Masjid dan Musala, Ipad dan Esia

Ini Ramadhan pertama yang saya mulai jalani di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Banten. Warga sekitar Jakarta mungkin sudah mengenalnya sebagai daerah elit. Di sisi lain, saya pun mendapati wilayah sekitar BSD yang merupakan kampung penduduk yang tinggal di sana turun-temurun. Dialektika kehidupan terpampang jelas. Saya menginsyafinya ketika beribadah tarawih pekan lalu.

Malam ketiga Ramadhan, saya berkunjung ke Masjid Asy Syarif atau dikenal juga dengan nama masjid Al Azhar, karena lokasinya berada dalam kompleks sekolah Al Azhar BSD. Jam tujuh malam saya tiba di masjid hijau yang terletak di belakang Hutan Kota BSD itu. Saya turun dari motor Intan, kawan Katolik saya yang sebelumnya menemani saya berbuka puasa. Usai berdadah-dadah dengan Intan, saya menyeberang jalan menuju masjid berwarna hijau itu, mengatasi sejumlah motor dan mobil yang akan masuk ke halaman luas masjid tersebut.

Ibu-ibu bergamis chiffon sudah memenuhi ruang solat bagian perempuan. Ada air minum merk Aqua di dekat sajadah mereka. Rupanya masjid ini menyediakan air kemasan itu dengan gratis. Di sebelah aqua, kertas selebaran terhampar. Isinya penjelasan tentang Surah Al Anbiya, yang akan dibacakan pada waktu tarawih. Kata ibu-ibu di sebelah saya, buletin itu ada setiap hari, memberi informasi dan ilmu pada jamaah.

Sebelum tarawih dimulai, seorang bapak berjalan-jalan mengajak para lelaki merapatkan shaf. Ia terlihat mencolok. Di tangannya tergenggam sebuah Ipad. Belum sempat otak berkomentar, mikrofon di mimbar bergetar. Seorang pengurus masjid membacakan laporan uang amal. Matanya melirik ke benda menyala di tangannya. Sebuah Ipad lagi. Dia menyerukan terima kasih pada jamaah. Dalam tiga hari Ramadhan itu, uang masjid sudah terkumpul enam juta rupiah.

Solat berjalan khusyuk. Suasana tenang. Kipas angin menghembus nyaman. Saya ingin terus tarawih di sana kalau saja ada angkutan umum yang mudah dicari sepulang tarawih. Nyatanya, pukul setengah sembilan, jamaah bubar menuju mobil masing-masing, saya kelabakan mencari angkot yang sudah off-narik di lingkungan BSD.

Walhasil, hari berikutnya saya putuskan untuk tarawih di musala dekat kos-kosan. Itu salah satu musala di Kampung Lengkong, belakang kawasan BSD City. Jamaah perempuan hanya 10 orang. Para lelaki adalah tetangga kontrakan sebelah. Sisanya adalah kerabat Pak Haji Satab, si empunya tanah musala. Saya tiba-tiba rikuh sebab diperhatikan terus. Ternyata cuma saya yang berangkat dengan pakaian tunik dan jilbab, sementara ibu-ibu lain langsung pakai mukena dari rumah.

Solat dimulai. Tirai pemisah serupa seprai bergoyang ringan, memisah jamaah lelaki dan perempuan. Semua berjalan normal di telinga saya sampai pada bagian mengucap amin usai Al-Fatihah. Semua lelaki (kurang lebih 20 orang) meneriakkan ‘amin’ itu keras-keras. Amin pun bergaung di ruangan 50 meter persegi itu. Hati saya terkejut. Sangat tidak nyaman rasanya meminta pada Tuhan dengan cara berteriak.

Sayangnya itu terus berlangsung di setiap dua rakaat tarawih. Kalikan dengan sepuluh. Namun, ketika solat witir, teriakan amin itu tak terdengar. Amin melembut. Saya langsung berkesimpulan, mungkin mereka teriakkan amin supaya tak mengantuk selama ibadah. Saya sendiri jelas makin tak mengantuk ketika tiba-tiba terdengar suara panggilan ponsel dari jamaah pria. Irama dangdut bergema meningkahi lantunan ayat yang dibacakan imam dengan terburu-buru. Usai salam, seorang lelaki keluar musola. Kulihat tangannya menggenggam ponsel Esia hidayah. Warnanya senada kusen musala ini yang dilapisi cat minyak, hijau putih.

Masjid dan musala, apalah bedanya? Bukan pada Ipad atau Esia yang hadir di dalamnya. Bukan pada kemewahan ekonomi para jamaahnya. Masjid atau musala hanya berbeda luas ukuran. Keduanya sama rumah Tuhan. Tinggal tugas pribadi, bagaimana menghidupkannya dengan segala kualitas diri dan kesiapan untuk bertemu Tuhan. Saya percaya, Tuhan itu tuan rumah maha ramah ketika menyambut tamunya. Subhanallah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: