Story Telling oleh anak (2)

Ini adalah tulisan lanjutan dari “Story Telling untuk anak SMA”. Pencerita pada tulisan itu adalah guru. Nah, bagaimana jika sekarang murid yang berperan sebagai pencerita?

Seorang guru bahasa sangat dianjurkan untuk menggunakan kegiatan bercerita di kelas. Murid-murid senang mendengar cerita, seperti mereka senang mendengar curhat temannya. Sekarang, buatlah murid yang bercerita di kelas. Jika tidak ada persiapan khusus, guru bisa gunakan cara paling mudah. Tunjuk beberapa nama murid atau mempersilakan siapa saja yang ingin membacakan cerita di depan kelas. Pastikan mereka punya kemampuan vokal yang cukup baik agar teman-teman lain bisa menyimak cerita dengan maksimal.

Tentukan cerpen, drama, atau penggalan novel mana yang akan dibacakan. Guru membagi tugas, siapa yang akan membacakan paragraf mana, atau siapa yang akan berperan sebagai tokoh apa. Ajak murid pencerita menghayati peran dan murid pendengar untuk memahami cerita.

Guru sebaiknya mengukur lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca berantai ini. Pertimbangkan berapa lama cerita selesai dibaca, termasuk jika murid butuh waktu untuk konsentrasi atau ketika ada kesalahan baca. Akan lebih baik jika guru sudah menyiapkan murid-murid yang akan bercerita di pertemuan sebelumnya. Biarkan mereka yang berbagi tugas bagian membaca dan mereka bisa berlatih dulu sebelum tampil di pertemuan kelas nanti.

Untuk anak SMP, kegiatan mendongeng kelompok bagus dijadikan penilaian kompetensi menulis dan berbicara. Murid dalam kelompok membuat sebuah cerita, bisa tokoh nyata atau fabel. Nanti mereka pula yang akan mementaskannya. Guru menyiapkan rubrik penilaian yang mencakup aspek menulis naskah, cara bercerita (artikulasi, vokal, intonasi), penggunaan alat dan kostum, dan kerjasama kelompok. Kelompok lain akan melakukan penilaian kepada kelompok yang sedang pentas sebagai penerapan student-self-assessment. Kritik dan saran disampaikan oleh murid kepada temannya di akhir kelas. Tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi juga tak boleh dilupakan.


Untuk anak SD, gunakan boneka/mainan untuk membantu anak-anak berperan menjadi pencerita. Guru harus memastikan bahwa cerita yang dibawakan sudah diketahui oleh anak. Cerita bisa diambil dari buku yang pernah mereka baca bersama, atau bisa juga dongeng buatan mereka sendiri. Pastikan mereka bertanggung jawab menjadi tokoh. Beri pembagian tugas pada sejumlah anak, siapa menjadi ayam, siapa menjadi pohon, siapa menjadi raja, misalnya.

Guru bertugas sebagai penjaga alur. Biarkan anak menciptakan dialog mereka sendiri. Boleh juga kembangkan pop idea yang hadir dari anak. Guru tinggal arahkan pada tujuan akhir cerita. Ketika cerita sampai pada klimaksnya, guru mengajak murid ke penyelesaian dan buat anak berdiskusi. Apa rasanya ya menjadi tokoh dalam cerita? Bagaimana jika teman lain mengubah alur cerita? Bagaimana jika akhir cerita dibuat berbeda? Pancing terus anak dengan pertanyaan yang membuatnya bernalar.

Kira-kira begitu yang pernah saya lihat dan lakukan. Ada ide lainnya, kawan?🙂

One response

  1. Menarik! Dalam pembelajaran bahasa, khususnya bagi anak-anak kecil, bentuk role-play itu memang jauh lebih diterima mereka dibandingkan belajar melalui bentuk “disuapi” gurunya.

    Kalau sudah ada polanya, terus semuanya dikembalikan kepada anak dan anak dibiarkan berkreasi, itu juga membantu daya kreativitas dari anak.😀

    Menjadi guru bahasa memang butuh banyak alternatif pengajaran yang bisa menstimulasi anak-anak agar tetap ‘fun’.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: