Bapak dan Genjer-genjer

Sudah sebulan terakhir ini, bapak mendapat kawan baru kala bersantai di bale-bale serambi rumah. Sebuah lagu lama yang terus-menerus diputarnya. Sungguh selalu seperti itu beberapa hari belakangan sampai akhirnya saya agak khawatir sebab ia tampak terlalu terhanyut. Lagu yang tersimpan dalam ponsel murahnya itu mengiringinya melongo menatap langit-langit, lalu kemudian memejamkan mata.

Lagu Gendjer-gendjer, penyanyi Lilis Suryani, itu kawan barunya. Buat saya, lagu itu terdengar menyeramkan. Ya, mungkin karena lagu itu memikul tuduhan nuansa horor, digosipkan sebagai lagu pengiring pembantaian para jenderal pada kisah misteri 30 September 1965. Namun, sebenarnya suara Lilis Suryani yang indah itu memang mendayu-dayu sendu. Seolah itu adalah lagu duka akan kematian. Musiknya terdengar bercampur dengan keresek radio lama. Sungguh, kengerian yang tercipta.

Padahal nyatanya, itu lagu manis tentang sayuran. Itu cerita seorang emak yang ingin memasak sayur genjer. Lalu penguasa pada suatu masa mencemplungkan bumbu politis pada wajan sayur itu. Maka jadilah lagu itu dilarang diperdengarkan. Padahal, lirik lagu berbahasa Osing itu sungguh sederhana.


Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Bapak melek. Dipanggilnya saya. Lalu berhamburlah sebuah cerita. Lagu itu menyayat hati bapak, dan juga hati ibu, katanya. Ia bercerita, di usia ketika ia berada di sekolah dasar, lagu ini begitu populer dinyanyikan. Partai Komunis Indonesia mendapat lagu yang begitu mewakili perjuangan kaum kecil yang mereka usung. Padahal Muhammad Arief, pencipta lagu itu, tidak bermaksud menciptakan lagu yang berat di tahun 1940-an. Lalu jika akhirnya si seniman Banyuwangi ini akhirnya mati dibunuh karena dianggap terlibat PKI, sungguh malang keduanya, si lagu dan si pencipta.

Bapak lanjut bercerita, ia dulu pernah mengajak kawan-kawan kecilnya untuk berdemo di sekolah. Demo kanak-kanak yang menanggung kesedihan sederhana. Guru mereka dibunuh karena dianggap terlibat PKI. Sementara buku-buku PR murid ikut habis terbakar di rumah sang guru. Lalu, bapak kecil ini menyerukan, “Balikno bukuku, balikno bukuku!” Ah, apalah yang bisa dikembalikan, kecuali harapan hidup akan tetap berlanjut.

Sementara cerita ibu tak kalah sendu. Pada bulan kelabu itu, sekolah diliburkan karena ibu guru yang mengajar dikabarkan ditemukan di selokan. Ya, dituduh PKI, lalu teronggok di sana. Ibu di usia kanak sungguh tak tahu mengapa gurunya yang manis mesti mati. Ibu tidak diperbolehkan menangis oleh ayahnya, sebab takut dikira mendukung si ibu guru. Oh, betapa menangis bisa dianggap sebagai bukti keterlibatan. Betapa melepaskan duka saja harus tertahan.

Lalu kalau memang lagu Genjer-genjer ini mengingatkan bapak dan ibu pada kisah seram, kenapa pula lagu itu terus-terus diputar? Justru itu, katanya. Mengenang-ngenang itu menyenangkan, sepahit apapun kenangan itu. Kalau sudah kenyang dikenang, toh lagu bisa dimatikan, lalu kembali pada kenyataan.


Aku gemas. Aku tawarkan jalan tengah. Kubilang pada bapak, “Kebetulan Pak, ini ada lagu Genjer-genjer tapi dengan musik yang lebih modern.” Dengan jedag-jedug-jedag-jedug disko remix. Kuperdengarkan aransemen DubYouth ke telinganya. Tapi rupanya, eksperimen anak muda Jogja itu tak masuk di telinga Bapak. “Kenangannya gak keluar,” ujarnya.

Sesekali saya berharap kenangan sedih bapak dan ibu itu hilang saja. Tapi benar kata bapak. Biar saja cerita itu tak hilang, tapi cukup terkubur saja di pojok ingatan. Sehingga mereka tetap tersenyum, sambil mengenang dengan dendang lagu yang tertahan.

petang 30 September 2011

2 responses

  1. Tulisan yang menginspirasi. Tidak sepatutnya sebuah hasil seni di cap dan dikambinghitamkan oleh sejarah, politik serta unsur lainnya.🙂

  2. Sampaikan Salam untuk bapak kakak Guru. Ini juga lagu kesukaan Saya, walaupun bukan orang Jawa.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: