Tanda Mata

Lelaki muda itu terlentang di atas meja. Baju seragam sekolahnya tampak kotor, kecoklatan campur hitam. Bukan sebab tua, tetapi terbalut kotoran yang menempel dari sekitar ruangan. Kamar berdinding merah tua itu tidaklah sepenuhnya kotor, hanya sedikit ternoda saja di beberapa sudut. Noda-noda amis yang tak sedap dihirup. Sang pemilik terlalu sibuk memandangi lelaki muda itu.

Mata si lelaki nanar mengarah pada wanita di hadapannya. Mata itu baru terbuka beberapa menit tadi. Pening menguasai kepala. Si lelaki mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi ngilu menyengat. Tubuhnya tak mampu bergerak. Ia juga tak mampu lagi bersuara. Bukan hanya sebab ada kain usang yang melingkari mulutnya, tetapi lebih karena ia tak punya lagi daya. Tubuhnya terikat erat di meja. Lututnya terasa nyeri. Celana abu-abu seragam sekolah yang ia kenakan telah robek. Koyak dan terpercik darah.

Lelaki itu ingin sekali bertanya pada wanita yang berdiri membelakanginya sekarang. Ia harus bertanya, meski pertanyaan itu telah diulang berkali-kali. Mengapa? Mengapa? Ingin betul ia berteriak di muka wanita berambut pendek itu. Namun, ikatan di mulut ini menekan ujung bibirnya. Tak sadar, kain itu membuat ujung bibirnya luka.

Dari bola matanya yang kosong, si lelaki muda terus mengamati gerak-gerik wanita itu. Seolah tak peduli, si wanita sibuk mengutak-atik sesuatu di depan meja berkaki rendah. Sebuah benda mengkilat, memantulkan cahaya ke mata kosong si lelaki. Cahaya itu melesat masuk ke matanya dan merangsang tubuhnya bergetar. Cahaya itu bereaksi. Muka anak lelaki itu pucat pasi.

Mungkin benda itu pisau. Pisau dapur besar. Mungkin pula pistol. Batang pistol berwarna perak. Lelaki itu menduga rupa benda berkilat tadi. Dalam gemetar, berkelebat segala rupa film aksi yang selama ini pernah ditontonnya. Ia sering membayangkan dirinya beraksi di film seperti itu. Tampak keren dan hebat. Tapi dalam situasi ini, film itu berubah jadi horor terseram. Sebab film itu kini nyata.

Grek.
Laci meja terdengar dibuka cepat. Wanita itu memasukkan benda yang tadi dipermainkannya ke dalam laci. Si lelaki tak bisa melihat apa-apa. Tubuh sintal wanita itu menghalangi pandangannya ke meja. Ya, wanita ini berlekuk sempurna. Tubuh itulah yang selama ini dinikmati si anak lelaki setiap hari di sekolah. Juga yang sesekali mampir di hari Minggu, bahan mimpi sebelum bertemu Senin pagi.

Si lelaki mengernyit sedikit. Ia teringat pertemuannya dengan wanita itu pertama kali. Ia dan kelima kawannya di kelas sekejap terpana. Si wanita masuk ke dalam kelas, berjalan seperti melayang. Si lelaki sudah lewat 17 tahun. Tak ayal matanya dengan cepat tertuju pada dada penuh wanita itu. Kemeja kerja si wanita menutup lengkung dada dengan ketat. Si wanita membetulkan letak kacamata, menyelipkan rambut ke balik telinga, menyungging senyum, lalu menyebutkan satu kalimat, “Saya guru baru kalian.”

Mulai sejak itu mereka berenam jadi suka matematika. Pelajaran momok itu tak lagi menegangkan jika diajar guru seksi begitu. Ketegangan mereka menjalar ke sudut lain. Sudut tubuh remaja mereka yang mulai dewasa. Lalu mereka menguarkannya dengan celoteh canda remaja. Canda asal, lalu mengarah nakal. Guru cantik itu tak pernah menegur mereka. Ia terus saja menerangkan segala materi di papan tulis. Ia hanya menengok dan memandang satu-satu dari mereka, setelah sebuah penghapus kecil mengenai ke pantatnya. Mereka lalu tertawa kecil menahan gemas, berharap guru itu mencari tahu siapa yang telah berani menimpuknya. Sungguh, mereka berharap sang guru akan marah atau menjewer kuping mereka. Sehingga tersedialah alasan bersentuhan dengan kulit wanita itu.

Guru itu memang masih muda. Semangat mengajar membara di dadanya. Kacamata berbingkai hitam tak mampu menyembunyikan wajahnya yang berahang tajam. Kadang wajah itu terlihat angkuh, tetapi itulah yang semakin memancing keenam murid lelakinya untuk bertingkah. Saat wanita itu mengajar, tak ada di antara mereka yang betul-betul mendengarkan. Si lelaki ingat betul, guru muda ini sesekali bertanya kosong, “Dimana telinga kalian?”
*

Wanita itu berjalan perlahan mendekati si anak lelaki. Mata anak itu bergerak, mencuri lihat di kedua tangan lawan. Kosong. Wanita itu tak membawa apa-apa. Sungguh, saat itu ia berharap melihat pulpen seperti yang biasa ia lihat di kelas. Ia berharap melihat remang garis beha di dada gurunya. Melihat kernyit kening gurunya saat memeriksa ujian kalkulus. Tapi nyala lampu di kamar ini terlalu hambar. Dan ia baru sadar, anyir darah tercium samar.

“Kamu yang terakhir,” ujar wanita itu setelah berhenti di hadapannya.
Sulit ia melirik mimik muka gurunya.
“Kamu bisa mendengar, kan?”
Biasanya si anak lelaki ini bisa bermain menggerak-gerakkan telinganya. Tapi kekakuan suasana membuat telinganya ikut kaku.
“Di mana telinga kamu?”

Pertanyaan yang biasa terlontar di kelas itu kini tak lagi terdengar remeh. Si murid yang semakin gemetaran itu mulai merangkai dugaan. Jelas sudah, si guru tentu marah sebab ia dan teman-temannya sering tak mendengar penjelasan gurunya di kelas. Ia semakin gemetar. Apa yang akan dilakukan guru ini kepadanya? Tadi wanita itu bilang, dialah yang terakhir. Maka jelas sudah jawaban kemana hilangnya kelima teman lelakinya dalam waktu sebulan ini. Kelima temannya itu hilang satu per satu. Mulanya ia pikir hanya bolos satu dua hari. Ternyata orang tua mereka malah balik bertanya kepadanya. Sekolah tak tahu ke mana anak-anak itu menghilang. Polisi sudah mencari, tetapi tak ada juga kabar yang hinggap di telinga. Dan sekarang, lotere terakhir datang untuknya.

“Kamu punya telinga, tapi tak pernah kamu gunakan.”
Guru wanita itu memegang telinga muridnya. Si anak lelaki itu bergetar hebat, tapi hanya sebatas itu yang bisa ia lakukan. Kakinya tak mampu bergerak bebas sebab tambang kasar melingkari pergelangan kaki hingga pangkal betis. Ia berpikir cepat, rasanya ia masih mampu berguling. Lalu apa? Lengannya sama terliliti tali. Dan ternyata tubuhnya terikat ke meja. Tak mungkin tubuh kecilnya memberontak.
“Saya hanya ingin anak-anak murid saya mendengarkan. Saya ingin kalian pintar matematika.”

Wanita itu membalikkan badan, berjalan menuju meja. Tubuh semampai itu bergerak dan sigap membuka laci meja. Dikeluarkannya benda berkilau yang telah terduga. Sebuah pisau. Namun, bukan pisau dapur besar, melainkan pisau kecil dan runcing ujungnya. Kilau pisau itu berdesing, membuat tubuh anak itu ingin berputar ke samping. Ia ingin melindungi dirinya. Ia ingin berguling, tapi jelas tak mungkin sebab tubuhnya bisa terbanting. Dan tentu ia tak bisa lari. Tentu mudah wanita itu menaklukkannya.
“Saya perlu bukti bahwa kamu mendengarkan penjelasan saya selama ini. saya perlu tanda mata.”

Si anak lelaki sontak tegang. Ia berusaha menjauhkan pisau yang akan datang itu dari telinganya. Tentu itu yang diinginkan guru gila itu. Sepasang telinga dari murid yang tak bisa mendengarkan gurunya!

Tak ada cara untuk menyembunyikan telinga yang terbuka menantang. Ia ingin tertelungkup namun itu seperti menyerahkan diri untuk diiris. Ia ingin terlentang namun ia terlalu takut menatap mata gurunya. Ia hanya bisa memejam dan menulikan pendengaran.
“Saya guru, dan saya berhak menghukum kamu. Saya perlu tanda mata itu.”

Tangan si wanita menekan kuat tubuh kecil anak muridnya. Si anak gemetar sejadi-jadinya. Wanita itu naik ke atas meja, mensejajari korbannya.
“Kamu tak bisa mendengarkan penjelasan saya sebab kamu sibuk berbicara. Dan juga, sibuk melihat saya.”
Sebuah dugaan melintas cepat di benak si anak. Ia tersadar, lalu tanpa sadar membuka mata.

“Bagus, inilah tanda mata yang saya perlukan. Tanda mata sebenarnya.”
Kilau pisau itu membayang di mata si lelaki muda. Bayangan matanya terpantul di sana, lalu mengabur entah ke mana. (*)

Maret 2011

3 responses

    1. wah, makasih honey sudah mampir.🙂

  1. begidik kakkkkk😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: