Patok

Aku pernah begitu benci pada Jakarta. Mungkin di usia 11 tahun itu aku tak paham betul arti benci. Namun, aku merasakan kekesalan luar biasa dengan kota tetangga itu. Kota itu yang memaksaku harus belajar keras hanya demi bisa memasuki gerbangnya.

Aku mulai mendapatkan pendidikan formal pertama di daerah ini, kota kecil sebelah Tenggara Jakarta. Saat itu, daerah ini adalah kota kecil administratif Bogor. Aku si kecil usia 4 tahun ditemani ayah berjalan kaki dari rumah ke sebuah Taman Kanak-kanak di tepi jalan raya. TK itu berada di perbatasan dua kampung, yaitu Kampung Pal dan Kampung Areman. Ada tanah rumput yang tampak luas di mata kecilku. Itulah tanah pertama yang kusebut lapangan bermain. Di seberang jalan raya depan sekolah TK, terlihat hamparan sawah dan empang. Pohon petai cina menghiasi tepian tanah yang berbatasan dengan jalan raya dari aspal. Kelak dua tempat itu akan menjadi wilayah kekuasaanku di usia sekolah dasar.

Dalam ingatan masa kecilku, aku hanya tahu aku bersekolah di daerah Pal. Murni sesempit itu pengetahuan geografisku. Kemudian, di TK itulah aku mulai mengenal nama kota Jakarta. Kata ibu guru manis yang mengajarku, kota Jakarta adalah ibukota Indonesia, nama negara yang lagunya mulai kuhapalkan sejak sekolah untuk dinyanyikan setiap Senin pagi. Ibukota itu apa, aku tak begitu paham. Ibu guru bilang, ibukota itu seperti ibu jari. Kuperhatikan jemariku. Ibu jari itu lebih besar dari jari-jari lainnya. Bentuknya gemuk, tak seperti jari-jari lain yang terlihat kurus. Maka itulah yang kupahami: ibukota adalah kota besar yang berisi orang-orang gemuk.

Kata ibu guru TK, untuk pergi ke Jakarta, aku hanya perlu jalan kaki saja. Nyatanya aku belum pernah membuktikannya sampai aku lulus sekolah kanak-kanak itu. Ketika ada kegiatan tur ke Taman Mini di Jakarta Timur, aku pergi dengan menggunakan bus besar. Lalu ketika aku dan teman-teman pergi belajar manasik haji di Jakarta Pusat, kami juga naik bus besar. Di nalar kecilku, pergi dengan bus adalah pergi jauh. Maka aku tak begitu percaya jika bu guru bilang Jakarta bisa dicapai dengan jalan kaki saja.

Namun, aku sadar ternyata kata-kata bu guru TK itu benar. Lulus dari sekolah TK, aku mulai diperbolehkan main menjelajah kampung. Kegiatan itu membawaku pada sebuah patok batu setinggi lutut. Di badan patok semen itu tertulis kata-kata yang kemudian kupahami sebagai tanda batas daerahku dan Jakarta. Aku menemukannya di dekat empang di ujung kampung. Ya, empang dan sawah yang kerap kulihat dulu dari seberang sekolah TK dulu. Rasanya semacam menemukan harta karun, walau aku tak mencarinya dengan repot-repot. Seorang teman yang merajai wilayah empang dan sawah itulah yang menunjukkannya.

“Jadi, sekarang kita ada di Depok,” ujar teman kecilku jumawa.
Kemudian, ia melangkahkan kakinya melewati patok itu. “Nah, sekarang aku ada di Jakarta!”

Ingat betul aku wajah sumringahnya. Aku turut riang. Itu jadi semacam pelajaran geografi yang luar biasa. Aku ikut melangkahi patok tersebut dan rasanya Jakarta menjadi begitu sederhana. Jakarta hanya sebatas selangkangan. Kami tertawa bersama. Kami ambil ranting yang dijadikan tongkat pegangan ketika meniti batang pohon kelapa, melanjutkan perjalanan ke ujung empang yang merupakan tanah ibukota.

Sejak SD kelas satu hingga kelas lima aku terus bermain ke sawah dan empang itu. Butuh waktu lima menit naik sepeda atau 15 menit jalan santai. Aku dan teman-teman sambil memegang plastik berisi air limun akan berkumpul di rumah terakhir sebelum memasuki areal sawah. Di sana kami menghabiskan limun dan membuangnya ke tong bekas cat tembok. Tangan kami bebas. Kami mulai meniti batang bambu susun lima, melewati kali kecil yang merupakan pecahan Kali Baru dari Bogor. Kami memotong ranting pohon rendah dan menjadikannya pedang-pedangan. Kami mengumpulkan kumbang kecil yang sangit baunya dan menangkapi capung jarum. Semuanya adalah kesenangan masa kecil yang terasa besar.
Secara tak sadar kami selalu bolak-balik melewati patok itu tanpa menganggapnya sesuatu yang berharga lagi. Patok itu tak lagi aku kagumi. Aku dan teman-teman berjalan mengangkanginya hampir setiap sore usai sekolah. Ia menjadi benda biasa. Aku tak pernah lagi terantuk patok semen yang mulai aus sebab dijadikan alas main ulek-ulekan. Aku tanpa sadar tak lagi merasa Jakarta dan Depok adalah sebuah jarak. Setidaknya begitu hingga kenaikan kelas enam tiba.
Waktu itu, ibu pulang ke rumah usai meninggalkan dua tiga ibu yang mengobrol di mulut jalan. Dicarinya bapak dan kulihat mereka berbicara serius. Aku yang masih menikmati peringkat lima yang tertulis di rapor sekolah kemudian dipanggil bapak. Aku didudukkan mereka. Bapak membuka pembicaraan di meja ruang tamu bernuansa jingga. Aku ingat betul kalimat pembuka bapak.

“Nak, kamu harus sekolah di Jakarta.”
Aku tak paham maksud bapak. Kalimat itu tak menjelaskan alasan apapun yang bisa dipahami otak 11 tahunku.
“Kamu harus melanjutkan SMP di Jakarta, biar nanti SMA bisa gampang diterima di Jakarta juga.”
Aku beranikan diri bertanya, “Kenapa?”
“Biar gampang cari kerja di Jakarta nantinya.”

Bapak melepas napas perlahan. Ibu mengangguk-angguk. Ada penolakan yang tak bisa kusampaikan di sana. Saat itu aku baru menyadari betapa aku menyukai daerah tempat tinggalku. Aku telah lama mencintai sawah dan empang. Aku menyukai jalan raya yang tidak terlalu sulit diseberangi. Aku menyukai jalan kaki ke sekolah. Lalu sekarang aku diminta untuk bersekolah di Jakarta, yang entah mengapa ternyata masih terdengar jauh di telinga. Aku tak berani mengangguk atau menggeleng. Bapak masih meneruskan kalimatnya menjadi sebuah syarat.
“Kamu harus bisa rangking satu di kelas enam nanti. Harus bisa dapat NEM tinggi. Biar gampang masuk SMP di Jakarta. Makanya mulai sekarang kamu harus lebih rajin belajar. Jangan main-main lagi. Apalagi panas-panasan di sawah.”

Napasku saat itu menderu. Bapak dan ibu mulai membatasi hak bermainku. Ada yang terenggut di sana. Namun, label anak penurut yang selama ini begitu dipuja para orang tua mengharuskanku tak berkata apa-apa. Aku masuk ke dalam kamar dan merencanakan ide penumpahan emosi. Esok harinya telah kutetapkan sebagai hari eksekusi.

Pagi hari pertama liburan kenaikan kelas lima. Aku pamit pada bapak sambil menggamit sepeda. Bapak tidak bertanya kemana aku akan pergi. Larangan pergi ke sawah rupanya baru akan berlaku di hari pertama kelas enam nanti. Aku menggenjot sepedaku perlahan meninggalkan rumah. Angin pagi menghembuskan aroma sabun mandi ke belakang. Satu tetes air dari rambut keritingku jatuh di kening. Genjotan kakiku makin cepat. Tak ada niat untuk memanggil teman untuk bergabung. Aku punya misi yang harus segera dilarung.

Sampai jalan pelur terakhir sebelum masuk ke sawah, aku menatap lurus-lurus hijau campur cokelat warna yang terbentang di mata. Kumiringkan sepeda menyandar ke pagar besi rumah orang di sana. Aku berjalan meniti jembatan bambu, lalu tanah merah, lalu tanah berumput, lalu batang kelapa gembus, lalu tanah merah basah, lalu tanah rumput, lalu jembatan kelapa panjang, hingga tiba di tanah merah bawah pepohonan. Mataku langsung tertuju pada benda yang begitu ingin kujumpai sejak semalam. Patok batas Jakarta-Bogor.

Kukeluarkan spidol kecil hitam dari dalam kantong samping celana. Satu spidol biru tua menyembul. Akhirnya kukeluarkan keduanya. Kemudian aku bingung. Aku ingin mencoret kata-kata di sana. Namun, baru kusadar sekarang, kata-kata itu timbul dari bidang datar patok. Pasti tidak akan sulit kucoret jika itu hanya tulisan yang tercetak saja. Emosiku makin meninggi. Tulisan Jakarta itu begitu menyebalkan. Ada semacam nasionalisme kampung halaman yang menyeruak dari dada kecilku saat itu. Aku masih tidak paham dengan maksud bapak. Aku bertanya-tanya tapi belum sempat menemukan jawaban. Apa benar tak ada sekolah bagus di Depok? Mengapa aku harus sekolah di Jakarta? Mengapa aku harus bekerja di Jakarta? Pikiran kanak-kanakku yang teramat jarang pergi keluar kampung tak mampu menjawab pertanyaan itu. Maka kemudian tak hanya spidol hitam yang bergerak mencoreti badan patok itu, tetapi si biru pun ikut serta. Aku membuat patok itu tampak serupa batik bermotif kacau balau. Belum puas, aku mencari batu segenggaman tangan. Begitu kutemukan, langsung kubawa dan kutumbukkan ke patok itu. Kupukulkan batu itu berkali–kali ke patok tanpa arah yang jelas. Hingga akhirnya ujung semen patok itu jatuh ke tanah. Gompal.
Aku pernah begitu benci pada Jakarta. Aku pernah menghancurkan setengah badan patok batas Jakarta-Bogor. Aku terlalu percaya bahwa aku tak perlu sekolah di Jakarta. Aku terlalu percaya Depok masih menjanjikan peluang kerja. Namun, nyatanya kebencianku hanya sebatas melukai patok itu. Aku kemudian meneruskan sekolah menengah pertama dan menengah atas di Jakarta. Meski begitu, kemudian aku kembali kuliah di Depok. Aku ingin berkuliah di kampusnya Indonesia. Aku membelokkan pilihan. Keinginan menjadi dokter kuubah menjadi psikolog hanya supaya aku bisa berkuliah di daerah Depok. Aku ingin kembali tinggal di kampung halaman. Aku ingin pergi sekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda.

Sekarang patok itu tidak terlihat di sawah. Patok-patok kecil itu berubah menjadi tugu kecil di tepi Jalan Raya Bogor dan menjadi gerbang besar di ujung jalan Margonda Raya. Kota Depok sekarang bukan kota kecil lagi. Dia mulai digemuki penduduk. Dia mulai ditumbuhi lima mal belanja. Kebencianku pada Jakarta agaknya telah memudar. Entah mengapa, mungkin karena kulihat sekarang Depok telah serupa ibukota. (*)

27 Juni 2011

2 responses

  1. mbak Arnelis, saya hairi suka dengan novelnuatan Mbak,kaloboleh,saya mau minta tolong tolong baca sinopsis buatan saya,saya lagi merintis karya saya yang pertama. untuk itu tolong kirim alamat email ke email saya di bawah ini;

    kyonevermine09@gmail.com

    atau bisa juga ke email ini:

    touya_shindouhikaru@yahoo.com

    trims……

    1. Terima kasih ya, Ryujin.🙂
      Boleh kirim ke annarnellis at yahoo dot com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: