebuah ide tercetus di kepalanya. Dicky mengeluarkan kamera digitalnya. Diarahkannya kamera itu ke kertas dalam buku PR Neli, dan… cekrek! Cekrek! Cekrek! Dicky memotret jawaban Neli!

“Yak! Waktunya selesai! Silakan kalian kumpulkan latihan hari ini!” ujar Bu Riana.

Dicky kaget. Ia bereskan kamera cepat-cepat. Dia kembalikan buku Neli ke dalam tas. Ia menengok kanan kiri. Tidak ada yang melihat dia melakukan itu. Ah, aman, pikirnya.

***

Siang hari di ruang guru. Dicky harus bertemu dengan Bu Riana, berbicara tentang masalah datang terlambat hari itu. Bu Riana mengulang pertanyaan yang sama, kenapa Dicky terlambat datang ke sekolah. Dicky pun mengulang jawaban yang sama, karena ia memotret.

“Memotret itu sebuah hobi yang bagus.” Bu Riana melanjutkan kata.

Dicky berbinar mendengar jawaban Bu Riana. Ia merasa keren ketika memegang kamera. Dengan membawa kamera ke mana saja, Dicky merasa hebat.

“Coba, boleh Ibu lihat hasil karya foto kamu pagi ini?”

Dengan sigap Dicky menyerahkan kamera itu pada Bu Riana.

“Ibu lihat saja sendiri. Foto saya bagus-bagus!” seru Dicky bangga.

Bu Riana menyalakan kamera. Ia membuka arsip foto dalam kamera. Sebuah foto tampil dalam layar. Wajah Dicky berseri-seri. Sebaliknya, kening Bu Riana berkerut. Ia mendapati sebuah foto tulisan di kertas buku. Digesernya foto itu ke foto sebelumnya. Sebuah gambar kertas lainnya. Foto berikutnya, lagi-lagi sama. Foto berikutnya, sebutir batu karang. Seonggok kapal kayu. Seekor kucing kurus. Sebatang pohon kelapa.

Jari Bu Riana mengembalikan foto kembali ke foto tulisan di kertas buku itu. Dengan dahi berkerut, Bu Riana menunjukkan gambar itu kepada Dicky.

“Ini apa?”

Dicky tersentak kaget. Itu foto jawaban PR Neli yang ia contek tadi. Tiba-tiba Dicky lemas. Ia tertangkap basah.

“Dicky, memotret itu sebuah hobi yang bagus. Tapi bisa jadi hobi yang tidak bagus, ketika salah digunakan.”

Dicky hanya bisa menunduk malu.

“Sibuk memotret sampai terlambat datang ke sekolah, itu bukan hal yang bagus. Lalu, memotret pekerjaan orang dengan tujuan yang tidak baik, bagaimana menurut kamu?”

Dicky diam saja. Namun, ia sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan. Dengan kamera ia merasa lebih hebat dari anak-anak lainnya. Bahkan dengan kamera ia jadi lupa waktu dan mencontek pekerjaan teman. Ia sadar, sebuah benda yang berfungsi baik seharusnya digunakan untuk hal-hal yang baik juga.

Dicky mengangkat muka dan berkata kepada Bu Riana, “Maafkan saya, Bu.”

Bu Riana hanya mengangguk. Ia senang Dicky menyadari sikapnya tadi. Ia kemudian tersenyum dan berkata, “Ibu suka foto kapal kayu kamu.”

Dicky pun tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: