T dan J, kritis!

Dari #twitedu bersama @bincangedukasi Selasa 8 November 2011


Mendidik anak berpikir kritis, mulailah dengan bertanya. Bebaskan anak bertanya apapun. Sejak kecil, orang tua harus mencontohkan cara bertanya, sebab nyatanya bertanya itu tidak mudah juga. “Apa ini?” dan “Apa itu?” harus sudah mulai diajarkan orang tua sejak anak masih bayi. Ketika TK, anak akan terbiasa bertanya ini juga. Ketika SD, orang tua ajak anak bertanya lebih dari sekadar “apa”. Konsep 5W dan 1H (What, Who, Where, When, Why, How) sudah harus diperkenalkan. Ketika SMP dan SMA anak bisa diajak berpikir lebih di pertanyaan “why” dan “how”. Ini puncak berpikir kritis.

Ketika anak sudah terbiasa bertanya, anak harus diajak untuk bisa mencari jawaban sendiri. Bertanya dan menjawab itulah yang harus terus dipupuk agar anak selalu berpikir kritis. Bahan ajar? Kehidupan sehari-hari. Banyak membaca buku/internet tentu akan berguna untuk melatih anak bertanya lalu menjawab sendiri. Kritis adalah hasil.

Orang tua harus senang, bukan sebaliknya, saat anak bertanya atau banyak komentar. Itu tanda anak yang berpikir kritis! Guru harus biasakan murid untuk bertanya juga. Tidak hanya melulu menjawab soal. Kalau anak kritis pada hal-hal sensitif semacam agama atau seks gimana? Orang tua dan guru tetap harus menjawab dengan bijak. Saya percaya pada dasarnya manusia (anak-anak juga) tentu punya kesadaran untuk bertanya. Itulah modal berpikir kritis. Tinggal orang tua, guru, dan anak itu sendiri yang harus menajamkan kebiasaan kritis dalam menganalisis masalah.

“Bagaimana ajarkan berpikir kritis di sekolah? Benarkah bagian ini agak terabaikan karena beratnya beban kurikulum?” tanya seorang pemerhati pendidikan. Saya sendiri merasa hal itu agak benar adanya. Ketika guru dan murid dibebani kurikulum yang berorientasi nilai saja, kegiatan kelas kebanyakan hanya menjawab pertanyaan. Seorang lain bilang, jika ingin membuat budaya berpikir kritis muncul di sekolah, kita perlu ubah dua hal: tes dan pola pikir guru. Saya sedikit tidak setuju. Tes atau ujian tetap perlu dilakukan untuk menilai sejauh mana anak bisa berpikir kritis dalam media tulis. Di kelas, sistem penilaian silang antarmurid (siswa mengoreksi pekerjaan teman) bisa digunakan untuk latihan berpikir kritis. Di beragam pelajaran, ajak siswa mencari kaitan topik yang sedang dipelajari dengan kehidupan harian. Misal, apa guna belajar trigonometri?

Saya pendukung “kuliah harus lulus dengan skripsi”. Ini adalah pembuktian siswa mampu berpikir kritis. Saya mengkritik kebijaksanaan universitas yang memperbolehkan mahasiswa lulus tanpa skripsi. Hanya penuhi kuliah lalu bisa lulus? Dalam skripsi, mahasiswa harus mengajukan sebuah pertanyaan dan sekaligus menjawabnya melalui penelitian. Mahasiswa harus kritis menuliskan rumusan masalah. Lalu buktikan jawaban di bagian analisis. Ujian berpikir kritis itu terjadi di sidang skripsi. Mahasiswa menjelaskan jawaban pada beberapa penguji. Usai lulus kuliah, pendidikan berpikir kritis akan terus berlanjut. Meski bukan di bangku akademis.

Nah, ayo kita biasakan berpikir kritis. Mulai dari kicau di media twitter juga boleh.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: